Gambaran Klinis Anak dengan Autisme (skripsi, tesis, disertasi)

Gambaran klinis anak dengan autisme dapat dilihat dari tanda dan gejala yang ditandai dengan defisit gangguan interaksi sosial pada anak dalam penggunaan komunikasi non-verbal dan verbal yang kurang atau tidak sama sekali untuk mengatur interaksi sosial. Gangguan interaksi sosial juga dapat menimbulkan gangguan hubungan dengan kelompok, gangguan berbagi minat atau keberhasilan serta timbal balik sosial emosisonal, termasuk juga kesulitan untuk memulai, mempertahankan dan mengakhiri interaksi sosial, memahami pikiran dan perasaan orang lain serta memahami dampak dari perilaku seseorang pada orang lain (Ellis, 2018).

Defisit dalam komunikasi sosial pada GSA dapat dilihat dari gangguan perkembangan atau miskin dalam bahasa, gangguan dalam memulai atau mempertahankan percakapan, serta dalam penggunaan kata dan bahasa yang berulang-ulang dan bervariasi (Ellis, 2018). Gangguan pada perilaku, minat, aktivitas yang repetitif dan terbatas mencakup perilaku dalam gerakan tubuh stereotype dan berulang-ulang, desakan lingkungan dan rutinitas yang sama, minat yang sempit dan terbatas serta perilaku yang merigikan diri sendiri (Rapin & Tuchman, 2008).

Tanda dan gejala GSA biasanya bervariasi secara signifikan dalam keparahan. Ciri khas anak autisme yaitu: kesulitan dalam berinteraksi sosial, komunikasi verbal dan non-verbal yang bermasalah, perilaku yang berulang-ulang. Ciri khas diatas dapat membantu dalam membuat diagnosis pada anak GSA (Ellis, 2018).

Menurut Muhith (2015), gejala dari anak autisme sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun dimana hal ini ditunjukkan dengan anak tidak menunjukkan kontak mata dan tidak responsif terhadap lingkungan. Jika tidak diupayakan untuk melakukan terapi maka mungkin memasuki usia 3 tahun pada anak tersebut perkembangannya akan mundur atau terhenti. Misalnya anak seperti tidak mengenali suara orang tuanya dan tidak mengenali namanya sendiri. Penderita autisme memiliki 3 gejala klasik dari Muhith (2015) sebagai berikut :

  • Hambatan dalam komunikasi verbal dan nonverbal
  • Terhambatannya kegiatan yang dilakukannya
  • Minat yang aneh dan terbatas.

Menurut Kementrian Kesehatan RI (2018) ada 3 indikasi gangguan autisme :

  • Keterlambatan bicara

Keterlambatan bicara merupakan salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan bicara ini terus-menerus meningkat pesat. Beberapa laporan dalam gangguan berbicara dan bahasa menyebutkan 5-10% pada anak sekolah. Penyebab dari gangguan bicara dan bahasa ini sangat banyak dan meluas, terdapat juga beberapa risiko dalam gangguan ini yang harus diwaspadai agar tidak mudah terjadi dari Madyawati (2016) yaitu:

  1. Kelainan organik yang dapat mengganggu sistem dalam tubuh seperti otak, pendengaran, dan fungsi motorik lain.
  2. Adanya gangguan hemisfer dominan dari beberapa penelitian.
  3. Penyimpangan dalam gangguan berbicara dan bahasa biasanya merujuk ke otak kiri
  4. Beberapa anak juga terdapat penyimpangan belahan otak kanan, korpus, dan lintas pendengaran yang saling berhubungan.
  5. Perkembangan setiap individu anak umumnya berbeda satu dan lainnya (Madyawati, 2016).

Selain itu menurut Sugiarmin (2013), keterlambatan bicara bisa dilihat dari gangguan sensoris atau penginderaan dan emosi pada anak autisme yang meliputi: merasa takut kepada objek yang sebenarnya tidak menakutkan, tertawa atau menangis atau marah-marah sendiri tanpa sebab, tidak dapat mengendalikan emosi dan mengamuk jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, sedangkan pada sensoris atau penginderaan yaitu: menjilat-jilat benda, mencium makanan atau benda-benda yang ada, menutup telinga jika mendengar suara yang keras dengan nada tertentu, tidak menyukai bahan yang kasar pada bahan misalnya baju atau celana dan lain-lain (Sugiarmin, 2013).

  • Gangguan komunikasi dan interaksi sosial

Menurut Suprapto (2009), kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Proses komunikasi adalah proses yang melibatkan unsur-unsur kesamaan makna sehingga terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan (penerimaan pesan). Banyaknya pendapat tentang definisi komunikasi maka ada 3 golongan pengertian utama komunukasi dari  Suprapto (2009)  yaitu :

  1. Secara etiminologis yaitu komunikasi yang di pelajari menurut asal-usul kata: komunikasi yang berasal dari bahasa latin “communicatio” dan kata ini bersumber pada kata “comminis” yang berarti sama makna dalam suatu hal yang dikomunikasikan.
  2. Secara terminologis yaitu komunikasi yang berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
  3. Secara paradigmatis yaitu komunikasi yang berarti pola dengan meliputi sejumlah komponen berkorelasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam komunikasi.

Menurut Pieter, Janiwarti dan Saragih (2011), ciri-ciri umum interaksis sosial pada anak autisme adalah menghindar dan menolak untuk tatap muka dengan orang lain, anak autisme jika dipanggil tidak mau menolek sehingga orang mengira anak tersebut tuli, merasa tidak tenang jika dipeluk, dan jika menginginkan sesuatu maka anak tersebut memaksa orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan.

Gangguan dalam bidang komunikasi pada anak autisme sejak lahir anak dengan gangguan ini memiliki kontak sosial yang sengat terbatas. Perhatian mereka hampir tidak ada berfokus pada orang lain melainkan anak dengan autisme ini lebih memperhatikan benda-benda mati yang disertai dengan taktil kinestetis dengan sambil menggerakkan dan dibarangi nafsu meraba dirinya sendiri. Ciri-ciri gangguan anak autisme dalam bidang komunikasi ini adalah hambatan perkembangan bahasa verbal dan nonverbal sehingga anak tersebut mengeluarkan bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain dan adanya percakapan yang tidak jelas atau hanya memunculkan dalam bentuk babling, senang mengikuti ucapan orang lain (echolalia), sering meniru dan mengulang kata-kata yang tidak dimengertinya. Anak dengan autisme juga memakai neologisme, simbol kata-kata, memiliki komentar-komentar yang tidak relevan dan menggunakan kata ganti yang berlawanan misalnya: saat dia mau minta minum diganti dengan kamu mau minta minum (Pieter et al., 2011).

  • Perilaku yang berulang-ulang

Gangguan perilaku pada anak autisme ditandai dengan perilaku yang berlebihan (excessive) dan perilaku yang sangat kurang (defisit), seperti impulsif, repetitif dan pada waktu tertentu ia akan merasa terkesan dan melakukan permainan yang monoton, sehingga anak tersebut mengakibatkan pola pelekatan terhadap benda-benda tertentu (Pieter et al., 2011). Selain itu juga menurut Sugiarmin (2013), gangguan dalam perilaku pada anak autisme meliputi: asyik dengan lingkungannya sendiri, tidak acuh terhadap lingkungan, anak autisme tidak mau diatur dan melakukan aktivitas semaunya dan sering menyakiti diri sendiri, sering kali melamun dan menatap dengan mata kosong sambil bengong, tingkah laku tidak terarah, mondar-mandir, lari-lari, melompat-lompat, berteriak-teriak dan berjalan berjinjit-jinjit (Sugiarmin, 2013).

Menurut Pratiwi dan Dieny (2013), anak autisme mulai terdiagnosis pada usia 1-2 tahun. Penderita autisme lebih banyak laki-laki dari pada perempuan atau perbandingan 1:4 antara perempuan dan laki-laki. Kementerian Kesehatan RI (2016) menyebutkan risiko autisme mulai muncul sebelum anak usia 3 tahun. Anak dengan berisiko autisme dapat dilakukan dengan skrining menggunakan kuesioner M-CHAT-R dengan usia anak 18-36 bulan.