Semua ventilator mengukur satu atau beberapa variabel yang berhubungan dengan rumus gerakan sistem respirasi (misalnya tekanan, volume, flow atau waktu) untuk memulai inspirasi. Inspirasi dimulai ketika satu dari beberapa variabel itu mencapai nilai yang telah diatur. Variabel trigger yang paling umum adalah waktu (ventilator memulai pernapasan sesuai dengan frekwensi yang telah diatur tanpa mengindahkan usaha napas spontan pasien), pressure trigger/PT (ventilator merasakan usaha napas pasien dalam bentuk penurunan tekanan dasar yang telah diatur dan memulai inspirasi tanpa mengindahkan berapa frekwensi napas yang ditetapkan), dan flow trigger/FT (ventilator merasakan usaha napas pasien sebagai penurunan batas flow yang telah diatur dalam sirkuit pasien atau merasakan aliran inspirasi secara langsung dengan sensor pada jalan napas pasien dan memulai inspirasi tanpa mengindahkan berapa frekwensi napas yang ditetapkan (Macintyre et al, 2009).
Sistem trigger yang didasari perubahan flow dikatakan mengurangi WOB pasien karena kerja yang sifatnya proporsional terhadap volume yang diinspirasi dikalikan perubahan tekanan dasar yang diperlukan untuk mentrigger ventilator lebih kecil. Sedangkan PT memerlukan perubahan tekanan dan akibatnya memerlukan tenaga yang lebih besar (Tobin MJ, 2006).
Usaha pasien yang diperlukan untuk mentrigger inspirasi ditentukan oleh sensitivitas ventilator. Sensitivitas didefinisikan sebagai rasio dari amplitudo sinyal keluar dibanding amplitudo sinyal masuk. Pada ventilator amplitudo sinyal keluar adalah usaha napas pasien untuk mentrigger inspirasi dan amplitudo sinyal masuk adalah perubahan sinyal trigger yang diperlukan untuk mentrigger. Semakin kecil perubahan pada sinyal trigger (misalnya perubahan tekanan dibawah tekanan dasar) yang diperlukan untuk mentrigger, semakin besar rasio matematisnya dan semakin besar sensitivitasnya. Pengaturan sensitivitas ventilator adalah nilai ambang batas untuk variabel trigger yang bila nilainya terpenuhi maka ventilator akan memulai inspirasi (Chatburn RL, 2007). Trigger ventilator telah diteliti secara intensif karena kemampuan untuk merasakan usaha napas pasien dan merespon dengan cepat dan dengan flow sesuai kebutuhan sangat penting untuk sinkronitas interaksi pasien-ventilator.
PT adalah teknik trigger yang paling kuno dan paling sederhana untuk mendeteksi usaha napas pasien. Sensitivitas ambang (threshold) trigger diatur dalam cmH2O relatif terhadap tekanan dasar (baseline pressure). Jadi bila tekanan dasar adalah 5cmH2O dan ambang trigger 2 cmH2O maka bila usaha napas pasien menyebabkan tekanan dalam sirkuit turun menjadi 3cmH2O maka inspirasi akan diberikan oleh ventilator (Tobin MJ, 2006).
Posisi transduser tekanan dalam sirkuit juga bisa mempengaruhi triggering. Letak transduser dalam sirkuit bisa pada bagian inspirasi, bagian ekspirasi atau pada jalan napas bagian proksimal. Transduser pada bagian inspirasi akan dipengaruhi oleh resistensi antara pasien dan transduser yaitu sirkuit ventilator, filter dan humidifier. Bila transduser ditempatkan pada bagian ekspirasi memang akan mengurangi resistensi dari humidifier tetapi masih ada resistensi dari sirkuit dan filter. Bila transduser ditempatkan pada Y-piece maka akan menghilangkan resistensi kecuali bila filter atau humidifier pasif dihubungkan secara langsung dengan ET. ET biasanya adalah sumber resistensi terbesar dari sistem pasien-ventilator sehingga disarankan agar penempatan transduser sebaiknya di bagian distal ET. Hanya saja hal tersebut akan membuat transduse lembab dan terkontaminasi oleh sekret sehingga sampai saat ini belum ada ventilator dengan jenis penempatan transduser seperti itu (Macintyre et al, 2009)
FT diperkenalkan oleh Engstrom pada awal tahun 1980 tetapi baru mulai populer tahun 1988 setelah diperkenalkan kembali oleh Puritan Bennet dan sampai saat ini FT menjadi bagian standar suatu ventilator. Pada berbagai ventilator, sistem FT bervariasi dalam penempatan transduser flow, ada atau tidak adanya continuous(bias) flow dan kemampuan untuk mengatur bias flow dan sensitivitas flow. Umumnya FT terjadi bila transduser flow mendeteksi perubahan pada flow. Konsepnya sama dengan PT, hanya saja pada FT implementasinya ada 3 metode. Metode pertama benar-benar hanya mengukur perubahan flow yang disebabkan oleh usaha napas pasien, tidak ada flow kontinyu pada sirkuit dan flow pada akhir ekspirasi adalah nol. Metode kedua dengan menggunakan flow kontinyu yang telah ditetapkan ventilator dan trigger akan dideteksi oleh adanya perubahan pada flow kontinyu tersebut. Metode ketiga mengijinkan klinisi untuk mengatur flow kontinyu dan sensitivitas flow. Dengan metode ketiga maka bila terjadi perubahan flow dalam sirkuit yang disebabkan oleh usaha inspirasi akan menurunkan flow dibawah pengaturan ambang trigger dan inspirasi akan diberikan (Macintyre et al, 2009).
Secara teori seharusnya awal dan akhir inspirasi pasien harus sama dengan awal dan akhir inspirasi ventilator walaupun sinkronitas tersebut tidak selalu terjadi karena usaha napas pasien harus mampu mentrigger ventilator pada sensitifitas tertentu barulah kemudian ventilator akan memberikan inspirasi. Ada dua masalah yang sering terjadi pada siklus pernapasan spontan dengan ventilator yaitu trigger yang tidak efektif (ineffective triggering) dan ventilator memberi tekanan positif tanpa trigger dari pasien (autotriggering). Konsekwensi klinis dari usaha napas yang sia-sia akibat ineffective triggering adalah pembebanan yang tidak perlu pada otot respirasi. Autotriggering sendiri menyebabkan peningkatan frekwensi napas, hipokapnia, hiperinflasi, kerusakan otot dan ketidaknyamanan pasien (Mancebo J, 2003).
Performa PT dipengaruhi oleh akurasi dan kecepatan transduser tekanan. Faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan pemberian inspirasi setelah pasien mentrigger ventilator (delay) adalah error akibat kecepatan penghantaran sinyal melalui selang sensor, error akibat polling interval pada transduser, error pada transduser, error akibat perbedaaan pada pengaturan dan PEEP pasien, error akibat kebisingan sirkuit dan posisi transduser pada sirkuit ventilator. Keterlambatan pemberian inspirasi biasanya kurang dari 150 msec dan hanya menambah sedikit saja WOB pasien. (Sassoon et al, 1995; Tobin MJ, 2006)
Masalah yang timbul pada penggunaan FT adalah autotriggering akibat kebocoran sistem atau adanya kondensat dalam sirkuit ventilator. Autotriggering adalah keadaan dimana ventilator berkali-kali mentrigger dengan sendirinya, biasanya karena kebocoran pada sistem sirkuit sehingga terjadi penurunan tekanan jalan napas dibawah ambang batas trigger atau pada FT terjadi akibat pengaturan sensitifitas yang terlalu tinggi. Bila sensitivitas diatur terlalu tinggi makan detak jantung juga bisa menyebabkan trigger (Chatburn RL, 2007)
Pengukur flow yang diletakkan pada jalan napas akan mengurangi masalah kondensat. Sedangkan FT dengan flow kontinyu bisa mengkompensasi kebocoran sistem. Pada sistem FT dengan flow kontinyu yang rendah kebocoran bisa menghalangi sistem untuk melakukan fungsi trigger secara memadai (Macintyre et al, 2009).
Pada penelitian tentang efek fisiologis PT (-1 cmH2O) dan FT (1 dan 5 L/menit) pada pasien COPD yang diventilasi mekanis non invasif dengan mode PSV dan AC (assisted controlled) disimpulkan bahwa FT mengurangi usaha inspirasi dengan perbedaan PTP yang bermakna dibandingkan PT karena dengan FT terjadi penurunan PEEPi dinamis dan TD (time delay) untuk membuka katup inspirasi lebih singkat (Nava et al, 1997).
Penggunaan FT menyebabkan penurunan usaha inspirasi dan flow yang kontinyu akan memberikan level PEEP yang mampu menurunkan kerja otot respirasi untuk mengurangi PEEPi pada pasien COPD. Selama pernapasan spontan usaha inspirasi untuk mengatasi PEEPi dan mentrigger ventilator dengan PT adalah 15.26+-2.09% dan 17.03+-2.07%, pada FT turun secara bermakna (p<0.001) yaitu 6.22+-2.13% dan 11.90+-2.22%. Time delay (TD) atau usaha inspirasi yang dikeluarkan sebelum udara dialirkan lebih lama pada PT (p<0.01) dibandingkan pada FT (0.08+-0.02 vs 0.04+-0.01detik). TD yang lama akan mempengaruhi interaksi pasien-ventilator dan meningkatkan WOB (Ranieri et al, 1995).
Walaupun tidak ada perubahan bermakna pada pola napas, usaha inspirasi juga turun secara bermakna (p<0.05) dengan FT (3 L/menit) dibandingkan PT (-2 cmH2) pada pasien ARDS tanpa COPD yang diventilasi mekanis dengan napas spontan dan CPAP, PTP dan WOB turun 27% dan 24% pada napas spontan, 15% dan 14% pada CPAP (Polese et al, 1995). Pada penelitian pengaruh FT dan PT pada WOB dan PTP pasien CPAP diperoleh hasil yaitu FT lebih superior mengurangi WOB (p<0.01 pada ventilator puritan bennet 7200e dan hamilton veolar) dan PTP (p<0.05 pada ventilator puritan bennet 7200e dan hamilton veolar) dibandingkan PT (Branson et al, 1994).
PTP pada pasien PSV dengan sensitivitas FT 2 L/menit adalah 0.136+-0.064 dibandingkan PTP 0.161+-0.045 pada PT -1 cmH2. Tetapi perbedaan PTP menjadi tidak bermakna pada FT 3 L/menit yaitu 0.161+-0.086 bila dibandingkan dengan PTP PT -1 cmH20 yaitu 0.161+-0.045. Terdapat perbedaan bermakna pada usaha napas pasien pada tiap metoda trigger (p<0.01). Tetapi sensitifitas terhadap usaha inspirasi sangat tinggi dan PTP sangat kecil pada PT -0.5 cmH20 (p<0.05) tetapi trigger yang sangat sensitif akan mengganggu interaksi pasien-ventilator karena sering terjadi autotriggering (Goulet et al, 1997; Sassoon et al, 1995).
Dua ventilator yang berbeda akan menghasilkan efek berlainan dengan pengaturan trigger yang sama. Karakteristik tersebut terlihat pada ventilator puritan bennet 7200e dan siemens SV 300 menggunakan model paru mekanis dengan mode CPAP. Pada puritan bennet 7200e, PT ditandai oleh kurangnya deliveri flow setelah triggering sehingga PTP lebih tinggi dibandingkan dengan FT tetapi PTP menjadi sama bila diberikan level PS 5 cmH2O. Pada Siemens SV 300, FT dan PT menghasilkan PTP yang sama. Total PTP lebih kecil pada Siemens SV 300 tetapi bila PS diberikan pada puritan bennet maka PTP hasilnya menjadi sama (Sassoon et al, 1995). Pada siemens SV 300 ditemukan bahwa pada PSV dengan PT (-1 cmH2O) dan FT (0.7-2 L/menit), pada level PS yang menghasilkan WOB yang sama, efek terhadap respirasi, ventilasi dan parameter weaning tidak berbeda secara bermakna (Tütüncü et al, 1997).
.
Efek penggunaan PT dan FT terhadap usaha inspirasi dan WOB telah banyak diteliti, tetapi bagaimana penilaian subyektif pasien terhadap perbedaan trigger tersebut tidak banyak diketahui. Dari penelitian Barrera dan kawan-kawan diperoleh hasil bahwa 12 dari 14 pasien PSV dengan berbagai penyebab gagal napas merasa nyaman dengan FT 3 L/menit dan flow dasar 10 L/menit disertai penurunan PTP dan WOB (p<0.01) dibandingkan sistem trigger yang tidak diteliti tingkat kenyamanannya. Sementara 2 pasien lainnya menyatakan tidak merasakan perubahan. Dikatakan bahwa FT memberi nilai lebih pada PSV karena FT menambah kenyamanan bernapas dan mengurangi besarnya usaha inspirasi dan TD. (Barerra et al, 1999)