PSV adalah mode ventilasi dimana tiap usaha napas pasien dibantu oleh ventilator dengan tekanan positif sampai mencapai nilai tekanan yang telah diatur. Inspirasi berakhir bila aliran udara puncak (peak inspiratory flow) mencapai batas minimum atau mencapai prosentase aliran udara awal. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa PSV adalah mode ventilasi yang ditrigger oleh pasien (patient triggered), dibatasi oleh pressure (pressure limited) dan diakhiri sesuai batas minimum aliran udara yang telah ditetapkan (flow cycled). PSV membuat pasien mampu mengatur sendiri frekwensi napas, waktu bantuan inspirasi dan bisa berinteraksi dengan tekanan ventilator untuk menentukan aliran inspirasi dan volume tidalnya (Tobin MJ, 2006).
Dalam penyebutannya PSV sering disamakan dengan CPAP. CPAP adalah mode ventilasi dimana ventilator memberikan tekanan konstan pada jalan napas selama siklus pernapasan. CPAP adalah mode tanpa bantuan (unassisted). Literatur sendiri sering menyebut PSV sebagai inspiratory assist (IA), inspiratory pressure support (IPS), spontaneous pressure support (SPS) dan inspiratory flow assist (IFA). Sesuai dengan definisi pernapasan spontan dan mandatori, semua pernapasan PSV adalah spontan. Hanya saja karena tekanan inspirasi lebih besar dari tekanan dasar (baseline) maka pola napas PSV disebut supported (dibantu). Perbedaan antara pernapasan spontan dan dibantu adalah pada yang pertama tekanan inspirasi sama dengan tekanan dasar, pada yang kedua tekanan inspirasi lebih besar dari tekanan dasar (Chatbburn RL, 2007). Oleh karena itu PSV bisa diklasifikasikan sebagai tekanan terkontrol (tekanannya konstan); PT, FT atau volume trigger; inspirasi dibatasi oleh tekanan (pressure limited) dan ekspirasi dipicu oleh flow (flow cycled).
Cara sederhana untuk menentukan level pressure support yang optimal adalah mengatur level PS sampai didapatkan frekwensi napas yang perlahan dan teratur. Yang kedua menggunakan jumlah volume tidal ketika pasien masih diventilasi dengan mode SIMV. Dua cara penentuan level PS itu disebut maximum PSV ( PSVmax) (Macintyre NR, 1986). Metode lain adalah dengan cara menentukan level PS yang menghasilkan WOB paling rendah (Banner et al, 1991) Cara lain adalah dengan mengukur transdiaphragmatic pressure (Pdi) sampai diperoleh level PS optimal yang menghasilkan Pdi paling rendah (Kimura et al, 1991)
Level pressure support (PS) yang ditingkatkan secara progresif akan menurunkan WOB dan pola ventilasi yang optimal menjadi lebih perlahan dan dalam. Frekwensi napas yang menunjukkan pengurangan optimal kerja otot respirasi yang direkomendasikan adalah 16-30 kali permenit (Tobin MJ, 2001). Kenyamanan pasien PSV dengan berbagai penyakit yang dinilai dengan VAS dan skala BORG ternyata mengikuti pola huruf U (p<0.027) dimana pada level PS yang sangat rendah (0 cmH2O) atau sangat tinggi (30 cmH2O) maka akan membuat pasien merasa semakin tidak nyaman. Tetapi pada level PS yang cenderung rendah (p<0.023) akan semakin mengurangi terjadinya trigger yang tidak efektif (Vittaca et al, 2004)
Faktor mekanis lain yang mempengaruhi pola ventilasi dan kenyamanan pasien adalah hubungan antara waktu-ketegangan-kepanjangan dinding dada dan otot respirasi, aktifitas reseptor intrapulmoner keregangan, iritasi atau infiltrasi yang dimediasi vagal. Kenyamanan yang optimal dan sinkroni antara pasien dan ventilator tergantung pada interaksi yang sesuai antara pernapasan mekanis dan faktor-faktor tersebut (Macintyre NR, 1986).
Pada penelitian tentang kenyamanan pasien yang diventilasi mekanis ditemukan bahwa pada pasien terintubasi yang keadaan umumnya telah membaik dan sedasinya telah dikurangi merasa lebih nyaman dengan mode PSV dibandingkan volume controlled-continuous mandatory ventilation (VC-CMV). Tetapi tingkat bantuan ventilator nampaknya juga menentukan kenyamanan pasien sehingga pada pasien yang memerlukan level bantuan yang tinggi untuk mencapai tidal volume yang dibutuhkan tetap akan merasa lebih nyaman dengan VC-CMV, jadi mekanika sistem respirasi tetap mempengaruhi persepsi nyaman (Betensley et al, 2008).
Level PSV (pressure support) pada pasien gagal napas tanpa COPD berdampak pada pola kerja otot respirasi. Bila level bantuan diturunkan kurang dari atau sama dengan 10cmH2O otot inspirasi akan aktif selama triggering, post triggering dan ekspirasi. Jadi agar terjadi kerja otot respirasi yang homogen maka bantuan tekanan diatas 10cmH2O perlu diberikan untuk ekspansi otot thoraco-abdominal yang sinkron. Tetapi level bantuan dari 5cmH2O sampai 25cmH2O tidak mempengaruhi ventilasi semenit karena frekwensi napas berkurang dan tidal volume meningkat bila level bantuan ditingkatkan dan usaha napas yang dibutuhkan untuk mentigger ventilator juga tidak tergantung pada level bantuan (Tokioka et al, 1989; Aliverti et al, 2006).
Komponen penting pada pernapasan PSV adalah trigger, inspiratory rise time (IRS) terhadap tekanan, limit dan variable cycle. Kecepatan inspirasi mencapai tekanan puncak yang telah diatur pada ventilator disebut IRS. Pada beberapa ventilator IRS telah ditetapkan nilainya, tetapi sebagian ventilator mengijinkan klinisi untuk melambatkan atau mempercepat IRS. Bila IRS terlalu cepat maka limit tekanan akan tercapai dengan cepat dan bisa menyebabkan pergantian siklus inspirasi ke ekspirasi dini yang mengganggu sinkronitas pasien-ventilator. Bila terlalu lambat maka WOB pasien akan meningkat (Macintyre et al, 2009). Ventilator Hamilton Galileo menyediakan IRS yang bisa ditetapkan antara 50 dan 200msec dan di ICU RS Dr Sardjito IRS biasanya IRS diatur pada 50msec sesuai dengan pengaturan standar pada ventilator tersebut.
Variabel cycling (pergantian dari inspirasi ke ekspirasi) PSV adalah flow. Dua skema yang digunakan biasanya prosentase dari aliran udara puncak (initial peak flow) atau aliran udara terakhir yang telah ditetapkan (set terminal flow), pada beberapa ventilator disebut sebagai expiratory trigger sensitivity (ETS) yang biasanya diatur pada 25% aliran udara puncak. Idealnya inspirasi PSV berakhir ketika usaha inspirasi pasien telah berhenti. Tetapi tidak ada hubungan otomatis antara akhir usaha inspirasi pasien dan akhir siklus ventilator, sehingga interaksi pasien-ventilator sering tidak sinkron dan WOB meningkat. Pada penelitian mengenai ETS pada pasien COPD didapatkan data bahwa pengaturan ETS yang lebih tinggi dari 25% akan menurunkan durasi inspirasi oleh ventilator dan mengurangi kejadian keterlambatan cycling tanpa menambah cycling prematur, mengurangi PEEPi, memperbaiki sensitivitas trigger ventilator, menurunkan usaha inspirasi dan jumlah inspirasi tanpa trigger (Tassaux et al, 2005; Tokioka et al, 2000). Tidal volume akan turun, frekwensi napas dan WOB akan meningkat bila ETS diatur lebih dari 35% (Tokioka et al, 2001).Ventilator Hamilton Galileo menyediakan variabel cycling dengan flow yang bisa diatur dari 10% sampai 40% dari initial peak flow. Di RS Dr Sardjito ETS biasanya ditetapkan sebesar 25% sesuai dengan pengaturan standar ventilator tersebut.
Untuk keamanan pemakaian PSV tetap ada variabel cycling lain yang ditetapkan yaitu pressure dan time (waktu). Selama PSV waktu inspirasi yang diijinkan paling lama adalah 3 detik. Hal tersebut akan mencegah waktu inspirasi yang panjang bila kriteria cycling flow yang rendah digunakan (misalnya 5 L/menit) pada saat terjadi kebocoran gas. Cycling juga bisa terjadi bila tekanan melebihi yang telah ditetapkan (lebih dari 1.5 cmH2O diatas tekanan puncak) atau alarm tekanan maksimal berbunyi.
