Produk merupakan objek yang berwujud, maupun yang tidak berwujud
yang dapat dibeli orang (Harjanto, 2009). Pengertian kualitas produk menurut
Kotler and Armstrong (2008) adalah sekumpulan ciri-ciri karakteristik dari
barang dan jasa yang mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan
yang merupakan suatu pengertian dari gabungan daya tahan, keandalan,
ketepatan, kemudahan pemeliharaan serta atribut-atribut lainnya dari suatu
produk.
Kotler dan Keller (2009) produk adalah segala sesuatu yang dapat di
tawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Kualitas
produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi
kebutuhan dan kepuasan konsumen, Juran dalam (Nasution, 2005).
Nasution (2005) kualitas produk adalah suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan Konsumen atau konsumen.
Tjiptono (2012) mendefinisikan kualitas sebagai tingkat mutu yang
diharapkan dan pengendalian keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk
memenuhi kebutuhan konsumen, sedangkan menurut Kotler dan Amstrong
(2008), kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya, meliputi daya tahan, kehandalan, kemudahan operasi dan perbaikan,
serta atribut nilai
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen
Perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan
fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai,
mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Memahami konsumen dan proses konsumsinya memberikan berbagai keuntungan
antara lain membantu manager dalam membuat keputusan, memberikan dasar
teoritis bagi penulis dalam menganalisa konsumen, membantu legislatif dan
pemerintah dalam menyusun undang-undang dan membuat keputusan, dan
membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Pride dan Ferrell dalam Sangadji dan Sopiah (2013:335), membagi faktor
yang mempengaruhi perilaku konsumen ke dalam tiga kelompok, yaitu :
- Faktor pribadi, merupakan faktor yang unik bagi seseorang. Faktor
pribadi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a. Faktor demografi, berkaitan dengan siapa yang terlibat dalam
pengambilan keputusan pembelian. Faktor ini meliputi ciri-ciri
individual seperti jenis kelamin, usia, ras, suku bangsa,
pendapatan, siklus, kehidupan keluarga, dan pekerjaan.
b. Faktor situasional, merupakan keadaan atau kondisi eksternal yang
ada ketika konsumen membuat keputusan pembelian.
c. Faktor tingkat keterlibatan, ditunjukkan dengan sejauh mana
konsumen mempertimbangkan terlebih dahulu keputusannya
sebelum membeli satu produk. - Faktor psikologis meliputi:
a. Motif kekuatan energi internal yang mengarahkan kegiatan
seseorang kearah pemenuhan kebutuhan atau pencapaian
seseorang.
b. Persepsi adalah proses pemilihan, pengorgansasian, dann
penginterprestasian masukan informasi untuk menghasilkan
makna.
c. Kemampuan dan pengetahuan adalah kesanggupan dan efisiensi
untuk melakukan tugas-tugas tertentu.
d. Sikap merujuk pada pengetahuan dan perasaan positif atau negatif
terhadap sebuah objek atau kegiatan tertentu.
e. Kepribadian adalah semua ciri internal dan perilaku yang membuat
seseorang itu unik. - Faktor sosial meliputi :
a. Peran dan pengaruh keluarga, bahwa setiap anggota keluarga
mempunyi kebutuhan, keinginan, dan selera yang berbeda-beda.
b. Kelompok referensi berfungsi sebagai perbandingan dan sumber
informasi bagi seseorang sehingga perilaku para anggota
kelompok.
c. Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang terbuka untuk para
individu yang memiliki tingkat sosial yang serupa.
d. Budaya dan subbudaya mempengaruhi bagaimana seseorang
membeli dan menggunakan produk, serta kepuasan konsumen
terhadap produk tersebut sebab budaya juga menentukan produkproduk baru yang dibeli dan digunakan.
Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen
Dalam memenuhi kebutuhan hidup, seorang konsumen harus memilih
produk dan jasa yang akan dikonsumsinya. Banyaknya pilihan yang tersedia,
kondisi yang dihadapi, serta pertimbangan-pertimbangan yang mendasari yang
kemudian membuat pengambilan keputusan satu individu berbeda dengan
individu lain. Pada saat seorang konsumen baru akan melakukan pembelian yang
pertama kali atas suatu produk, pertimbangan yang akan mendasarinya berbeda
dari pertimbangan pembelian yang telah berulang kali.
Yuniarti (2015:217), menyebutkan bahwa konsumen mengambil
keputusan membeli barang atau jasa melalui beberapa tahap, yaitu:”(1)
pengenalan kebutuhan (needs recognitions), (2) penilaian berbagai macam
informasi yang terkumpul, (3) keputusan membeli, (4) evaluasi setalah membeli”.
Model proses keputusan pembelian mempunyai anggapan bahwa para
konsumen melakukan lima tahap dalam melakukan pembelian. Kelima tahap
diatas tidak selalu terjadi, khususnya dalam pembelian yang tidak memerlukan
keterlibatan yang tinggi dalam pembelian. Para konsumen dapat melewati
beberapa tahap dan urutannya tidak sesuai.
Kotler dan Keller (2016:184) mengemukan lima tahap dalam proses
keputusan pembelian yaitu :
- Mengenali kebutuhan proses membeli dimulai dengan pengenalan
kebutuhan, dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan.
Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang
diinginkan. - Pencarian informasi. Pada tahap ini konsumen lebih banyak mencari
informasi karena hal itu sangat penting dalam menentukan pembelian tas
elizabeth. Informasi bisa diperoleh diantaranya dari :
- Sumber Pribadi : keluarga, teman tetangga atau kenalan yang pernah
atau mengetahui produk tas tersebut - Sumber komersial : iklan , agen, pajangan
- Sumber pengalaman : penanganan , pemeriksaan atau sesorang yang
pernah menggunakan produk tersebut.
- Evaluasi alternatif, informasi yang didapat dari calon pembeli
digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai
alternatif-alternatif yang dihadapinya serta daya tarik masing-masing
alternatif. - Keputusan pembelian, produsen harus memahami bahwa konsumen
mempunyai cara sendiri dalam menangani informasi yang diperolehnya
dengan membatasi alternatif-alternatif yang harus dipilih atau
dievaluasi untuk menentukan produk mana yang akan dibeli. Keputusan
seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk
usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan
proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian. - Perilaku pascapembelian, para produsen harus memantau kepuasan pasca
pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca
pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan
pembelian ulang.
Pengertian Keputusan Pembelian Konsumen
Proses pengambilan keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh
perilaku konsumen. Proses tersebut merupakan proses pemecahan masalah dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan kenginan konsumen. Masalah yang akan muncul
kemudian akan dievaluasi untuk proses pemecahan masalah dan mengambil suatu
keputusan guna memperoleh produk sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen.
Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120)
mendefiniskan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan
alternatif atau lebih.
Setiadi dalam Sangadji dan Sopiah (2013:121) menjelaskan, pengambilan
keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang
mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif
atau lebih, dan memilih salah satu diantaranya. Hasil dari proses
pengintegrasian ini adalah suatu pilihan disajikan secara kognitif sebagai
keinginan berperilaku.
Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sering diaplikasikan dalam beberapa hal diantaranya
dalam strategi pemasaran misalnya menentukan kapan saat yang tepat perusahaan
akan memberikan potongan harga untuk menarik pembeli. Perilaku konsumen
dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan publik dan penyebaran
ide diantara konsumen.
Dengan memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang
dapat menyebarkan ide dengan lebih cepat dan efektif. Selain itu, juga dapat
memberikan gambaran kepada para produsen dalam pembuatan produk,
penyesuaian harga produk, mutu produk, kemasan dan sebagainya agar dalam
penjualan produknya tidak menimbulkan kekecewaan pada produsen tersebut.
Herlambang (2014:61) mengartikan, “perilaku konsumen adalah proses
dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan,
pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen”.
Masih dalam Herlambang (2014:62), Engel menjelaskan bahwa perilaku
konsumen adalah suatu tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk keputusan
mendahului dan menyusuli tindakan ini.
Sunyoto (2015:4), menjelaskan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan
tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau organisasi yang
berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan,
menggunakan barang-barang atau jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi
oleh lingkungan
Indikator Harga
Peran harga dalam pemasaran sangat berpengaruh besar. Harga tidak
hanya berupa nilai moneter yang dibayarkan atau dikeluarkan konsumen, namun
juga pengorbanan non moneter yang dilakukan konsumen dalam rangka
mendapatkan hak atau penggunaan sebuah barang.
Kotler dalam Sangadji dan Sopiah (2013:16) menyatakan ada beberapa
langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam penentuan harga produk.
Penentuan harga tersebut akan mempengaruhi konsumen dalam memilih dan
menggunakan suatu produk, yaitu : “(1) memilih tujuan dan penetapan harga
produk, (2) menentukan permintaan, (3) memperkirakan biaya (4) menganalisis
biaya, harga, dan penawaran pesaing, (5) memilih metode penetapan harga, (6)
memilih harga akhir”.
Menurut Kotler dan Amstrong terjemahaanSabran (2012:278),ada empat
indikator yang mencirikan harga yaitu :
- Keterjangkauan harga, aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen
sesuai dengan kemampuan beli konsumen. - Kesesuaian harga dengan kualitas, aspek penetapan harga yang dilakukan oleh
produsen sesuai dengan kualitas produk yang diterima konsumen. - Daya saing harga, yaitu penawaran harga yang diberikan oleh produsen
berbeda dan bersaing dengan yang diberikan oleh produsen lain dengan
produk yang sejenis. - Kesesuaian harga dengan manfaat, aspek penetapan harga yang dilakukan oleh
produsen sesuai dengan manfaat yang diperoleh konsumen dari produk yang
dibeli.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga
Suatu perusahan harus menentukan penetapan harga pasar untuk pertama
kalinya ketika mengembangkan produk baru atau saat memperkenalkan
produknya pada saluran distribusi yang baru. Dalam menetapkan harga
perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam menentukan kebijakan
penetapan harganya, sehingga harga yang nantinya diterapkan dapat diterima oleh
konsumen.
Setiyaningrum, dkk (2015:136) menyebutkan beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi penetapan harga yaitu:“(1) penetapan harga bersama (price fixing),
(2)diskriminasi harga, dan (3) penetapan harga yang ganas (predatory pricing)”.
Tujuan Penetapan Harga
Penetapan harga telah memiliki fungsi yang sangat luas di dalam program
pemasaran. Menetapkan harga berarti bagaimana menawarkan produk kita dengan
aspirasi sasaran pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan,
dan harapan konsumen. Harga dan penetapan harga adalah suatu proses yang
harus dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan nilai suatu produk atau jasa
dengan mengkalkulasikan terlebih dahulu segala macam biaya yang dikeluarkan
untuk memperoleh keuntungan serta mempertimbangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan selain harga.
Tjiptono (2017:291) mengemukakan beberapa tujuan penetapan harga
pasar diantara yaitu: (1) tujuan berorientasi pada laba, (2) tujuan berorientasi pada
volume, (3) tujuan beriorientasi pada citra, dan (4) tujuan stabilitasi harga
Strategi Penetapan Harga
Penetapan harga merupakan suatu elemen bauran pemasaran dan
perencanaan pemasaran yang akan menentukan posisi produk di suatu pasar serta
laba yang dihasilkan oleh produk tersebut. Penetapan harga adalah suatu proses
untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang akan diperoleh atau diterima
oleh perusahan dari produk atau jasa yang di hasilkan.
Oentoro dalam Sudaryono (2016:217) menyebutkan strategi penentuan
harga yang memengaruhi psikologi konsumen diantaranya yaitu :
- Prestige pricing
- Odd pricing
- Multiple-unit pricing
- Price lining
Perusahaan dapat menggunakan pilihan penetapan strategi penetapan
harga market skimming atau penetapan harga penetrasi pasar ketika menentukan
harga untuk produk baru yang ditawarkannya ke pasar.
Kotler dan Armstrong dalam Setiyaningrum, dkk (2015:132) menyebutkan
beberapa strategi penetapan harga untuk produk baru diantara yaitu : “(1)
penetapan harga market skimming, (2)penetapan harga penetrasi pasar, (3)
penetapan harga status quo”.
Pengertian Harga
Strategi spesifik yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga
barang dan jasa, bertolak dari strategi pemasaran yang diformulasikan untuk
mencapai tujuan perusahaan. Para produsen menggunakan harga barang yang
diproduksi dan dijual untuk menarik konsumen dari segala segmen. Para produsen
juga menentukan harga untuk menarik konsumen pada segmen kecil dari sebuah
pasar yang besar.
Oentoro dalam Sudaryono (2016:216) mengartikan, “harga adalah suatu
nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang
diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu
tertentu dan tempat tertentu”.
Kotler dan Armstrong dalam Setiyaningrum, dkk (2015:128)
mendefinisikan bahwa harga adalah sejumlah uang yang diminta untuk suatu
produk atau suatu jasa.
Indikator Kualitas Produk
Daya saing produk berupa nilai tambah produk yang sesuai harapan
konsumen menjadi bagian keunggulan bersaing setiap perusahaan. Strategi
bersaing dan keunggulan bersaing dapat dicapai dengan membangun dan
memberikan pelayanan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan dan
preferensi konsumen.
Wijaya (2018:12) mengemukakan untuk mengukur secara langsung sifatsifat kualitas yang dikehendaki sering konsumen mengalami kesulitan, sehingga
perlu diterapkan sifat lain yang disebut sifat pengganti. Sifat pengganti juga harus
mencerminkan tuntutan-tuntutan konsumen. Unsur-unsur kualitas produk
yangditerapkan sebagai sifat pengganti adalah sebagai berikut.
a. Harga yang wajar.
b. Ekonomis.
c. Awet.
d. Aman.
e. Mudah digunakan.
f. Mudah dibuat.
g. Mudah dibuang
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Produk
Kualitas memiliki peranan yang penting dalam kegiatan pemasaran semua
produk, dan menjadi hal yang penting dalam banyak industri karena merupakan
pembeda yang paling efektif bagi sejumlah produk. Perusahaan yang memiliki
posisi baik sebagai marketleader maupun follower tetap harus memperhatikan
kualitas produknya karena merupakan keharusan untuk menjaga eksistensi
perusahaan jangka panjang.
Supranto dalam Wijaya (2018:5) mengatakan,“pandangan tradisional
mengenai kualitas menyebutkan bahwa produk-produk dinilai dari atribut fisiknya
seperti kekuatan, reliabilitas dan lain-lain”.
Pada saat ini, perusahaan selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh
konsumennya. Produk yang paling baik dan paling kuat tidak sebanding jika tidak
dapat memuaskan kebutuhan, keinginan, dan harapan para konsumen. Perusahaan
harus memperhatikan kualitas produknya dengan memperhatikan masalah dan
mengarahkan para produsen menetapakan produk yang menawarkan features
yang tepat, kinerja yang tepat, dan tingkat durabilitas yang tepat.
Wijaya (2018:13) mengatakan unsur-unsur yang dapat dimasukkan untuk
memiliki produk yang unggul (faktor kualitas positif/positive quality) adalah
sebagai berikut :
a. Desain yang bagus. Desain harus orisinil dan memikat cita rasa
konsumen. Misalnya desain yang diperhalus untuk memperoleh kesan
berkualitas.
b. Keunggulan dalam persaingan. Produk harus unggul, baik dalam
fungsi maupun desainnya dibanding produk-produk lain yang sejenis.
c. Daya tarik fisik. Produk harus menarik panca indera (menarik untuk
disentuh atau dirasakan), harus dicap dengan baik, dan harus indah.
d. Keaslian. Produk turunan atau tiruan menunjukkan kualitas turunan
yang tidak sebaik produk original atau pertama.
Dimensi Kualitas Produk
Persepsi kualitas produk bisa digunakan oleh produsen sebagai kriteria
segmentasi untuk mengidentifikasi kelompok konsumen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konsumen dengan persepsi yang berbeda kualitas (rendah,
sedang, tinggi) berbeda pula dalam tingkat kepuasan dan niat pembelian. Dengan
demikian segmentasi pasar digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran dan
merespon tantangan dari para pesaing.
Martinich dalam Yamit (2017:11) mengemukakan spesifikasi dari dimensi
kualitas produk yang relevan dengan pelanggan yang dikelompokkan dalam enam
dimensi yaitu :
- Performance
- Range ond type of features
- Reliability and durability
- Maintainability and serviceability
- Sensory characteristics
- Etchical profile and image
Pengertian Produk
Produk merupakan suatu alasan utama sehingga terjadinya transaksi
produsen dengan konsumen. Para konsumen memandang sebuah produk sebagai
kumpulan dari berbagai macam keuntungan yang dapat memuaskan kebutuhan
mereka. Produsen akan mengembangkan produk-produk baru dan harus mulai
dengan menentukan nilai utama yang dicari oleh konsumen, kemudian
mengembangkan produk secara aktual dan memikirkan tambahan atau tampilan
yang dihargai oleh pembeli produk agar dapat memuaskan konsumen itu sendiri.
Sudaryono (2016:207) menjelaskan bahwa “produk adalah sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai, atau dikonsumsi
sehingga dapat memuaskan kenginan dan kebutuhan”.
Sangadji dan Sopiah (2013:15) mengatakan “produk adalah segala sesuatu
yang ditawarkan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dan kenginan konsumen”.
Setiyaningrum, dkk (2015:87) mengatakan “produk adalah suatu
kumpulan atribut fisik, psikis, jasa, dan simbolik yang dibuat untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan pelanggan”.
Pengertian Kualitas
Kualitas merupakan suatu harapan dari setiap masyarakat yang akan
membeli suatu produk. Pengaruh kualitas sangat mempengaruhi keputusan
konsumen dalam memilih dan membeli suatu produk. Kualitas produk dan,
kepuasan pelanggan, dan profitabilitas perusahaan adalah tiga hal terkait erat.
Semakin tinggi tingkat kualitas produk maka semakin tinggi pula
kepuasan pelanggan yang dihasilkan, yang mendukung harga yang lebih tinggi
dan biaya yang lebih rendah. Perusahaan yang menurunkan biayanya terlalu jauh
akan menerima akibatnya ketika kualitas pengalaman pelanggan yang menurun.
Kualitas merupakan kunci untuk menciptakan nilai dan kepuasan pelanggan.
Deming dalam Yamit (2017:7) mendefinisikan,
”kualitasmerupakanapapun yang menjadi kebutuhan dan kenginan konsumen”.
Masih dalam Yamit (2017:8), Davis menjelaskan bahwa “kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Wijaya (2018:9) mengartikan: kualitas barang dan jasa adalah sebagai
keseluruhan gabungan karateristik barang dan jasa menurut pemasaran,
rekayasa, produksi, maupun pemeliharaan yang menjadikan barang dan
jasa yang digunakan memenuhi harapanpelanggan atau konsumen.
Kualitas merupakan sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan. Artinya,
kualitas didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan atau konsumen
terhadap barang dan jasa yang diukur berdasarakan persyaratan atau
atribut-atribut tertentu.
Persepsi Harga
Persepsi adalah proses yang digunakan oleh individu untuk memilih
mengorganisir dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan
gambaran dunia yang memiliki arti (Kotler dan Keller, 2011). Persespi harga
dapat diartikan sebagai kecenderungan konsumen untuk menggunakan harga
sebagai acuan dalam memberikan penilaian tentang kemanfaatan dari sebuah
produk. Sedangkan persepsi harga menurut Shciffman dan Kanuk (2008)
adalah pandangan mengenai persepsi atau harga mengenai harga bagaimana
pelanggan memandang harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) yang
mempengaruhi pengaruh yang kuat terhadap keputusan membeli dan
kepuasan membeli.
Produk yang akan dijual ke masyarakat haruslah memiliki harga
sebagai patokan dalam melakukan penjualan produk tersebut, untuk itu
dilakukanlah penetapan harga sebagai patokan nilai untuk produk tersebut.
Perusahaan harus menetapkan harga pada saat pertama kali mereka
mengembangkan produk baru, ketika perusahaan memperkenalkan produk
regularnya ke saluran distribusi atau wilayah geografis baru, dan ketika
perusahaan memasukkan penawaran pekerjaan kontrak baru. Perusahaan
harus memutuskan dimana perusahaan akan memposisikan produknya
berdasarkan kualitas dan harga. Kotler dan Keller (2011) menyatakan bahwa
perusahaan dalam menetapkan harga harus konsisten dengan kebijakan
penetapan harga perusahaan. Perusahaan harus mempertimbangkan banyak
faktor dalam menentukan kebijakan penetapan harga.
Berikut enam langkah dalam penetapan harga menurut Kotler dan
Keller (2011) :
a. Memilih tujuan penetapan harga
Perusahaan memutuskan dimana perusahaan ingin memposisikan
penawaran pasarnya. Semakin jelas tujuan perusaan, semakin mudah
perusahaan menetapkan harga.
b. Menentukan permintaan
Setiap harga yang akan mengarah ke tingkat permintaan yang berbeda dan
oleh karena itu akan memiliki berbagai dampak pada tujuan pemasaran
perusahaan.
c. Memperkirakan biaya
Permintaan menetapkan batas atas harga yang dapat dikenakan perusahaan
untuk produknya. Biaya menetapkan batas bawah. Perusahaan ingin
mengenakan harga yang dapat menutupi biaya produksi,
mendistribusikan, dan menjual produk, termasuk tingkat pengembalian
yang wajar untuk usaha dan resikonya. Tetapi ketika perushaan
menetapkan harga produk yang dapat menutupi biaya penuh mereka,
profitabilitas tidak selalu menjadi hasil akhirnya.
d. Menganalisis biaya, harga, dan penawaran pesaing
Dalam kisaran kemungkinan harga yang ditentukan oleh permintaan pasar
dan biaya perusahaan, perusahaan harus memperhitungkan biaya, harga,
dan kemungkina reaksi harga pesaing.
e. Memilih metode penetapan harga
Perusahaan memilih metode penetapan harga yang mencakup satu atau
lebih dari tiga pertimbangan ini. Dalam metode penetapan harga ada enam
yaitu penetapan harga markup, penetapan harga tingkat pengembalian
sasaran, penetapan harga nilai anggapan, penetepan harga nilai penetapan
harga going-rate, dan penetapan harga jenis lelang.
f. Memilih harga akhir
Metode penetapan harga mempersempit kisaran dari mana perusahaan
harus memilih harga akhirnya. Dalam memilih harga itu, perusahaan harus
mempertimbangkan faktor-faktor tambahan, termasuk dampak kegiatan
pemasaran lain, kebijakan penetapan harga perusahaan, penetapan harga
berbagai keuntungan dan resiko, dan dampak harga pada titik lain.
Konsumen memiliki pandangan mengenai kewajaran harga, tinggi
rendahnya harga dalam mempengaruhi kepuasan membeli dan intensitas
membeli sebuah produk. Persepsi ketidakadilan harga dapat mempengaruhi
persepsi konsumen terhadap nilai produk. Strategi yang mengurangi
ketidakadilan terhadap harga akan meningkatkan pandangan terhadap nilai
produk (Schiffman dan Kanuk, 2008).
Persepsi Kualitas Produk
Persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca
indera kemudian dianalisis (diorganisir), di intrepetasi dan kemudian
dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna (Robbins, 2003).
Menurut American Society For Control yang dikutip oleh Kotler dan Keller
(2011) “bahwa kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa
yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat”. Persepsi kualitas produk sendiri menurut Kotler dan
Armtrong (2014) adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil
atau kinerja yang sesuai melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan.
Kualitas merupakan nilai dari suatu yang ditawarkan kepada konsumen,
penting bagi perusahaan untuk membuat suatu produk dengan kualitas yang
diperhatikan. Pengertian kualitas produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau
dikosumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Fokus utama
dalam perusahaan, kualitas merupakan suatu kebijakan penting dalam
meningkatkan daya saing produk yang harus memberikan kepuasan kepada
konsumen yang melebihi atau paling tidak sama dengan kualitas produk dari
pesaing (Kotler dan Armtrong, 2014).
Menurut Tjiptono (2008) kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi pelanggan.
Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui
dimensi-dimensinya. Dimensi persepsi kualitas produk menurut Tjiptono
(2008) adalah :
a. Kinerja, berhubungan dengan karakteristik operasi dasar sebuah produk.
b. Daya tahan, yang berarti berapa lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin
besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin
besar pula daya produk.
c. Kesesuaian dengan spesifikasi, yaitu sejauh mana karakteristik dasar dari
sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak
ditemukannya cacat pada produk. Dalam hal ini antara apa yang telah
dibayarkan oleh konsumen sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
konsumen dalam produk tersebut.
d. Fitur, adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan
fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
e. Reliabilitas, adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil
kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat
diandalkan
Pengaruh Kepuasan Konsumen tehadap Minat Beli Konsumen
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ho-Sik Kim dan Jae-Hyun Shim,
dapat disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan memiliki efek positif pada minat beli.
Setelah memverifikasi pengaruh hubungan kepercayaan antara kepuasan pelanggan
tentang coffee shop dan minat beli, kepuasan pelanggan memiliki efek positif pada
kepercayaan dan kepercayaan memiliki efek positif pada minat beli.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yu-Te Tu, Chin-Mei Wang dan
Hsiao-Chien Chang, dapat disumpulkan bahwa kepuasan kosnumen memiliki
dampak kuat pada minat beli. Perusahaan secara khusus fokus pada faktor-faktor ini
untuk membangun hubungan jangka panjang dan saling menguntungkan dengan
konsumen dan menciptakan minat beli sebagai keunggulan kompetitif di pasar.
Pengaruh Persepsi Harga tehadap Minat Beli Konsumen
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh A. Rizkyanto Santoso, N. Rachma
dan Budi Wahono, dapat disimpulkan bahwa apabila pelanggan memiliki persepsi
yang baik terhadap harga dan pelayanan yang diterima pelanggan sesuai dengan
harapan, maka kepuasaan pelanggan akan memikat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Zan Denniar Aufa, dapat disimpulkan
bahwa persepsi harga memiliki pengaruh terhadap minat beli suatu produk yang
ditawarkan dengan menggunakan teknik regresi berganda.
Persepsi harga menurut pendapat Schiffman dan Kanuk (2011) ialah bagaimana
cara konsumen melihat harga sebagai yang tinggi, rendah dan adil. Hal ini memiliki
pengaruh yang kuat kepada minat beli maupun kepuasan dalam pembelian suatu
produk.
Pengaruh Citra Merek tehadap Minat Beli Konsumen
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Naufal Iza Aberdeen dapat
disimpulkan bahwa citra merek mempunyai pengaruh signifikan terhadap minat beli
suatu produk. Dapat dibuktikan dengan citra merek mempengaruhi minat beli produk
sesuai dengan citra merek yang dimiliki pada masing – masing produk yang
ditawarkan.
Berdasarakan penelitian yang dilakukan oleh Ugeng Budi Haryoko dan Hesti
Ayu Agustin Ali, dapat disimpulkan bahwa citra merek mempunyai pengaruh positif
yang signifikan terhadap minat beli pada uji regresi linier berganda. Dalam penelitian
ini citra merek juga mempunyai hubungan yang “kuat” terhadap minat beli, sehingga
jika citra merek mengalami kenaikan makan akan berpengaruh positif dalam
kenaikan minat beli produk tersebut.
Pengaruh Strategi Promosi tehadap Minat Beli Konsumen
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Febsri Susanti dan Zaky Zakaria
dapat disimpulkan bahwa terdapat bahwa promosi memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap minat beli konsumen, artinya semakin sering melakukan promosi
produk makanan yang ditawarkan maka akan mempengaruhi tingkatan minat beli
konsumen dalam membeli produk tersebut.
Indikator Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau tidak senang, kecewa atau
puasa yang dirasakan oleh konsumen setelah menggunakan produk atau jasa
perusahaan. Menurut Tjiptono dan Chandra (2012) kepuasan konsumen dapat diukur
melalui hal – hal sebagai berikut:
- Before sales statisfaction, yaitu kepuasan konsumen terhadap proses
pencarian informasi, proses beberlanja dan ketersediaan alternatif produk di
pasar. - Product and price statisfaction, yaitu kepuasan terhadap kinerja produk
dikaitkan dengan harga. - After sales statisfaction, yaitu kepuasan terhadap layanan purnajual
perussahaan dan pengalaman konsumen dalam menggunakan produk. - Marketplace structure or performance statisfaction¸ yaitu kepuasan pelanggan
terhadap system pemasaran dan kinerjanya, seperti periklanan, praktik
pemasaran pengemasan dan pelabelan.
Pengertian Kepuasan Konsumen
Kepuasan kosumen memiliki peran penting dalam jalannya bisnis yang
menjadi tonggak utama dalam keberhasilan suatu perusahaan. Oleh sebab itu
perusahaan harus jeli dalam upaya memenuhi kepuasan para konsumen dengan
melihat kebutuhan dan keinginan setiap konsumen yang dapat cepat berubah. Para
konsumen memiliki tingkat kepuasaan mereka yang berbeda – beda antara konsumen
satu dengan konsumen yang lainnya.
Menurut Fandy (2012) kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul ketika setelah membandingkan antara persepsi
terhadap kinerja atau hasil dari suatu produk dengan harapan – harapan yang ia
miliki.
Menurut Sunyoto (2013) bahwa konsumen bisa mengalami salah satu dari tiga
tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja dibawah harapan, pelanggan akan merasa
kecewa tetapi jika kinerja seseuai dengan harapan maka konsumen akan merasa puas
dan bila kinerja bisa melebihi harapan maka konsumen akan merasakan sangat puas
senang atau gembira.
Sedangkan menurut Tjiptono (2014) kepuasan berasal dari bahasa latin yaitu
“satis” yang beratti cukup baik atau memadai dan “facio” yang berarti melakukan
atau membuat. Sehingga kepuasan pelanggan merupakan evaluasi terhadap surprise
yang inheren atau melekat pada pemerolehan produk dan/atau pengalaman saat
mengkonsumsi.
Indikator Minat Beli
Indikator minta beli menurut Kotler dan Keller (2012) bahwa melalui model
stimuli AIDA yaitu sebagai berikut:
- Perhatian (attention), minat beli seseorang diawali dengan tahap perhatian
terhadap suatu produk, setelah mendengar atau melihat produk yang
dipromosikan oleh perusahaan. - Minat (interest), setelah mendapatkan informasi mengenai produk yang
dipromosikan oleh perusahaan, maka timbul minat konsumen terhadap produk
tersebut. Jika konsumen terkesan dengan stimuli yang diberikan oleh
perusahaan, maka pada tahap ini akan timbul rasa ketertarikan terhadap
produk yang ditawarkan. - Keinginan (desire), setelah konsumen mendalami tentang kelebihan dari
produk, maka pada tahap ini konsumen akan memiliki keinginan dan hasrat
untuk membeli produk tersebut. - Tindakan (action), pada tahap ini konsumen sudah melewati beberapa tahap
yaitu mulai dari melihat dan mendengar suatu produk yang dipromosikan,
sehingga timbul perhatian, ketertarikan dan minat terhadap produk. Jika
adanya keinginan dan hasrat yang kuat, maka akan mengambil keputusan
untuk membeli produk tersebut.
Minat beli
Para konsumen dapat merubah pemikirannya pada detik – detik terakhir
pembelian dan kenyatannya bahwa mengertahui kebutuhan dan keinginan konsumen
tidak mudah. Jika ingin menumbuhkan minati beli konsumen pemasar harus
menumbuhkan minat beli konsumen terlebih dahulu. Sehingga pemasar dapat
memahami bagaimana kebutuhan dan keinginan konsumen.
Menurut Kotler (2012) “consumer behaviour occurs when consumers are
stimulated by eksternal factors and come to a purchase decision based on their
personal characteristic” yang artinya adalah perilaku konsumen terjadi ketika
konsumen dipengaruhi oleh faktor eksternal dan selanjutnya keputusan pembelian
berdasarkan karakteristik konusmne dan proses pengambilan keputusan.
Menurut Crow dalam Astuti (2012) menjelaskan bahwa minat beli merupakan
suatu hal yang memiliki tanhubungan dengan daya gerak yang akan mendukung
seseorang atau konsumen untuk tertarik pada sebuah benda pada orang atau kegiatan
tertentu.
Menurut Hidayat, Elita dan Setiaman (2012) mendefinisikan bahwa minat beli
merupakan sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang
dilihatnya, dan dari sana timbul ketertarikan untuk membeli agar dapat untuk
memilikinya
Indikator Persepsi harga
Indikator – indicator dari persepsi harga menurut Hidayat dan Sutopo (2016),
yaitu:
- Daya saing harga
Konsumen sering kali membandingkan daya saing harga suatu produk dengan
produk pesaingnya. Dalam hal ini mahal atau murahnya suatu produk sangat
dipertimbangan oleh konsumen. - Kesesuaian harga dengan manfaat harga
Konsumen memutuskan akan membeli suatu produk jika manfaat yang akan
diterimanya lebih besar atau sama dengan yang telah dibayarkan untuk suatu
produk. Jika konsumen merasaakan suatu manfaat produk lebih kecil
dibandingkan dengan uang yang telah dibayarkan, maka konsumen akan
beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan akan berfikir dua kali jika
ingin melakukan pembelian ulang. - Keterjangkauan harga
Konsumen dapat menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh suatu
perusahaan. Biasanya ada beberapa jenis produk dalam satu merek tetapi
berbeda harga, mulai harga termurah sampai harga termahal. - Harga sesuai dengan kualitas produk
Harga seringkali dijadikan sebagai indikator kualitas produk bagi konsumen.
Apabila harga lebih tinggi konsumen cenderung beranggapan bahwa kualitas
yang dimiliki produk tersebut juga lebih baik.
Tujuan Persepsi harga
Menutur Prabowo (2015), persepsi harga mimiliki beberapa tujuan, yaitu:
- Mendapatkan laba maksimum
Dalam penjualan produk, terjadinya harga memang ditentukan oleh penjualan
dan pembeli. Tetapi semakin besar daya beli konsumen, semakin besar pula
kemungkinan bagi penjual untuk menentukan tingkat harga yang lebih tinggi
pula. - Mempertahankan atau memperbaiki market share
Memperbaiki market share hanya mungkin dilaksanan bila kemampuan dan
kapasitas produksi perusahaan masih cukup longgar, disamping itu juga
kemampuan dibidang lain seperti bidang pemasaran, keuangan, dan
sebagainya. Didalam hal ini harga merupakan faktu yang penting. Bagi
perusahaan kecil yang mempunyai kemampuan terbatas, biasanya penetuan
harga ditunjukan untuk sekedar mempertahankan market share. - Mendapatkan pengembalian investasi sesuai target
Harga yang dapat dicapai oleh suatu perusahaan dalam penjualan
dimaksudkan untuk menutup investasi secara berangsur – angsur. Dana yang
akan dipakai untuk mengembalikan investasi hanya didapatkan dari laba
perusahaan. Sedangkan laba dapat diperoleh jika harga jual lebih besar dari
jumlah biaya seluruhnya. - Mencegah atau mengurangi persaingan
Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi persaingan harga dengan cara
kebijakan harga. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penjual menjual barang
mereka dengan harga yang sama dengan penjual yang lainnya.
Persepsi harga
Persepsi harga sering kali menjadi perhatian para konsumen jika ingin membeli
suatu barang atau menggunakan suatu jasa. Dan para konsumen tersebut mungkin
memiliki batas atas dan batas bawah harga untuk membandingkan apakah harga dan
barang/jasa sesuai.
Menurut pendapat Schiffman dan Kanuk (2013) persepsi harga ialah bagaimana
cara konsumen melihat harga sebagai yang tinggi, rendah dan adil. Hal ini memiliki
pengaruh yang kuat kepada minat beli maupun kepuasan dalam pembelian suatu
produk.
Menurut Campbell pada Cockril dan Goode (2010) menyatakan bahwa persepsi
harga merupakan factor psikologis dari berbagai segi yang memiliki pengaruh yang
cukup penting dalam reaksi konsumen kepada harga. Maka dari persepsi harga
menjadi sebuah alasan mengapa konsumen memiliki minat beli kepada suatu produk.
Menurut Xia et al pada Lee dan Lawson-Body (2011) menyatakan bahwa
persepsi harga adalah penilaian konsumen dan bentuk emosional yang terasosiasi
mengenai apakah harga yang ditawarkan oleh suatu perusahaan atau penjual dan
harga yang dibandingkan dengan pihak lain masuk diakal, dpaat diterima atau dapat
dijustifikasi
Indikator Citra Merek
Menurut Davison dalam Pratiwi dan Juju (2018) indikator dalam citra merek
(brand image) adalah sebagai berikut:
- Nama baik (reputation), tingkat atau status yang dimiliki cukup tinggi dari
sebuah merek produk tertentu. - Pengenalan (Recognition), yaitu tingkat dikenalnya sebuah merek oleh
konsumen. Jika sebuah merek tidak dikenal maka produk dengan merek
tersebut harus dijual dengan harga yang murah. - Hubungan emosional (affinity), yaitu hubungan emosional yang terjadi
antar brand dengan pelanggan. Sebuah produk dengan merek yang disukai
oleh konsumen akan lebih mudah dijual dan sebuah produk yang di
persepsikan memiliki kualitas yang tinggi akan memiliki reputasi yang
baik. - Loyalitas merek (brand loyalitas), yaitu seberapa jauh kesetiaan
konsumen menggunakan produk dengan brand tertentu.
Tujuan Citra Merek
Tujuan merek menurut Tjiptono dan Diana (2016) menyatakan bahwa merek
memiliki berbagaai macam tujuan yang sebagai berikut:
a) Sebagai identitas perusahaan yang membedakannya dengan produk para
pesaing, sehingga sangat mudah untuk dikenali dan melakukan pembelian
ulang.
b) Sebagai sebuah alat promosi yang menonjolkan daya tarik produk yang
dimiliki (misalnya adalah dengan bentuk desain dan warna – warna yang
menarik)
c) Untuk membina citra produk, yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan,
kualitas, serta citra prestise tertentu kepada konsumen.
d) Untuk mengendalikan dan mendominasi pasar. Yang artinya dengan
membangun merek yang terkenal, memiliki citra yang baik dan dilindungi hak
ekslusif berdasarkan hak cipta/paten. Maka perusahaan dapat meraih dan
mempertahankan loyalitas konsumen kepada produknya.
Citra Merek
Citra merek tercipta berdasarkan memori konsumen tentang suatu produk,
sebagai akibat apa yang dirasakan oleh seseorang terhadap merek tersebut.
Perusahaan sangat perlu memiliki citra merek untuk brand dimata para konsumen dan
tentunya citra merek yang diinginkan suatu perusahaan adalah citra merek yang
bernilai positif..
Menurut Sari dalam Bayu dan Ni Nyoman (2013) citra merek atau brand image
merupakan persepsi dan keyakinan terhadap sekumpulan asosiasi suatu merek yang
terjadi disetiap benak para konsumen.
Menurut Supranto dan Limakrisna (2011) menyatakan citra merek adalah apa
yang konsumen pikir dan rasakan ketika mendengar atau melihat suatu merek dan apa
yang konsumen pelajari tentang merek tersebut.
Sedangkan menurut Tjiptono dalam Lasander C (2013) mendefinisikan bahwa
brand image atau citra merek merupakan serangkan asosiasi yang dipersepsikan oleh
indivicu sepanjang waktu, sebagai hasil pengalaman langsung maupun tidak langsung
atas sebuah merek.
Indikator Variabel Promosi
Indikator menurut Kotler dan Amstrong (2012), menyatakan bahwa indikator
promosi terdiri atas 5 (lima) promosi, yaitu :
- Advertising (periklanan), yaitu semua bentuk prentasi dan promosi
nonpersonal yang dibayar oleh sponsor untuk mempersentasikan gagasan,
barang atau jasa. Periklanan dianggap sebagai manajemen citra yang bertujuan
agar menciptakan dan memelihara cipta dan makna didalam benak konsumen.
Bentuk promosi yang digunakan mencakup broadcast, print, internet,
outdoor, dan bentuk lainnya. - Sales promotion (promosi penjualan), yaitu insentif – insentif jangka pendek
untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk –
bentuk promosi yang digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
demonstration, contents, sweepstaks dan events. - Personal selling (penjualan perseorangan), yaitu persentasi personal oleh
tenaga penjualan dengan tujuan menghasilkan penjualan dan membangun
hubungan dengan konsumen. Bentuk penjualan perseorangan yang digunakan
mencakup presentations, trade shows, dan incentive programs. - Public relations (hubungan masyarakat), yaitu suatu membangun hubungan
yang baik dengan berbagai publik perusahaan supaya memproleh publisitas
yang menguntungkan, membangun citra perusahaan yang bagus dan
menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang tidak
menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan mencakup press releases,
sponsorships, special event dan web pages. - Direct marketing (penjualan langsung), yaitu hubungan langsung dengan
sasaran konsumen dengan tujuan untuk memperoleh tanggapan segera dan
membina hubungan yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang
digunakan mencakup catalogs, telephone marketing, kioks, internet, mobile
marketing dan lainnya.
Tujuan Promosi
Setiap perusahaan memiliki tujuan promosi yang berbeda – beda tergantung
dengan kondisi intern dan ekstern perusahaan itu sendiri. Menurut Tjiptono (2012),
tujuan utama promosi secara rinci adalah sebagai berikut:
- Menginformasikan (Informing), informing ialah Menginformasikan pasar
mengenai keberadaan suatu produk serta menginformasikan ke calon
konsumen tentang spesifikasi produk, harga, cara pemakaian, agar konsumen
tau mengenai produk yang beredar tersebut. - Membujuk pelanggan sasaran (Persuasuif), yaitu untuk membentuk pilihan
merek, mengalihkan pilihan ke merek tertentu, mengubah persepsi pelanggan
terhadap atribut produk, mendorong pembeli atau calon konsumen untuk
belanja pada saat itu juga. Inti dari membujuk adalah untuk meyakinkan calon
konsumen yang tadinya tidak ingin/tidak membutuhkan menjadi
ingin/membutuhkan. - Mengingatkan (Reminding) adalah salah satu tujuan dari promosi yang
maksudnya untuk mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan
akan dibutuhkan dalam waktu dekat, mengingatkan pembeli akan tempat –
tempat yang menjual produk pemasaran, membuat pembeli tetap ingat
walaupun tidak ada kampanye iklan, menjaga agar ingatan pertama pembeli
jatuh pada produk perusahaan tersebut sehingga konsumen tidak berpaling ke
produk lainnya.
Promosi
Suatu perusahaan tidak hanya menghasilkan produk dan jasa, menentukan
harga dan menjual produk dan jasa. Tetapi masih banyak kegiatan yang saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Salah satu kegiatan itu adalah promosi. Promosi
merupakan salah satu variabel didalam bauran pemasaran (marketing mix) yang
sangat penting untuk perusahaan dalam menjalankan pemasaran produknya.
Promosi menurut A. Hamdani dalan Sunyoto (2012) promosi adalah salah satu
variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh suatu
perusahaan dalam memasarkan produk. Kegiatan promosi bukan hanya berfungsi
untuk sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen semata, tetapi
promosi juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian
maupun penggunaan produk tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kainginannya.
Sedangkan menurut Daryanto (2011) pengertian promosi adalah kegiatan
terakhir dari marketing mix yang sangat penting karena kebanyakan pasar pembeli
dimana keputusan terakhir terjadinya transaksi jual beli sangat dipengaruhi oleh
konsumen.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) “Promotion means activities that
communicate the merits of the product and persuade target customer to buy it”,
artinya promosi merupakan kegiatan yang mengkomunikasikan manfaat dari sebuah
produk dan membujuk target konsumen untuk memebeli produk tersebut.
Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran atau marketing mix memiliki peran yang sangat penting
dalam memperngaruhi pelanggan untuk membeli suatu produk yang ditawarkan oleh
pasar. Karena itu bauran pemasaran bisa dikatakan sebagai suatu perangkat yang akan
menunjukan tingkat keberhasilan dalam memasarkan produk.
Menurut Kotler, Philip dan Amstrong (2016), bauran pemasaran (marketing
mix) mencakup empat hal pokok dan dapat dikontrol atau disesuaikan oleh
perusahaan yang meliputi produk (product), harga (price), tempat (place) dan
promosi (promotion).
Menurut Kotler, Philip dan Amstrong (2016), pengertian dari bauran pemasaran
(marketing mix) adalah marketing mix is the set of tactical marketing tools that the
firm blends to produce the response it wans in target market.
Menurut dari Buchari Alma (2016), definisi tentang bauran pemasaran
(marketing mix) sebagai salah satu strategi untuk mencampuri kegiatan – kegiatan
pemasara, agar dicari kombinasi yang maksimal sehingga mendatangkan hasil
maksimal pula. Marketing mix terdiri atas empat komponen atau disebut 4p yaitu
profuct, price place dan promotion.
Strategi Pemasaran
Strategi pemsaran merupakan suatu manajemen yang disusun untuk
mempercepat pemecahan persoalan pemasaran dan membuat keputusan – keputusan
yang bersifat strategi. Setiap fungsi manajemen memberikan kontribusi pada level
yang berbeda saat penyusunan strategi pemasaran. Oleh sebab itu pemasaran
memiliki peranan penting dalam pengembangan strategi perusahaan.
Menurut Cravens (2010) menyatakan bahwa strategi pemasaran mempunyai
implikasi yang penting dalam interaksi antara perusahaan dan konsumen, untuk
mengidentifikasi tujuan perusahaan, kepuasan dan kebutuhan pelanggan. Strategi
pemasaran merupakan suatu proses manajerial dibidang pemasaran untuk
mengembangkan dan menjaga agar tujuan, skill, knowledge, resources, sesuai dengan
peluang dan ancaman di pasar yang selalu berubah – ubah dan bertujuan untuk
menyempurnakan jalannya dan produk usaha dari perusahaan sehingga memenuhi
target laba dan menumbuhkan penjualan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2010) strategi pemasaran modern secara umum
terdiri dari tiga tahap yaitu: segmentasi pasar (segmenting), penempatan pasar sasaran
(targeting) dan penempatan posisi pasar (positioning). Kemudian setelah mengatahui
segmen pasar, target pasar dan posisi pasar maka dapat disusun strategi bauran
pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari produk, harga, penyaluran atau distribusi
dan promosi.
Menurut Suharno dan Yudi Sutarso (2010) strategi pemasaran adalah kerangka
kerja jangka panjang yang memandu seluruh aktivitas teknis dalam pemasaran
dimana didasarkan kepada semangat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu faktor yang terpenting untuk mamajukan
jalannya suatu perusahaan. Prestasi di bidang pemasaran dapat menentukan
kesuksesan perusahaan. Pemasaran merupakan proses mempelajari kebutuhan dan
keinginan para konsumen mereka. Perkembangan konsep pemasaran itu sendiri tidak
terlepas dari tujuan untuk memuaskan kepuasan konsumen. Tujuan pemasaran salah
satunya adalah menganalisa, mengevaluasi, menarik konsumen baru dan
mempertahankan konsumen yang sudah ada sedemikian rupa hingga produk yang
dipasarkan dapat terjual dengan sendirinya.
Menurut Melydrum dalam Sudaryono (2016) menyatakan bahwa pemasaran
adalah proses bisnin yang berusaha menyelaraskan antara sumber daya manusia,
finansial dan fisik organisasi dengen kebutuhan dan keinginan para pelanggan. Jadi
itu semua dapat disimpulkan sebagai pemasaran.
Menurut Alma (2013) menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses
perencanaan dan pelaksanaan konsepsi penentuan harga, promosi dan pendistribusian
barang, jasa dan ide yang dapat memuaskan pelanggan dan tujuan perusahaan.
Pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2012) pemasaran adalah proses
dimana suatu perusahaan menciptakan nilai bagi para pelanggan dan membangun
hubungan dengan pelanggan yang kuat untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai
imbalannya.
Menurut Stanton, William (2013), pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan
bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan
mendirtribusikan produk yang dapat memuasakan keinginan dalam mencapai tujuan
perusahaan.
Pengaruh Promosi Terhadap Keputusan Pembelian
Promosi merupakan salah satu bentuk komunikasi persuasi secara langsung
dengan melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat disesuaikan untuk
mempengaruhi pembelian produk dengan segera, atau dengan cara
meningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen. (Kotler dan Amstrong,
2008) yang menyatakan bahwa promosi penjualan (sales promotion) adalah
sebuah insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian dan penjualan
produk atau jasa.
Pengaruh Persepsi harga Terhadap Keputusan Pembelian
Kotler & Armstrong (2016) persepsi harga adalah jumlah uang yang
dibebankan untuk produk atau layanan,atau jumlah nilai yang ditukar oleh
pelanggan untuk keuntungan memiliki atau menggunakan produk atau
layanan. Tujuan penetapan persepsi harga dapat mendukung strategi
pemasaran berorientasi pada permintaan primer apabila perusahaan meyakini
bahwa persepsi harga yang lebih murah dapat meningkatkan jumlah pemakai
atau tingkat pemakaianatau pembelian ulang dalam bentuk atau kategori
produk tertentu. Hal ini terutama berlaku pada tahap-tahap awal dalam siklus
hidup produk, di mana salah satu tujuan pentingnya adalah menarik para
pelanggan baru.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Kotler and Amstrong, (2016) menyatakan bahwa kualitas produk adalah
salah satu kualitas paling terpercaya yang diandalkan pemasar untuk membawa
produk ke pasar semakin tinggi kualitas produk, semakin besar kemungkinan
konsumen untuk membeli.Kualitas produk memiliki hubungan erat kaitannya
dengan keputusan pembelian oleh konsumen. Kualitas produk menjadi salah
satu aspek yang menjadi pertimbangan konsumen dalam mengambil keputusan
pembelian suatu produk. Kualitas yang baik akan menimbulkan kepuasan
konsumen yang pada akhirnya akan membuat konsumen loyal terhadap produk
tersebut. Perusahaan harus mampu memberikan kualitas yang sesuai dengan
harapan dan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan standar kualitas
yang ada di pasar. Berkat itu, kualitas yang diberikan perusahaan tidak kalah
dengan pesaing.
Indikator Keputusan Pembelian
Kotler, (2018) indikator keputusan pembelian adalah:
1) Kemantapan pada sebuah produk
Saat melakukan pembelian, konsumen akan memilih salah satu dari
beberapa alternatif yang ada. Pilihan tersebut berdasarkan kualitas,
mutu, persepsi harga yang terjangkau, dan faktor-faktor lain yang
dapat memantapkan keinginan konsumen untuk membeli produk
apakah produk tersebut benar-benar ingin digunakan atau dibutuhkan.
2) Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk juga berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Jika konsumen merasa produk
tersebut sudah melekat di benak mereka karena sudah merasakan
manfaat dari produk tersebut, mereka cenderung akan memilih produk
yang sudah biasa digunakan.
3) Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Jika konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dengan sebuah
produk, mereka akan merekomendasikan produk tersebut dengan
orang lain. Mereka juga ingin orang lain merasakan bahwa produk
tersebut sangat bagus dan lebih baik dari produk lain.
Indikator Promosi
Kotler dan Keller (2016) indikator-indikator promosi diantaranya
adalah:
1) Pesan Promosi merupakan tolak ukur seberapa baik pesan promosi
dilakukan dan disampaikan kepada pasar.
2) Media Promosi adalah media yang digunakan oleh perusahaan
dalam melaksanakan promosi.
3) Waktu Promosi merupakan lamanya promosi yang dilakukan oleh
perusahaan.
Bentuk Promosi
Tjiptono (2011) terdapat bentuk kegiatan promosi yang dapat di
kelompokkan adalah sebagai berikut :
1) Personal Selling
Komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pembeli
untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan
membuat mereka memahami produk sehingga mereka kemudian
mencoba untuk membelinya.
2) Mass Selling
Suatu pendekatan yang menggunakan media untuk menyampaikan
informasi kepada public secara bersamaan. Ada empat bentuk utama
mass selling, yaitu :
a) Periklanan, merupakan salah satu bentuk promosi yang paling
populer digunakan oleh perusahaan untuk mempromosikan produk.
b) Publisitas, adalah suatu bentuk penyajian dan penyebaran ide,
barang dan jasa secara non-personal yang tidak dibayar oleh
penerima atau organisasi.
c) Promosi penjualan, adalah suatu bentuk persuasi dengan berbagai
intensif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian suatu
produk secara instan atau menambah jumlah yang dibeli pelanggan.
d) Public relation, merupakan upaya komunikasi yang menyeluruh
berasal dari suatu perusahaan untuk mempengaruhi persepsi,
pendapat, keyakinan, dan perilaku berbagai kelompok terhadap
perusahaan.”
Tujuan Promosi
Swastha & Handoko (2011) promosi yang akan dilakukan harus selalu
berdasarkan atas beberapa hal sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai. Tujuan promosi adalah sebagai berikut :
1) Modifikasi Tingkah Laku
Merupakan upaya untuk mengubah perilaku yang sudah ada. Penjual
selalu berusaha memberikan kesan yang baik terhadap produk yang
mereka jual.
2) Memberitahu
Ditujukan untuk memberitahukan pasar yang dituju tentang penawaran
perusahaan. Promosi yang diinformasikan penting bagi konsumen
karena membantu mereka membuat keputusan pembelian.
3) Membujuk
Promosi bersifat membujuk tidak begitu disukai oleh konsumen, namun
kenyataannya banyak yang baru muncul belakangan ini. Promosi
tersebut dimaksudkan untuk mendorong pembelian.
4) Mengingatkan
Pengingat promosi dibuat untuk menjaga merek produk di benak
konsumen dan harus diterapkan selama tahap kedewasaan dari siklus
hidup produk.Artinya perusahaan setidaknya berusaha
mempertahankan pembeli yang sudah ada.
Pengertian Promosi
Tjiptono (2015) promosi adalah bauran pemasaran yang berfokus pada
upaya menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen tentang
merek dan produk suatu perusahaan. Kotler (2010), promosi merupakan
media untuk memperkenalkan produk baru dan memperkuat citra merek
produk yang sudah ada. Konsep pemasaran yang baik memerlukan kerangka
pengembangan strategi untuk mengembangkan strategi pemasaran yang
efektif bagi sebuah perusahaan untuk menembus target pasarnya (Sugiono,
Nurwulandari, & Khairina, 2021)
Tujuan Penetapan Persepsi harga
Menetapkan tujuan berdasarkan persepsi harga merupakan suatu yang
fleksibel, dapat diubah dengan cepat sejalan dengan perubahan pasar,
termasuk masalah persaingan persepsi harga. Secara umum, penetapan
persepsi harga bertujuan untuk mencari laba agar perusahaan dapat berjalan
namun dalam kondisi persaingan yang semakin ketat tujuan mencari laba
maksimal dalam praktisnya akan sulit di capai. Kotler & Keller (2016),
terdapat beberapa tujuan penetapan persepsi harga antara lain:
1) Kemampuan bertahan
Perusahaan mengejar kemampuan bertahan sebagai tujuan utama mereka
jika mereka mengalami kelebihan kapasitas,persaingan ketat dan
keinginan konsumen yang berubah. Selama persepsi harga menutup
biaya variable dan beberapa variable tetap,maka perusahaan tetap berada
dalam bisnis. Kemampuan bertahan merupakan tujuan jangka pendek
atau dalam jangka panjang,perusahaan harus mempelajari cara
menambah nilai atau menghadapi kepunahan.
2) Laba maksimum saat ini (maximum current profit)
Banyak perusahaan berusaha menetapkan persepsi harga yang akan
memaksimalkan laba saat ini. Perusahaan memperkirakan permintaan
dan biaya yang berasosiasi dengan persepsi harga alternatif memilih
persepsi harga yang menghasilkan.dan
3) Pangsa pasar maksimum (maximum market share)
Beberapa perusahaan ingin memaksimalkan pangsa pasar mereka.
Perusahaan percaya bahwa semakin tinggi volume penjualan, biaya unit
akan semakin rendah dan laba jangka panjang semakin tinggi.perusahaan
menetapkan persepsi harga terendah mengasumsikan pasar sensitive
terhadap persepsi harga.
4) Pemerahan pasar maksimum (maximum market skimming)
Perusahaan mengungkapkan teknologi baru yang menetapkan persepsi
harga tinggi untuk memaksimalkan pasar pada mulanya persepsi harga
ditetapkan dengan tinggi dan pelan-pelan turun seiring waktu. Meskipun
demikian strategi ini bisa menjadi fatal jika ada pesaing besar yang
memutuskan menurunkan persepsi harga.
5) Kepemimpinan kualitas produk (product-quality leadership)
Banyak merek berusaha menjadi “kemewahan terjangkau” produk atau
jasa yang ditentukan karakternya oleh tingkat kualitas anggapan. Selera
dan status cukup tinggi agar tidak berada diluar jangkauan konsumen.
Faktor – Faktor Persepsi harga
Ada beberapa faktor penentu yang perlu dipertimbangkan perusahaan
dalam menetapkan persepsi harga menurut (Kotler & Keller, 2016), yaitu:
1) Mengenal permintaan produk dan pesaingan
2) Target pasar yang hendak dilayani atau diraih
3) Marketing mix
4) Produk baru
5) Reaksi pesaing
6) Biaya produk dan perilaku biaya
7) Kebijakan atau peraturan yang ditentukan oleh pemerintah dan
lingkungan.
Pengertian Persepsi harga
Strategi spesifik yang digunakan perusahaan untuk menetapkan persepsi
harga barang dan jasa.bertolak dari strategi pemasaran yang diformulasikan
untuk mencapai tujuan perusahaan.para produsen menggunakan persepsi
harga barang yang diproduksi dan dijual untuk menarik konsumen dari
segala segmen. Para produsen juga menentukan persepsi harga untuk
menarik konsumen pada segmen kecil dari sebuah pasar yang besar
(Sugiono & Aisyah, 2021).
Oentoro dalam Sudaryono (2016), mengartikan “persepsi harga adalah
suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk
manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau
kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
Kotler & Keller (2016) menyatakan bahwa “ price as the amount of
money charged for a product or service,or the sum of values that customers
exchange for benefits of having or using the product service”. (Tjiptono &
Anastasia, 2017) persepsi harga adalah sekumpulan faktor moneter (uang)
dan faktor non moneter yang dipertukarkan untuk memperoleh hak
kepemilikan dan pemakaian suatu barang atau jasa.
Kotler, Philip & Amstrong (2016) mengemukakan bahwa persepsi harga
mempengaruhi keputusan seorang konsumen dalam melakukan pembelian,
semakin tinggi persepsi harga maka keputusan pembelian semakin rendah,
sebaliknya jika persepsi harga rendah keputusan pembelian berubah
menjadi lebih tinggi. Hal tersebut juga sesuai dengan hokum permintaan
atas barang tersebut begitu juga sebaliknya.
Andi (2015; 128) persepsi harga menjadi faktor utama yang dapat
mempengaruhi pilihan seorang pembeli, persepsi harga cukup berperan
dalam menentukan pembelian konsumen, untuk itu sebelum menetapkan
suatu persepsi harga, sebaiknya perusahaan melihat beberapa referensi
persepsi harga suatu produk yang dinilai cukup tinggi dalam penjualan.
Indikator Kualitas Produk
“ Kotler & Keller (2012) terdapat beberapa tolak ukur terhadap kualitas
produk, yang terdiri dari :
1) Bentuk (form), bentuk dari sebuah produk meliputi ukuran produk,
bentuk, dan struktur fisik.
2) Fitur (feature), fitur produk dapat melengkapi fungsi dasar suatu produk.
3) Penyesuaian (customization), perusahaan membedakan produk dengan
menyesuaikan produk dengan keinginan konsumen.
4) Kualitas Kinerja (performance quality), yaitu sejauh mana karakteristik
utama produk beroperasi.
5) Kualitas Kesesuaian (conformance quality), adalah tingkat dimana
semua unit yang diproduksi dapat memenuhi spesifikasi yang
dijanjikan.
6) Ketahanan (durability), adalah ekspetasi operasional produk.
7) Keandalan (reliability), ukuran produk tidak boleh mengalami
kerusakan atau kegagalan dalam jangka waktu tertentu.
8) Kemudahan Perbaikan (repairability), yaitu ukuran kemudahan
perbaikan produk yang tidak berfungsi atau gagal.
9) Gaya (style), menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada
pembeli.
10) Desain (design), yaitu untuk menunjukkan penampilan, rasa dan fungsi
suatu produk berdasarkan kebutuhan pelanggan.”
Dimensi Kualitas Produk
Tjiptono (2011) menjelaskan bahwa kualitas mencerminkan dimensi
penawaran produk yang menciptakan keunggulan dan manfaat bagi
pelanggan. Dimensi kualitas merupakan persyaratan nilai suatu produk
untuk memenuhi harapan pelanggan. Dimensi kualitas meliputi :
1) Performance (kinerja), berkaitan dengan karakteristik dasa produk.
2) Durability (daya tahan), yaitu berapa lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut perlu diganti.
3) Conformance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
sejauh mana karakteristik operasi dasar suatu produk yang memenuhi
spesifikasi konsumen tertentu seperti tidak adanya cacat pada produk.
4) Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
meningkatkan fungsionalitas produk atau meningkatkan minat
konsumen terhadap produk.
5) Reliability (keandalan), adalah kemungkinan suatu produk akan
berfungsi atau tidak berfungsi dengan baik dalam jangka waktu
tertentum dan” semakin kecil kemungkinan kerusakan akan terjadi,
maka produk tersebut akan semakin dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika), mengacu pada bagaimana suatu produk dapat
diidentifikasi melalui penampilan, rasa, bau, dan bentuknya.
7) Perceived Quality (kesan kualitas), adalah hasil dari pengukuran tidak
langsung, karena konsumen mungkin tidak memehami produk yang
bersangkutan atau mungkin kekurangan informasi tentang produk yang
bersangkutan.
Pengertian Kualitas Produk
Produk memiliki makna berarti untuk suatu industry sebab bila tanpa
produk industri tidak bisa melaksanakan usahanya. Pembeli hendak
membeli produk jika mereka merasa sesuai dengan produk tersebut,
sehingga pemasaran produk yang sukses mengharuskan produk tersebut
disesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Sugiono, Nurwulandari, et al
(2021) selain itu, kualitas produk juga merupakan hal yang harus menjadi
perhatian utama dari perusahaan karena kualitas suatu produk sangat
berkaitan erat kaitannya dengan kepuasan pelanggan, yang merupakan
tujuan dari kegiatan pemasaran perusahaan, sehingga kualitas produk
menjadi fokus utama perusahaan.
Kualitas produk adalah pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh
penjual memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan tidak berada di antara
produk pesaing (Kotler & Armstrong, 2008). kualitas produk adalah
kemampuan suatu produk untuk menjalankan fungsinya, seperti keandalan,
daya tahan, akurasi, kemudahan penggunaan, dan perbaikan, serta atribut
berpersepsi harga lainnya.
Kotler (2002) Adapun tujuan kualitas produk adalah sebagai berikut :
1) Pastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar telah ditetapkan.
2) Mengusahakan untuk menjaga biaya pemeriksaan serendah mungkin.
3) Mengusahakan untuk menjaga biaya desain produksi tertentu serendah
mungkin
4) Menjaga biaya produksi serendah mungkin.
Pengertian Manajemen Pemasaran
Kotler & Armstrong (2009) pemasaran adalah suatu proses dimana
perusahaan akan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun
hubungan yang baik dengan pelanggan dengan tujuan mendapatkan nilai
dari pelanggan sebagai imbalanya. Pemasaran lebih dari sekadar menjual
dan mengiklankan, tetapi pemasaran juga merupakan proses mengelola
hubungan pelanggan yang bermanfaat.
Manajemen pemasaran adalah aktivitas menganalisis, merencanakan,
menerapkan, dan mengelola kegiatan yang dirancang untuk menghasilkan,
menghasilkan dan mempertahankan manfaat pertukaran melalui tujuan
(Assauri . 2013). Manajemen pemasaran adalah suatu kegiatan terencana
dan terorganisir yang meliputi pemantauan distribusi, penetapan harga dan
kebijakan barang yang dilakukan untuk tujuan yang baik.
Pemasaran
Kotler and Amstrong (2012) “Marketing as the process by which
companies create value for customers and build strong customer
relationships in order to capture value from customers in return”, yang
berarti bahwa kegiatan pemasaran merupakan sebuah proses, yang dimana
perusahaan mampu menciptakan sebuah nilai bagi pelanggan, dan dapat
membangun sebuah hubungan yang baik dengan pelanggan sebagai bentuk
dari imbalan atas nilai yang diberikan kepada pelanggan.
Pemasaran adalah subjek untuk semua dan bidang kesinambungan bisnis
dan salah satu bidang manajemen yang paling cepat berkembang. Hal
tersebut terjadi akibat kita hidup dengan bertukar barang dan menciptakan
kepuasan kepada pelanggan. Pemasaran merupakan kegiatan utama
produksi untuk menopang kehidupan usaha. Apakah tujuan perusahaan
dapat tercapai, hal tersebut bergantung kepada ketepatan dalam
pengambilan keputusan dalam upaya mereka untuk menggabungkan
pemasaran, manufaktur, keuangan, sumber daya manusia, dan bidang
lainnya
Persepsi Harga
Konsumen merupakan individu dengan karakteristik yang berbeda-beda. Penilaian
yang dirasakan setiap konsumen terhadap suatu produk maupun jasa yang mereka
terima tidak sama. Persepsi konsumen terhadap suatu harga dapat mempengaruhi
keputusan dalam membeli suatu produk sehingga suatu perusahaan harus mampu
memberikan persepsi yang baik terhadap produk atau jasa yang mereka jual.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2000:137), yaitu proses dimana individu
memilih, mengatur dan menafsirkan stimuli ke dalam gambar yang berarti dan
masuk akal mengenai dunia. Persepsi mempunyai pengaruh yang kuat bagi
konsumen. Salah satu faktir yang berpengaruh terhadap konsumen yaitu persepsi
akan harga.
Dalam arti yang paling sempit, harga adalah jumlah uang yang dibebankan atas
suatu produk atau jasa (Kotler, 1999:339). Dalam arti luas harga adalah jumlah
dari seluruh nilai yang ditukarkan konsumen atas manfaat-manfaat memiliki atau
menggunakan produk atau jasa tersebut (Kotler, 1999:339). Menurut definisi
tersebut, harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk pelayanan yang
diberikan oleh penjual dan tidak dapat dipungkiri penjual juga menginginkan
sejumlah keuntungan dari harga tersebut. Persepsi harga merupakan
kecenderungan konsumen untuk menggunakan harga dalam memberi penilaian
tentang kesesuaian manfaat produk. Penilaian terhadap harga pada suatu manfaat
produk dikatakan mahal, murah atau sedang dari masing-masing individu tidaklah
sama, karena tergantung dari persepsi individu yang dilatarbelakangi oleh
lingkungan dan kondisi individu itu sendiri. Pada dasarnya konsumen dalam
menilai harga suatu produk tidak tergantung hanya dari nilai nominal harga saja
namun dari persepsi mereka pada harga. Perusahaan harus menetapkan harga
secara tepat agar dapat sukses dalam memasarkan barang atau jasa. Harga
merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pendapatan
bagi perusahaan.
Menurut Kotler (1993 :255), penetapan harga merupakan suatu masalah ketika
perusahaan harus menentukan harga pertama kali. Dalam situasi tertentu, para
konsumen sangatlah sensitif terhadap harga, sehingga harga yang relatif tinggi
dibanding para pesaingnya dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan
konsumen. Akan tetapi, dalam kasus lainnya harga dapat dipergunakan sebagai
indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil bahwa harga yang lebih tinggi
dipandang positif oleh segmen tertentu. Kemudian harga produk dapat
memberikan baik pengaruh positif maupun negatif terhadap konsumen. Ini
merupakan konsep penting yang harus diingat oleh para manajer.
Menurut Kotler (1993 :288),peningkatan harga yang biasanya menghalangi
penjualan, mungkin membawa akibat yang positif bagi konsumen karena reaksi
konsumen terhadap perubahan harga juga bervariasi dengan persepsi mereka
mengenai biaya produk dalam hubungannya dengan pengeluaran total mereka.
Konsumen lebih sensitif terhadap harga yang banyak membebani mereka.
Menurut James, Roger dan Paul (1995 : 176), bahwa peran harga sering dinilai
terlalu berlebihan, konsumen tidak selalu mencari harga semurah mungkin atau
bahkan kualitas terbaik. Namun ada faktor-faktor lain seperti, kenyaman yang
mungkin lebih dianggap penting dan konsumen kerap mengungkapkan sedikit
pertimbangan mengenai harga sewaktu mengambil keputusan.
Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian
Menurut hasil penelitian Ratnasari, Hermani,dan Listyorini (2014) terhadap
blackberry, menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian pada blackberry. Pengaruh tersebut
menunjukan semakin tinggi kualitas produk, maka semakin tinggi juga keputusan
pembelian. Sebalikanya semakin rendah kualitas produk maka semakin rendah
juga keputusan pembelian.
Menurut hasil penelitian Habibah dan Sumiati (2016) terhadap pelanggan
kosmetik wardah, menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian kosmetik wardah. Pengaruh tersebut
menunjukan semakin tinggi kualitas produk, maka semakin tinggi juga keputusan
pembeliannya. Sebaliknya semakin rendah kualitas produk maka semakin rendah
juga keputusan pembelian
Pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian
Menurut hasil penelitian Fristiana, Prihatini dan Listyorini (2012) terhadap ramai
swalayan peterongan semarang menunjukan bahwa brand image berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada ramai swalayan
peterongan semarang. Pengaruh tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi
brand image, maka semakin tinggi pula keputusan pembelian. Sebaliknya jika
brand image rendah, maka semakin rendah juga keputusan pembelian.
Menurut Hasil Penelitan Soim, Surhayono, dan Abdillah (2016) terhadap
pelanggan telkomsel menunjukan bahwa brand image berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Pengaruh tersebut menunjukan bahwa
semakin tinggi brand image maka semakin tinggi pula keputusan pembelian.
Sebaliknya jika brand image rendah, maka semakin rendah juga keputusan
pembelian
Pengaruh persepsi harga terhadap keputusan pembelian
Menurut hasil penelitian Ferdinan dan Nugrahen (2013) yang dilakukan terhadap
pelanggan motor suzuki menyatakan bahwa hasil penelitian persepsi harga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Menurut hasil penelitian Samosir dan Prayoga (2015) yang dilakukan terhadap
pelanggan vitamin enervon-c menyatakan bahwa hasil penelitian persepsi harga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Menurut hasil penelitian Pahlevi dan Sutopo (2017) yang dilakukan terhadap
pelanggan motor yamaha menyatakan bahwa hasil penelitian persepsi harga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Menurut hasil penelitian Yuniyanti (2018) yang dilakukan terhadap pelanggan
sepatu bata menyatakan bahwa hasil penelitian persepsi harga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2012) ada tiga indikator dalam menentukan
keputusan pembelian, yaitu:
(1) Kemantapan pada suatu produk
Pada saat melakukan pembalian, konsumen memilih salah satu dari
beberapa alternatif. Pilihan yang ada didasarkan pada mutu, kualitas dan
factor lain yang memberikan kemantapan bagi konsumen untuk membeli
produk yang dibutuhkan. Kualitas produk yang baik akan membangun
semangat konsumen sehingga menjadi penunjang kepuasan konsumen.
(2) Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan adalah pengulangan sesuatu secara terus-menerus dalam
melakukan pembelian produk yang sama. Ketika konsumen telah melakukan
keputusan pembelian dan mereka merasa produk sudah melekat dibenaknya
bahkan manfaat produk sudah dirasakan. Konsumen akan merasa tidak
nyaman jika membeli produk lain.
(3) Kecepatan dalam membeli produk
Konsumen sering mengambil sebuah keputusan dengan
menggunakan aturan (heuristik) pilihan yang sederhana. Heuristik adalah
sebuah proses proses yang dilakukan seseorang dalam mengambil sebuah
keputusan secara cepat, menggunakan sebuah pedoman umum dalam
sebagian informasi saja
Dimensi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Keller (2012:161) keputusan pembelian memiliki
dimensi yaitu :
(1) Pemilihan Produk
Konsumen memiliki pilihan untuk membeli produk apa yang akan
mereka pilih.
(2) Pilihan Brand (Merek)
Konsumen memiliki hak untuk memilih brand apa yang akan
konsumen beli.
(3) Pemilihan Penyalur
Konsumen memutuskan tentang penyalur yang digunakan. Tentunya
konsumen memiliki indikator tersendiri tentang pemilihan peyalur seperti
mulai dari harga yng murah, lokasi, kenyamanan saat berbelanja dan
sebagainya.
(4) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang berapa jumlah produk
yang akan dibeli.
(5) Penentuan Waktu Kunjungan
Konsumen dapat menentukan periode dan waktu kunjungan yang
tepat bagi konsumen. Misalnya seperti pada pagi hari, malam hari, setiap hari,
setiap satu bulan sekali dan sebagainya.
(6) Metode Pembayaran
Konsumen memutuskan dengan apa konsumen melakukan
pembayaran terhadap produk atau jasa yang mereka beli. Perusahaan
menyediakan metode pembayaran apa saja yang tersedia.
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Kotler & Amstrong (2014), keputusan pembelian adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen
benar-benar membeli.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2014) keputusan pembelian
didefinisikan sebagai sebuah pilihan dari dua tahu lebih alternatif pilihan.
Menurut Tjiptono (2012) keputusan pembelian adalah sebuah proses
dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai
produk atau merek tertentu dan mengevaluasi secara baik masing-masing
alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah
kepada keputusan pembelian.
Keputusan Pembelian
Tujuan akhir dari seluruh kegiatan promosi adalah bagaimana konsumen
dapat membeli produk atau jasa yang perusahaan tawarkan. Untuk memutuskan
dalam membeli sebuah produk atau jasa, konsumen melalui sebuah proses.
Prosen yang dilalui konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Maka
dari itu, konsumen tidak dengan mudah begitu saja memutuskan untuk membeli
produk atau jasa.
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk dalam penelitian ini menurut Tjiptono (2001, 25)
adalah :
(a) Kinerja (Performance)
yaitu karakteristik operasi pokok dariproduk inti (Core Product) yang
dibeli.
(b) Keistimewaan tambahan (Features)
yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap.
(c) Kehandalan (Reliability)
yaitu kemungkinan kecil akan mengalamikerusakan atau gagal
dipakai.
(d) Daya tahan (Durability)
yaitu ketahanan produk tersebut dapat digunakan
Dimensi Kualitas Produk
Menurut Martinich dalam Badri (2011:63), ada enam spesifikasi dari
dimensi kualitas produk barang yang relevan dengan pelanggan:
(1) Performance
Performance (hal terpenting bagi pelanggan yaitu apakah kualitas produk
menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau apakah pelayanan diberikan
dengan cara yang benar).
(2) Range and Type of features
Range and type of features (selain fungsi utama dari suatu produk dan
pelayanan pelanggan sering kali tertarik pada kemampuan/keistimewaan
yang dimiliki produk dan pelayanan).
(3) Reliability and Durability
Reliability dan durability (kehandalan produk dalam penggunaan secara
normal dan berapa lama produk dapat digunakan hingga perbaikan
diperlukan).
(4) Maintainability and Serviceability
Maintainability and Serviceability (kemudahan untuk pengoperasian
produk dan kemudahan perbaikan maupun ketersediaan komponen
pengganti.
(5) Sensory Characteristic
Sensory Characteristic (penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera,
dan beberapa faktor lainnya mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas.
(6) Ethical profile and image
(Kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk
dan pelayanan)
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran
(2012 : 143), menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu
barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari
apa yang diinginkan pelanggan
Menurut Kotler dan Amstrong, (2008), kualitas produk (product
quality) merupakan senjata strategi potensial untuk mengalahkan pesaing.
Kemampuan dari kualitas produk untuk menunjukkan berbagai fungsi
termasuk di dalamnya ketahanan, handal, ketepatan, dan kemudahan dalam
penggunan.
Menurut Assauri dalam Arumsari (2012:45), kualitas produk
merupakan faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang
menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa
barang atau hasil itu dimaksudkan.
Menurut Kotler dalam Arumsari (2012:44), kebanyakan produk
disediakan pada satu diantara empat tingkatan kualitas, yaitu : kualitas
rendah, kualitas rata-rata sedang, kualitas baik dan kualitas sangat baik.
Beberapa dari atribut diatas dapat diukur secara objektif.
Kualitas Produk
Ada tiga hal mendasar yang mempengaruhi tingkat kesuksesan suatu produk
atau layanan di pasaran : harga, ketersediaan dan kualitas/kualitas.
Konsumen sangat mebutuhkan produk/layanan yang berkualitas tinggi, harga
terjangkau dan sesuai dengan manfaat yang diperoleh
Organisasi /perusahaan akan mampu bersaing di pasaran jika tingkat kepuasan
pelanggan cukup tinggi
Indikator Citra Merek
Menurut Aaker dalam Ananda (2011:63), menyatakan bahwa
brand adalah suatu banner yang dapat dipakai untuk memayungi
semua produk yang menggunakannya. Terdapat 3 indikator brand
image yaitu:
(a) Recognition (pengakuan)
Yaitu mencerminkan dikenalnya sebuah merek oleh
konsumen berdasarkan past exposure. Recognition berarti
konsumen mengingat akan adanya atau mengingat keberadaan
merek tersebut. Recognition ini sejajar dengan brand awareness.
(b) Reputation (reputasi)
Reputation ini sejajar dengan perceived quality. Sehingga
reputation merupakan status yang cukup tinggi bagi sebuah merek
karena di mata konsumen merek atau brand memiliki suatu track
record yang baik.
(c) Affinity (afinitas)
yaitu suatu emotional relationship yang timbul antara sebuah
merek dengan konsumennya. Produk dengan merek yang disukai
oleh konsumen akan lebih mudah dijual dan produk dengan
memiliki persepsi kualitas yang tinggi akan memiliki reputasi
yang baik.
Dimensi Citra Merek
Berdasarkan Biel dalam jurnal Kurniawati, Suharyono, dan
Kusumawati (2014) indikator pengukuran citra merek yaitu:
(1) Citra Perusahaan (Corporate Image)
Citra yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Perusahaan
sebagai organisasi berusaha membangun imagenya dengan tujuan tak
lain ingin agar nama perusahaan ini bagus, sehingga akan
mempengaruhi segala hal mengenai apa yang dilakukan oleh
perusahaan tersebut.
(2) Citra Produk (Product Image)
Citra konsumen terhadap suatu produk yang berdampak
positif maupun negatif yang berkaitan dengan kebutuhan, keinginan,
dan harapan konsumen. Image dari produk dapat mendukung
terciptanya sebuah brand image atau citra dari merek tersebut.
(3) Citra Pemakai (User Image)
Dapat dibentuk langsung dari pengalaman dan kontrak dengan
pengguna merek tersebut. Manfaat adalah nilai pribadi konsumen
yang diletakkan terhadap atribut dari produk atau layanan yaitu apa
yang konsumen pikir akan mereka dapatkan dari produk atau layanan
tersebut.
Faktor-faktor Pembentuk Citra Merek
Faktor-faktor pembentuk citra merek menurut Schiffman dan Kanuk
(2008:21) dalam jurnal Supangkat dan Supriyatin (2017) faktor-faktor
pembentuk citra merek antara lain:
(1) Kualitas atau mutu berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
(2) Dapat dipercaya atau diandalkan berkaitan dengan pendapat atau
kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
yang dikonsumsi.
(3) Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
(4) Pelayanan yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani
konsumennya.
(5) Resiko berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau laba dan rugi yang
mungkin dialami oleh konsumen.
(6) Harga dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi jangka panjang.
Pengertian Citra Merek
Menurut Kotler dan Keller (2009:403) dalam jurnal Kurniawati,
Suharyono, dan Kusumawati (2014) citra merek adalah persepsi dan
keyakinan yang dipegang oleh konsumen, seperti yang di cerminkan
asosiasi yang tertanam dalam ingatan konsumen yang selalu di ingat
pertama kali saat mendengar slogan dan tertanam di benak konsumennya.
Menurut Kotler dan Keller (2012:248) dalam jurnal Zainuddin (2018)
“ Brand Imagery describes the extrinsic properties of the product or
service, including the ways in which the brand attempts to meet customers
psychological or social needs”. Brand Image menggambarkan sifat
ekstrinsik dari suatu produk atau jasa termasuk cara dimana merek
berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:80) menyatakan “brand image
adalah himpunan keyakinan konsumen mengenai berbagai merek”.
Brand image atau brand description merupakan deskripsi tentang asosiasi
dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu.
Indikator Persepsi Harga
Indikator persepsi kewajaran harga menurut Herawaty et al. (2016) :
(a) Pelanggan membayar harga yang wajar
(b) Ketepatan penetapan harga
(c) Kewajaran kebijakan harga
(d) Perubahan harga sesuai dengan etika
(e) Harga dapat diterima oleh pelanggan
Indikator persepsi kewajaran harga menurut Rahyuda dan Atmaja (2011) :
(a) Harga yang ditetapkan sesuai dengan kualitas layanan
(b) Referensi tingkat harga
(c) Harga yang ditetapkan dapat diterima
(d) Harga yang ditetapkan adalah sebuah etika
Indikator persepsi kewajaran harga menurut Wirasti (2010) :
(a) Keterjangkauan harga
(b) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
(c) Kesesuaian harga dengan layanan yang ditawarkan
Dimensi Persepsi Harga
Monroe dalam Harjati dan Vanesia (2015: 67) , persepsi harga dibentuk oleh 2
(dua) dimensi utama yaitu :
(1). Perceived Quality (Persepsi Kualitas)
Konsumen cenderung lebih menyukai produk yang harganya mahal ketika
informasi yang didapat hanya harga produknya
(2). Perceived Monetary Sacrifice (Persepsi Biaya yang Dikeluarkan)
Secara umum konsumen menganggap bahwa harga merupakan biaya yang
dikeluarkan atau dikorbankan untuk mendapatkan produk.
Pengertian Persepsi Harga
Menurut Lee dan Lawson-Body (2011: 532) mengemukakan bahwa persepsi
harga merupakan penilaian konsumen dan bentuk emosional yang terasosiasi
mengenai apakah harga yang ditawarkan oleh penjual dan harga yang
dibandingkan dengan pihak lain masuk diakal, dapat diterima atau dapat
dijustifikasi.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2011:137) persepsi merupakan suatu proses
seseorang individu dalam menyeleksi, mengorganisasikan, dan menterjemahkan
stimulus informasi yang datang menjadi suatu gambaran yang menyeluruh,
persepsi harga ialah bagaimana cara konsumen melihat harga sebagai harga yang
tinggi, rendah dan adil.
Chang dan Wildt dalam Kaura (2012) mendefinisikan persepsi harga sebagai
representasi persepsi konsumen atau persepsi subjektif terhadap harga obyektif
produk. Keadaan persaingan yang semakin kompetitif sekarang ini, perbedaan
harga dirasakan menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian dimana
umumnya konsumen akan memilih harga yang paling murah untuk suatu produk
atau layanan yang ditawarkan.
Menurut Amryyanti et al. (2013) mendefinisikan persepsi kewajaran harga
sebagai penilaian bagi suatu hasil dan bagaimana suatu proses nantinya
mendapatkan suatu hasil yang dapat diterima dan pastinya dalam suatu kewajaran
dalam arti lain masuk akal.
Hubungan Persepsi Harga dan Keputusan Pembelian
Dalam membeli suatu produk konsumen tidak hanya mempertimbangkan kualitasnya
saja, tetapi juga memikirkan kelayakan harganya. Harga merupakan salah satu penentu
pemilihan produk yang nantinya akan berpengaruh terhadap minat pembelian. Harga
seringkali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung untuk menggunakan harga sebagai
indikator kualitas atau kepuasan potensial dari suatu produk.
Persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga dipahami seluruhnya oleh
konsumen dan memberikan makna yang dalam bagi mereka. Persepsi harga sering kali menjadi
sasaran investigasi dalam suatu penelitian, dibandingkan dengan objective price. Sebab,
konsumen biasanya tidak mengevaluasi harga pasti (exact price) dari suatu produk ketika
hendak melakukan pembelian, namun mereka mempersepsikan harga produk tersebut sebagai
suatu harga yang murah, masuk akal (reasonable), atau mahal berdasarkan internal reference
price mereka (Zeithaml, 1988: 10).
Apabila harga yang ditetapkan tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan, maka
konsumen akan menyadari hal tersebut. Tidak selamanya harga yang murah akan
mencerminkan tingkat kualitas suatu produk yang buruk. Begitu juga sebaliknya, harga yang
mahal tidak selalu mencerminkan kualitas produk yang baik pula. Pandangan tersebut
menyebabkan terjadinya hubungan antara permintaan dengan harga jual. Apabila harga tinggi,
maka permintaan produk tersebut akan rendah, begitu juga jika harga rendah, maka permintaan
produk tersebut akan tinggi (Yunda, 2014). Selanjutnya, bagaimana konsumen
mempersepsikan harga tersebut “tinggi, rendah atau wajar” memiliki pengaruh yang sangat
kuat terhadap keputusan pembelian
Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka (Kotler & Keller yang dialih bahasakan oleh Bob
Sabran, 2012:166).
Dharmmesta dan Handoko, (2012:10) berpendapat bahwa perilaku konsumen (consumer
behavior) adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan
dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa tersebut didalamnya pengambilan keputusan
pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012:166) menjelaskan bahwa
ada tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu faktor budaya, faktor sosial, dan
faktor kepribadian.
- Faktor budaya
Faktor budaya dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu sub-budaya (subculture) dan kelas sosial.
Budaya sendiri merupakan determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Melalui keluarga dan
institusi utama lainnya. Sub-budaya (subculture) yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan
sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota. Salah satu gambaran klasik tentang kelas sosial ada tujuh
tingkatan (1) bawah rendah, (2) bawah tinggi, (3) kelas pekerja, (4) kelas menengah, (5) menengah atas,
(6) atas rendah dan (7) atas tinggi. - Faktor Sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi perilaku konsumen dibagi dalam kelompok referensi, keluarga
serta peran dan status. Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012:170)
kelompok referensi (reference group) seseorang adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh
langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut. Keluarga juga
termasuk kedalam organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan anggota
keluarga merepresentasikan kelompok referensi utama yang paling berpengaruh.
Ada dua kelompok referensi dalam kehidupan pembelian. Orientasi keluarga (family of orientation)
terdiri dari orang tua dan saudara kandung. Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku pembelian
setiap hari adalah keluarga prokreasi (family of procreation) yaitu pasangan dan anak-anak, kelebihan
suami-istri dalam pembelian sangat beragam berdasarkan kategori produk, istri biasanya bertindak
sebagai agen pembelian utama keluarga, tertutama untuk makanan, dan kebutuhan sehari-hari. - Faktor kepribadian
Faktor kepribadian diklasifikasi dalam beberapa karakter yang mempengaruhi perilaku konsumen
diantaranya usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan keadaan ekonomi, keperibadian dan konsep diri
serta gaya hidup dan nilai. Seseorang akan membeli produk dan jasa yang berbeda-beda di sesuaikan
dengan usia yang mereka jalani. Kotler&Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012:172)
Indikator Persepsi Harga
Menurut Kotler dalam Muharam dan Soliha (2017) persepsi harga dapat diukur melalui
beberapa indikator yang terdiri dari:
a. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen. Konsumen sering memilih harga
yang lebih tinggi diantara dua barang karena melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih
tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
b. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama
dengan biaya yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat
produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk
tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
c. Harga bersaing
Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan mempertimbangkan harga produk yang
dijual oleh pesaingnya agar produknya dapat bersaing di pasar. Konsumen sering membandingkan
harga suatu produk dengan produk lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut.
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Harga
Menurut Monroe (2003:161), persepsi harga sering diidentikan dengan persepsi
kualitas dan persepsi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk. Persepsi harga
dibentuk oleh dua dimensi utama, yaitu persepsi kualitas dan persepsi biaya yang dikeluarkan.
a. Perceived Quality (persepsi kualitas) Konsumen cenderung lebih menyukai produk yang harganya
mahal ketika informasi yang didapat hanya harga produknya. Persepsi konsumen terhadap kualitas
suatu produk dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap nama merek, nama toko, garansi yang
diberikan (after sale services), dan negara yang menghasilkan produk tersebut.
b. Perceived Monetary Sacrifice (persepsi biaya yang dikeluarkan) Secara umum konsumen
menganggap bahwa harga merupakan biaya yang dikeluarkan atau dikorbankan untuk mendapatkan
produk. Akan tetapi konsumen mempunyai persepsi yang berbeda-beda terhadap biaya yang
dikeluarkan meskipun untuk produk yang sama. Hal ini tergantung situasi dan kondisi yang dialami
oleh konsumen, dalam hal ini terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap
biaya yang dikeluarkan, yaitu persepsi terhadap pajak, persepsi terhadap kewajaran harga dan efek
ekuitas merek.
Pengertian Persepsi Harga
Menurut Tjiptono (2007:151), harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya
(termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau
penggunaan suatu barang atau jasa.
Menurut Basu Swastha (2010:147), harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa
produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang
beserta pelayanannya.
Menurut Kotler dan Keller (2009:67), harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran
yang menghasilkan pendapatan, harga merupakan elemen termudah dalam program pemasaran
untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan lebih banyak
waktu.
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah
dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan
produk atau jasa tersebut (Kotler dan Armstrong, 2010:314).
Harga adalah jumlah dari seluruh nilai-nilai yang ditukar konsumen atas manfaatmanfaaat memiliki atau mengggunakan produk atau jasa tersebut. Harga juga merupakan
faktor penentu yang mempengaruhi pilihan pembelian, hal ini masih menjadi kenyataan di
negara-negara dunia, dikalangan kelompok-kelompok sosial yang miskin, serta pada bahanbahan pokok sehari-hari. Harga dapat menunjukkan kualitas dari suatu produk, dimana
konsumen mempunyai anggapan bahwa harga yang mahal biasanya mempunyai kualitas yang
baik.
Paul Peter dan Jerry Olson (2000) menyatakan:
Persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga dipahami seluruhnya oleh konsumen
dan memberikan makna yang dalam bagi mereka. Pada saat konsumen melakukan evaluasi dan penelitian
terhadap harga dari suatu produk sangat dipengaruhi oleh perilaku dari konsumen itu sendiri. Dengan
demikian penilaian terhadap harga suatu produk dikatakan mahal, murah atau biasa saja dari setiap
individu tidaklah harus sama, karena tergantung dari persepsi individu yang dilatar belakangi oleh
lingkungan kehidupan dan kondisi individu.
Menurut pendapat Zeithaml, (1988). Persepsi harga adalah bagaimana informasi harga
dipahami seutuhnya dan memberikan makna yang dalam bagi konsumen. Persepsi harga
menjadi sebuah penilaian penting bagi konsumen tentang perbandingan besarnya pengorbanan
dengan apa yang akan didapatkan dari produk dan jasa.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2008:186), persepsi harga adalah pandangan atau
persepsi mengenai harga bagaimana pelanggan memandang harga tertentu (tinggi, rendah,
wajar) mempengaruhi pengaruh yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli.
Menurut Rangkuti (2009:103), persepsi harga adalah biaya relatif yang harus ia
keluarkan untuk memperoleh produk atau jasa yang ia inginkan. Lebih lanjut Rangkuti (2009)
menjelaskan bahwa persepsi mengenai harga diukur berdasarkan pesepsi pelanggan yaitu
dengan cara menanyakan kepada pelanggan variabel-variabel apa saja yang menurut paling
penting dalam memilih sebuah produk.
Peter dan Olson (2010) menjelaskan bahwa persepsi harga berkaitan dengan bagaimana
informasi harga dipahami seluruhnya oleh konsumen dan memberikan makna yang dalam bagi
mereka. Pada saat konsumen melakukan evaluasi dan penelitian terhadap harga dari suatu
produk sangat dipengaruhi oleh perilaku dari konsumen itu sendiri.
Dalam pengambilan keputusan, harga memiliki dua peranan utama, yaitu (Fandy
Tjiptono, 2008):
a. Peranan alokasi, yaitu membantu para pembeli untuk memutuskancara terbaik dalam memperoleh manfaat
yang diharapkan sesuai dengan kemampuan daya belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat membantu
pembeli untuk memutuskan cara ngalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang atau jasa. Pembeli
membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang
dikehendaki.
b. Peranan informasi, yaitu mendidik konsumen mengenai faktor produk yang dijual, misalnya kualitas. Hal ini
terutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau
manfaatnya secara objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan
kualitas yang tinggi.
Tujuan dan Fungsi Pemasaran
Dalam tujuan pemasaran menurut Peter Drucker adalah untuk mengetahui dan
memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan
selanjutnya menjual dirinya sendiri. Sedangkan menurut Kotler dan Keller, ideal pemasaran
hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap untuk membeli. Semua yang
dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk dan jasa itu.
Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa orientasi yang dimiliki perusahaan
hendaknya tidak hanya terbatas pada sejauh mana produk bisa terjual dan dikonsumsi serta
memperoleh keuntungan besar melainkan dibutuhkan upaya untuk mengetahui dan memahami
keinginan pelanggan dalam konsumsinya sehingga cocok dan puas. Dengan demikian tentunya
secara otomatis laba perusahaan akan meningkat.
Pemasaran merupakan tugas terakhir dari kegiatan ekonomi dalam memuaskan
kebutuhan hidup manusia. Dalam hal ini pemasaran memiliki fungsi sebagaimana yang
disampaikan pleh M. Fuad, dkk 2000 yaitu menentukan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh
manusia serta menjual barang dan jasa tersebut ke tempat konsumen berada pada waktu yang
diinginkan, dengan harga terjangkau tetapi tetap menguntungkan bagi perusahaan yang
memasarkan.
Pengertian Pemasaran
Definisi pemasaran menurut Kotler & Keller (2016:27), The American Marketing
Association adalah “Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating,
communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for customers, clients,
partners, and society at large”. Kotler dan Keller (2016:27) menyatakan bahwa pemasaran
(marketing) adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Menurut
Sunyoto (2015:191) menyatakan bahwa pemasaran merupakan fungsi bisnis yang
mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen yang harus dipuaskan oleh kegiatan
manusia lain, yang menghasilkan alat pemuas kebutuhan, yang berupa barang maupun jasa.
American Marketing Association dalam Malau (2017:1) mendefinisikan bahwa pemasaran
adalah suatu aktivitas dan proses dalam menciptakan, mengkomunikasikan, memberikan dan
menawarkan pertukaran nilai terhadap pelanggan, klien, rekan, dan masyarakat luas.
Masyarakat pada umumnya sering menyamakan pemasaran dengan penjualan.
Pandangan ini terlalu sempit karena penjualan hanya untuk satu dari beberapa aspek yang ada
di pemasaran. Pemasaran berusaha mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen agar
pasar sasarannya serta bagaimana memuaskan mereka melalui proses pertukaran dengan tetap
memperhatikan semua pihak dan tujuan yang terkait dengan kepentingan perusahaan (Roman,
2016). Kegiatan suatu perusahaan memiliki aktivitas pemasaran yang sangat penting, artinya
bagi pencapaian tujuan sesuai dengan yang diharapkan, karena aktivitas pemasaran diarahkan
untuk menciptakan perputaran yang memungkinkan perusahaan dapat mempertahankan
kelangsungan hidup untuk berkembang dan mendapatkan keuntungan bagi perusahaan. Inti
dari pemasaran menurut Kotler & Keller (2016:27) adalah mengidentifikasikan dan memenuhi
kebutuhan manusia dan sosial.
Terdapat lima model langkah sederhana dari proses pemasaran untuk membuat dan
menangkap nilai pelanggan. Dalam empat langkah pertama, perusahaan bekerja untuk
memahami konsumen, menciptakan nilai pelanggan, dan membangun hubungan pelanggan
yang kuat. Pada langkah terakhir, perusahaan memetik hasil dari menciptakan nilai pelanggan
superior. Dengan menciptakan nilai bagi konsumen, mereka mengubah nilai tangkapan dari
konsumen dalam bentuk penjualan, laba, dan ekuitas pelanggan jangka panjang. (Kotler dan
Armstrong, 2016:30) konsep pemasaran inti terbagi menjadi sepuluh bagian yaitu:
a. Kebutuhan, keiginan dan permintaan
b. Targer pasar, positioning dan segmentasi.
c. Penawaran dan merek
d. Saluran pemasaran
e. Media berbayar, milik dan memperoleh
f. Tayangan dan keterlibatan
g. Nilai dan kepuasan
h. Rantai pasokan
i. Kompetisi
j. Lingkungan pemasaran
Pengaruh Kualitas Lingkungan Fisik terhadap Kepuasan Pelanggan
Kualitas lingkungan fisik juga mempengaruhi kepuasan pelanggan, karena
ketika pelanggan akan mengkonsumsi jasa mereka mendapatkan layanan yang
memuaskan dari perusahaan yang ia pilih. Maka cara manajemen perusahaan
memuaskan pelanggan harus mendesain lingkungan fisik semenarik mungkin agar
pelanggan yang menggunakan jasa merasa nyaman. Persepsi pelanggan mengarah
pada kepuasan pelanggan yang pada gilirannya mengarah pada pembelian kembali
dan dukungan pesan berantai. Makanan, layanan, dan lingkungan fisik memiliki
dampak penting pada tingkat kepuasan konsumen.
Lingkungan fisik sebuah hotel atau restoran dapat memperkuat citra merek
suatu perusahaan, membentuk kembali persepsi pelanggan, dan secara langsung
mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menurut Hanaysha (2016), semua elemen
berwujud maupun tidak berwujud didalam dan di luar restoran termasuk dalam
konsep lingkungan fisik, meliputi suhu, pencahayaan, aroma, kebisingan, suasana,
dan musik. Dia juga menyarankan bahwa lingkungan fisik yang terpelihara dengan
baik dapat berfungsi untuk memelihara restoran basis pelanggan yang ada serta
mampu menarik pelanggan baru
Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan
Kualitas layanan merupakan faktor pendorong yang dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan. Kualitas layanan yang baik akan membuat pelanggan merasa
nyaman dan senang. Harapan pelanggan tentunya menginginkan pelayanan yang
sebaik mungkin, nampun ketika ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan akan
membuat kekecewaan.
Definisi kualitas pelayanan menurut Tjiptono (2016) adalah tingkat
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat unggulan unggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Keberhasilan dalam memenuhi
keinginan pelanggan tentunya harus didorong dengan pelayanan yang terbaik.
Pengaruh Kualitas Makanan terhadap Kepuasan Pelanggan
Kualitas makanan memiliki peran penting dalam keterkaitannya dengan
Kepuasan Pelanggan. Sesuai dengan definisi yang diungkapkan Kotler dan Keller
(2016) tentang kualitas produk sebagai kemampuan suatu barang untuk
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi apa yang diinginkan
pelanggan, dengan kata lain bahwa ketika kualitas produk meningkat maka
kepuasan pelanggan akan meningkat. Sanarji et all.,(2016) kualitas produk terbukti
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan.
Pengaruh Persepsi Harga terhadap Kepuasan Pelanggan
Harga dapat mencerminkan bagaimana harapan pelanggan terhadap makanan
yang disajikan, jika harga yang didapat tidak sesuai harapan akan membuat
pelanggan kecewa dan kepuasan pelanggan tidak terpenuhi. Rothenberger (2015)
juga mengemukakan bahwa persepsi negatif pelanggan terhadap harga yang tidak
wajar dapat menyebabkan ketidakpuasan, menurun perilaku membeli kembali,
kata-kata negatif dari mulut ke mulut, dan keluhan. Aggraini dan Budiarti (2020)
pada penelitiannya harga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan
pelanggan.
Loyalitas Pelanggan (Loyalty)
Sebagaimana diketahui bahwa tujuan dari suatu bisnis adalah untuk
menciptakan para pelanggan merasa puas dan menjadi pelanggan yang setia.
Menurut Tjiptono (2014) mengemukakan bahwa: “Loyalitas pelanggan adalah
komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok, berdasarkan sikap
yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten.”
Loyalitas pelanggan dapat diraih bukan dengan secara instan melainkan
membutuhkan banyak waktu, namun kesan pertama pelanggan atau pengguna jasa
akan mempengaruhi perilaku kedepannya terhadap apa yang ia rasakan.
Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)
Kotler dan Amstrong (2018) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah
sejauh mana yang dirasakan kinerja suatu produk memenuhi harapan konsumen.
Ketika kinerja suatu produk jauh dari harapan, pelanggan tidak akan puas (Kotler
& Amstrong, 2018). Kepuasan konsumen dapat ditunjukkan melalui sikap
konsumen pada pembelian. Harjati & Venesia (2015) mengatakan kepuasan
pelanggan adalah tingkatannya perasaan seseorang terhadap sesuatu yang diterima,
yaitu perasaan senang atau ketidak bahagiaan.
Kualitas Lingkungan Fisik (Physical Environment Quality)
Lingkungan fisik merupakan hal nyata yang dapat dirasakan secara langsung
oleh pengguna yang mampu mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan
pembelian produk atau menggunakan jasa. Menurut Hanaysha (2016), semua
elemen berwujud maupun tidak berwujud didalam dan di luar restoran termasuk
dalam konsep lingkungan fisik, meliputi suhu, pencahayaan, aroma, kebisingan,
suasana, dan musik. Dia juga menyarankan bahwa lingkungan fisik yang terpelihara
dengan baik dapat berfungsi untuk memelihara restoran basis pelanggan yang ada
serta mampu menarik pelanggan baru.
Kualitas Layanan (Service Quality)
Definisi kualitas pelayanan menurut Tjiptono (2016) adalah tingkat
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat unggulan unggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Pelayanan menurut Kasmir (2017)
tindakan atau perbuatan seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan, sesama karyawan dan juga pimpinan. Kualitas layanan
menjadikan tolak ukur bagi pelanggan bagaimana keseriusan perusahaan dalam
melayani atau menjamu pelanggan. Semakin baik perusahaan melayani pelanggan
berarti perusahaan sangat serius dalam memberikan pelayanan dan menginginkan
pelanggan untuk betah kembali mengunjungi di kemudian hari.
Persepsi Harga (Perceived Price)
Alma (2016) mengatakan bahwa harga adalah nilai suatu benda atau barang
berupa uang. Menurut Kotler dan Amstrong (2018) harga adalah nilai yang
dikorbankan pelanggan untuk mendapatkan suatu produk atau jasa. Harga termasuk
informasi untuk mengevaluasi tingkat layanan yang dapat mempengaruhi perilaku
pembelian pelanggan. Selain itu, harga secara signifikan mempengaruhi niat
membeli karena adanya perubahan produksi berdampak besar pada pelanggan
(Liew, 2015).
Harga dapat mempengaruhi ekspektasi nilai pelanggan terhadap restoran.
Harga sebenarnya tidak akan meningkatkan kualitas suatu produk atau layanan,
tetapi pasti akan meningkat mempengaruhi nilai subjektif. Saat mengevaluasi
kualitas suatu produk atau layanan, semakin tinggi harga, semakin tinggi kualitas
yang diharapkan pelanggan, karena harga yang lebih tinggi menambah nilai yang
sama kualitas. Yang dan Mao (2014) menemukan bahwa harga yang lebih rendah
juga dapat dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi konsumen untuk
membeli. Meskipun harga yang dirasakan oleh pelanggan secara efektif akan
mengubah harga ekspektasi kualitas makanan, pelayanan, dan lingkungan fisik dari
suatu restoran. Oleh karena itu, penyedia layanan harus berkonsentrasi penetapan
harga yang akan mempengaruhi niat beli pelanggan.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas produk yang tinggi yang dimiliki oleh suatu produk secara langsung
dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan keinginan konsumen bahkan dapat melebihi
apa yang diinginkan oleh konsumen oleh sebab itu kualitas produk dapat memengaruhi
keputusan pembelian konsumen (Sumiyati, 2020). Meningkatkan dan
mempertahankan kualitas produk merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh
perusahaan, dengan begitu dapat memengaruhi konsumen untuk melakukan keputusan
pembelian.
Pengaruh Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian
Persepsi harga merupakan faktor yang sangat memengaruhi konsumen dari segi
harga, konsumen adalah individu dengan karakteristik yang berbeda-beda, penilaian
setiap konsumen terhadap produk atau jasa yang konsumen terima berbeda
(Retnowulan, 2017). Persepsi konsumen atas harga bisa membuat pengaruh kepada
konsumen untuk keputusan mereka dalam membeli produk, sehingga perusahaan harus
dapat membuat persepsi yang baik tentang produk atau jasa yang mereka jual.
Penelitian yang dilakukan oleh (Muharam dan Soliha, 2017) membuktikan bahwa
persepsi harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal
ini tentu menguatkan pandangan bahwa persepsi harga dari konsumen yang didasarkan
Indikator Keputusan Pembelian
Berikut ini merupakan lima proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh
konsumen menurut (Kotler & Keller, 2016) adalah sebagai berikut:
- Pilihan merek, konsumen mesti memilih merek mana yang akan dibeli, masingmasing merek mempunyai perbandingan, oleh karena itu perusahaan harus mampu
membuat konsumen untuk memilih merek mereka. - Pilihan agen, dalam pengambilan keputusan pembelian konsumen mesti
menentukan agen mana yang harus dituju. Setiap konsumen berbeda dalam
menentukan agen, yang mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti lokasi
geografis, harga murah, persediaan lengkap, kenyamanan berbelanja, dan ruang
yang luas. - Waktu pembelian, penentuan waktu pembelian calon konsumen harus bisa
menentukan waktu ketika ingin membeli suatu produk yang mereka inginkan. - Jumlah pembelian, jumlah merupakan total dari banyak suatu produk yang akan
dibeli atau diinginkan oleh konsumen. Bisa jadi terdapat lebih dari satu produk
yang akan dibeli. Maka dari itu, setiap perusahaan harus mampu menyiapkan
jumlah produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. - Jenis atau metode pembayaran, dalam menentukan keputusan pembelian
Konsumen dapat memilih menggunakan jenis dari metode pembayaran yang akan
dilakukan dalam keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk atau jasa
sesuai dengan keinginan konsumen.
Peranan Dalam Keputusan Pembelian
Berikut ini terdapat lima peranan dalam pembelian adalah sebagai berikut
(Tjiptono, 2008):
- Initiator (pemrakarsa) merupakan individu yang memunculkan dan menciptakan ide
pertama kali untuk membeli produk dan layanan. - Influencer (memberi pengaruh) merupakan individu yang menyampaikan
pandangan, nasihat, atau pendapatnya dan sangat memengaruhi dalam pengambilan
keputusan pembelian. - Decider (pengambil keputusan), setiap orang yang harus bisa menentukan
menentukan keputusan pembelian, misalnya apakah jadi atau tidaknya membeli, apa
yang dibeli, bagaimana cara membeli, atau di mana belinya. - Buyer (pembeli), individu yang melaksanakan pembelian ketika sudah menentukan
sikap dalam pengambilan keputusan. - User (pemakai), merupakan individu pengguna dalam menggunakan produk atau
jasa
Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
Berikut ini merupakan tahap-tahap dalam langkah pengambilan keputusan
pembelian menurut (Kotler dan Keller, 2016) adalah sebagai berikut:
- Pengenalan masalah dimulai dengan calon konsumen mengetahui adanya masalah
dan kebutuhan. Kebutuhan itu dapat oleh tindakan rangsangan dari internal atau dari
external pembeli. - Pencarian informasi diawali ketika konsumen merasa atas kebutuhannya selalu
didorong untuk melakukan pencarian informasi tentang produk dan jasa yang
konsumen inginkan, mereka dapat mencari informasi dan memperoleh informasi
dari berbagai macam sumber yang ada, seperti:
a. Sumber internal yaitu berasal dari kerabat, teman, dan tetangga
b. Sumber komersial yaitu berasal dari iklan produk, kemasan, dan penjual
c. Sumber terbuka yaitu berasal dari media dan organisasi
d. Sumber pengalaman yaitu berasal dari pengalaman dalam menggunakan
produk tersebut sebelumnya. - Evaluasi alternatif dalam proses ini tahap ini konsumen diarahkan kepada beberapa
produk yang diinginkan, kemudian konsumen melakukan evaluasi terhadap produk
mana yang akan dipilih yang sesuai dengan kebutuhan. - Keputusan pembelian pada proses ini ketika konsumen benar-benar memutuskan
untuk memilih dan membeli produk yang diinginkan, tetapi ada dua faktor yang
memengaruhi pada saat memilih, yaitu sikap pada orang lain dan kejelekan suatu
produk. - Perilaku pasca pembelian pada tahap ini konsumen akan merasa puas atau tidak puas
dari produk yang mereka pilih, dalam tahap ini akan menentukan konsumen dalam
pembelian ulang.
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah aktivitas perseorangan yang berperan spontan
untuk mendapatkan dan menggunakan barang yang disediakan. Keputusan pembelian
dapat digambarkan sebagai proses dimana konsumen nyata ada dan membuat
keputusan untuk membeli produk, pada dasarnya dapat dikatakan bahwa konsumen
mempunyai cara sendiri-sendiri dalam menentukan pembelian produk, dalam
keputusan pembelian terdapat langkah-langkah yang harus dilalui pembeli ketika
memilih produk dan layanan yang akan dibeli (Tjiptono, 2013). Keputusan pembelian
merupakan bagian dari tahap evaluasi konsumen untuk menciptakan alternatif
konsumen dalam membuat pilihan antar merek, dan mungkin muncul dalam bentuk
membeli merek yang diinginkan (Kotler dan Keller, 2016). Keputusan pembelian suatu
proses yang digunakan untuk menentukan keputusan pembelian suatu produk. Proses
dimulai dengan mengidentifikasi masalah, mencari informasi, kemudian mengevaluasi
dan lalu membuat keputusan pembelian, dan terakhir memperoleh perilaku pasca
pembelian dengan mengetahui perasaan puas atau tidak puas dari membeli produk
tersebut (Kotler, 2012).
Pengertian Kualitas Produk
Secara teknis produk merupakan sesuatu yang dapat dipasarkan memenuhi satu
atau lebih keinginan, termasuk barang fisik, layanan, pengalaman, peristiwa, individu,
tempat, properti, organisasi, informasi dan ide (Kotler dan keller, 2016). kualitas
produk merupakan kompetensi produk yang menunjukkan fungsinya. Kualitas adalah
kemampuan suatu produk untuk menjalankan fungsinya, termasuk daya tahan,
keandalan, kecepatan, penggunaan dan pemeliharaan, serta atribut berharga lainnya
(kotler dan Armstrong, 2012).
Kualitas produk adalah kondisi suatu barang, dan standar pengukuran
menentukan apakah memenuhi standar pengukuran yang ditetapkan (Handoko, 2016).
kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk dalam memperlihatkan
manfaatnya, yang termasuk dalam keseluruhan daya tahan, ketepatan, kemudahan
pengoperasian, dan perbaikan produk serta atribut produk lainnya (Kotler, 2012).
Dimensi dan Indikator Persepsi Harga
Adapun indikator-indikator persepsi harga dalam sudut pandang konsumen adalah
sebagai berikut (Kotler dan Amstrong, 2016):
- Keterjangkauan harga, sebelum membeli konsumen akan mencari produk yang
terjangkau, harga yang terjangkau adalah harga yang diharapkan konsumen. - Harga ganjil yang ditetapkan, penetapan harga dengan angka ganjil, dimana biasanya akan
meningkatkan daya tarik konsumen - Kesesuaian harga dan kualitas produk, merupakan kualitas produk yang diberikan
sesuai atau tidak dengan harga yang ditawarkan, konsumen tidak
mempermasalahkan apakah harus membeli dengan harga yang relatif mahal,
asalkan kualitas produk tersebut baik, namun konsumen lebih menyukai produk
dengan harga rendah dan kualitas yang bagus. - Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen akan membandingkan manfaat yang
diberikan oleh produk apakah sesuai dengan harga yang dikeluarkan untuk
mendapatkan produk tersebut sebanding dengan keuntungan yang diperoleh maka
konsumen akan menetapkan keputusan pembelian. Ketika konsumen menganggap
bahwa uang yang dikeluarkan lebih besar daripada manfaat yang diperoleh dari
suatu produk, mereka akan mengira bahwa produk tersebut mahal, dan konsumen
akan berpikir dua kali untuk membeli produk tersebut. - Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, sebelum memutuskan pembelian
konsumen akan membandingkan harga dari setiap pilihan produk yang tersedia dan
konsumen akan memilih lalu kemudian mempertimbangkan pada saat akan
membeli produk tersebut apakah harga yang diberikan lebih rendah atau bahkan
lebih mahal dari harga yang diberikan oleh pesaing. - Periode harga yang ditetapkan, merupakan harga yang ditawarkan kepada
konsumen dalam bentuk jangka waktu tertentu.
Pengertian Persepsi Harga
Harga merupakan nominal uang yang harus dikeluarkan untuk memperoleh
suatu produk atau jasa. Harga adalah nominal dari jumlah value yang dibebankan
kepada konsumen untuk memperoleh keuntungan dari manfaat-manfaat karena
memiliki produk atau jasa, dibenak konsumen dapat juga dapat disebut sebagai penentu
nilai produk (Kotler dan Armstrong, 2012). Harga adalah jumlah mata uang dan
layanan atau barang yang dapat digunakan pembeli untuk menukar beberapa produk
dan layanan yang disediakan oleh penjual (Tjiptono, 2015).
Persepsi harga merupakan suatu proses dimana konsumen menginterpretasikan
nilai harga atau atribut barang dan jasa yang diharapkan, saat konsumen mengevaluasi
dan meneliti harga produk ini sebagian besar dipengaruhi oleh perilaku konsumen itu
sendiri (Malik dan Yaqobo, 2012).
Persepsi harga adalah tentang memahami informasi harga disukai oleh
konsumen dan membuatnya bermakna. Mengenai informasi harga, konsumen dapat
membandingkan harga publish dengan harga produk yang dibayangkan atau kisaran
harga, persepsi harga akan membentuk persepsi masyarakat akan harga yang pantas
atas suatu produk (Peter dan Olson, 2014).
Persepsi Konsumen
Dalam membangun bisnisnya, perusahaan perlu menyusun dan menyiapkan
strategi pemasaran yang akan dipraktekan lebih mendalam dan terbuka guna
mengantisipasi situasi baru disaat mereka akan menghadapi pesaing-pesaing di
dunia bisnis (Kusuma et al., 2020). Dari fenomena tersebut perusahaan akan
bersaing lewat kemajuan teknologi, kebijakan baru, hukum baru yang dapat
mengakibatkan kesetiaan pelanggan berkurang. Perusahaan-perusahaan tersebut
akan berlomba dengan tujuan searah dan keinginan mereka guna mendapatkan
konsumen. Perusahaan memiliki cara mereka tersendiri agar dapat membuat
produknya dapat dipersepsikan pada konsumen dengan iklan penjualan yang
dominan atau agresif.
Persepsi merupakan suatu proses menstimulasi yang ditangkap indera manusia.
Kebanyakan konsumen mulai menstimulasi produk atau barang yang akan mereka
beli melalui indera penglihatan mereka. (Dzikira, 2021). Dalam menentukan
persepsi konsumen yang akan diamati ialah fenomena atau kebiasaan yang
dilakukan konsumen dalam melalukan keputusan pembelian disuatu gerai
berdasarkan beberapa faktor dan indicator yang akan diamati
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Konsumen
Dikutip dari penelitian yang dilakukan Nur Nasmah (2019) tentang faktorfaktor yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas layanan grab
antara lain, kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, dan citra merek. Penelitian
yang digunakan ialah dengan metode kuisoner dengan skala likert sehingga
diperoleh kesimpulan kualitas pelayanan, citra merek dan kepuasan pelanggan
dapat mempengaruhi persepsi konsumen. Dari penelitian sebelumnya menjelaskan
bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi konsumen untuk
melakukan pembelian secara online seperti faktor kualitas pelayanan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap loyalitas pelayanan (Alfian et al., 2018). Faktor
kemudahan yang diberikan oleh startup akan mempengaruhi kepuasan pelanggan
dalam menggunakan Grabmart dalam sehari-hari.
- Citra Merek
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya seseorang akan berusaha
memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara berbelanja. Saat berbelanja
konsumen akan dihadapkan dengan berbagai merek yang akan menjadi pilihan bagi
konsumen untuk memilah-milah. Apabila konsumen telah memilih suatu merek
untuk dibeli makan konsumen akan menggunakan citra merek tersebut untuk
mendapatkan informasi dalam menilai suatu perusahaan. Konsumen yang memiliki - Kualitas Pelayanan
Kualitas peayanan merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk
memperoleh pelanggan dan mempertahankannya . Salah satu upaya yang biasa
dilakukan oleh perusahaan ialah memberikan kualitas layanan yang baik maka
akan membuat pelanggan tertarik untuk membeli produk tersebut. Menurut Irfan &
Saefurrahman (2020), kualitas pelayanan adalah tingkatan keunggulan yang
diharapkan dengan harapan tingkat keunggulan keunggulan tersebut dapat
memenuhi keinginan pelanggan. - Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan pelayanan merupakan sebuah perlakuan yang diperoleh
oleh pelanggan berdasarkan kualitas kinerja setelah melakukan keputusan
pembelian dalam bentu produk atau jasa. - Kemudahan
Kemudahan merupakan rasa senang atau benefit yang didapatkan seseorang
berdasarkan pengalaman dalam beraktifitas sehari-hari. - Kebiasaan
Kebiasaan adalah suatu bentuk kegiatan yang sering dilakukan dalam waktu
tertentu dan terjadwal
Niat Beli Ulang
Niat beli ulang merupakan minat yang didasarkan atas pengalaman pembelian
yang telah dilakukan sebelumnya (Adriani & Warmika, 2019). Niat beli ulang
merupakan tingkat motivasi konsumen untuk mengulangi perilaku pembelian suatu
produk. Niat beli ulang merupakan konsekuensi dari kepuasan pelanggan, dimana
ketika pelanggan merasa puas maka mereka akan melakukan pembelian kembali di
tempat yang sama (Prasastono et al., 2012).
Niat beli ulang merupakan salah satu bentuk loyalitas pelanggan, loyalitas
pelanggan didefinisikan sebagai sikap dari pelanggan yang memberikan
keuntungan bagi bisnis dan menghasilkan perilaku niat membeli kembali (Dewi et
al., 2022). Niat beli ulang adalah kecenderungan perilaku membeli kembali dari
konsumen terhadap suatu produk barang atau jasa yang dilakukan berulang dalam
jangka waktu tertentu dan didasarkan pada pengalaman dimasa lalu (Putu et al.,
2018).
