Penyakit DM ditandai gejala 3P, yaitu poliuria (banyak berkemih), polidipsia (banyak minum), dan polifagia (banyak makan), yang dapat di jelaskan sebagai berikut. Di samping naiknya kadar gula darah, gejala kencing manis bercirikan adanya “gula” dalam kemih karena glukosa yang diekskresikan mengikat banyak air. Akibatnya timbul rasa haus, kehilangan energi dan turunnya berat badan serta rasa letih. Tubuh mulai membakar lemak untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang disertai pembentukan zat-zat perombakan, antara lain aseton, asam hidroksibutirat, dan diasetat, yang membuat darah menjadi asam. Keadaan ini disebut ketoasidosis, ketoasidosis sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pingsan (coma diabeticum). Tubuh penderita menjadi sangat kurus dan nafas berbau aseton (Tjay dan Rahardja, 2002).
Pengukuran hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) adalah cara yang paling akurat untuk menentukan tingkat ketinggian gula darah selama dua sampai tiga bulan terakhir. Hemoglobin adalah bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen. Salah satu jenis dari Hb adalah HbA, dan HbA1c merupakan subtipe spesifik dari HbA. Semakin tinggi kadar gula darah, akan semakin cepat HbA1c terbentuk, yang mengakibatkan tingginya kadar HbA1c. HbA1c ini juga merupakan pemeriksaan tunggal terbaik untuk menilai resiko terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah (Mag, 2004). Selain pemeriksaan HbA1c, untuk menegakkan diagnosis bagi penderita DM biasanya dilakukan pengukuran kadar gula darah (KGD), dan KGD yang paling tepat menunjukkan keadaan sebenarnya adalah KGD puasa (Oki dan Isley, 2002).
Kriteria diagnosis diabetes menurut PERKENI 2002 adalah memenuhi satu dari tiga kriteria berikut :
- Gejala klasik DM + glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl (11.1 mmol/l).
Glukosa sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
- Gejala klasik DM + kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl (7.0 mmol/l).
Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam.
- Kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO (tes toleransi glukosa oral) ≥ 200 mg/dl (11.1 mmol/l).
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan kedalam air.
