Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan pada Pasien Halusinasi (skripsi, tesis, disertasi)

    Diagnosa yang muncul pada pasien dengan halusinasi  (Nurjannah, 2004) adalah gangguan persepsi sensori (penglihatan, pendengaran, penghidu, pengecap dan peraba). Halusinasi merupakan kondisi dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari stimulus yang dikaitkan dengan penurunan, berlebihan, distorsi atau kerusakan respon terhadap stimulasi (NANDA, 2007).

Batasan karakteristik halusinasi meliputi: konsentrasi kurang, mudah tersinggung, gelisah, disorientasi waktu, tempat dan orang lain, penyimpangan penglihatan, penyimpangan pendengaran, adanya perubahan pola perilaku dan perubahan pola komunikasi. Menurut Nurjannah (2004) terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan halusinasi terdiri dari: perubahan persepsi sensori, adanya rangsangan lingkungan yang berlebihan, ketidakseimbangan biokimia diotak, rangsangan lingkungan kurang dan stres. Gejala-gejala diatas juga dapat diatasi dengan NIC dan intervensinya sehingga sesuai dengan NOC yang telah ditentukan.

Adapun Nursing Outcome yang berhubungan dengan visual dan audiotory adalah sebagai berikut: gambaran diri, orientasi kognitif, fungsi sensori, kemampuan untuk berkomunikasi, perubahan pola pikir, perubahan persepsi pendengaran. Hal yang ingin dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada pasien dengan halusinasi antara lain adalah pasien menunjukan pemahaman secara verbal dan non verbal, menunjukan ekspresi wajah  yang rileks, menjelaskan rencana modifikasi gaya hidup untuk mengakomodasi kerusakan visual dan pendengaran, bebas dari bahaya fisik, memelihara kontak dengan orang lain. Oleh karena itu perlu adanya intervensi keperawatan.

Intervensi keperawatan yang utama pada pasien dengan halusinasi adalah dengan menggunakan NIC: Hallucination Management (pengelolaan halusinasi) yang terdiri dari: bangun hubungan saling percaya dengan pasien, monitor dan atur tingkat aktivitas dan stimulasi dari lingkungan, menjaga lingkungan yang aman, catat tingkah laku pasien yang mengindikasikan halusinasi, atur konsistensi pemberian perawatan sehari-hari, dukung komuninasi yang jelas dan terbuka, sediakan kesempatan kepada pasien untuk mendiskusikan halusinasi.

Dalam proses keperawatan adalah suatu pendekatan yang teratur dan sistematis dalam mengidentifikasikan masalah klien, membuat rencana, melaksanakan dan menilai daya guna dalam pemecahan masalah klien. Hal ini termasuk diantaranya adalah proses pengkajian. Proses pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis untuk mengumpulkan data, menganalisa dan menentukan diagnosa keperawatan (Depkes RI, 1991).

Pengkajian pasien dengan halusinasi ada 4 poin pokok pengkajian yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Isi halusinasi yang dialami klien

Hal ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata apabila halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar atau bentuk bayangan yang dilihat oleh klien, bila halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa yang tercium untuk halusinasi bau atau hirup, rasa apa yang dikecap, untuk halusinasi pengecapan, atau merasakan apa yang dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan. Informasi ini penting untuk menentukan menetukan jenis halusinasi dengan isi halusinasi.

  1. Waktu dan frekuensi halusinasi

Hal ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu atau sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Bila memungkinkan klien diminta menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi halusinasi tersebut. Imformasi ini penting untuk mengidentifikasikan bilamana klien perlu diperhatikan saat mengalami halusinasi.

  1. Situasi pencetus halusinasi

Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang di alami klien sebelum mengalami halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kejadian yang dialami sebelum halusinasi muncul. Selain itu perawat juga dapat mengobservasi apa yang dialami klien menjelang muncul halusinasi untuk memvalidasi pernyataan klien.

 

 

  1. Respon klien

Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien, bisa dikaji dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien mampu mengontrol stimulasi halusinasi atau sudah tidak berdaya terhadap stimulasi

Namun dalam pengkajian pasien dengan tingkatan di mana komunikasi tidak dapat lagi dilaksanakan maka dapat dilakukan penggalian tambahan informasi dari keluarga atau perawat yang sudah lama ikut merawatnya. Penggalian informasi dari keluarga biasanya dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan kepercayaan. Oleh karena itu baik pengkajian pasien maupun dari keluarga bersifat subjektif atau sangat tergantung pendapat secara individual.