Menurut Kasmir (2011 : 104) analisis rasio keuangan adalah metode
analisis untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau
laporan laba rugi secara individu atau pun secara kombinasi dari kedua laporan
tersebut dengan cara membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan
keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.
Hasil analisis rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran
kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan
suatu perusahaan, terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan
angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar, sehingga dengan
melakukan analisis rasio keuangan dimungkinkan akan dapat menentukan tingkat
likuiditas, solvabilitas, keefektifan operasi serta derajat keuntungan suatu
perusahaan atau profitabilitas perusahaan.
Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2010 : 36-37) metode dan teknik analisis laporan
keuangan digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara pos-pos
dalam laporan keuangan sehingga dapat diketahui perubahan masing-masing pos
tersebut apabila dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya. Ada
dua metode analisis yang digunakan oleh seorang analis laporan keuangan, yaitu :
a. Analisis vertikal (statis), yaitu analisis yang dilakukan terhadap hanya satu
periode laporan keuangan.
b. Analisis horizontal (dinamis), yaitu analisis yang dilakukan dengan
membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode.
Adapun teknik analisis yang digunakan dalam menganalisis laporan
keuangan yaitu :
a. Analisis perbandingan antara laporan keuangan merupakan analisis yang
dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan lebih dari satu
periode.
b. Analisis trend atau tendensi merupakan analisis laporan keuangan yang
biasanya dinyatakan dalam persentase tertentu dan biasanya dilakukan dari
satu periode ke periode.
c. Analisis persentase per komponen merupakan analisis yang dilakukan
untuk membandingkan antara komponen yang ada dalam suatu laporan
keuangan, baik yang ada di neraca maupun laporan laba rugi.
d. Analisis sumber dan penggunaan dana merupakan analisis yang dilakukan
untuk mengetahui sumber-sumber dana perusahaan dan penggunaan dana
dalam suatu periode.
e. Analisis sumber dan penggunaan kas merupakan analisis yang digunakan
untuk mengetahui sumber-sumber kas perusahaan dan penggunaan uang
kas dalam suatu periode.
f. Analisis rasio merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui
hubungan pos-pos yang ada dalam satu laporan keuangan atau pos-pos
antara laporan keuangan neraca dan laba rugi.
g. Analisis kredit merupakan analisis yang digunakan untuk menilai layak
tidaknya suatu kredit dikeluarkan oleh lembaga keuangan seperti bank.
h. Analisis laba kotor merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui
jumlah laba kotor dari satu periode ke periode lainnya.
i. Analisis titik pulang merupakan analisis dimana untuk mengetahui pada
kondisi berapa penjualan produk dilakukan dan perusahaan tidak
mengalami kerugian
Prosedur Analisis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2011 : 69) agar laporan keuangan tersebut dapat
memberikan hasil yang maksimal perlu ditentukan prosedur yang tepat, adapun
langkah atau prosedur yang dilakukan dalam analisis keuangan adalah :
a. Memahami latar belakang data keuangan perusahaan.
b. Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh pada perusahaan.
c. Mengumpulkan data keuangan dan data pendukung yang diperlukan
selengkap mungkin.
d. Melakukan pengukuran atau perhitungan dengan rumus-rumus tertentu.
e. Melakukan perhitungan dengan memasukkan angka-angka yang ada dalam
laporan keuangan secara cermat.
f. Memberikan interpretasi terhadap hasil perhitungan dan pengukuran yang
telah dibuat.
g. Membuat laporan tentang posisi keuangan perusahaan dan memberikan
rekomendasi yang dibutuhkan
Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2011 : 67) analisis laporan keuangan merupakan alat
yang penting untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam periode
tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah dicapai
untuk periode tertentu. Untuk mengetahui kelamahan dan kekuatan perusahaan
sehingga merupakan salah satu sumber yang cukup penting untuk pengambilan
keputusan. Keputusan tersebut mengenai langkah-langkah perbaikan kedepan dan
penilaian kinerja manajemen ke depan.
Beberapa tujuan analisis laporan keuangan berdasarkan aspeknya yaitu :
a. Aspek Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar
hutang jangka pendek yang akan segera jatuh tempo.
b. Aspek Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya, baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
c. Aspek Rentabilitas atau Profitabilitas menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
d. Aspek Stabilitas Usaha menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban
bunga, hutang-hutangnya dan akhirnya membayar kembali hutangnya
pada waktunya
Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting
dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan
perusahaan. Informasi ini akan lebih berarti dan membantu apabila dilakukan
analisis terhadap data-data yang ada dalam laporan keuangan tersebut.
Menurut Kasmir (2011 : 66) analisis laporan keuangan pada dasarnya
merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang
tersaji dalam laporan keuangan dan merupakan suatu proses untuk membedah
laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya, menelaah masing-masing unsur
tersebut, dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik
dan tepat atas laporan keuangan itu sendiri.
Analisis laporan keuangan menggunakan teknik analisa dengan cara
memecahkan dan menguraikan serta menyederhanakan angka pada laporan
keuangan dengan melakukan perbandingan terhadap industri sejenis atau dengan
melihat perkembangan (trend) yang ada dan pada akhirnya dapat dijadikan suatu
informasi yang dapat digunakan untuk mengantisipasi kemungkinan kondisi yang
terjadi di masa akan datang
Laporan Keuangan Bank
Menurut Kasmir dalam bukunya “Manajemen Perbankan” (2010 : 253)
laporan keuangan bank merupakan laporan keuangan yang menunjukkan kondisi
keuangan bank secara keseluruhan, dari laporan ini akan terbaca bagaimana
kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan yang
dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan kinerja manajemen bank selama satu
periode. Keuntungan dengan membaca laporan ini pihak manajemen dapat
memperbaiki kelemahan yang ada serta mempertahankan kekuatan yang
dimilikinya.
Jenis dan Unsur Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2011 : 28) laporan keuangan menggambarkan kondisi
keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu
tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang biasa dikenal adalah :
a. Laporan Neraca
Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal
dari suatu perusahaan pada waktu tertentu. Tujuan neraca adalah untuk
menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan, biasanya pada waktu
dimana buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal
atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut sebagai balance sheet.
b. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang
penghasilan dan biaya serta laba atau rugi yang diperoleh oleh suatu
perusahaan selama periode waktu tertentu.
c. Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal merupakan suatu laporan yang menggambarkan
jumlah modal yang dimiliki perusahaan saat ini dan menunjukkan
perubahan modal serta sebab-sebab berubahnya modal.
d. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan suatu laporan yang menunjukan arus kas
masuk dan arus kas keluar perusahaan.
e. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan merupakan suatu laporan yang dibuat
berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini
memberikan informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas
laporan keuangan yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya
Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2011 : 11) laporan keuangan dipersiapkan dengan
maksud untuk memberikan gambaran posisi dan laporan kemajuan (progress
report) suatu perusahaan secara periodik yang dilakukan pihak manajemen yang
bersangkutan. Laporan keuangan bersifat historis serta menyeluruh dan terdiri dari
data yang merupakan hasil dari suatu kombinasi antara :
a. Fakta yang telah dicatat (Recorded Fact)
Bahwa laporan keuangan ini dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi,
seperti jumlah uang kas yang tersedia dalam perusahaan maupun yang
disimpan di bank, jumlah piutang, persediaan barang dagangan, hutang
maupun aktiva tetap yang dimiliki perusahaan.
b. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (Accounting
Convention and Postulate)
Data yang dicatat berdasarkan prosedur maupun anggapan-anggapan
tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim, hal ini
dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan untuk keseragaman.
Misalnya cara mengalokasikan biaya untuk persediaan alat tulis menulis,
apakah harus dinilai menurut harga beli atau menurut nilai pasar pada
tanggal penyusutan laporan keuangan.
c. Pendapat pribadi
Dimaksudkan bahwa, walaupun pencatatan transaksi telah diatur oleh
konvensi-konvensi dan dalil-dalil dasar yang sudah ditetapkan dan sudah
menjadi standar praktik pembukuan, namun penggunaan dari konvensi-
konvensi dan dalil dasar tersebut tergantung daripada akuntan atau
manajemen perusahaan yang bersangkutan. Misalnya cara-cara atau
metode untuk menaksir piutang yang tidak dapat tertagih, dan penentuan
beban penyusutan serta penentuan unsur dari suatu aktiva tetap akan
sangat bergantung pada pendapat pribadi manajemennya dan berdasarkan
masa lalu.
Menurut Munawir (2010 : 9) ada beberapa keterbatasan dari laporan
keuangan antara lain :
a. Laporan keuangan yang dibuat secara periodik, pada dasarnya merupakan
laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara (Interim
Report) dan bukan merupakan laporan final.
b. Laporan keuangan menunjukkan angka rupiah yang pasti dan tepat, tetapi
sebenarnya dasar penyusunan menggunakan standar nilai yang mungkin
berbeda atau berubah-ubah, oleh karena itu angka yang tercantum dalam
laporan keuangan hanya merupakan nilai buku yang belum tentu sama
dengan harga pasar sekarang.
c. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaki keuangan
dari waktu dan tanggal yang lalu, dimana daya beli uang tersebut semakin
menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
d. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi keuangan perusahaan karena faktor-faktor tersebut tidak
dinyatakan dengan satuan uang
Tujuan dan Karakteristik Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2012 : 3) tujuan laporan keuangan
untuk tujuan umum adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan suatu keputusan serta menunjukkan kinerja yang telah dilakukan
manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber-sumber daya yang
dipercayakan kepadanya. Selain itu, laporan keuangan juga bertujuan untuk :
a. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya tentang aktiva dan
kewajiban serta modal suatu perusahaan.
b. Memberikan informasi keuangan kepada para pemakai laporan keuangan
dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
c. Memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan aktiva
neto suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka
memperoleh laba.
d. Memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva
dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas
pembiayaan dan investasi.
e. Memberikan informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan
yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan.
Menurut “Standar Akuntansi Keuangan” (2012 : 5) yang dikeluarkan oleh
Ikatan Akuntansi Indonesia, terdapat empat karakteristik laporan keuangan, yaitu :
a. Relevan, informasi relevan dengan kebutuhan pemakai dalam pengambilan
keputusan.
b. Dapat dipahami, kualitas informasi penting yang ditampung dalam laporan
keuangan adalah kemudahan untuk segera dipahami oleh pemakainya.
c. Keandalan, agar bermanfaat informasi memiliki kualitas keandalan dan
bebas dari kesalahan; dapat diandalkan oleh pemakainya sebagai penyajian
yang jujur dari yang seharusnya disajikan.
d. Daya banding, informasi yang lebih berguna apabila dapat dibandingkan
dengan laporan keuangan periode sebelumnya dengan laporan keuangan
dari perusahaan lain pada periode yang sama
Arti Penting Laporan Keuangan
Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk
memberikan gambaran atau laporan kemajuan secara periodik yang dilakukan
pihak manajemen bersangkutan, sehingga bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambil keputusan ekonomi, yaitu mengenai informasi posisi
keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan yang sangat diperlukan untuk
evaluasi atas kemampuan kinerja perusahaan.
Pada dasarnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja
tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan dan menilai posisi keuangan
perusahaan tersebut pada waktu tertentu, dimana dengan melakukan analisis
laporan keuangan maka pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan
keuangan dapat mengambil dan menentukan suatu keputusan sesuai dengan
kepentingannya.
Menurut Kasmir (2011 : 18) pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
laporan keuangan dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemilik perusahaan, berkepentingan terhadap laporan keuangan
perusahaannya terutama untuk perusahaan yang dipimpinnya diserahkan
kepada orang lain (perseroan), karena dengan laporan keuangan pemilik
perusahaan akan dapat menilai suskses tidaknya manajer dalam memimpin
perusahannya dalam memperoleh laba, karena kesuksesan seorang
manajer biasanya dinilai dengan laba yang diperoleh.
b. Manajer atau pimpinan perusahaan, dengan mengetahui posisi keuangan
perusahaannya periode yang baru atau yang lalu maka manajer akan dapat
menyusun rencana yang lebih baik dan memperbaiki sistem
pengawasannya serta menentukan kebijaksanaan yang lebih tepat. Selain
itu, laporan keuangan juga merupakan alat bagi manajemen untuk
mempertanggungjawabkan kepada para pemilik perusahaan atas
kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
c. Para investor, berkepentingan atau memerlukan laporan keuangan
perusahaan dimana mereka ini menanamkan modalnya. Investor
berkepentingan terhadap prospek keuntungan di masa yang akan datang
dan perkembangan perusahaan selanjutnya untuk mengetahui jaminan
investasinya dan untuk mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan
jangka pendek perusahaan tersebut.
d. Para kreditur dan bankers, sebelum mengambil keputusan untuk memberi
atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlulah diketahui
terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Posisi
keuangan perusahaan peminta kredit akan dapat diketahui melalui
penganalisaan laporan keuangan, sehingga dengan hasil analisis akan
dapat diketahui apakah kredit yang akan diberikan cukup mendapat
jaminan dari perusahaan, yang digambarkan pada kemampuan perusahaan
untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.
e. Pemerintah, dimana perusahaan tersebut berdomisili, sangat
berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut, disamping
untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung perusahaan, juga
sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian
Perdagangan, dan Tenaga Kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.
f. Karyawan, untuk mengetahui kemampuan perusahaan memberikan upah
yang layak dan jaminan sosial yang lebih baik, serta menentukan langkah-
langkah yang harus dilakukan sehubungan dengan kesejahteraan
karyawan.
g. Masyarakat, laporan keuangan dapat membantu masyarakat untuk
mengetahui informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir serta
aktivitas perusahaan.
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan pada dasarnya merupakan media informasi yang
merangkum semua aktivitas perusahaan dan biasanya dilaporkan atau disajikan
dalam bentuk laporan neraca dan laporan laba rugi pada saat tertentu atau waktu
tertentu, dan pada akhirnya digunakan sebagai alat informasi dalam mengambil
kebijakan atau keputusan bagi para pemakai laporan keuangan sesuai dengan
kepentingannya masing-masing.
Definisi laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia melalui
“Standar Akuntansi Keuangan” (2012 : 1) dinyatakan dalam kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan paragraf 7 adalah sebagai berikut :
“Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan. Laporan keuangan
yang lengkap, biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan
posisi keuangan (yang disajikan dengan berbagai cara seperti laporan arus kas
atau laporan arus dana), catatan atau laporan lain serta materi penjelasan yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk
skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya
informasi keuangan, segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh
perubahan harga”.
Sedangkan menurut S. Munawir dalam bukunya yang berjudul “Analisis
Laporan Keuangan“ (2010 : 5) mengemukakan definisi laporan keuangan sebagai
berikut :
“Laporan keuangan merupakan dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir
periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar
posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba-rugi. Pada waktu akhir-
akhir ini sudah menjadi suatu kebiasaan bagi perusahaan-perusahaan untuk
menambahkan daftar ketiga, yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tidak
dibagikan (laba ditahan)”.
Selanjutnya menurut Kasmir dalam bukunya yang berjudul “Analisis
Laporan Keuangan” (2011 : 7) mengatakan bahwa laporan keuangan adalah
laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam
suatu periode tertentu.
Berdasarkan definisi laporan keuangan yang dikemukakan diatas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari
Pemakai rasio keuangan
Analisis yang berbeda akan memilih jenis rasio yang berlainan,
tergantung pada siapa yang menggunakan rasio tersebut. Menurut Budi
Rahardjo (1992 : 12) menyatakan bahwa pengguna rasio keuangan dapat
dibedakan menjadi :
1) Intern, yaitu manajemen itu sendiri untuk mengetahui perkembangan
perusahaan maupun posisi relative terhadap perusahaan sejenis dalam
industri yang sama.
2) Ekstern, yaitu dapat dibedakan menjadi :
a) Kreditur yang memberikan pinjaman kepada perusahaan yang
dapat diklasifikasikan menjadi : kreditur jangka pendek dan kreditur jangka
panjang. Kreditur jangka pendek merupakan orang atau lembaga keuangan
yang memberi pinjaman kepada perusahaan dalam jangka pendek atau
pinjaman yang akan segera jatuh tempo (tahun ini). Kreditur jangka panjang
merupakan orang atau lembaga keuangan yang memberikan pinjaman
jangka panjang atau memegang obligasi yang dikeluarkan perusahaan.
b) Investor atau pemegang saham sebagai tambahan terhadap
likuiditas. Penanam modal (pemilik perusahaan) juga memperhitungkan
kebijakan perusahaan yang mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut
di pasaran
Pengertian analisis rasio keuangan
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Rasio keuangan sangat
penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan
(Harahap, 2007 : 297).
Sedangkan yang dimaksud dengan Analisis rasio keuangan adalah
analisis yang menghubungkan perkiraan neraca dan laporan laba rugi
terhadap satu dengan lainnya, yang memberikan gambaran tentang sejarah
perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan tertentu.
Dalam menggunakan analisis rasio keuangan pada dasarnya dapat
melakukannya dengan 2 macam perbandingan, yaitu :
1) Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari
waktu yang telah lalu (histories ratio) atau dengan rasio-rasio yang
diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama.
2) Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio
sejenis dari perusahaan yang lain yang sejeni
Indikator Disiplin
Menurut Hasibuan (2002:194), indikator yang
mempengaruhi tingkat disiplin pegawai suatu perusahaan, antara
lain sebagai berikut:
1) Tujuan dan kemampuan
a) Kemampuan Karyawan melakukan pekerjaan yang
diberikan oleh atasan/pimpinan.
b) Kesesuaian penempatan sub-bagian sesuai dengan
kemampuan kerja karyawan.
2) Teladan pimpinan
a) Sikap pimpinan terhadap karyawan.
b) Lejujuran pimpinan terhadap karyawan.
c) Sikap dan tutur kata pimpinan terhadap karyawan.
3) Balas jasa
a) Kesesuaian gaji yang diterima karyawan.
b) Kesejahteraan yang didapat karyawan.
c) Pemberian fasilitas untuk menunjang kerja karyawan.
4) Keadilan
a) Keadilan perusahaan dalam memberikan balas jasa
kepada setiap karyawan.
b) Keadilan perusahaan dalam memberikan
hukuman/sanksi terhadap karyawan yang melanggar
peraturan.
5) Waskat (Pengawasan Melekat)
a) Keaktifan pimpinan dalam mengawasi setiap pekerjaan
karyawan.
b) Pemberian perhatian oleh pimpinan kepada karyawan.
c) Bimbingan yang diberikan oleh pimpinan kepada
karyawan.
d) Pemberian petunjuk dan pengarahan kepada karyawan
untuk menghindari kesalahan.
6) Sanksi hukuman
a) Pemberian sanksi dan hukuman jika melanggar
peraturan.
b) Logisnya sanksi dan hukuman yang diberikan.
c) Sanksi dan hukuman bersifat membangun bukan
memberatkan karyawan.
7) Ketegasan
a) Tingkat ketegasan pimpinan kepada karyawan yang
melakukan kesalahan.
b) Tindakan yang dilakukan pimpinan jika terdapat
karyawan yang melanggar peraturan.
8) Hubungan kemanusiaan
a) Keharmonisan antar karyawan.
b) Sikap bertoleransi terhadap sesame karyawan.
c) Kepedulian antar karyawan.
Dalam menegakkan disiplin bukanlah ancaman atau
kekerasan yang diutamakan, yang diperlukan adalah ketegasan. Ketegasan dan keteguhan di dalam melaksanakan peraturan
merupakan modal utama dan syarat mutlak untuk mewujudkan
disiplin kerja. Pada dasarnya disiplin kerja bertujuan untuk
menciptakan suatu kondisi yang teratur, tertib dan pelaksanaan
pekerjaan dapat terlaksana sesuai dengan rencana sebelumnya.
Tujuan Disiplin
Menurut Sastrohadiwiryo (2002:291), disiplin yang
diterapkan memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Agar para tenaga kerja menepati segala peraturan dan
kebijakan ketenagakerjaan maupun peraturan dan kebijakan
perusahaan yang berlaku, baik tertulis maupun tidak, serta
melaksanakan perintah manajemen.
2) Dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya serta
mampu memberikan service yang maksimal kepada pihak
tertentu yang berkepentingan dengan perusahaan sesuai
dengan bidang pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
3) Dapat menggunakan dan memelihara sarana dan prasarana,
barang dan jasa perusahaan sesuai dengan bidang pekerjaan
yang diberikan kepadanya.
4) Dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma-
norma yang berlaku pada perusahaan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin
Dalam Rivai (2005), terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi kedisiplinan, yaitu:
1) Kehadiran
Hal ini menjadi indicator yang mendasar untuk mengukur
kedisiplinan, dan biasanya karyawan yang memiliki disiplin
kerja rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.
2) Ketaatan pada peraturan kerja
Karyawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan
melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti
pedoman kerja yang ditetapkan oleh perusahaan.
3) Ketaatan pada standar kerja
Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggung jawan
karyawan terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya
4) Tingkat kewaspadaan tinggi
Karyawan memiliki kewaspadaan tinggi akan selalu
berhati-hati, penuh perhitungan dan ketelitian dalam
bekerja, serta selalu menggunakan sesuatu secara efektif
dan efesien.
5) Bekerja etis
Beberapa karyawan mungkin melakukan tindakan yang
tidak sopan ke pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang
tudak pantas. Hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan
indisipliner, sehingga bekerja etis sebagai salah satu wujud
dari disiplin kerja karyawan
Jenis-jenis Disiplin
Menurut Simamora (2004:750), dijelaskan bahwa jenis-
jenis disiplin adalah sebagai berikut:
1) Disiplin Preventif
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong
para karyawan agar mengikuti berbagai standard an aturan,
sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat dicegah.
Sasaran pokoknya adalah untuk mendorong disiplin diri
diantaran para karyawan. Dengan cara ini para karyawan
menjaga disiplin diri mereka bukan semata-mata karena
dipaksa manajemen.
2) Disiplin Progresif
Perusahaan bisa menerapkan suatu kebijaksanaan disiplin
progresif, yang berarti memberikan hukuman-hukuman
yang lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang
berulang. Tujuannya adalah memberikan kesempatan
kepada karyawan untuk mengambil tindakan korektif
sebelum hukuman-hukuman yang lebih serius dilaksanakan.
Disiplin progresif juga memungkinkan manajemen untuk
membantu karyawan memperbaiki kesalahan.
3) Displin korektif
Disiplin korektif adalah kegiatan yang diambil untuk
menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan
mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih
lanjut. Kegiatan korektif sering berupa suatu bentuk
hukuman dan disebut tindakan pendisiplinan (disciplinary
action). Sebagai contoh, tindakan pendisiplinan bisa berupa
peringatan atau skorsing. Berbagai sasaran tindakan
pendisiplinan, secara ringkas adalah sebagai berikut :
a) Untuk memperbaiki pelanggaran
b) Untuk menghalangi para karyawan yang lain
melakukan kegiata-kegiatan serupa
c) Untuk menjaga berbagai standar kelompok tetap
konsisten dan efektif
4) Aturan Tungku Panas
Suatu pedoman yang sangat berguna untuk disisplin
korektif adalah aturan “kompor-panas”. Aturan ini pada
hakekatnya menyatakan bahwa tidakan pendisiplinan
hendaknya mempunyai cirri-ciri yang sama dengan
hukuman yang diterima seseorang karena menyentuh
sebuah kompor panas. Karasteristik-karakteristik tersebut
adalah bahwa disiplin hendaknya dilakuakan dengan
peringatan, segera, konsisten dan tidakbersifat pribadi
Pengertian Disiplin
Secara etomologis disiplin berasal dari bahasa inggirs
“diciple” yang berarti pengikut atau penganut pengajaran, latihan
dan sebagainya. Terdapat beberapa pendapat mengenai disiplin
kerja yang dikemukakan oleh para ahli. Disiplin kerja didefinisikan
berdasarkan beberapa kategori, dianataranya berdasarkan karyawan
atau pegawai dan berdasarkan manajemen. Berikut adalah
pendapat para ahli mengenai disiplin kerja berdasarkan karyawan
yaitu:
Disiplin kerja dapat diartikan sebagai kesadaran dan
kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku (Hasibuan, 2002:193).
Disiplin merupakan suatu keadaan tertentu dimana orang-
orang yang bergabung dalam organisasi tunduk pada peraturan-
peraturan yang ada dengan rasa senang hati. Sedangkan kerja
adalah segala aktivitas manusia yang dilakukan untuk menggapai
tujuan yang telah ditetapkannya (Sinunungan, 2005:145)
Kedisiplinan dapat diartikan sebagai suatu sikap, tingkah
laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan tertulis maupun
biasa dari suatu perusahaan atau instansi. Dengan demikian setiap
perusahaan menetapkan atau merumuskan suatu aturan yang
diberlakukan untuk menjamin terlaksananya mekanisme kerja
instansi tersebut, untuk menciptakan prosedur kerja yang teratur
sehingga mencapai tujuan organisasi dengan baik (Nitisemito,
2001).
Mengacu pada pengertian di atas, maka seseorang atau
sekelompok orang dikatakan melaksanakan disiplin apabila
seseorang atau sekelompok orang tersebut:
1) Dapat menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya terhadap
aturan-aturan yang berlaku bagi sebuah organisasi.
2) Dapat menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya terhadap
norma-norma yang berlaku bagi sebuah organisasi tersebut.
3) Dapat menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya dalam
melaksanakan instruksi-instruksi yang dibuat oleh
pimpinan.
Indikator Motivasi
Komponen indikator motivasi kerja menurut
Sastrohadiwiryo (2003), sebagai berikut:
1) Kinerja
a) Keinginan seseorang untuk bekerja.
b) Kebutuhan dapat mendorongnya mencapai sasaran.
2) Penghargaan
a) Penghargaan atau pengakuan atas suatu kinerja yang
telah dicapai seseorang akan menjadi perangsang yang
kuat.
b) Kepuasan batin karyawan karena telah berhasil
menyeleseikan pekerjaannya.
3) Tantangan
a) adanya tantangan merupakan perangsang yang kuat bagi
manusia untuk mengatasinya.
b) Penyeleseian masalah yang dihadapi karyawan.
4) Tanggung jawab
a) Adanya rasa memiliki akan menimbulkan motivasi
untuk turut merasa tanggung jawab.
b) Rasa tanggung jawab dapat memicu karyawan dalam
mengatasi permasalahan yang dihadapi.
5) Keterlibatan
a) Rasa ikut terlibat dalam suatu proses pengambilan
keputusan dapat disebut dengan “kotak saran” yang
dijadikan masukan untuk manajemen perusahaan,
merupakan perangsang yang kuat untuk karyawan.
b) Saling menghargai antar karyawan merupakan cara
untuk bersosialisasi di lingkungan kerja.
6) Pengembangan
a) Adaptasi karyawan di lingkungan kerja.
b) Tingkatan partisipasi karyawan dalam memberikan
inovasi pada perusahaan.
c) Sikap saling bekerja sama antar karyawan
7) Kesempatan
a) kesempatan untuk maju dalam jenjang karir yang
terbuka.
b) Harapan kerja yang lebih baik.
Aspek-aspek Motivasi
Jurgense (dalam Ibrahim, 1999) yang mengadakan
penelitian di Minneapolis Gas Light Company menemukan
beberapa aspek yang mendasari timbulnya motivasi kerja, yaitu:
1) Rasa aman (Security)
Rasa aman atau security adalah dapat melakukan
pekerjaannya tanpa dibebani resiko yang dapat
membahayakan diri karyawan. Adanya perasaan aman
merupakan sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang,
terutama pada saat ia sedang melaksanakan tugas yang
merupakan tumpuan hidupnya. Perasaan yang aman ini
meliputi pengertian yang luas, dimana di dalamnya
termasuk rasa aman ditinjau dari kecelakaan kerja, rasa
aman dari kelanjutan hubungan kerja atau sewaktu-waktu
terkena PHK yang tidak dikehendaki.
2) Kesempatan untuk maju ( Advancement)
Adalah kesempatan untuk memperoleh posisi yang lebih
tinggi dari kedudukan sebelumnya. Setiap orang selalu
menginginkan adanya perkembangan dari usaha yang telah
dilakukannya. Dengan adanya kesempatan untuk maju itu,
maka keinginan untuk berkembang tersebut dapat terpenuhi.
3) Nama baik tempat bekerja (Company)
Nama baik tempat kerja adalah tempat dimana karyawan itu
bekerja sudah terkenal dan memiliki nama baik di
masyarakat. Adanya kebanggan pada tempat dimana
seseorang bekerja itu akan memberikan keyakinan dan
semangat pada dirinya untuk melakukan aktivitas kerjanya
dengan baik.
4) Teman Sekerja ( CoWorkers)
Yaitu teman kerja yang dapat bekerja sama dan berteman
dengan baik. Kerja sama dan rasa saling menghargai sesame
rekan sekerja akan memberikan perasaan tenang dan
membutuhkan persatuan dan keakraban yang dapat
memperlancar aktivitas kerja.
5) Jenis pekerjaan (Type of Work)
Jenis pekerjaan yang dimaksud yaitu kesesuaian pekerjaan
yang ditangani dengan keinginan karyawan itu sendiri.
Maksudnya disini adalah adanya kesesuaian antara
keinginan dan kemampuan karyawan tersebut pada tugas
yang diberikan, sehingga ia dapat bekerja dengan baik.
6) Gaji (Pay)
Gaji yang dirasakan cukup baik dan pantas bagi dirinya
menurut ukurannya sendiri. Hal ini merupakan kebutuhan
hidup yang paling mendasar dan merupakan faktor pertama
bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan dirasakan
adanya gaji yang cukup baik, maka diharapkan aktivitas
kerja karyawan ini tidak terhambat oleh pemikiran-
pemikiran bagaimana menghidupi dirinya sendiri dan
keluarganya.
7) Atasan (Supervisor) yang menyenangkan
Atasan yang menyenangkan adalah atasan yang dapat
membimbing sekaligus disukai oleh bawahannya. Sikap
ketauladanan yang ditunjukkan oleh atasan kepada bawahan
merupakan suatu contoh dan dapat memberikan ketenangan
dan tuntunan bagi karyawan dalam bekerja.
8) Jam Kerja (Hours)
Jam kerja yang tidak terlalu lama dan
membosankan.kebosanan dan kelelahan yang ditimbulkan
akibat terlalu lamanya jam kerja, dapat menyebabkan
perasaan jenuh dan malas, sehingga dapat menurunkan
gairah kerja karyawan.
9) Keadaan tempat kerja (Working Condition) yang baik
Keadaan tempat kerja yang baik misalnya dengan adanya
kebersihan, pergantian udara dan subu ruangan kerja dalam
kondisi baik.
10) Fasilitas-fasilitas lain yang disediakan (Benefits)
Fasilitas yang dimaksud adalah tersedianya fasilitas-fasilitas
lain yang terdapat di tempat kerja seperti asuransi
kesehatan, transportasi, pengobatan gratis, perumahan dan
lain-lain. Tersedianya fasilitas ini semakin memberikan
keyakinan bagi karyawan bahwa hidupnya tidak akan disia-
siakan dan menjadi terlantar, sehingga keadaan ini dapat
menambah kegairahan dalam bekerja
Jenis-jenis Motivasi
Adapula jenis motivasi yang dikemukakan oleh Gibson dan
Donnelly (1996:105) ada dua, yaitu:
1) Motivasi Positif
Manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah
kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi baik
ini semangat kerja bawahan akan tinggi karena manusia
pada umumnya senang menerima yang baik-baik saja.
2) Motivasi Negatif
Manajer memotivasi bawahannya dengan memberikan
hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik
(prestasi rendah). Dalam memotivasi negative ini semangat
kerja dalam jangka waktu pendek akan meningkat. Karena
mereka takut dihukum, tetapi dalam jangka waktu panjang
akan berakibat kurang baik.
Pengertian Motivasi
Menurut Moorhead dan Griffin (2013:270), saat ini, secara
virtual semua orang praktisi dan sarjana punya definisi motivasi
tersendiri. Biasanya kata-kata berikut ini dimasukkan dalam
definisi: hasrat, keinginan, harapan, tujuan, sasaran, kebutuhan,
dorongan, motivasi, dan insentif.
Secara teknis, istilah motivasi berasal dari kata Latin
Movere, yang berarti “bergerak”. Arti ini adalah bukti dari definisi
komprehensif berikut ini: Motivasi adalah proses yang dimulai
dengan defisiensi fisiologis atau psikologis yang menggerakkan
perilaku atau dorongan yang ditujukan untuk tujuan atau insentif.
Dengan demikian, kunci untuk memahami proses motivasi
bergantung pada pengertian dan hubungan antara kebutuhan,
dorongan, dan insentif.
Didalam Ivancevich dan Konopaske (2006:148), terdapat
empat pendekatan isi yang penting terhadap motivasi:
1) Hierarki Kebutuhan Maslow
Inti teori Maslow adalah bahwa kebutuhan tersusun dalam
suatu hierarki (Maslow dan Kaplan, 1998). Kebutuhan di
tingkat yang paling rendah adalah kebutuhan fisiologis, dan
kebutuhan di tingkat yang paling tinggi adalah kebutuhan
aktualisasi diri. Kebutuhan tersebut didefinisikan sebagai
berikut:
a) Fisiologis (physiological). Kebutuhan akan makanan,
minuman, tempat tinggal, dan bebas dari rasa sakit.
b) Keamanan dan Keselamatan (safety and security).
Kebutuhan untuk bebas dari ancaman, diartikan
sebagai aman dari peristiwa atau lingkungan yang
mengancam.
c) Kebersamaan, sosial, dan cinta (belongingness, social,
and love). Kebutuhan akan pertemanan, afiliasi,
interaksi, dan cinta.
d) Harga diri (esteem). Kebutuhan harga diri dan rasa
hormat dari orang lain.
e) Aktualisasi diri (self-actualization). Kebutuhan untuk
memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan secara
maksimum menggunakan kemampuan, keterampilan,
dan potensi.
2) Teori ERG Alderfer
Alderfer sepakat dengan Maslow bahwa kebutuhan individu
diatur dalam suatu hierarki. Akan tetapi, hierarki kebutuhan
yang dia ajukan hanya melibatkan tiga rangkaian kebutuhan
(Alderfer, Clayton P;1972):
a) Eksistensi (existence). Kebutuhan yang dipuaskan
oleh faktor-faktor seperti makanan, udara, imbalan,
dan kondisi kerja.
b) Hubungan (relatedness). Kebutuhan yang dipuaskan
oleh hubungan sosial dan interpersonal yang berarti.
c) Pertumbuhan (growth). Kebutuhan yang terpuaskan
jika individu membuat kontribusi yang produktif atau
kreatif.
3) Teori Dua-Faktor Herzberg
Menurut Herzberg dan Synderman (1959), dewasa ini
mengembangkan teori isi yang dikenal sebagai teori
motivasi dua-faktor. Kedua faktor tersebut disebut
dissatisfier-satisfier, motivator hygiene, atau faktor
ekstrinsik-intrisik,bergantung pada pembahasan dari teori.
Penelitian awal yang memancing munculnya teori ini
memberikan dua kesimpulan spesifik. Pertama, adanya
serangkaian kondisi ekstrinsik, konteks pekerjaan, yang
menimbulkan ketidakpuasan antarkaryawan ketika kondisi
tersebut tidak ada. Jika kondisi tersebut ada, kondisi
tersebut tidak selalu memotivasi karyawan. Kondisi ini
adalah dissatisfier atau faktor hygiene, karena faktor-faktor
itu diperlukan untuk mempertahankan, setidaknya, suatu
tingkat dari “tidak adanya kepuasan”. Faktor-faktor tersebut
diamtaranya:
a) Gaji
b) Keamanan pekerjaan
c) Kondisi kerja
d) Status
e) Prosedur perusahaan
f) Kualitas pengawasan teknis
g) Kualitas hubungan interpersonal antar rekan kerja,
dengan atasan, dan dengan bawahan.
Kedua, serangkaian kondisi intrinsik-isi pekerjaan-ketika
ada dalam pekerjaan, dapat membentuk motivasi yang kuat
hingga dapat menghasilkan kinerja pekerjaan yang baik.
Jika kondisi tersebut tidak ada, pekerjaan tidak terbukti
memuaskan. Faktor-faktor dalam rangkaian ini disebut
satisfier atau motivator dan beberapa diantaranya adalah:
a) Pencapaian
b) Pengakuan
c) Tanggung jawab
d) Kemajuan
e) Pekerjaan itu sendiri
f) Kemungkinan untuk tumbuh
Indikator Kinerja Karyawan
Komponen indikator kinerja karyawan menurut Lazer
(1977):
1) Kemampuan teknis
a) Ilmu pengetahuan yang dimiliki karyawan.
b) Kemampuan menggunakan metode.
c) Teknik kerja yang di gunakan karyawan.
d) Peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas.
e) Pengalaman yang pernah dialami karyawan dengan
pekerjaan yang sejenis
f) Pelatihan yang diperoleh karyawan.
2) Kemampuan konseptual
a) Kemampuan untuk memahami kompleksitas
perusahaan.
b) Penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke
dalam bidang operasional perusahaan secara
menyeluruh.
c) Tanggung jawab sebagai seorang karyawan.
3) Kemampuan hubungan interpersonal
a) kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain.
b) memotivasi karyawan.
c) melakukan negosiasi.
d) Pekerjaan yang dihasilkan karyawan
Pengukuran Kinerja
Menurut Sutrisno (2009), pengukuran kinerja diarahkan
pada enam aspek yaitu:
1) Hasil kerja: tingkat kuantitas maupun kualitas yang telah
dihasilkan dan sejauh mana pengawasan dilakukan.
2) Pengetahuan pekerjaan: tingkat pengetahuan yang terkait
dengan tugas pekerjaan yang ajan berpengaruh langsung
terhadap kuantitas dan kualitas dari hasil kerja,
3) Inisiatif: tingkat inisiatif selama menjalankan tugas
pekerjaan khususnya dalam hal penanganan masalah-
masalah yang timbul.
4) Kecakapan mental: tingkat kemampuan dan kecepatan
dalam menerima insturksi kerja dan menyesuaikan dengan
cara kerja serta situasi kerja yang ada.
5) Sikap: tingkat semangat kerja serta sikap positif dalam
melaksanakan tugas pekerjaan.
6) Disiplin waktu dan absensi: tingkat ketepatan waktu dan
tingkat kehadiran
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Pekerjaan dengah hasil yang tinggi harus dicapai oleh
karyawan. Mangkunegara (2000:67) menyatakan bahwa ukuran
yang perlu diperhatikan dalam penilaian kinerja antara lain:
1) Kualitas kerja, yaitu kerapian, ketelitian, dan keterkaitan
hasil kerja dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan.
Dengan adanya kualitas kerja yang baik dapat menghindari
tingkat kesalahan dalam penyeleseian suatu pekerjaan serta
produktivitas kerja yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi
kemajuan perusahaan.
2) Kuantitas Kerja, yaitu volume kerja yang dihasilkan
dibawah kondisi normal. Kuantitas kerja menunjukkan
banyaknya jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu
waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana
sesuai dengan tujuan perusahaan.
3) Tangung jawab, yaitu menunjukkan seberapa besar
karyawan dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjanya,
sarana dan prasarana yang dipergunakan serta perilaku
kerjanya.
4) Inisiatif, yaitu menunjukkan seberapa besar kemampuan
karyawan untuk menganalisis, menilai, menciptakan dan
membuat keputusan terhadap penyelesaian masalah yang
dihadapinya.
5) Kerja sama, yaitu merupakan kesediaan karyawan untuk
berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain
secara vertical atau horizontal didalam maupun diluar
pekerjaan sehingga hasil pekerjaan semakin baik.
6) Ketaatan, yaitu merupakan kesediaan karyawan dalam
mematuhi peraturan-peraturan yang melakukan
pekerjaannya sesuai dengan instruksi yang diberikan kepada
karyawan
Tujuan Penilaian Kinerja
Didalam Mangkunegara (2000:10), secara spesifik, tujuan
penilaian kinerja sebagai berikut:
1) Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang
persyaratan kinerja.
2) Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, ,
sehingga mereka termotivasi untuk berbuat yang lebih baik,
atau sekurang-kurangnya berprestasi sama dengan prestasi
yang terdahulu.
3) Memberikan perluang kepada karyawan untuk
mendiskusikan keinginan dan aspirasinya dan
meningkatkan kepedulian terhadap karier atau pekerjaan
yang diembannya sekarang.
4) Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa
depan, sehingga karyawan termotivasi untuk berprestasi
sesuai dengan potensinya.
5) Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang
sesuai dengan kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat,
dan kemudian menyetujui rencana itu jika tidak ada hal-hak
yang perlu diubah.
Pengertian Kinerja
Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama
periode tertentu didalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil
kerja, target atau sasaran kriteria yang telah ditentukan terlebih
dahulu dan telah disepakati bersama (Veithzal, 2005:97). Kinerja
karyawan tidak hanya sekedar informasi untuk dapat dilakukannya
promosi atau penetapan gaji bagi perusahaan. Akan tetapi
bagaimana perusahaan dapat memotivasi karyawan dan
mengembangkan satu rencana untuk memperbaiki kemerosotan
kinerja dapat dihindari.
Kinerja karyawan perlu adanya penilaian dengan maksud
untuk memberikan satu peluang yang baik kepada karyawan atas
rencana karier mereka dilihat dari kekuatan dan kelemahan,
sehingga perusahaan dapat menetapkan pemberian gaji,
memberikan promosi, dan dapat melihat perilaku karyawan.
Penilaian kinerja dikenal dengan istilah “performance rating” atau
“performance appraisal”. Menurut munandar (2008:287), penilaian
kinerja adalah proses penilaian ciri-ciri kepribadian, perilaku kerja,
dan hasil kerja seseorang tenaga kerja atau karyawan (pekerja dan
manajer), yang dianggap menunjang unjuk kerjanya, yang
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan
keputusan tentang tindakan-tindakan terhadap bidang
ketenagakerjaan.
Suatu perusahaan melakukan penilaian kinerja didasarkan
pertimbangan bahwa perlu adanya suatu sistem evaluasi yang
objektif terhadap organisasional. Selain itu, dengan adanya
penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang
objektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi
yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban
kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat
membentuk motivasi dan rangsangan kepada msing-masing bagian
untuk bekerja lebih efektif dan efisien
Landasan, Asas dan Tujuan Koperasi
Landasan dan asas koperasi menurut Subandi (2013: 22) pada umumnya
terdiri dari tiga hal mencakup sebebagai berikut:
- Pandangan hidup dan cita-cita moral yang ingin dicapai suatu bangsa. Unsur
ini lazimnya disebut sebagai landasan cita-cita atau landasan idil yang
menentukan arah perjalanan usaha koperasi; - Semua ketemtuan atau tata tertib dasar yang mengatur agar falsafah bangsa,
sebagai jiwa dan cita-cita moral bangsa benar-benar dihayati dan diamalkan.
Unsur landasan koperasi yang keduan ini disebut sebagai landasan structural; - Adanya rasa karsa untuk hidup dengan mengutamakan tindakan saling tolong
menolong diantara sesama manusia berdasarkan ketinggian budi dan harga
diri, serta dengan kesadaran sebagai makhluk pribadi yang harus bergaul dan
bekerjasama dengan orang lain. Sikap dasar yang demikian ini dikenal
sebagai asas koperasi
Tujuan Kinerja Keuangan
Tujuan pengukuran kinerja keuangan menurut (Munawir 2013)
yaitu sebagai berikut:
a) Mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera
diselesaikan pada saat ditagih.
b) Mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dan jangka
panjang apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
c) Mengetahui tingkat profitabilitas atau rentabilitas, yaitu
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama
periode tertentu dengan menggunakan aktiva atau modal secara
produktif.
d) Mengetahui tingkat stabilitas, yaitu kemampuan perusahaan
dalam menjalankan dan mempertahankan usahanya sehingga
tetap stabil. Kemampuan yang dimaksud diukur dari
kemampuan perusahaan membayar pokok hutang dan beban
bunga tepat pada waktunya
Pengertian Kinerja Keuangan
Menurut (Fahmi 2017) Kinerja keuangan merupakan gambaran
dari pencapaian keberhasilan perusahaan dapat diartikan sebagai hasil
yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang telah dilakukan. Dapat
dijelaskan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan
untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan
dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik
dan benar
Elemen Laporan Laba Rugi
Menurut (Hanafi, Mamduh M; Halim 2016) ada tiga elemen
pokok dala laporan laba rugi yaitu:
1) Pendapatan operasional
Pendapatan merupakan aset masuk atau aset naik nilainya atau
hutang yang semakin berkurang atau kombinasi ketiga hal tersebut,
selama periode dimana perusahaan memproduksi dan menyerahkan
barang atau memberikan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan
operasi pokok perusahaan.
2) Beban operasional
Beban operasional merupakan aset keluar atau pihak lain
memanfaatkan aset perusahaan atau munculnya utang atau
kombinasi antar ketiganya selama periode di mana perusahaan
memproduksi dan menyerahkan barang, memberikan jasa, atau
melaksanakan aktivitas lain yang merupakan operasi pokok
perusahaan.
3) Untung atau Rugi
Untung merupakan kenaikan modal saham dari transaksi
yang bersifat insidental dan bukan merupakan kegiatan pokok
perusahaan dan dari transaksi lainnya yang mempengaruhi
perusahaan selama periode tertentu, kecuali yang berasal dari
pendapatan operasional dan investasi oleh pemilik saham.
Jenis Laporan Keuangan
Menurut (Dwi dan Juliaty 2010), dua jenis laporan keuangan
(utama) yang umumnya dibuat oleh setiap perusahaan adalah neraca dan
laporan laba rugi (dan biasanya dilengkapi dengan laporan perubahan
modal), yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Neraca
Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi
mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban, dan ekuitas)
perusahaan pada saat itu.
b. Laporan Laba-Rugi
Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memberikan
informasi mengenai kemampuan (potensi) perusahaan dalam
menghasilkan laba (kinerja) selama periode tertentu
Pengertian Laporan Keuangan
Menurut (Hery 2015) laporan keuangan merupakan hasil akhir
dari serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data dalam
transaksi bisnis. Laporan keuangan menunjukkan pertanggung jawaban
dari pihak manajemen atas sumberdaya yang digunakan serta sebagai
alat informasi yang menghubungkan perusahaan dengan pihak-pihak
yang berkepentingan untuk menunjukkan kondisi keuangan perusahaan
Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut (Kasmir 2017) ada beberapa tujuan dan manfaat adanya
analisis laporan keuangan diantaranya:
- Untuk mengetahui kondisi keuangan perusahan pada periode
tertentu baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil dari
kegiatan usaha yang dicapai dalam beberapa periode - Untuk mengetahui kelemahan- kelemahan yang dimiliki
perusahaan - Untuk mengetahui kekuatan kekuatan yang dimiliki perusahaan
- Untuk mengetahui langkah langkah perbaikan apa saja yang
perlu dilakukan kedepannya - Untuk menilai kinerja manajemen
- Dan juga dapat digunakan sebagai pembanding dengan
perusahaan sejenis
Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Menurut (Dwi dan Juliaty 2010) Analisis laporan keuangan
merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka
membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan
pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk
menentukan estimasi dan prediksi dan yang paling mungkin
mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.
Menurut (Harahap 2011), Analisis laporan keuangan berarti
menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasiyang
lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang
mempunyai makna antara satu dengan yang lain baikantara data
kuantitatif maupun non-kuantitatif dengan tujuan untukmengetahui
kondisi keuangan lebih dalam yang sangat pentingdalam proses
menghasilkan keputusan yang tepat
Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Keuangan
Tujuan dari penilaian kinerja keuangan adalah untuk dijadikan sebagai
motivasi bagi karyawan dalam usaha mencapai tujuan dari organisasi dan sebagai
pedoman untuk selalu mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan guna
menghasilkan tindakan dan hasil yang diinginkan (Hery, 2020). Kemudian
Sujarweni (2021) menguraikan manfaat dari penilaian kinerja keuangan sebagai
berikut:
- Untuk mengukur pencapaian yang didapatkan oleh organisasi secara
keseluruhan dalam periode tertentu, dari pengukuran ini dicerminkan tingkat
keberhasilan dari pelaksanaan kegiatan. - Untuk melakukan penilaian kinerja perbagian dalam partisipasinya untuk
perusahaan. - Sebagai pedoman dalam menentukan strategi perusahaan dimasa
mendatang. - Sebagai petunjuk dalam pengambilan keputusan dan kegiatan organisasi.
- Sebagai dasar penentuan kebijakan dalam melakukan penanaman moda
Pengertian Penilaian Kinerja Keuangan
Penilaian kinerja merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk
menilai seberapa besar partisipasi yang dilakukan oleh suatu bagian dalam
perusahaan atas pencapaian yang diraih perusahaan tersebut (Hery, 2020).
Kemudian Fahmi (2020) menjelaskan bahwa kinerja keuangan merupakan suatu
analisis yang dilakukan untuk meninjau sejauh mana aturan mengenai
pelaksanaan keuangan telah dilakukan dengan baik dan benar. Selain itu, kinerja
juga merupakan hasil dari penilaian dari pekerjaan yang telah diselesaikan, dari
hasil pekerjaan tersebut dilakukan perbandingan dengan kriteria yang telah
ditetapkan secara bersama (Sujarweni, 2021).
Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan
Darminto (2019) menguraikan beberapa tujuan dan manfaat dari analisis
laporan keuangan, diantaranya adalah screening yaitu analisis laporan keuangan
digunakan sebagai alat untuk memilih opsi investasi, kemudian forecasting yaitu
analisis laporan digunakan sebagai alat untuk memprediksi posisi keuangan
dimasa depan, selain itu analisis laporan keuangan juga digunakan sebagai alat
untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi didalam manajemen, dan yang
terakhir analisis laporan keuangan digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja
manajemen.
Menurut Kasmir (2019) terdapat beberapa tujuan dari analisis laporan
keuangan yaitu:
- Untuk melihat posisi keuangan perusahaan pada periode tertentu, mulai dari
aset, liabilitas, ekuitas, serta hasil usaha yang didapat dalam beberapa
periode; - Untuk melihat kelemahan apa saja yang jadi kekurangan dari perusahaan;
- Untuk melihat kekuatan apa saja yang dimiliki perusahaan;
- Untuk memprediksi langkah apa yang akan diambil untuk masa mendatang
dari posisi keuangan saat ini; - Untuk menilai kinerja dari manajemen serta mengambil keputusan apakah
diperlukan regenerasi pada manajemen yang terkait; - Untuk digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan yang bergerak
pada sektor yang sama
Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2018) analisis laporan keuangan merupakan kegiatan
menguraikan komponen-komponen laporan keuangan menjadi suatu unit
informasi yang lebih kecil, serta melihat keterkaitan antara komponen-komponen
tersebut dengan maksud untuk mengetahui kondisi dari keuangan milik
perusahaan guna melakukan pengambilan keputusan yang tepat. Kemudian
Sujarweni (2021) menjelaskan bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu
analisis yang dilakukan untuk mengetahui keadaan keuangan perusahaan pada
masa lampau, masa sekarang, dan memprediksi keuangan perusahaan dimasa
depan guna mengambil keputusan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan
diperusahaan. Selain itu, Hery (2020) menguraikan bahwa analisis laporan
keuangan adalah suatu proses yang dilakukan untuk membedah laporan keuangan
kedalam komponen-komponen dan melakukan pendalaman atas komponen
tersebut yang bertujuan untuk mendapat suatu pemahaman yang tepat atas laporan
keuangan
Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan
Penyusunan laporan keuangan dilakukan dengan tujuan memberikan
informasi yang memiliki hubungan dengan posisi dari keuangan, kinerja
perusahaan, serta perubahan dari posisi keuangan perusahaan yang memiliki
manfaat bagi para pemakai informasi keuangan tersebut untuk mengambil
keputusan dibidang ekonomi (Darminto, 2019). Kemudian Fahmi (2020)
memberika penjelasan bahwa tujuan dari laporan keuangan yaitu untuk dapat
memberikan suatu informasi kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan
untuk mengetahui kondisi dari perusahaan yang terkait dari sudut pandang angka-
angka dalam satuan uang. Sedangkan menurut Kasmir (2019) tujuan dari laporan
keuangan adalah untuk memberikan suatu informasi yang berkaitan dengan
keuangan perusahaan, pada saat tertentu ataupun pada saat periode tertentu
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah suatu hasil akhir dari proses kegiatan mencatat
dan mengikhtisarkan data transaksi suatu usaha (Hery, 2020). Selain itu, laporan
keuangan juga memberikan gambaran tentang komponen-komponen keuangan
milik perusahaan yang didapatkan dalam satu periode (Kasmir, 2019). Kemudian
Sujarweni (2021) menguraikan arti laporan keuangan sebagai suatu catatan yang
memuat informasi keuangan milik perusahaan dalam suatu periode akuntansi serta
memberikan suatu gambaran mengenai kinerja dari perusahaan tersebut.
Sedangkan menurut Fahmi (2020) laporan keuangan adalah suatu informasi yang
memberikan gambaran mengenai kondisi finansial perusahaan, dan dari informasi
tersebut juga menggambarkan kinerja dari perusahaan
Solvabilitas
Rasio solvabilitas dipergunakan untuk mengukur perbandingan antara dana
yang dimiliki oleh pemilik perusahaan dengan dana yang dipinjam dari kreditur
perusahaan tersebut. Kasmir (2012), menyatakan rasio solvabilitas adalah rasio
yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban
jangka pendek/panjangnya apabila perusahaan dilikuidasi. Rasio ini berfungsi
mengukur aktiva perusahaan yang mendapatkan biaya dari utang rasio yang
dapat dikatakan tingkat seberapa aman pembaerian kredit oleh pemberi
pinjaman. Suatu perusahaan yang solvable belum tentu dikatakan likuid dan
sebaliknya apabila perusahaan yang insolvable belum tentu dikatakan likuid
Rasio Likuiditas
Menurut Dwi Prastowo (2011:83) “rasio Likuditas perusahaan
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya kepada kreditor jangka pendek”. Menurut Hery (2015: 175) rasio
likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya. Dengan kata
lain, rasio likuiditas adalah untuk mengukur sampai seberapa jauh tingkat
kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya yang
akan segera jatuh tempo.
Likuiditas menurut Riyanto (2008:25) yaitu berkaitan dengan masalah
kemampuan dari suatu perusahaan dalam pemenuhan kewajiban dari apa yang
telah dipinjam untuk harus segera dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai
likuiditas besar akan menjadi mampu dalam pemenuhan semua kewajiban
keuangan perusahaan yang harus dipenuhi, dapat dikatakan suatu perusahaan
likuid, jika perusahaan tidak mempunyai alat likuid yang dapat memenuhi
semua kewajiban keuangannya yang harus cepat terpenuhi agar dapat dikatakan
bahwa perusahaan tersebut insolvable.
Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut Penyataan Standar Akuntansi Keuangan
(2004) adalah:
- Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermafaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. - Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai.
- Menunjukan kinerja yang telah dilakukan manajemen (stewardship),
atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya.
Menurut Penyataan Standar Akuntansi Keuangan (2004), laporan keuangan
sangat bermanfaat bagi berbagai pihak, baik internal maupun eksternal
perusahaan. Pemakai laporan keuangan tersebut meliputi: - Investor/ pemegang saham
Investor atau penanam modal mempunyai risiko terhadap modal yang
baru atau akan ditanamkannya pada suatu perusahaan, begitu pula
penasihat mereka yang berkepentingan dengan risiko dan hasil
pengembangan dari investasi yang dilakukan. Dengan demikian, investor
membutuhkan informasi untuk membantu dalam menentukan
investasinya, apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi
tersebut. Pemegang saham juga membutuhkan informasi yang
membantu mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
membayar deviden. - Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka
membutuhkan informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas
perusahaan serta informasi yang memungkinkan mereka dapat menilai
kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun
dan kesempatan kerja. - Pemberi pinjaman
Pemberi pinjaman tertarik pada informasi keuangan yang
memungkinkan mereka memutuskan apakah pinjaman serta bunganya
dapat dibayar pada saat jatuh tempo. - Pemasok dan kreditor usaha lainnya
Pemasok dan kreditor usaha lainnya berkepentingan dengan informasi
yang memungkinkan mereka dalam pengambilan keputusan, apakah
jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha
berkepentingan pada perusahaan dalam jangka waktu yang relatif
singkat dari pemberi pinjaman, kecuali sebagai pelanggan utama,
mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan. - Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai
kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam
perjanjian jangka panjang dengan atau tergantung pada perusahaan. - Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya
berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu
berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan
informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan
pajak dan berbagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional
dan statistik lainnya. - Masyarakat
Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan
informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran
perusahaan serta rangkaian aktivitasnya
Tinjauan Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan hasil akhir (output) dari proses akuntansi.
Laporan keuangan inilah yang menjadi menjadi bahan informasi bagi para
pemakainya baik pihak internal maupun eksternal perusahaan, sebagai salah satu
bahan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi,
laporan keuangan juga berfungsi sebagai pertanggungjawaban (accountability)
dari kinerja manajerial perusahaan, sekaligus menggambarkan indikator
kesuksesan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Berikut adalah pengertian laporan keuangan yang dikemukakan oleh para
ahli:
- Menurut Irham Fahmi (2011), “Laporan keuangan merupakan suatu
informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana
selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan
tentang kinerja suatu perusahaan.” - Menurut Weston (1989), “Laporan keuangan (biasanya dalam bentuk
neraca dan perhitungan rugi laba) berisi informasi tentang prestasi
perusahaan dimasa lampau dan dapat memberikan petunjuk untuk
penetapan kebijakan dimasa yang akan datang.” - Menurut Munawir (2007), “Laporan keuangan merupakan alat yang
sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi
keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang
bersangkutan.”
Hubungan Rasio Keuangan dan Kinerja Keuangan
Dalam bukunya, Warsidi dan Bambang (2000) menyatakan bahwa:
“Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang
menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk
menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi dimasa lalu
dan membantu mengambarkan trend pola perubahan tersebut untuk kemudian
menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang
bersangkutan”.
Menurut Van Horne dan Wachowicz (2005), menyatakan bahwa: “To
evaluate fianancial condition and performance of a firm, the financial analyst
needs certain yardstick. The yardstick frequently used is a ratio, index, relating
two pieces of financial data of to each other”. Jadi untuk menilai kondisi dan
keuangan perusahaan dapat digunakan rasio yang merupakan perbandingan
angka-angka yang terdapat pada pos-pos laporan keuangan.
Pengertian Rentabilitas/Profitabilitas
Salah satu hal yang paling penting dari dilakukannya kegiatan
operasional suatu perusahaan adalah terciptanya keuntungan agar
perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan dapat terjamin.
Rentabilitas atau disebut juga profitabilitas perusahaan menunjukkan
perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan
laba tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk menghasilkan laba. Menurut Riyanto (2001:35) bahwa
”rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba
dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.” Dengan kata
lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan
laba selama periode tertentu.
Harahap (2008) memberikan pengertiannya tentang rentabilitas yakni:
“Profitabilitas adalah hasil akhir dari berbagai keputusan dan kebijakan yang
dilakukan perusahaan.” Dengan demikian profitabilitas memberikan jawaban
akhir tentang efektif tidaknya perusahaan. Suatu perusahaan yang mempunyai
tingkat laba yang tinggi tidak secara otomatis dapat menyebabkan tingkat
rentabilitas menjadi tinggi yang berarti adanya efisiensi dalam perusahaan.
Hal ini bias saja disebabkan karena mungkin saja laba yang tinggi tersebut
dihasilkan oleh penggunaan dana yang relatif besar juga.
Rentabilitas sering pula digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan
modal dalam suatu perusahaan dengan memperbandingkan antara laba dengan
modal yang digunakan dalam operasi. Oleh karena itu, bagi manajemen atau
pihak-pihak lain, rentabilitas yang lebih tinggi lebih penting daripada
keuntungan yang besar. Tingkat rentabilitas yang tinggi juga memudahkan
suatu perusahaan untuk mendapatkan modal/pinjaman dari luar perusahaan
karena rentabilitas dapat digunakan sebagai jaminan para kreditur untuk
piutang-piutangnya sehingga kelangsungan hidup perusahaan dapat lebih
terjamin
Pengertian Likuiditas
Masalah likuiditas merupakan masalah yang berhubungan dengan
kemampuan suatu perusahaan dalam membayar semua kewajibannya yang
jatuh tempo. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Syamsuddin (2002:41)
bahwa “Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan
perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek
pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.”
Bambang (2001:25) mengemukakan bahwa “likuiditas adalah
berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi.” Dengan
kata lain bahwa likuiditas tidak hanya berhubungan dengan keadaan
keseluruhan keuangan perusahaan tetapi juga berkaitan dengan
kemampuan perusahaan mengkonversi aktiva lancar menjadi uang tunai.
Aktiva likuid dalam manajemen keuangan terdiri atas komponen aktiva
lancar, kas, dan surat berharga. Aktiva likuid adalah aktiva-aktiva yang
dapat segera dikonversikan segera menjadi uang tunai. Kas merupakan
aktiva yang paling likuid, aktiva lain mungkin relatif likuid atau tidak
likuid tergantung seberapa cepat aktiva ini dikonversikan ke dalam kas,
misalnya surat-surat berharga (efek-efek).
Piutang dipandang kurang likuid dibandingkan kas dan surat-surat
berharga karena piutang mempunyai risiko dan struktur maturitas yang
berbeda-beda dimana untuk mengkonversi piutang ke dalam kas
dibutuhkan pembeli yang tentu hanya mau membeli dengan harga yang
lebih rendah daripada nilai piutang ataupun menunggu hingga piutang
tersebut jatuh tempo. Sedangkan persediaan barang dipandang tidak lebih
likuid dibandingkan dengan piutang karena persediaan barang cenderung
untuk diperdagangkan pada pasar tertentu dan apabila perusahaan
mengalami kesulitan keuangan dan akan menjual barangnya maka
diperlukan pembeli yang tepat serta tawar-menawar yang cukup lama.
Jenis-jenis Rasio Keuangan
Beberapa pendapat dalam pengelompokan rasio-rasio keuangan adalah
sebagai berikut:
- Menurut Harahap (2008), rasio keuangan dikelompokkan kedalam
tujuh jenis rasio:
a. Rasio likuiditas
b. Rasio solvabilitas
c. Rasio profitabilitas
d. Rasio leverage
e. Rasio aktivitas
f. Rasio pertumbuhan
g. Rasio penilaian pasar
h. Rasio produktivitas - Menurut Riyanto (2001), rasio keuangan dikelompokkan kedalam
dua bentuk penggolongan, yaitu:
a. Penggolongan berdasarkan sumber data keuangan, antara lain:
1) Rasio-rasio neraca (balance sheets ratios)
2) Rasio-rasio laba rugi (income statements ratios)
3) Rasio-rasio antar laporan
b. Penggolongan berdasarkan tujuan analisis rasio, antara lain:
1) Rasio likuiditas
2) Rasio laverage
3) Rasio aktivitas
4) Rasio profitabilitas - Menurut Horne dan Wachowicz (2005), rasio keuangan dapat dibagi
kedalam lima sub divisi, yaitu: rasio likuiditas, ukuran risiko (utang)
keuangan, rasio pencakupan, aktivitas dan laba
Tujuan Analisis Rasio Keuangan
Tujuan dari analisis rasio keuangan adalah:
- Memberikan gambaran kinerja keuangan perusahaan kepada pihak-
pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. - Untuk memeriksa tingkat kesehatan suatu perusahaan.
- Mengoreksi kelemahan-kelemahan yang ada dalam kebijakan
keuangan perusahaan. - Mengoreksi penyimpangan yang terjadi sehingga dapat diperbaik
Definisi Rasio Keuangan
Berikut adalah definisi dari rasio keuangan menurut para ahli:
- Menurut Horne dan Wachowicz (1997), “Rasio keuangan adalah
indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh
dengan membagi satu angka dengan angka lainnya”. - Menurut Harahap (1999), “Rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan
dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan
signifikan (berarti)”
Analisis Rasio Keuangan
Pada suatu perusahaan melihat laporan keuangan saja belum cukup
menginformasikan mengenai kondisi serta kinerja keuangan perusahaan. Dengan
menggunakan analisis rasio dimungkinkan unutk dapat menentukan tingkat
likuiditas, solvabilitas, keekefektifan operasi serta derajat keuntungan perusahaan
(profitability) (Munawir, 2007: 65).
Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan terdiri dari penelaahan atau mempelajari dari
pada hubungan-hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk
menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan
yang bersangkutan.
Metode analisa digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan
antara pos-pos yang ada dalam laporan sehingga dapat diketahui perubahan-
perubahan dari masing-masing pos tersebut bila diperbandingkan dengan laporan
dari beberapa periode untuk satu perusahaan tertentu, atau diperbandingkan
dengan alat-alat pembanding lainnya (Munawir, 2007:36).
Ada dua metode analisis yang digunakan oleh setiap penganalisa laporan
keuangan, yaitu analisis horizontal dan analisis vertikal. Analisis horizontal
adalah analisis dengan mengadakan pembandingan laporan keuangan untuk
beberapa periode sehingga akan diketahui perkembangannya. Metode analisis
horizontal dikenal juga dengan analisis dinamis. Analisis vertikal yaitu apabila
laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu periode saja, yaitu dengan
memperbandingkan antara pos yang satu dengan pos lainnya dalam laporan
keuangan tersebut, sehingga hanya dapat diketahui keadaan keuangan atau hasil
operasi pada saat itu saja. Analisis vertikal ini disebut juga sebagai metode
analisis statis karena kesimpulan yang dapat diperoleh hanya untuk periode itu
saja tanpa mengetahui perkembangannya (Munawir, 2007:36).
Dalam bukunya, Munawir (2007) menyebutkan bahwa teknik analisis
laporan keuangan yang biasa digunakan dalam menganalisis laporan keuangan
adalah sebagai berikut:
- Analisa perbandingan laporan keuangan, adalah metode dan teknik
analisis dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua
periode atau lebih, dengan menunjukkan:
a. Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah.
b. Kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiah.
c. Kenaikan atau penurunan dalam prosentase.
d. Perbandingan yang dinyatakan dalam rasio.
e. Prosentase dari total.
Analisis dengan metode ini akan dapat diketahui perubahan-perubahan
yang terjadi. - Trend dan tendensi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang
dinyatakan dalam prosentase (trend percentage analysis), adalah suatu
metode atau teknik analisis untuk mengetahui tendensi dari pada
keadaan keuangannya, apakah menunjukan tendensi tetap, naik maupun
turun. - Laporan dengan prosentase perkomponen atau common size statement,
adalah suatu metode analisis untuk mengetahui prosentase investasi pada
masing-masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengetahui
struktur permodalannya dan komposisi perongkosan yang terjadi
dihubungkan dengan jumlah penjualannya. - Analisis sumber dan penggunaan modal kerja, adalah suatu analisis
untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja atau
untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerja dalam periode
tertentu. - Analisis sumber dan penggunaan kas (cash flow statement analysis),
adalah suatu analisis untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah
uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan uang
kas selama periode tertentu. - Analisis rasio, adalah suatu metode analisis untuk mengetahui hubungan
dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu
atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. - Analisis perubahan laba kotor (gross profit analysis), adalah suatu
analisis untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu
perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor
suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut. - Analisis break-even, adalah suatu analisis untuk menentukan tingkat
penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan
tersebut tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh
keuntungan. Dengan analisis break-even ini juga diketahui berbagai
tingkat keuntungan atau kerugian untuk berbagai tingkat penjualan
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaandalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya. Menurut Harahap(2009:308), “Rasio aktivitas merupakan rasio yang menggambarkan aktivitasyang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatanpenjualan, pembelian dan kegiatan lainnya”. Menurut Hanafi (2009:76), rasio aktivitas adalah: Rasio yang melihat pada beberapa aset kemudian menentukan beberapatingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu.Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkansemakin besrnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut.
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaandalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya.
Menurut Harahap(2009:308), “Rasio aktivitas merupakan rasio yang
menggambarkan aktivitasyang dilakukan perusahaan dalam menjalankan
operasinya baik dalam kegiatanpenjualan, pembelian dan kegiatan lainnya”.
Menurut Hanafi (2009:76), rasio aktivitas adalah: Rasio yang melihat pada
beberapa aset kemudian menentukan beberapatingkat aktivitas aktiva-aktiva
tersebut pada tingkat kegiatan tertentu.Aktivitas yang rendah pada tingkat
penjualan tertentu akan mengakibatkansemakin besrnya dana kelebihan yang
tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Sedangkan menurut Fahmi (2013:132),
rasio aktivitas adalah: Rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu
perusahaan mempergunakansumber daya yang dimilikinya guna menunjang
aktivitas perusahaan,dimana penggunaan aktivitas ini dilakukan secara sangat
maksimal denganmaksud memperoleh hasil yang maksimal Terdapat beberapa
macam rasio yang dapat dihitung antara lain, Total Assets Turnover, Receivable
Turnover, Inventory Turnover, Average Day’s Inventory dan Working Capital
Turnover.
Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang
ditunjukkan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam
hubungan dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik rasio profitabilitas
maka semakin baik nilai perusahaan tersebut, menggambarkan kemampuan
memperoleh keuntungan dalam suatu perusahaan.
Menurut Sartono (2011:114), “Rasio Profitabilitas adalah rasio yang
dapat mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba, baik dalam
hubungan dengan penjualan, asset maupun modal sendiri. Menurut Abdul (
2010: 25) Rasio Profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga
memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam
melaksanakan kegiatan operasinya. Profitabilitas juga mempunyai hubungan
positif dengan deviden pay out ratio, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas
maka semakin besar deviden yang dibagikan oleh perusahaan kepada investor.
Jika perusahaan mampu menghasilkan laba terhadap penjualan dan
investasi perusahaan, maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan yang efisien.
Sebaliknya, jika perusahaan tidak mampu menhasilkan laba terhadap penjualan
dan investasi perusahaan maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan yang
tidak efisien.
Jenis-jenis Rasio Keuangan
“Secara umum, terdapat berbagai jenis pengelompokan rasio-rasio keuangan.
Pengelompokan rasio-rasio itu tergantung pada tujuan masing-masing analisis.”
(Prastowo, 2012: 53).
Weston dan Brigham (2012: 294) membagi rasio keuangan ke dalam lima
kelompok sebagai berikut:
- Rasio likuiditas, menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendek. - Rasio Solvabilitas, mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai dengan hutang.
- Rasio solvabilitas atau rasio pengukuran, mengukur tingkat efektivitas
pemanfaatan sumber daya perusahaan. - Rasio profitabilitas, memberikan tingkat efektivitas manajemen dalam
mengelola perusahaan seperti ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari
penjualan dan dari pendapatan investasi. - Rasio pertumbuhan, menggambarkan kemampuan perusahaan
mempertahankan posisi ekonominya ditengah perekonomian secara
keseluruhan dan disektor industrinya sendiri.
Sedangkan rasio-rasio yang dipakai untuk mengevaluasi keuangan menurut
Harahap (2011: 300) adalah sebagai berikut: - Rasio likuiditas, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas
dan pos-pos lancar yang sifatnya hampir mendekati kas yang berguna untuk
memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo. - Rasio efisiensi, untuk menentukan nilai efektivitas perusahaan dalam
menggunakan sumber daya perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. - Rasio leverage, menunjukkan kualitas kewajiban perusahaan serta berapa besar
perbandingan antara kewajiban dengan aktiva perusahaan. - Rasio profitabilitas, mengukur kemampuan perusahaan untuk mendapatkan
laba dari setiap penjualan. - Rasio dividen “payoutí” digunakan untuk mengukur seberapa besar bagian dari
laba bersih perusahaan yang digunakan sebagai dividen.
Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Harahap (2011:297), mendefinisikan Rasio keungan merupakan
Angka yang di hasilkan dari perbandingan satu pos laporan keuangan dengan pos
lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Dapat dikatakan
merupakan hasil usaha dari pada perusahaan satu periode menggunakan
perbandingan beberapa variabel yang diambil dari laporan keuangan suatu
perusahaan yaitu dari neraca atau laporan laba rugi. Sedangkan menurut Munawir
(2010:37), analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengtahui hubungan
dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau
kombinasi dari kedua laporan tersebut. Menurut Munawir (2000: 64) menguraikan
rasio sebagai berikut: “Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan
antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan dengan menggunakan alat
analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan kepada
penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu
perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio
pembanding yang digunakan sebagai standart.”
Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Jumingan (2010:10) terdapat empat keterbatasan laporan keuangan
yaitu:
- Laporan keuangan pada dasarnya merupakan laporan antara (interim final),
bukan merupakan laporan final, karena laba rugi riil (laba rugi final) hanya
dapat ditentukan bila perusahaan dijual atau dilikuidasi. Karena alasan tersebut
laporan keuangan perlu disusun untuk periode waktu tertentu, umumnya satu
tahun atau 12 bulan. Waktu periode ini dianggap sebagai periode akuntansi
baku. - Laporan keuangan ditunjukkan dalam jumlah rupiah yang tampaknya pasti.
Jumlah rupiah ini bisa saja berbeda bila standar yang digunakan berbeda, karena
lebih dari satu standar yang diperkenankan. Standar yang dimaksud adalah
standar menilai jumlah rupiah. Misalnya bila dibandingkan dengan laporan
keuangan suatu perusahaan jika seandainya perusahaan itu dilikuidasi, jumlah
rupiahnya dapat sangat berbeda. Aktiva tetap dinilai berdasarkan harga
historisnya, jumlahnya kemudian dikurangi dengan akumulasi penyusutannya.
Jumlah bersihnya tidak mencerminkan nilai penjualan aktiva tetap. Dalam
keadaan likuidasi, aktiva tidak berwujud seperti hakpaten, merek dagang, biaya
organisasi hanya dinilai satu rupiah. - Neraca dan laporan laba rugi mencerminkan transaksi-transaksi keuangan dari
waktu ke waktu. Selama jangka waktu tersebut mungkin nilai rupiah sudah
menurun (daya beli rupiah menurun karena kenaikan tingkat harga-harga). Oleh
karena itu untuk menghindari adanya analisis yang menyesatkan, analisis
perbandingan harus dilakukan dengan hati-hati. - Laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai
keadaan perusahaan. Laporan keuangan tidak mencerminkan semua faktor yang
mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha karena tidak semua faktor
dapat diukur dalam satuan uang. Faktor tersebut misalnya kemampuan dalam
menemukan penjual dan mencari pembeli, nama baik dan prestise perusahaan
di mata masyarakat, kepercayaan pihak luar kepada perusahaan, efisiensi,
loyalitas, dan integritas dari pimpinan dan karyawan, kualitas barang yang
dihasilkan, kondisi-kondisi pesaingnya, keadaan perekonomian pada
umumnya, dan sebagainya
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut PSAK (2012) merupakan
ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai.
Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu:
- Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai - Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai
dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan
kalau dapat memperngaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu
mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,masa kini atau masa depan,
menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. - Keandalan
Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable).Informasi memiliki
kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material
dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari
seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. - Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antar
periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja
keuangan.Pemakai juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar
perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan secara relatif
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan.
Tujuan umum laporan keuangan yang diatur dalam PAI yaitu:
- Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercayai mengenai aktiva dan
kewajiban serta ekuitas suatu bank. - Memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva
netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu bank yang timbul dari kegiatan usaha
dalam rangka memperoleh laba. - Memberikan informasi keuangan yang membantu para pengguna laporan di
dalam menaksir potensi perubahan dalam menghasilkan laba. - Memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan
kewajiban suatu bank, seperti informasi mengenai aktivitas pembayaran dan
investasi. - Memberikan informasi tentang sejauh mana pengungkapan informasi lain yang
berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan
pengguna laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut
bank
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang
dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktiva suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas
perusahaan tersebut. (Munawir, 2012:2) .
Menurut penggunaanya, laporan keuangan bank dibedakan menjadi tiga
yaitu laporan keuangan untuk masyarakat, laporan keuangan untuk keperluan
manajemen bank, dan laporan keuangan untuk keperluan pengawasan Bank
Indonesia. Untuk kepentingan masyarakat, laporan keuangan bank harus mengikuti
pedoman dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No. 31 Revisi
2012) tentang akuntansi perbankan. Dalam PSAK tersebut laporan keuangan untuk
masyarakat terdiri atas neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan
perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan. Untuk kepentingan
pengawasan Bank Indonesia, jenis dan cara penyajian laporan keuangan bank harus
disajikan sesuai ketentuan tentang pelaporan bank umum yang telah ditetapkan
Bank Indonesia. Sedangkan untuk keperluan manajemen, laporan keuangan bank
disusun sesuai dengan kepentingan internal perusahaan. (Indra Bastian dan
Suhardjono, 2012:236)
Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan kegiatan
operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Analisis kinerja
keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review data,
menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap keuangan
perusahaan pada suatu periode tertentu. Kinerja Keuangan dapat dinilai dengan
beberapa alat analisis. Berdasarkan tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan
menjadi 8 macam, yaitu menurut Jumingan (2010:242):
a. Analisis perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis dengan
cara membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih dengan
menunjukkan perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun dalam
persentase (relatif).
b. Analisis Trend (tendensi posisi), merupakan teknik analisis untuk mengetahui
tendensi keadaan keuangan apakah menunjukkan kenaikan atau penurunan.
c. Analisis Persentase per Komponen (common size), merupakan teknik analisis
untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap
keseluruhan atau total aktiva maupun utang.
d. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis
untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal kerja melalui dua
periode waktu yang dibandingkan.
e. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis untuk
mengetahui kondisi kas disertai sebab terjadinya perubahan kas pada suatu
periode waktu tertentu.
f. Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis keuangan untuk
mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun laporan laba
rugi baik secara individu maupun secara simultan.
g. Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis untuk mengetahui
posisi laba dan sebab-sebab terjadinya perubahan laba.
h. Analisis Break Even, merupakan teknik analisis untuk mengetahui tingkat
penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami kerugian
Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan
perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan
yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Menurut Irhan (2011:2)
kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana
suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan – aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Menurut Fahmi (2012: 64), kinerja
keuangan sebagai refleksi gambaran dari pencapaian keberhasilan perusahaan dapat
diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang telah
dilakukan. Kinerja keuangan yang dilihat berdasarkan laporan keuangan yang
disajikan oleh manajemen akan memberi arti pada saat dianalisis terhadap
pelaksanaan kinerja yang telah dilakukan. Menurut Mulyadi (2012:415), bahwa
kinerja adalah: “Penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi,
bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran standar, dan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya.” Sedangkan menurut Helfert (2016: 67), “kinerja
perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus-
menerus (kontinyu) oleh manajemen perusahaan yang dilakukan dibidang
investasi, operasi dan pendanaan.” Sedangkan menurut Mangkunegara (2012: 67)
menjelaskan bahwa “kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya.”
Rasio Profitabilitas
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba. Rasio ini dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu rasio tingkat pengembalian atas investasi dan rasio kinerja operasi.
Rasio tingkat pengembalian atas investasi adalah rasio yang
digunakan untuk menilai kompensasi finansial atas penggunaan aset
atau ekuitas terhadap laba bersih (laba setelah bunga dan pajak) rasio ini
terdiri atas:
1) Hasil Pengembalian atas Aset (Return on Assets) merupakan rasio
yang menunjukkan hasil (return) atas penggunaan aset perusahaan
dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio ini
digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang
akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total
aset.
2) Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return on Equity) merupakan
rasio yang menunjukkan hasil (return) atas penggunaan ekuitas
perusahaan dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio
ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih
yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam
total ekuitas
Rasio Solvabilitas atau Rasio Struktur Modal
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi seluruh kewajibannya. sama halnya dengan rasio
likuiditas, rasio solvabilitas juga diperlukan untuk kepentingan analisis
kredit atau analisis risiko keuangan. Rasio solvabilitas terdiri atas:
1) Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt to Equity to Ratio) merupakan
rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total
utang dengan total ekuitas.
2) Rasio Laba Operasional terhadap Kewajiban (Operating Income to
Liabilities Ratio) merupakan rasio yang menunjukkan (sejauh mana
atau berapa kali) kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh
kewajiban. Kemampuan perusahaan di sini diukur dari jumlah laba
operasiona
Definisi Rasio Keuangan
Menurut Subramanyam (2017: 36) rasio keuangan merupakan alat
untuk memberikan pandangan mengenai kondisi yang mendasarinya. Rasio,
apabila diinterpretasikan dengan tepat, mengidentifikasi area yang
memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Analisis rasio dapat mengungkapkan
hubungan penting dan dasar perbandingan dalam mengungkapkan kondisi
dan tren yang sulit dideteksi dengan memeriksa setiap komponen yang
membentuk rasio tersebut.
Menurut Hery (2016: 138) rasio keuangan adalah suatu perhitungan
rasio dengan menggunakan laporan keuangan yang berfungsi sebagai alat
ukur dalam menilai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Rasio
keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil perbandingan antara
satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan
yang relevan dan signifikan.
Menurut Kasmir (2017: 104) rasio keuangan merupakan kegiatan
membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan
cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Kemudian angka yang
diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun
beberapa periode. Hasil rasio keuangan ini digunakan untuk menilai kinerja
manajemen dalam suatu periode apakah mencapai target seperti yang telah
ditetapkan. Kemudian juga dapat dinilai kemampuan manajemen dalam
memberdayakan sumber daya perusahaan secara efektif.
Komponen Laporan Keuangan
Menurut Kartihadi dkk. (2016: 126) laporan keuangan yang lengkap
terdiri dari komponen sebagai berikut:
a. Laporan posisi keuangan (Neraca) pada akhir periode.
b. Laporan laba rugi komprehensif selama periode
c. Laporan perubahan ekuitas selama periode
d. Laporan arus kas selama periode
e. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi
penting dan informasi penjelasan lain, dan informasi komparatif
mengenai periode terdekat sebelumnya, serta
f. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif, yang disajikan
ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif
atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika
entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
Menurut Kasmir (2017: 28) secara umum ada lima macam jenis laporan
keuangan yang biasa disusun, yaitu:
a. Neraca (balance sheet) merupakan laporan yang menunjukkan posisi
keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan
dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva
(kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.
b. Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan keuangan
yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode
tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah pendapatan dan
sumber-sumber pendapatan yang diperoleh. Kemudian, juga tergambar
jumlah biaya dan jenis-jenis biaya yang dikeluarkan selama periode
tertentu. Dari jumlah pendapatan dan jumlah biaya ini terdapat selisih
yang disebut laba atau rugi.
c. Laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan
jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga
menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan
modal di perusahaan.
d. Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek
yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh
langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan arus kas harus
disusun berdasarkan konsep kas selama periode laporan.
e. Laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang
memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan
penjelasan tertentu. Artinya terkadang ada komponen atau nilai dalam
laporan keuangan yang perlu diberi penjelasan terlebih dahulu sehingga
jelas. Hal ini perlu dilakukan agar pihak-pihak yang berkepentingan
tidak salah dalam menafsirkannya.
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Hery (2016: 5) tujuan khusus laporan keuangan adalah
menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan
lainnya secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Sedangkan tujuan umum laporan keuangan adalah:
a. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber daya ekonomi
dan kewajiban perusahaan dengan tujuan:
1) Menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan,
2) Menunjukkan posisi keuangan dan investasi perusahaan,
3) Menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya, dan
4) Kemampuan sumber daya yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.
b. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih
yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan tujuan:
1) Memberikan gambaran tentang jumlah dividen yang diharapkan
pemegang saham,
2) Menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban
kepada kreditur, penyuplai, pegawai, pemerintah, dan
kemampuannya dalam mengumpulkan dana untuk kepentingan
ekspansi perusahaan,
3) Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam
pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengendalian, serta
4) Menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam mendapatkan
laba jangka panjang.
c. Memungkinkan untuk menaksir potensi perusahaan dalam
menghasilkan laba.
d. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan aset
dan kewajiban.
e. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan oleh para
pemakai laporan
Definisi Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2017: 7) dalam pengertian yang sederhana, laporan
keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan
pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Maksud laporan keuangan
yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini adalah
merupakan kondisi terkini. Kondisi perusahaan terkini adalah keadaan
keuangan perusahaan pada tanggal tertentu (untuk neraca) dan periode
tertentu (untuk laporan laba rugi). Di samping itu, dengan adanya laporan
keuangan, dapat diketahui posisi perusahaan terkini setelah menganalisis
laporan keuangan tersebut dianalisis.
Menurut Fahmi (2014: 31) laporan keuangan merupakan suatu
informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan
lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja
keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Hery (2016: 3) laporan keuangan merupakan produk akhir dari
serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data transaksi bisnis.
Seorang akuntan diharapkan mampu untuk mengorganisir seluruh data
akuntansi hingga menghasilkan laporan keuangan dan bahkan harus dapat
menginterpretasikan serta menganalisis laporan keuangan yang dibuatnya.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang
dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau
aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
Tujuan dari Kinerja Keuangan
Menurut Jumingan (2014: 239) analisis kinerja keuangan bank
mengandung beberapa tujuan dari perhitungan kinerja keuangan sebagai
berikut:
a. Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan bank terutama
kondisi likuiditas, kecukupan modal, dan profitabilitas yang dicapai
dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya;
b. Untuk mengetahui kemampuan bank dalam mendayagunakan semua
aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien.
Menurut Hery (2016: 25) dengan pengukuran kinerja keuangan dapat
dilihat prospek pertumbuhan dan perkembangan keuangan perusahaan dari
mengandalkan sumber daya yang dimilikinya. Perusahaan dikatakan
berhasil apabila perusahaan telah mencapai suatu kinerja tertentu yang telah
ditetapkan. Pengukuran kinerja keuangan adalah penting sebagai sarana
atau indikator dalam rangka memperbaiki kegiatan operasional perusahaan
dengan perbaikan kinerja operasional diharapkan bahwa perusahaan dapat
mengalami pertumbuhan keuangan yang lebih baik dan juga dapat bersaing
dengan perusahaan lain lewat efisiensi dan efektivitas.
Menurut Kasmir (2017: 105) hasil rasio keuangan digunakan untuk
menilai kinerja dalam suatu periode apakah mencapai target seperti yang
telah ditetapkan. Kemudian juga dapat dinilai kemampuan manajemen
dalam memberdayakan sumber daya perusahaan secara efektif. Dari kinerja
yang dihasilkan ini juga dapat dijadikan sebagai evaluasi hal-hal yang perlu
dilakukan ke depan agar kinerja manajemen dapat ditingkatkan atau
dipertahankan sesuai dengan target perusahaan
Tahap-Tahap dalam analisis
Menurut Fahmi (2015: 149) ada 5 (lima) tahap dalam menganalisis
kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu:
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan.
Review di sini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang
sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang
berlaku umum dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil
laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
b. Melakukan perhitungan.
Penerapan metode perhitungan di sini adalah disesuaikan dengan
kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari
perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan
analisis yang diinginkan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.
Dari hasil hitungan yang sudah diperoleh tersebut kemudian
dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan
lainnya. Metode yang paling umum dipergunakan untuk melakukan
perbandingan ini ada dua, yaitu:
1) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atau
antar periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.
2) Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap
hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu
perusahaan dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang
sejenis yang dilakukan secara bersamaan.
d. Melakukan penafsiran (interception) terhadap berbagai permasalahan
yang ditemukan.
Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah
setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran
untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang
dialami oleh perbankan tersebut.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
berbagai permasalahan yang ditemukan.
Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan
yang dihadapi maka dicarikan solusi guna memberikan suatu input atau
masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat
terselesaikan.
Menurut Darminto (2014: 58) berbagai langkah yang harus ditempuh
dalam menganalisis laporan keuangan adapun langkah-langkah yang harus
ditempuh tersebut adalah sebagai berikut:
a. Memahami latar belakang data keuangan perusahaan
Pemahaman latar belakang data keuangan perusahaan yang
dianalisis mencakup pemahaman tentang bidang usaha yang diterjuni
oleh perusahaan dan kebijakan akuntansi yang dianut dan diterapkan
oleh perusahaan tersebut.
b. Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh pada perusahaan
Selain latar belakang data keuangan, kondisi-kondisi yang
mempunyai pengaruh terhadap perusahaan perlu juga untuk dipahami.
Kondisi-kondisi yang perlu dipahami mencakup informasi mengenai
trend (kecenderungan) industri di mana perusahaan beroperasi;
perubahan teknologi; perubahan selera konsumen; perubahan faktor-
faktor ekonomi seperti perubahan pendapatan per kapita, tingkat bunga,
tingkat inflasi, dan pajak; dan perubahan yang terjadi di dalam
perusahaan itu sendiri, seperti perubahan posisi manajemen kunci.
c. Mempelajari dan me-review laporan keuangan
Kedua langkah pertama akan memberikan gambaran mengenai
karakteristik (profil) perusahaan. Sebelum berbagai teknik analisis
laporan keuangan secara menyeluruh. Apabila dipandang perlu, dapat
menyusun kembali laporan keuangan perusahaan yang dianalisis.
Tujuan, langkah ini adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan
telah cukup jelas menggambarkan data keuangan yang relevan dan
sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
d. Menganalisis laporan keuangan
Setelah memahami profil perusahaan dan me-review laporan
keuangan, maka dengan menggunakan berbagai metode dan teknik
analisis yang ada dapat menganalisis laporan keuangan dan
menginterpretasikan hasil analisis tersebut (bila perlu disertai
rekomendasi)
Definisi Kinerja Keuangan
Menurut IAI (2017: 6) kinerja keuangan adalah hubungan antara
penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana disajikan dalam laporan
laba rugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar
untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per
saham.
Menurut Fahmi (2015: 149) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang
dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan
dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan
benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan yang telah
memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi
Keuangan) atau GAAP (General Accepted Accounting Principle), dan
lainnya.
Menurut Jumingan (2014: 239) kinerja keuangan bank merupakan
gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik
menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang
biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan
profitabilitas bank. Penilaian aspek penghimpunan dana dan penyaluran
dana merupakan kinerja keuangan yang berkaitan dengan peran bank
sebagai lembaga intermediasi. Adapun penilaian kondisi likuiditas bank
guna mengetahui seberapa besar kemampuan bank dalam memenuhi
kewajibannya kepada para deposan. Penilaian aspek profitabilitas guna
mengetahui kemampuan yang menciptakan profit, yang sudah barang tentu
penting bagi para pemilik. Dengan kinerja bank yang baik pada akhirnya
akan berdampak baik pada internal maupun eksternal bank
Tahap-Tahap Menganalisis Kinerja Keuangan
Ada beberapa tahap untuk menganalisis kinerja keuangan
suatu perusahaan secara umum, yaitu:
a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan, tujuan
dilakukan review adalah agar laporan keungan yang sudah dibuat
tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku
umum dalam dunia akuntansi.
b. Melakukan perhitungan, dalam melakukan perhitungan
penerapan metode perhitungaan dapat disesuaikan dengan kondisi
dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari
perhitungaan tersebut akan memberikaan suatu kesimpulan sesuai
dengan analisis yang digunakan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitung yang telah di
peroleh, dari hasil perhitungan yang sudah diperoleh tersebut
kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil hitung dari
berbagai perusahaan lainya. Metode yang paling umum
dipergunakan untuk melakukan perbandingan ini yaitu :
1) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu
atau antar periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat
secara grafik.
2) Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan
terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara
satu perusahaan dan perusahaan lainya dalam ruang lingku
yang sejenenis yang dilakukan secara bersamaan.
Dari hasil kedua metode tersebut akan dibuat kesimpulan
yang menyatakan posisi perusahaan tersebut dalam kondisi
sangat baik, baik, sedang/normal, tidak baik, dan sangat tidak
baik.
d. Melakukan penafsiran (interpretatuion) terhadap berbagai
permasalahan yang ditemukan.
e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
berbagai permasalahan yang ditemukan (Hutabarat, 2020).
Tujuan Kinerja Keuangan
Ada beberapa tujuan penilaian kinerja perusahaan, yang dapat
ditunjukkan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu
dengan mengetahui hal ini maka dapat menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
b. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu dengan mengetahui
ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh
kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi atau kemampuan
perusahaan untuk memenuhi keuanganya pada saat ditagih.
c. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu dengan hal ini dapat
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi
baik kewajiban keungan jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu dengan
mengetahui hal ini dapat menunjukkan kemampuan perusahaan
untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar
beban buga atas hutang-hutangnya termasuk kembali pokok
hutangnya tepat pada waktunya serta kemampuan membayar
deviden secara teratur pada para pemegang saham tanpa
mengalami hambatan atau krisis keuangan
Definisi Kinerja Keuangan
Kinerja Keuangan adalah penggambaran pencapaian-
pencapaian organisasi yang dapat diartikan sebagai hasil yang telah
dicapai untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. Dapat dipaham
pula bahwa pameran keuangan adalah penyelidikan yang dilakukan
untuk melihat sejauh mana suatu organisasi atau perusahaan telah
melakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip pelaksanaan
keuangan secara tepat dan akurat (Trianto, 2017)
Jenis Laporan Keuangan
Sebagaimana diketahui ada empat macam laporan keuangan
yang dibuat oleh organisasi, yaitu:
a. Informasi yang tedapat dalam neraca melaporkan nilai aset,
kewajiban, dan ekuitas pemilik perusahaan pada posisi tertentu.
Laporan posisi keuangan (neraca) menggambarkan posisi
keuangan perusahaan dalam hal aset, utang dan ekuitas (modal).
b. Laporan keuntungan dan kerugian yang menggambarkan
pameran yang ditunjukkan dari manfaat, untuk lebih spesifik
merinci penyajian perubahan moneter sejauh keuntungan atau
kerugian selama periode tertentu berdasarkan perbedaan gaji dan
biaya, selama satu periode.
c. laporan arus kas yang menunjukkan bagaimana bisnis
mendapatkan, menggunakan, dan menyajikan arus kas dari
aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama periode
tertentu.
d. Perubahan ekuitas dijelaskan dalam laporan perubahan ekuitas,
yang mencakup perubahan ekuitas yang menggambarkan
perubahan pos-pos ekuitas perusahaan akibat kinerja internal
berupa pembagian dividen dan laba, serta pengaruh perubahan
modal komposisi untuk periode waktu tertentu (Febriana, et al.,
2021).
Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi
kepada pihak-pihak yang membutuhkan tentang keadaan suatu
perusahaan ditinjau dari angka-angka dalam satuan moneter. Tujuan
laporan keuangan paling penting adalah seperti berikut ini:
a. screening (sarana informasi), analisis hanya dilakukan
berdasarkan laporan keuangannya, sehingga seorang analis tidak
perlu turun langsung ke lapangan untuk mengetahui situasi dan
kondisi perusahaan yang dianalisis.
b. Pemahaman (understanding), analisis dilakukan dengan
memahami perusahaan, kondisi keuangan dan bidang usahanya
serta hasil usahanya.
c. Peramalan (forecasting), analisis juga dapat digunakan untuk
memprediksi kondisi perusahaan di masa yang akan datang.
d. Diagnosa (diagnosis), analisis memungkinkan untuk melihat
kemungkinan baik manajemen atau masalah lain dalam
perusahaan.
Evaluasi (evaluation), analisis yang digunakan untuk menilai
dan mengevaluasi kinerja perusahaan termasuk manajemen dalam
meningkatkan tujuan perusahaan secara efisien (Hidayat, 2018).
Definisi Laporan Keuangan
Dalam kariya Buku Aldila Septiana, dengan judul “Analisis
Laporan Keuangan Konsep Dasar dan Deskripsi Laporan Keuangan”
mengemukakan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian
laporan keuangan yaitu sebagai berikut:
a. Munawir, pada dasarnya laporan keuangan adalah proses
akuntansi yang dapat digukan sebagai alat untuk
mengkomunikasikan data keuangan.
b. SAK (Standar Akuntansi Keuangan), laporan keuangan adalah
bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap biasanya
meliputi neraca, laporan laba rugi dan laporan perubahan posisi
keuangan.
c. Sofyan S. Harahap, laporan keuangan adalah laporan yang
mengambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu
perusahan pada saat tertentu atu waktu tertentu.
- Potret perusahaan yang dapat menggambarkan kinerja keuangan
maupum kinerja manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi
yang baik atau tidak. - Ringkasan dari suatu proses transaksi keuangan yang terjadi
selam periode yang bersangkutan. - Pada periode tahun tertentu, rangkaian aktivitas ekonomi
perusahaan yang di kelompokan (Septiana, 2019)
Jenis Koperasi
Berdasarkan Undang-undang N0. 25 tahun 1992 tentang
Koperasi, koperasi dapat berbentuk koperasi primer atau sekunder.
Menurut Undang-Undang No. 17 Tahun 2012 tentang perkoperasian
menyebutkan beberapa jenis koperasi yang ada di Indonesia yaitu
sebagai berikut :
a. Koperasi Simpan Pinjam
Koperasi simpan pinjam dan koperasi kredit adalah koperasi
yang menjalankan usaha simpan pinjam sebagai satu-satunya
usaha yang melayani anggota dan bergerak dalam mengusahakan
simpanan anggota untuk dipinjamkan kepada anggota yang
membutuhkan bantuan keuangan. Usaha utama koperasi simpan
pinjam adalah sebagai tempat penitipan anggotanya.
b. Koperasi Konsumen
Pengguna akhir atau pengguna barang dan jasa merupakan
anggota koperasi konsumen, yaitu koperasi yang melakukan
kegiatan usaha jasa di bidang barang yang dibutuhkan oleh
anggota dan bukan anggota. Pembelian bersama adalah kegiatan
utama koperasi konsumen. Jenis barang atau jasa yang diterima
pelanggan sebagian besar dipengaruhi oleh persyaratan
sebelumnya dari para anggota. Koperasi, misalnya, menjalankan
minimarket, minimarket, dan usaha serupa lainnya.
c. Koperasi Pemasaran
Koperasi yang dipamerkan adalah koperasi yang individunya
terdiri dari pembuat atau pemilik produk atau koperasi spesialis.
Tujuan utama dari koperasi pemasaran adalah untuk membantu
anggotanya dalam memasarkan produk mereka. Oleh karena itu,
setiap koperasi memproduksi sendiri barang-barangnya,
sedangkan koperasi memasarkan barang-barang tersebut. Artinya,
anggota koperasi hanya bisa membantu dengan cara menjual
produk yang dibuatnya. Tujuan koperasi pemasaran adalah
membuat rantai tata niaga sesederhana mungkin dan
menghilangkan sebanyak mungkin perantara dari pemasaran
produk yang mereka hasilkan.
d. Koperasi Produsen
Koperasi produsen adalah koperasi yang menjalankan usaha
berbasis jasa dalam pengadaan sarana pemasaran dan produksi.
Anggotanya tidak menjalankan bisnis mereka sendiri; sebaliknya,
mereka bekerja sama sebagai koperasi untuk membuat dan
menjual produk atau jasa. Koperasi produsen menyediakan,
mengelola, dan mengoperasikan fasilitas produksi bersama
sebagai kegiatan utama mereka. Tujuan utama koperasi produsen
adalah menyatukan keterampilan dan sumber daya anggotanya
untuk menghasilkan barang atau jasa tertentu melalui bisnis yang
dimiliki dan dikelola bersama (Ajija, et al., 2020).
Prinsip dan Nilai Koperasi
Menyusul pernyataan tentang identitas koperasi dan nilai-nilai
koperasi, berikut rumusan world cooperative alliance, pada tahun
1995:
a. Nilai-nilai organisasi
- Membantu diri sendiri
- Akuntabilitas sendiri
- Demokratis
- Persamaan
- Ketergantungan pada kelompok
- keadilan
b. Nilai-nilai moral - Dapat dipercaya
- Tanggung jawab terhadap orang lain
- Perduli terhadap sosial.
Prinsip-prinsip koperasi menurut UU No. 17 tahun 2012 yaitu
sebagai berikut :
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
b. Pengawasan oleh anggota diselenggarakan ecara demokratis
c. Anggota yang berpartisipasi yang aktif dalam kegiatan ekonomi
koperasi
d. Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom dan
indipenden
e. Menyelenggarakan pendidikandan pelatihan bagi anggota,
pengawas, pengurus dan kariyawan serta memberi informasi
kepada masyarakat tentang jatidiri kegiatan dan manfaat koperasi
f. Melayani anggota secara prima daan memperkuat gerakan
koperasi, dengan bekerja sama melalui jaringan kegiatan baik
g. Bekerja sama untuk pembangunan yang berkelanjutan bagi
lingkungan serta masyarakatnya dengan melalui kebijakan yang
di sepakati oleh anggota (Rohmat, 2015)
Fungsi dan Peran Koperasi
Fungsi koperasi dalan mewujudkan kesejahteraan ekonomi
masyarakat antara lain sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan anggota untuk memajukan
kesejahteraanya.
b. Membangun sumber daya anggota dan masyarakat.
c. Mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota.
d. Mengembangkan aspirasi ekonomi anggota dan masyarakat di
lingkungan kegiatan koperasi.
e. Membuka peluang kepada anggotanya untuk mengaktualisasikan
diri dalam bidang ekonomi secara optimal.
Peran koperasi dalan mewujudkan kesejahteraan ekonomi
masyarakat antara lain sebagai berikut:
1) Wadah peningkatan taraf hidup dan ketangguhan berdaya saing
para anggota koperasi dan masyarakat di lingkunganya.
2) Bagian integral dari system ekonomi nasional
3) Pelaku strategis dalam system ekonomi rakyat.
4) Wadah pencerdasan anggota dan masyarakat di lingkungannya
(Hasan, Supatminingsih, & Ahmad, 2021)
Tujuan Koperasi
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun
1992 tentang perkoperasian pasal 3 di sebutkan bahwa koperasi
bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan
perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
maju, adil, dan makmur berlandaskan pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945.
Dikatakan bahwa koperasi memajukan kesejahteraan anggota
khususnya dan masyarakat secara keseluruhan dalam mengejar
tujuan ini. Penegasan ini menyimpulkan bahwa peningkatan bantuan
pemerintah kepada perseorangan merupakan program utama
koperasi melalui penyelenggaraan usaha. Akibatnya, layanan
anggota lebih diutamakan daripada msyarakat umum (Sattar, 2017).
Definisi Koperasi
Bahasa Inggris cooperative berasal dari kata latin cooperation
yang berarti kerjasama Co mengacu pada bekerja sama, sedangkan
operasi mengacu pada usaha. Akibatnya koperasi dapat dipahami
sebagai kelompok yang bekerja sama dengan anggotanya untuk
mencapai suatu tujuan. Terlepas dari kenyataan bahwa istilah
koperasi mengacu pada kolaborasi, tidak semua anggota masyarakat
dapat dianggap koperasi. Namun untuk mencapai tujuan, yaitu
meningkatkan taraf hidup ekonomi para anggotanya, semua
organisasi yang membentuk koperasi sendiri didalamnya harus
menyadari atau bekerja sama (Maulana & Rosmayati, 2020).
Koperasi dapat diartikan sebuah kerja sama yang dilakukan
menjadi kegiatan oleh kumpulan orang-orang yang mempunyai
keinginan dan kebutuhan yang sama dan tujuan yang sama.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun
1992, koperasi merupakan lembaga yang beranggotakan orang-
orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berbasis asas kekeluargaan (Simanjuntak, et al., 2021)
Fungsi Manajemen Keuangan
a. Kemampuan kontrol likuiditas
1) Merencanakan arus kas (forecasting cash flow) untuk
memastikan kas selalu tersedia atau dapat memenuhi
pembayaran kapan pun dibutuhkan.
2) Pencairan dana (raising of funds) untuk mendapatkan dana
dengan biaya lebih rendah dan menyediakannya kapanpun
dibutuhkan.
3) Menjaga hubungan baik dengan lembaga keuangan seperti
bank agar perusahaan dapat memperoleh uang yang
dibutuhkan pada saat dibutuhkan.
b. Fungsi kontrol untuk laba
1) Pengendalian biaya, menghindari pemborosan atau biaya
yang tidak diperlukan.
2) Penetapan harga agar tidak terlalu mahal dibandingkan harga
pesaing untuk barang sejenis.
3) Perencanaan keuntungan (profit planning) adalah proses
mengantisipasi keuntungan yang akan datang sehingga anda
dapat merencanakan akvitas anda dengan lebih baik.
c. Fungsi Manajemen
1) Manajer keuangan harus menjadi manajer sekaligus
pengambilan keputusan saat mengendalikan likuiditas atau
keuntungan agar dapat membuat keputusan yang
menguntungkan bagi perusahaan.
2) Melakukan eksekutif sumber daya dan dewan aset
(Musthafa, 2017)
Tujuan Manajemen Keuangan
a. Strategi untung dan risiko
Pengawas moneter atau keuangan harus membuat keuntungan
atau keuntungan dasar. Di sini mencari laba bertujuan untuk
meningkatkan nilai perusahaan dan dapat menguntungkan
pemilik atau pemegang saham. Diharapkan suatu target dapat
terpenuhi, namun jika lebih rendah dari target maka tidak jauh
berbeda dengan target tersebut. Ini adalah tingkat risiko minimum
yang diperlukan perusahaan untuk menetapkan target laba
tahunan.
b. Strategi likuiditas dan profitabilitas
Pendekatan Likuiditas dan Profitabilitas merupakan
tujuan pengelolaan keuangan berikutnya, sebagai berikut:
1) Menjaga profitabilitas dan likuiditas.
2) Manajer keuangan yang likuid menyimpan uang tunai untuk
memenuhi kewajiban keuangan segera mereka.
3) Manajer yang menguntungkan melakukan upaya keuangan
untuk mencapai keuntungan perusahaan, terutama dalam
jangka panjang.
c. Keputusan dana dan pendanaan
Dana diperoleh dengan menjual financial assets, seperti
saham, obligasi, dan surat berharga lainnya. Dapat juga dengan
pinjaman bank, leasing, dan lain-lain. Sedangkan dana dapat
digunakan untuk melakukan investasidalam aktiva tetap, kegiatan
operasional untuk kelancaran jalanya perusahaan.
d. Problem pokok yang dihadapi manejer keuangan
1) Keputusan penggunaan dan (invesment decision) merupakan
keputusan yang harus dilakukan oleh manajer keuangan
untuk menggunakan dana yang tersedia dalam kegiatan
investasi atu operasional peruhasaan sehingga perusahaan
memperoleh laba yang maksimal.
2) Keputusan Pendanaan (financing decision) merupakan
keputudan yang harus dilakukan oleh manajer kuangan untuk
memperoleh dana, apakah dari dalam perusahaan sendiri/
modal sendiri atau diperoleh dari luar perusahaan secara
kredit/pinjaman (disebut modal asing)
Definisi Manajemen Keuangan
Manajemen keungangan merupakan ilmu dan seni dalam
merencanakan, mengorganisasi, memimpin, serta mengendalikan
semua sumber daya organisasi untuk mencapai berbagai sasaran
yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Keuangan yang berasala
dari kata uang, dalam organisasi uang adalah salah satu sumber daya
yang dimiliki disimpan sumber daya lain seperti manusia, bahan-
bahan, mesin, metode, dan pasar
Fungsi-Fungsi Manajemen
Berikut beberapa fungsi-fungsi manajemen :
a. Perencanaan (planning)
Perencanaan merupakan suatu fungsi sebagai hasil pemikiran
yang mengarah ke masa depan. Yaitu menyangkut serangkaian
tindakan yang berdasarkan pehaman yang mendalam terhadap
semua factor yang terlibat.
b. Pengorganisasian(Organizing)
Pengorganisasian merupakan langkah kedua fungsi manajemen.
Hasil pengorganisasian adalah menciptakan organisasi untuk
melaksanakan rencana yang telah dirumuskan.
c. Gerakan/iplementasi (Actuating)
Fungsi manajemen yang disebut implementasi atau tindakan
digunakan untuk membuat orang bekerja menuju tujuan yang
telah ditetapkan aktualisasi kegiatan fungsi perencanaan dan
pengorganisasian.
d. Pengawasan (Controling)
Pengawasan adalah memastikan pekerjaan sesuai dengan
rencana, mencegah adanya kesalahan, menciptakan kondisi agar
kariyawan bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan,
mengadakan korekasi terhadap kegagalan yang timbul, dan
memberi jalan atas suatu kesalahan (Ruyatnasih & Megawati,
2018)
Kinerja Keuangan
Menurut Hutabarat (2021:2) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang
dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan aturan
keuangan secara baik dan benar. Kinerja keuangan menunjukkan informasi
tentang keadaan perusahaan dengan cara mengevaluasi keadaan yang perlu
diperbaiki dari periode sebelumnya untuk memprediksi keadaan pada periode
selanjutnya. Terdapat tujuan kinerja perusahaan, sebagai berikut (Hutabarat,
2021:3-4):
1) Mengetahui tingkat rentabilitas dan profitabilitas untuk menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada periode
tertentu.
2) Mengetahui tingkat likuiditas untuk menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajibannya.
3) Mengetahui tingkat solvabilitas untuk menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila
perusahaan tersebut dilikuidasi.
4) Mengetahui tingkat stabilitas usaha untuk menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam membayar beban bunga atas hutangnya.
Berikut merupakan tahapan analisis kinerja keuangan perusahaan:
1) Melakukan review terhadap data laporan keuangan untuk mengetahui
apakah telah sesuai dengan kaidah akuntansi secara umum.
2) Melakukan perhitungan terhadap data laporan keuangan untuk
menghasilkan kesimpulan dari perhitungan tersebut.
3) Melakukan perbandingan terhadap data laporan keuangan yang telah
dihitung dengan menggunakan dua cara yaitu time series analysis atau
cross sectional approach.
4) Melakukan penaksiran terhadap permasalahan yang telah ditemukan.
5) Mencari dan memberikan solusi atas permasalahan yang ditemukan.
Definisi Rasio Keuangan
Rasio Keuangan merupakan sebuah informasi dari penggabungan antara dua
laporan yaitu laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi pada periode tertentu.
Sehingga analisis rasio keuangan merupakan menganalisis dengan cara
membandingkan dari beberapa periode dari sebuah laporan keuangan yaitu
laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi. Analisis rasio keuangan adalah
kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan
cara membagi satu angka dengan angka lainnya (Kasmir, 2016: 104)
Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sugiono dan Untung (2016: 11) tujuan dari analisis laporan keuangan
adalah sebagai berikut :
a. Screening (sarana informasi) merupakan analisis yang dilakukan oleh
seorang yang tidak perlu terjun langsung untuk mengetahui kondisi
perusahaan, tetapi dapat dilakukan dengan menganalisis dari laporan
keuangan.
b. Understanding (pemahaman) merupakan analisis yang dilakukan
dengan cara mengetahui kebijakan bisnis perusahaan dan hasil usaha
yang diperoleh oleh perusahaan.
c. Forecasting (peramalan) merupakan merupakan analisis yang
dilakukan dengan meramalkan kondisi perusahaan dengan
mempertimbangkan berbagai aspek internal dan eksternal.
d. Diagnosis (diagnosa) merupakan analisis yang dilakukan dengan
mempertimbangkan adanya permasalahan yang didapat yang berasal
dari internal maupun eksternal.
e. Evaluation (evaluasi) merupakan analisis yang dilakukan dengan cara
mengevaluasi kinerja perusahaan.
Poin Penting dalam Analisis Laporan Keuangan
Berikut merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis
menurut (Hanafi dan Halim, 2018: 4-68) :
- Hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis laporan keuangan :
a) Analisis perlu mengidentifikasi adanya trend dalam laporan keuangan,
sehingga perlu laporan keuangan lima hingga enam tahun untuk
menemukan sebuah trend baru. Trend baru tersebut perlu dianalisis
kembali sebab dan akibat yang akan terjadi.
b) Angka-angka yang berdiri sendiri sulit untuk dikatakan baik atau
buruk, maka diperlukan sebuah pembanding untuk mengetahui sebuah
angka tersebut dapat dikatakan baik ataukah buruk. Meski
pembanding tersebut terdapat perbedaan karakteristik perusahaan
sejenis, namun hal tersebut sering digunakan perusahaan untuk
mengetahui angka yang baik.
c) Pentingnya kehati-hatian dalam membaca dan menganalisis laporan.
Dengan berdiskusi mengenai strategi perusahaan, rencana ekspansi
atau restrukturisasi merupakan hal penting pula dalam menganalisis
laporan keuangan.
d) Diperlukan informasi tambahan dalam menganalisis laporan keuangan
untuk mendalami case pada akun-akun laporan. - Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis rasio :
a) Menentukan dengan jelas tujuan dari analisis
b) Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari
laporan-laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan yang diturunkan
dari laporan keuangan tersebut.
c) Memahami kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada
umumnya yang berkaitan dengan perusahaan dan mempengaruhi
usaha perusahaan
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2016: 11) terdapat beberapa tujuan dalam penyusunan
laporan keuangan, sebagai berikut :
a) Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aset yang dimiliki oleh
perusahaan.
b) Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aset kewajiban dan modal
yang dimiliki oleh perusahaan
c) Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang dimiliki
oleh perusahaan pada periode tertentu.
d) Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan pada periode tertentu.
e) Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi pada aktiva (aset)
dan pasiva (kewajiban dan modal) perusahaan.
f) Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan pada
periode tertentu.
g) Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan.
h) Informasi keuangan lainnya.
Macam-Macam Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sebuah sumber informasi yang mengenai
kondisi perekonomian perusahaan, berikut merupakan macam-macam mengenai
laporan keuangan :
- Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi dapat dikatakan laporan terpenting dalam sebuah
informasi laporan tahunan. Laporan ini mencangkup aktivitas rutin dan
tidak rutin. Terdapat tiga elemen pokok dalam laporan laba rugi yaitu
pendapatan operasional, beban operasional, dan laba dan rugi (Loss and
Gain). Pendapatan merupakan aset masuk atau aset yang nilai nya naik, dan
hutang dapat berkurang. Isi laporan laba rugi yaitu (1) pendapatan
operasional perusahaan; (2) hasil dari operasi yang diberhentikan; (3) item-
item luar biasa bersih pajak pendapatan; (4) efek kumulatif perubahan
prinsip akuntansi bersih pajak pendapatan; (5) laba bersih; (6) laba
perlembar saham (Hanafi dan Halim, 2018: 55-56). - Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan ini menghasilkan modal akhir yang akan digunakan atau diletakkan
pada laporan posisi keuangan. Akun-akun yang terdapat pada laporan
perubahan ekuitas ini adalah modal awal, prive, dividen, penerbitan modal
saham. Menurut PSAK 1 (Revisi 2013) : Penyajian Laporan Keuangan,
laporan perubahan ekuitas untuk suatu periode tertentu berisikan informasi
sebagai berikut (Martani, 2016: 128) :
a) Total laba rugi komprehensif, dengan penyajian terpisah untuk jumlah
yang dialokasikan untuk pemilik induk perusahaan dan alokasi untuk
kepentingan non-pengendali.
b) Dampak setiap pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian
kembali untuk setiap komponen ekuitas.
c) Rekonsiliasi atas perubahan selama periode berjalan untuk setiap
komponen ekuitas yang dihasilkan dari laba atau rugi.
d) Dividen yang diakui dan jumlah dividen per saham. - Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan yang biasa dikenal dengan laporan neraca.
Laporan ini memberikan sebuah informasi secara langsung mengenai hal
seluruh aspek. Terdapat bagian debit dan kredit yang harus balance.
Informasi posisi keuangan entitas terdiri dari informasi akun pokok yaitu
aset (harta), ekuitas (modal), dan liabilitas (kewajiban/hutang) pada tanggal
tertentu yang disajikan pada laporan posisi keuangan (Rahayu, 2020: 87).
Terdapat beberapa metode pada laporan ini yaitu historical cost, current
cost, current exit value, net realizable value, present value. - Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan Laporan arus kas adalah suatu laporan tentang
aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama periode
tertentu, beserta penjelasan tentang sumber-sumber penerimaan dan
pengeluaran kas. Menurut Hery (2017: 215) laporan arus kas melaporkan
kas masuk dan kas keluar yang digunakan manajemen untuk mengevaluasi
kegiatan operasional, merencanakan aktivitas investasi dan pembiayaan
yang akan datang. Laporan arus kas merupakan sebuah laporan yang hanya
berkaitan mengenai kas dalam transaksi perusahaan, yang bersangkutan
dengan uang yaitu penerimaan dan pengeluaran kas. Terdapat dua metode
dalam penyusunan laporan arus kas yaitu metode secara langsung dan
metode secara tidak langsung. Pada kedua metode ini terdapat tiga
perhitungan yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas
pendanaan. Namun, untuk perhitungan dari ketiga aktivitas tersebut cara
pengerjaannya dalam metode memiliki perbedaan.
Menurut Martani (2016: 147) tujuan dari laporan arus kas yang berguna
untuk investor, kreditur, pengguna lain laporan keuangan adalah sebagai
berikut :
a) Mengevaluasi kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara
kas, waktu, dan kepastian dalam menghasilkannya
b) Mengevaluasi dalam struktur keuangan entitas (termasuk liabilitas dan
solvabilitas) dan kemampuannya dalam memenuhi kewajiban dan
membayar dividen.
c) Memahami pos yang menjadi selisih antara laba rugi periode berjalan
dengan arus kas neto dari kegiatan operasi.
d) Membandingkan kinerja operasi antar-entitas yang berbeda, karena
arus kas neto dari laporan arus kas tidak dipengaruhi oleh perbedaan
pilihan metode akuntansi dan pertimbangan manajemen.
e) Memudahkan pengguna laporan untuk mengembangkan model untuk
menilai dan membandingkan nilai kini arus kas masa depan antar-
entitas yang berbeda. - Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan merupakan informasi mengenai penjelasan
dari laporan keuangan
Pihak-Pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan dilakukan analisis sehingga
menghasilkan sebuah informasi bagi pihak yang berkepentingan yang berbeda-
beda (Bukhari, 2019). Pihak yang berkepentingan dalam mengetahui informasi
laporan keuangan adalah pihak internal dan eksternal. Pihak internal merupakan
seorang bagian dari perusahaan yaitu pemilik perusahaan dan pihak manajemen.
Sedangkan Pihak eksternal merupakan seorang yang bukan bagian dari
perusahaan yaitu investor, kreditur, dan pemerintah. Berikut merupakan pihak-
pihak yang memerlukan laporan keuangan :
- Pemilik Perusahaan
Manfaat yang diterima oleh pemilik perusahaan untuk mengetahui kondisi
perusahaan yang didirikan dalam tahun tertentu dengan dapat menilai
keberhasilan manajemen dalam memimpin. - Pihak Manajemen
Manfaat yang didapatkan oleh pihak manajemen adalah untuk melakukan
pengendalian, perkoordinasian, dan perencanaan untuk tahun berikutnya. - Bagi Pemasok
Penting mengetahui kondisi perusahaan dengan menganalisis laporan
keuangan untuk memutuskan dalam transaksi jual beli barang dagangan
pada perusahaan dengan cara kredit (Kariyoto, 2017: 5). - Bagi investor
Penting mengetahui kondisi perusahaan dengan menganalisis laporan
keuangan untuk menentukan kebijakan dalam penanaman modal dengan
maksud untuk mendapatkan return dari modal dari perusahaan tersebut.
Sehingga investor akan melakukan investasi apabila perusahaan mempunyai
profit yang cukup baik (Roni, 2020). - Bagi kreditur
Penting mengetahui informasi kondisi pada laporan keuangan perusahaan
untuk menentukan kebijakan atas kredit yang diajukan apakah pembayaran
kredit dapat dibayarkan dengan mempertimbangkan terlebih dahulu
mengenai likuiditas dan profitabilitas di perusahaan tersebut. - Bagi pemerintah
Informasi laporan keuangan perusahaan penting untuk tujuan pajak yang
harus dibayarkan perusahaan.
Definisi Laporan Keuangan
Laporan Keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan
perusahaan saat ini atau dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2016: 7). Maksud
dan tujuan laporan keuangan memberikan sebuah informasi dengan menunjukkan
kondisi keuangan perusahaan (Sugiono, 2016: 11). Laporan Keuangan
adalah sebuah laporan yang berisi tentang informasi keuangan akhir kegiatan
perusahaan dan menjadi tugas penting bagi perusahaan dalam melakukan
penyusunannya menunjukan kondisi perusahaan yang berguna untuk pihak
internal dan eksternal. Secara umum laporan keuangan terdiri dari laporan laba
rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan posisi keuangan, laporan arus kas, dan
catatan atas laporan keuangan.
Analisis
Analisis adalah suatu kegiatan cara berpikir untuk menentukan hubungan
antar bagian (Wijaya, 2019). Analisis merupakan suatu tindakan berpikir dalam
hal keseluruhan menjadi beberapa bagian komponen untuk menjelaskan fungsi
yang berhubungan antara satu dengan yang lain. Jadi menganalisis adalah sebuah
tindakan dalam memahami beberapa konsep untuk menghasilkan sebuah
keputusan yang baik. Selain memahami, menganalisis merupakan adalah tindakan
membandingkan konsep dan prinsip yang satu dengan yang lain untuk
menghasilkan output yang diinginkan dengan memperhatikan sebab dan akibat
yang akan terjadi.
Rasio Keuangan
Menurut Kasmir (2020) rasio keuangan adalah kegiatan dengan cara
membandingkan angka-angka yang ada di dalam suatu laporan keuangan dengan
cara membagi sutu persatu angka dengan angka lainnya. Perbandingan juga dapat
dilakukan dengan cara membandingkan antara satu komponen dengan komponen
dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada diantara laporan
keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka
dalam satu periode maupun beberapa periode.
Menurut Kasmir (2020) rasio keuangan yang sering digunakan dalam
mengukur kinerja keuangan perusahaan adalah sebagai berikut :
- Rasio Likuiditas yaitu untuk menggambarkan kemampuan perusahaan
dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya, rasio-rasio ini dapat
dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja berupa pos-pos
aktiva lancar dan hutang lancar. - Rasio Solvabilitas yaitu untuk penggambaran kemampuan perusahaan
dalam membiayai kewajiban jangka panjangnya serta kewajiban-
kewajiban apabila perusahaan nantinya terjadi dilikuidasi. Rasio ini dapat
dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan
hutang jangka panjang. - Rasio Profitabilitas yaitu bagaimana menggambarkan perusahaan untuk
mendapatkan laba melalui semua kemampuan yang ada seperti penjualan,
kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dana dan sebagainya.
Kinerja Keuangan
Menurut Fahmi (2021:17) kinerja keuangan adalah analisis untuk
mengetahui seberapa baik suatu perusahaan telah menerapkan standar aturan
keuangan didalam pelaksanaan kegiatan usahanya.
Menurut Khair (2020) kinerja keuangan adalah suatu gambaran tentang
kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan menggunakan alat
analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai kondisi keuangan suatu
perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.
Menurut Hutabarat, F (2021) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang
dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan
dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar
Jenis Laporan Keuangan
Dalam praktiknya secara umum laporan keuangan yang biasa disusun
yaitu:
- Neraca
Neraca merupakan jenis laporan yang berisi mengenai posisi dari aktiva,
kewajiban dan modal perusahaan. Dimana hasil perhitungan neraca ini
akan digunakan di periode selanjutnya dikarenakan laporan neraca disebut
akun nyata perusahaan atau disebut akun nyata perusahaan atau disebut
akun yang nominalnya tidak akan berubah. - Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan jenis laporan yang isinya mengenai posisi
pendapatan dan beban perusahaan yang menggambarkan hasil usaha yang
dilakukan oleh suatu perusahaan. - Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahaan modal merupakan laporan yang berisi tentang
perubahan modal perusahaan dari periode ke periode berjalan. - Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang berisi tentang kas pemasukan
dan pengeluaran dari kegiatan perusahaan dalam satu periode.
Arti Penting Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat untuk memberikan gambaran atau laporan
keuangan kemajuan secara periodik yang dilakukan pihak manajemen
bersangkutan, sehingga bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
mengambil keputusan ekonomi, yaitu mengenai informasi posisi keuangan,
kinerja dan perubahan posisi keuangan yang sangat diperlukan untuk evaluasi atas
kemampuan kinerja perusahaan.
Pada dasarnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja
tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan dan menilai posisi keuangan
perusahaan pada waktu tertentu, dimana dengan melakukan analisis laporan
keuangan maka pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
dapat mengambil dan menentukan suatu keputusan sesuai dengan
kepentingannya
