Selama ventilasi spontan, Pmus diperlukan untuk melawan Pel, Pres dan kelembaman sistem respirasi. Karena kelembaman sistem respirasi bisa diabaikan maka rumus gerakannya menjadi: Pmus = Pel + Pres. Karena Pel adalah hasil dari elastan sistem repirasi (Ers) dan volume (V) diatas functional residual capacity (FRC) pasif dan Pres adalah hasil dari resistensi sistem respirasi (Rrs) dan flow/aliran napas (V), maka bisa disubstitusikan komponen untuk Pel dan Pres bila terdapat positive end expiratory pressure intrinsik (PEEPi) menjadi Pmus =(Ers x V) + (Rrs x V) + PEEPi.
Pada pasien dengan yang bernapas spontan dengan ventilasi mekanis, tekanan yang diberikan ventilator (PAW) ditambahkan pada Pmus (Tobin MJ, 2006; MacIntyre et al, 2009).
PAW + Pmus = =(Ers x V) + (Rrs x V) + PEEPi (1)
PAW = (Ers x V) + (Rrs x V) + PEEPi – Pmus (2)
Persamaan diatas memiliki 2 fungsi pada ventilasi mekanis: (1) untuk mengukur parameter mekanika paru yaitu komplian dan resistensi dari informasi tekanan, flow dan volume, dan (2) memprediksi tekanan, volume, dan flow dari nilai resistensi dan komplian tersebut (Chatburn RL, 2007). Dengan demikian pada bantuan ventilasi parsial dengan ventilator, ventilator memberikan dorongan tekanan positif (PAW) dan pasien menarik napas (– Pmus) dan kedua tenaga tersebut dikeluarkan untuk mengatasi Ers, Rrs dan PEEPi. Setting ventilator akan mempengaruhi interaksi pasien dengan ventilator terutama pada pasien yang bernapas parsial misalnya dengan pressure support ventilation (PSV). Interaksi tersebut tergantung pada (i) respon ventilator (yaitu PAW) terhadap usaha napas pasien (yaitu Pmus) dan (ii) respon pasien terhadap napas yang diberikan ventilator (Kondili et al, 2003).
