Menurut Aisah (2015:10) adapun tujuan kualitas produk adalah:
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai standar yang telah
ditetapkan.
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi sekecil mungkin.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin
Dimensi Kualitas Produk
Persepsi kualitas produk bisa digunakan oleh produsen sebagai kriteria
segmentasi untuk mengidentifikasi kelompok pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pelanggan dengan persepsi yang berbeda kualitas (rendah, sedang, tinggi) berbeda
pula dalam tingkat kepuasan dan niat pembelian. Dengan demikian segmentasi pasar
digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran dan merespon tantangan dari para pesaing.
Sartika dan Basriani (2018:85) mengemukakan spesifikasi dari dimensi kualitas
produk yang relevan dengan pelanggan yang dikelompokkan dalam enam dimensi yaitu:
a. Performance
Dimensi ini menyangkut karakteristik sejauh mana produk dapat berfungsi
sebagaimana fungsi utama produk tersebut. Hal yang paling penting bagi pelanggan
adalah apakah kualitas produk menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau
apakah cara pelayanan diberikan dengan cara yang benar.
b. Range ond type of features
Dimensi ini menyangkut kelengkapan fitur-fitur tambahan suatu produk
selain punya fungsi utama juga dilengkapi dengan fungsi-fungsi lain yang bersifat
komplemen. Kemampuan atau keistimewaan yang dimiliki produk dan pelayanan
seperti manfaat dan kegunaan produk jika akan digunakan.
c. Reliability and durability
Kehandalan produk dalam penggunaan secara normal dan berapa lama
produk dapat digunakan hingga perbaikan diperlukan. Reliability merupakan dimensi
ini menyangkut kemungkinan tingkat kegagalan pemakaian. Durability merupakan
dimensi ini berkaitan dengan seberapa lama produk dapat terus digunakan selama
jangka waktu tertentu.
d. Maintainability and serviceability
Kemudahan untuk pengoperasian produk dan kemudahan perbaikan maupun
ketersedian komponen pengganti. Dimensi ini menjelaskan sejauh mana kemudahan
produk untuk dapat dilakukan dengan perawatan sendiri oleh penggunanya.
e. Sensory characteristics
Penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera, dan beberapa faktor lainnya
mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas. Dimensi ini menjelaskan bagaimana
tampilan produk agar dapat menarik perhatian pelanggan.
f. Etchical profile and image
Kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk dan
pelayanan. Pada dimensi ini menjelaskan bagaimana persepsi pelanggan tersebut
berkaitan dengan nama besar atau reputasi perusahaan, atau merek
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Keller (2016:156) kualitas produk merupakan salah satu
kunci persaingan diantara pelaku usaha yang ditawarkan kepada konsumen. Kualitas
produk sangat penting untuk meningkatkan kepuasan pada pelanggan. Kualitas produk
merupakan suatu produk dan jasa yang melalui beberapa tahapan dengan
memperhitungkan nilai suatu produk dan jasa tanpa adanya kekurangan sedikitpun nilai
produk dan jasa sesuai harapan tinggi dari pelanggan.
Menurut Gultom (2017:84) menyatakan bahwa dalam membeli suatu produk
konsumen selalu berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan
dan kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan pelanggan,
sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan pelanggan.
Kualitas produk yang baik merupakan harapan pelanggan yang harus dipenuhi oleh
perusahaan, karena kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan
produktivitas suatu perusahaan.
Menurut Sangadji (2013:189) menyatakan bahwa kualitas merupakan produk
yang mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya.
Menurut Abdullah (2016:159) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan
produk untuk melaksanakan fungsinya.
Konsep Pelayanan Publik
Pelayanan publik diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan orang yang
dilayani, orang-orang yang berkepentingan dengan organisasi ini, masyarakat, atau
organisasi lain, atau pemenuhan kebutuhan orang yang dilayani, masyarakat, atau
organisasi lain, sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dan prosedur yang
telah ada. Tujuannya adalah memberikan kepuasan yang akan diberikan.
Menurut Kasmir (dalam Rahmadana, 2020:159) Ciri-ciri pelayanan publik
yang baik memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
- Tersedianya karyawan/staff yang baik
- Tersedianya sarana dan prasarana yang baik
- Bertanggung jawab kepada pelanggan sejak awal hingga akhir
- Mampu melayani secara cepat dan tepat
- Mampu berkomunikasi
- Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi
- Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik
- Berusaha memahami kebutuhan pelanggan
- Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan
Konsep pelayanan publik berhubungan dengan kualitas yang disampaikan
oleh Zeithaml,Pasuraman,Berry (1990) pada Kamaruddin Sellang (2019:56) bahwa
Indikator untuk mengetahui kualias pelayanan yang dirasakan secara nyata oleh
konsumen, yaitu: - Tangibles, yaitu kualitas pelayanan yang berupa sarana fisik perkatoran,
kompueterisasi administrasi, ruang tunggu, tempat informasi - Reliability, yaitu kemampuan dan keandalan untuk menyediakan pelayanan yang
terpercaya. - Responsiveness, yaitu kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan
secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen. - Assurance, yaitu kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam
meyakinkan kepercayaan konsumen. - Emphaty, yaitu sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap
konsumen.
Dengan kata lain, baik tidaknya kualitas pelayanan yang diberikan oleh suatu
pemasok tergantung pada persepsi konsumen terhadap pelayanan yang diberikan.
Pengamatan ini menunjukkan adanya interaksi yang kuat antara “kepuasan
konsumen” dan “kualitas pelayanan”.
Faktor adanya pelayanan publik dan kualitas pelayanannya
Adanya pelayanan publik dalam administrasi publik dipengaruhi oleh
sejumlah faktor yang mencakup prinsip-prinsip dasar pemerintahan dan tuntutan
masyarakat. Kualitas pelayanan publik juga ada beberapa faktor yang
mempengaruhi. Menurut Flora Han (2000: 88) dalam E-jurnal “Pengaruh Kualitas
Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Dan Loyalitas Pelanggan” Kualitas
layanan (Service Quality) merupakan harapan pelanggan terhadap layanan
dipengaruhi, secara eksternal, oleh komunikasi dari mulut ke mulut dan secara
internal oleh pelanggan kebutuhan pribadi dan pengalaman masa lalu. Persepsi
pelanggan akan kualitas layanan tergantung pada persepsi kinerja layanan aktual
dibandingkan dengan harapan akan kinerja layanan yang seharusnya. Beberapa
faktor utama yang mempengaruhi adanya kualitas pelayanan publik dalam
administrasi publik meliputi:
- Prinsip Demokrasi:
Prinsip demokrasi menempatkan pelayanan publik sebagai sarana untuk
mewujudkan kehendak dan kepentingan masyarakat. Pemerintah dijalankan
dengan dasar keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan
penyediaan layanan yang mencerminkan kebutuhan dan aspirasi rakyat. - Kepentingan Umum:
Pelayanan publik diarahkan untuk memenuhi kepentingan umum dan
kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Ini mencakup penyediaan layanan
kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan layanan publik lainnya yang mendukung
kesejahteraan masyarakat. - Prinsip Hukum Yang Berlaku:
Pelayanan publik harus sesuai dengan hukum dan perundang-undangan
yang berlaku. Prinsip hukum atau dalam bahasa asing Rule of Law menjamin
bahwa setiap tindakan pemerintah harus didasarkan pada hukum dan tidak boleh
melanggar hak-hak warga negara. - Akuntabilitas:
Akuntabilitas adalah prinsip penting dalam pelayanan publik. Pemerintah
dan instansi publik harus bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan mereka
kepada masyarakat. Ini mencakup transparansi dalam pengelolaan sumber daya
dan penyediaan informasi kepada publik. - Efisiensi dan Efektivitas:
Pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan publik dengan efisien dan
efektif. Penggunaan sumber daya yang baik, manajemen yang efisien, dan
pencapaian hasil yang positif adalah faktor-faktor kunci dalam memberikan
pelayanan yang baik kepada masyarakat. - Partisipasi Masyarakat:
Adanya pelayanan publik juga tergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
Pemerintah dapat melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan
dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan. - Perkembangan Teknologi:
Kemajuan teknologi memberikan dampak signifikan pada penyelenggaraan
pelayanan publik. Penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan
aksesibilitas, efisiensi, dan transparansi dalam memberikan layanan kepada
masyarakat. - Tuntutan Global:
Globalisasi mempengaruhi cara pemerintah menyelenggarakan pelayanan
publik. Standar internasional dan tuntutan global juga dapat memengaruhi praktik
pelayanan publik di suatu negara. - Tuntutan Masyarakat:
Tuntutan masyarakat yang semakin beragam mendorong pemerintah untuk
menyediakan pelayanan yang lebih baik dan lebih inovatif. Adanya mekanisme
umpan balik dari masyarakat membantu menyesuaikan dan meningkatkan
pelayanan yang disediakan
Pengertian Publik
Pengertian Publik menurut Fredericson (dalam Maulidah, 2014:53-55),
dijabarkan dalam beberapa perspektif, sebagai berikut:
- Publik diartikan dalam suatu kelompok kepentingan yang dipahami bahwa
“Publik” yaitu sebagai kelompok kepentingan yang dikembangan oleh ilmuwan
politik. Kepentingan (Interest) dan kebutuhan dari unsur publuk dapat disalurkan
dalam bentuk suatu kelompok penting. - Publik adalah pihak yang diasumsikan telah diwakili oleh wakilnya yaitu yang
duduk di lembaga-lembaga perwakilan. Kelemahan ini adalah kenyataan bahwa
polisitsi tdak mampu melibatkan masyarakat dalam menyuarakan kepentingan
publik, politisi tidak pernah melibatkan masyarakat dalam merumsukan suatu
kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah atau suatu
kepentingan publik. - Publik mempunyai unsur pelangga ata menerima pelayanan publik “customer”.
Pelayanan Publik diselenggarakan oleh birokrasi publik. Menurut Lipsky (2021)
Publik adalah aktor yang penting dalam melaksanakan kebijakan publik dan
berinteraksi dengan masyarakat dan dilayani. - Publik sebagai warganegara yang dapat dipahami sebagai orang yang tidak hanya
mewakili diri sendiri individual) namun juga untuk kepentingan publik.
Sementara Public dari bahasa inggris memiliki variasi arti dalam bahasa
indonesia, yaitu; 1). Umum, 2). Masyarakat, 3). Negara. Public dalam pengertian
umum atau masyarakat mempunyai istilah lainnya. Istilah publik dalam pelayanan
publik, baik dalam sejarah perkembangannya maupun dalam konteks kemunculan
dan penerapannya dalam manajemen publik itu luas.
Dalam perkembangan ilmu administrasi publik, konsep “publik”
mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar pemerintahan/Government, seperti
keluarga, rukun tetangga, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi, bahkan organisasi
swasta.
Pengertian Pelayanan
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pelayanan mempunyai tiga
makna yaitu; 1). Perihal cara melayani; 2). Usaha melayani kebutuhan orang lain
dengan imbalann (uang); 3). Kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual
beri barang atau jasa. Keterangan lain dalam KBBI adalah “Pelayanan adalah suatu
usaha untuk membantu menyiapkan atau megurus apa yang diperlukan oleh orang
lain.” Pelayanan berasal dari kata “Service” yang berarti “Melayani”.
Pengertian Pelayanan lainnya oleh para ahli yakni; “pelayanan adalah salah
satu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang tidak kasat mata dan tidak dapat diraba
dan dapat terjadi sebagai akibat dari adanya suatu interaksi antara unsur konsumen
yang membutuhkan pelayanan dengan unsur karyawan yang memberikan pelayanan
atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan oleh pemberi pelayanan yang
dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan dan memenuhi kebutuhan dari
konsumen/pelanggan.” (Gronos dalam Maulidah, 2014:39).
Pengertian dari pelayanan yang diberikan oleh Gronos di atas lebih
menekankan bahwa pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang pada
hakikatnya tidak berwujud dan melibatkan interaksi antara unsur konsumen sebagai
penerima pelayanan dengan unsur usaha sebagai bentuk penyelesaian masalah, Hal
tersebut adalah hasil dari sebuah proses mewakili berbagai format yang memenuhi
kebutuhan dari unsur konsumen atau pelanggan.
Pengertian Kualitas
Dalam E-Jurnal oleh Fery Siswandi, (2020:44) Memberikan pernyataan
menurut Kotler (2000: 438) Kualitas Layanan (Service Quality) adalah perbandingan
dari kualitas yang diterima pelanggan (perceived quality), yaitu setelah pelanggan
menerima layanan, dengan kualitas yang diharapkan (expected quality). Artinya jika
layanan yang diterima memiliki nilai lebih rendah dari pada layanan yang
diharapkan, maka keinginan (interest) pelanggan akan berkurang. Persepsi
pelanggan terhadap layanan yang kualitas terbentuk karena adanya perbedaan antara
layanan yang diterima dengan layanan yang diharapkan. Menurut Baines (2011:
503).
Kepuasan Pelanggan ( Customer Satisfaction )
Menurut Kotler & Keller (2012;150) menyebutkan bahwa kepuasan
pelanggan sebagai “The extent to which a product’s percieved performance
matches a buyer’s expectation”, artinya kepuasan pelanggan adalah tingkatan
di mana kinerja produk yang dirasakan memenuhi harapan pembeli. Apabila
kinerja produk di bawah harapan, pelanggan merasa tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan maka pelanggan merasa puas. Jika kinerja melebihi
harapan, pelanggan mendapatkan kepuasan yang tinggi atau sangat senang.
Kualitas layanan yang dirasakan (perceived service quality) adalah
penilaian secara umum (overall) atau sikap terkait dengan superioritas suatu
layanan, sementara kepuasan memiliki hubungan dengan suatu transaksi
tertentu (Parasuraman, Zeithaml & Berry, 2013).
Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (2013:23), kepuasan pelanggan
dipengaruhi oleh service quality dengan atribut assurance dan reliability
sebagai atribut yang paling dominan. Menurut Zeithaml, V. A., & Bitner, M. J.
(2000;104) menyebutkan bahwa kepuasan sebagai evaluasi pelanggan terhadap
barang atau jasa dalam hubungannya dengan apakah barang atau jasa tersebut
dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya. Kepuasan dapat juga
diasosiasikan dengan perasaan senang (pleasure) terhadap jasa. Selanjutnya
beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur variabel kepuasan
pelanggan adalah:
- Rasa Senang
Rasa senang menunjukkan sejauh mana para konsumen tersebut
merasa senang dengan pengalaman berbelanja. - Kepuasan Terhadap Pelayanan
Kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh karyawan. - Kepuasan Terhadap Sistem
Kepuasan terhadap sisitem menunjukkan sejauh mana kecepatan
dan kemudahan sistem pelayanan yang disediakan memberikan
kepuasan kepada konsumennya - Kepuasan Finansial
Kepuasan Finansial adalah kepuasan secara finansial terhadap
biaya – biaya yang dikeluarkan selama berbelanja.
Sementara itu, menurut Johnson and Fornell (1991) menyatakan bahwa
kepuasan konsumen merupakan hasil evaluasi menyeluruh konsumen atas
kinerja produk yang dikonsumsinya.
Sementara itu, menurut Lewis and Booms (1983,100) mendefinisikan
bahwa service quality sebagai ukuran seberapa baik tingkat layanan
disampaiakn sesuai harapan pelanggan, serta luas pelayanan yang berkualitas
dan sikap keseluruhan atas keunggulan pelayanan.
Lebih lanjut, Shin and Elliot (1998) menjelaskan bahwa kepuasan
konsumen menciptakan retensi konsumen yang selanjutnya dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan, mengingat biaya untuk
mempertahankan konsumen yang sudah ada lebih murah daripada biaya
mencari konsumen baru. Dan kepuasan ini, tidak hanya mendorong
kecenderungan perilaku konsumen untuk melakukan pembelian ulang, tetapi
juga mendorong mereka untuk melakukan positive word of mouth (Reicheld
and Sasser, 1990).
Kualitas Pelayanan ( Service Quality )
Service Quality adalah skala berbagai item secara singkat dengan
keandalan dan validitas baik yang dapat digunakan oleh pengecer untuk
memahami lebih baik pelayanan yang diharapkan dan dipersepsikan oleh
konsumen dan sebagai hasilnya meningkatkan pelayanan (Zeithaml, 2013:30).
Dalam mengevaluasi kepuasan terhadap pelayanan jasa yang bersifat
intangible, menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry (2013:23) konsumen
umumnya menggunakan beberapa atribut meliputi tangibles, reliability,
responsiveness, assurance, dan empathy.
Empathy, faktor ini menekankan perhatian karyawan dan perhatian
perusahaan untuk menyediakan kebutuhan pelanggan.
Masih menurut Zeithaml atribut – atribut tersebut secara positif dan
signifikan mempengaruhi minat membeli dan kepuasan konsumen. Menurut
Zeithaml atribut assurance dan reliability menjadi atribut yang sangat
mempengaruhi kepuasan konsumen, sedangkan atribut responsiveness dan
empathy menjadi atribut yang paling lemah mempengaruhi kepuasan
konsumen.
Menurut Kaura & Datta (2012:44) bahwa service quality dapat
meningkatkan customer satisfaction. Dalam hal ini atribut tangible berupa
karyawan memberikan kontribusi yang maksimum dalam mempengaruhi
kepuasan pelanggan. Hal ini dikarenakan interaksi interpersonal antara
konsumen dan karyawan dapat meningkatkan kepuasan konsumen
Tangibles, meliputi fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan
personal.
Reliability, meliputi kemampuan untuk melakukan pelayanan yang
dijanjikan secara akurat dan handal.
Responsiveness, yaitu kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan pelayanan yang cepat.
Assurance, berhubungan dengan pengetahuan dan rasa hormat dari
karyawan serta kemampuan mereka untuk menginspirasi
kepercayaan dan rasa percaya diri.
Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka.
Model Kepuasan Peserta
Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:
- Contrast theory
Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
akan tidak puas. - Assimilation theory
Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan. - Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
berlaku.
Pengertian Kepuasan Peserta
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut Engel dalam Ali Hasan (2008: 56) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan suatu konsep evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Sedangkan menurut
Menurut Fandy Tjiptono dalam Rida farida (2016: 39) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan
harapan.
Indikator Harga
Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan manfaat produk
- Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu: - Keterjangkauan harga
- Perbandingan dengan merek lain
- Kesesuaian harga dengan kualitas
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga
Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:
- Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
memengaruhi tingkat harga yang berlaku. - Price elasticity
Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
harga, volume penjualan akan meningkat. - Non price factor
Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
produk demi harga yang lebih rendah. - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan. - Faktor legal dan etis
Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
monopoli atau oligopoli. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya. - Ukuran bisnis
Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing. - Persaingan
Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. - Sifat pasar
Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
monopolistik, oligopoli, atau monopoli.
Pengertian Harga
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2016: 218) menyatakan bahwa
penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Disamping itu, harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksible,
artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk
atau komitmen terhadap saluran distribusi. Kedua hal tersebut tidak dapat diubah
dengan mudah dan cepat, karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Hasan dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4) menyatakan
bahwa harga adalah segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh
konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanan dari suatu produk.
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:
- Keseluruhan Produk,
- Keandalan,
- Ketepatan,
- Kemudahan Pengoperasian,
- Atribut Bernilai Lainnya.
Sedangkan menurut Vandaliza (2007) dalam Agus Irwanto (2013:86),
kualitas terdiri dari dua elemen utama, yaitu: (1) sejauh mana produk dan jasa
dapat memenuhi kebutuhan konsumen (2) sejauh mana produk atau jasa bebas
dari adanya cacat atau kerusakan (deficiencies).
Konsep Produk
Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:
- Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
dari satu tempat ke tempat lain. - Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
lainnya. - Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
purna beli
Pengertian Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 189) menyatakan bahwa meskipun
kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri
pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan, pertama produk harus
mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya yang
mana tidak perlu melebihi. Sedangkan menurut Nelly Nailatie Ma’arif (2008:
114) menyatakan bahwa “a product quality is a good that satisies the needs of the
consumer and is serving the objective of the existence of an organization. For a
business corporation, a product has to have value to be financially proftable. A
product is tangible in the nature”. Yang artinya suatu kualitas produk merupakan
barang yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan dari
perusahaan. Untuk suatu bisnis, produk harus memiliki nilai yang menguntungkan
secara finansial dan berwujud.
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:
- Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
diandalkan dan akurat. - Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat. - Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin. - Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
- Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah: - Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
(on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan. - Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
konsumen. - Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
merasa terbebas dari bahaya dan risiko. - Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi. - Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
jasa.
Model Kualitas Jasa
Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:
- Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
manajemen mengenai harapan pengguna jasa. - Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
adanya penyusunan tujuan. - Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
pelanggan
b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
mereka tidak memuaskan semua pihak.
c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
penilaian dan sistem imbalan.
f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
menentukan cara pelayanan.
g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
secara bersama-sama dan terpadu. - Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran. - Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
dan dampak positif.
Lima Perspektif Kualitas Pelayanan
Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.
- Transcendental Approach
Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa. - Product based approach
Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
dan berat yang berbeda-beda. - User based approach
Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
masing-masing. - Manufacturing based approach
Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktikpraktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirement). - Value based approach
Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
(price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
berkualitas
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya.
Pengaruh Persepsi Harga Terhadap Kepuasan Pelanggan
Menurut (Rianto et al., 2022), persepsi harga mempunyai pengaruh positif
terhadap kepuasan pelanggan. Hal ini dikarenakan perlu mempertimbangkan
kebijakan penetapan harga agar disesuaikan dengan para kompetitor lainnya
terutama berorientasi dengan manfaaat yang dirasakan oleh pelanggan, agar
terciptanya kepuasan pelanggan yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan
penjualan perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian (Abdul Gofur, 2019) dan
(Putra Setiawan & Frianto, 2021) bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan, hal itu dikarenakan semakin tingginya harga diikuti dengan
manfaat yang dirasakan akan memberikan kepuasan pelanggan.
Indikator Fasilitas
Menurut (Tauha, 2020) indikator dari fasilitas meliputi:
- Pertimbangan/perencanaan spasial.
Menimbang tekstur, proporsi, warna dan mengkombinasikannya untuk
menarik respon intelektual maupun emosionl dari konsumen. - Perencanaan ruang.
Meliputi mendesain arsitektur dan interior dalam ruangan, seperti
menempatkan perlengkapan perabotan dalam ruangan, perencanaan sirkulasi
udara dan sebagainya. - Perlengkapan/perabotan.
Perlengkapan ini memiliki fungsi sebagai perlatan yang dapat memberikan
rasa nyaman, sebagai hiasan atau sebagai infrastruktur pendukung. - Unsur pendukung.
Eksistensi fasilitas utama tidaklah lengkap tanpa tersedianya fasilitas
pendukung, seperti: toilet, parkiran, kantin, wifi gratis. - Tata cahaya dan warna
Tata cahaya yang dimaksud adalah warna jenis pewarnaan ruangan dan
pengaturan pencahayaan sebagai aktivitas yang dilakukan dalam ruangan serta
suasana yang diinginkan. Warna dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
efesiensi, memberi kesan rileks, serta mengurangi tingkat kecelakaan. Warna yang
dipergunakan untuk interior fasilitas jasa yang perlu dikaitkan efek dari warna
yang dipilih.
Faktor-Faktor Fasilitas
Menurut (Suparyanto & Rosad, 2015) beberapa faktor yang berpengaruh
dalam desain fasilitas jasa adalah sebagai berikut :
- Biaya konstruksi dan operasi
Jenis biaya ini dipengaruhi oleh desain fasilitas. Biaya operasi dipengaruhi
oleh kebutuhan energi ruangan, misalnya berkaitan dengan perubahan suhu. Biaya
kontruksi dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bahan bangunan yang digunakan. - Faktor estetis
Fasilitas jasa yang menarik dan tertata rapi akan meningkatkan sikap
positif dari pelanggan sebaliknya fasilitas jasa yang kurang menarik akan
memunculkan sikap negatif dari pelanggan. - Fleksibilitas
Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan jika volume permintaan sering
mengalami fluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, maka resiko
keuangan relative besar. - Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang
Setiap perusahaan memerlukan lokasi fisik dalam mendirikan fasilitasnya. - Masyarakat dan lingkungan
sekitar Masyarakat dan lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar dan
peranan penting terhadap perusahaan. Perusahaan yang tidak mempertimbangkan
faktor ini keberlangsungan hidupnya akan terancam. - Sifat dan tujuan
Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai syarat dalam desainnya.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut (Cahyono et al., 2020) mengemukakan terdapat lima indikator
kualitas pelayanan diantara lain:
- Keandalan (Reliability)
Keandalan adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan
sesuai yang dijanjikan, terpercaya, akurat serta konsisten. - Ketanggapan (Responsiveness)
Ketanggapan adalah suatu kemampuan untuk memberikan pelayanan ke
pelanggan dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan pelanggan. - Jaminan (Assurance)
Jaminan adalah mengukur kemampuan dan kesopanan karyawan serta sifat
yang dapat dipercaya yang dimiliki karyawan. - Empati (Empathy)
Empati adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual
atau pribadi yang diberikan kepada para konsumen dengan berupaya memahami
keinginan konsumen. - Berwujud (Tangibles)
Berwujud adalah penampilan fasilitas fisik, peralatan yang baik yang
digunakan untuk memberikan pelayanan kepada konsumen.
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan cara atau strategi yang diterapkan pada
perusahaan untuk lebih meningkatkan kepercayaan terhadap jasa yang diberikan
perusahaan (Permana, 2022). Mendefinisikan kualitas pelayanan atau kualitas jasa
sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai
dengan ekspektasi pelanggan. kualitas pelayanan yang diterima konsumen
dinyatakan besarnya perbedaan antara harapan dan keinginan konsumen dengan
tingkat persepsi mereka (Ramadhan, 2021). Sedangkan Menurut (Engkur, 2018)
Kualitas pelayanan yang berkualitas dan akan memberikan kepuasan pelanggan
yang akan memberikan dasar yang baik bagi pelanggan. Pada umumnya
pelanggan yang tidak puas akan menyampaikan pengalaman buruknya kepada
orang lain dan bisa dibayangkan betapa besarnya kerugian dari kegagalan
memuaskan pelanggan.
Indikator Persepsi Harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2016:78) indikator-indikator harga yang
dapat digunakan untuk mengukur dan meneliti kesesuaian harga di antaranya
adalah sebagai berikut.
- Keterjangkauan harga
Konsumen dapat memperoleh harga yang ditetapkan oleh perusahaan.
Produk sering kali memiliki banyak jenis dalam sebuah merek, harganya pun
bervariasi, dari yang paling murah hingga yang paling mahal. - Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering digunakan sebagai indikator kualitas bagi konsumen yang
sering memilih harga yang lebih tinggi antara dua barang karena melihat
perbedaan kualitas. Jika harganya lebih tinggi, orang cenderung berpikir bahwa
kualitasnya juga lebih baik. - Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk jika manfaat yang
diterima lebih besar atau sama dengan yang dikeluarkan untuk mendapatkan
produk tersebut. - Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini, rendahnya harga produk menjadi pertimbangan konsumen
dalam membeli produk tersebut.
Faktor-Faktor Persepsi Harga
Menurut (Carmelita et al., 2017) faktor yang mempengaruhi harga
meliputi:
- Faktor internal
Harga dipengaruhi oleh faktor internal seperti biaya, tujuan pemasaran,
dan
strategi dalam penjualan. - Faktor eksternal
Harga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti tawaran pesaing, biaya,
serta permintaan pasar.
Persepsi Harga
Persepsi harga merupakan suatu nilai produk, karena akan berpengaruh
terhadap keuntungan produsen. Persepsi harga juga menjadi pertimbangan
konsumen untuk membeli, sehingga perlu pertimbangan khusus untuk
menentukan harga tersebut. Menurut (Lestari & Aprileny, 2020) Persepsi harga
adalah kecenderungan konsumen untuk membandingkan nilai suatu barang atau
jasa dengan keuntungan yang diperoleh konsumen tersebut. Sehingga persepsi
harga yang muncul dari individu dan perbedaan daya beli setiap orang membuat
beberapa konsumen sensitif terhadap harga.
Menurut (Paryanti2, 2022) Persepsi harga sebagai jumlah uang yang
ditagihkan untuk suatu produk atau sejumlah nilai yang dipertukarkan konsumen
untuk manfaat memiliki atau menggunakan produk.
Sedangkan menurut (Rahardjo & Yulianto, 2021) persepsi harga adalah
sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan mendapatkan
laba yang wajar dengan cara dibayar untuk mendapatkan nilai pelanggan yang
diciptakan.
Indikator Kepuasan pelanggan
Menurut (Nida Salma Fahriani & Intan Rike Febriyanti, 2022) terdapat
tujuh indikator kepuasan pelanggan, yaitu:
- Harga
Harga merupakan bagian yang integral dari produk yang mencerminkan
seberapa besar kualitas produk. Dasar penilaian terhadap harga meliputi besaran
harga, kesesuaian dengan nilai jual produk, pilihan atau variasi harga terhadap
produk. - Promosi
Promosi mengenai informasi produk dan jasa dilakukan dalam upaya
mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa tersebut kepada pelanggan sasaran. - Lokasi
Lokasi merupakan bagian atribut perusahaan yang berupa tempat
perusahaan dan pelanggan. Penilaian terhadap atribut lokasi meliputi lokasi
perusahaan, kecepatan, dan ketepatan transportasi. - Fasilitas
Fasilitas merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa perantara
guna mendukung kelancaran operasional perusahaan yang berhubungan dengan
pelanggan. - Suasana
Suasana merupakan faktor pendukung, karena apabila perusahaan
mengesankan maka pelanggan akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dasar
penilaian meliputi sirkulasi udara, kenyaman dan keamanan. - Kesesuaian harapan
Kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi disimpulkan berdasarkan
kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja
perusahaan yang sebenarnya. - Minat berkunjung kembali
Kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan ingin
membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan. - Kesediaan merekomendasikan
kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan akan
merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain seperti, keluarga,
teman, dan lainnya.
Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan
Berikut indikator kepuasan pelanggan menurut (Nasruddin & Nurchayati,
2019):
- Kualitas produk
Pelanggan merasa puas apabila membeli dan menggunakan produk/jasa
ternyata memiliki kualitas yang diinginkan. - Harga
Untuk pelanggan yang sensitif harga murah adalah sumber kepuasan yang
penting karena mereka akan mendapatkan value of money yang tinggi. Bagi
pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga, komponen harga relatif tidak terlalu
penting bagi mereka. - Kualitas pelayanan
Karyawan memberikan kinerja terbaiknya kinerja terbaiknya untuk
memenuhi kepuasan pelanggan. - Faktor emosional
Rasa bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
penting dan sebagainya adalah contoh-contoh emosional yang mendasari
kepuasan pelanggan. - Biaya dan kemudahan
Pelanggan akan semakin puas apabila relatif murah, mudah, nyaman, dan
efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.
Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller dalam (Sesaria, 2020) kepuasan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspetasi mereka. Apabila
kinerja gagal memenuhi ekspektasi, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai
dengan ekspektasi, pelanggan akan puas. Selain itu, apabila kinerja melebihi
ekspektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang. Kepuasan pelanggan adalah
respon atau tanggapan pelanggan yang berupa perasaan ataupun penilaian
terhadap penggunaan produk dimana harapan dan kebutuhannya terpenuhi
(Sesaria, 2020).
Kepuasan pelanggan adalah kegiatan memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan, dengan terpenuhnya kebutuhan dan keinginan tersebut
muncul perasaan senang atau kecewa dari pelanggan tentang perbandingan
kinerja dirasakan dengan yang diharapkan. Hampir semua perusahaan
layanan berusahan untuk mencapai kepuasan pelanggan karena dapat
memberikan efek yang sangat besar bagi perusahaan itu sendiri seperti
kepercayaan dan loyalitas pelanggan (Riyanto & Tunjungsari, 2020).
Indikator Kualitas Pelayanan
Sebelumnya telah dijelaskan mengenai lima dimensi kualitas
pelayanan, yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, dan
assurance. Setiap dimensi ini memiliki indikator-indikator tersendiri.
Berikut Indikator didalam kualitas pelayanan menurut Zeithhaml,
Parasuraman & Berry yang dikutip dari (Anggraini & Alhempi, 2021):
- Indikator untuk dimensi tangible, diantaranya:
a) Penampilan petugas dalam melayani pelanggan.
b) Kenyamanan tempat penyedia pelayanan.
c) Kemudahan dalam proses pelayanan.
d) Kedisiplinan petugas/aparatur dalam melakukan pelayanan.
e) Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan.
f) Penggunaan alat bantu dalam proses pelayanan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi reliability, yaitu:
a) Kecermatan dalam melayani pelanggan.
b) Satandar pelayanan yang jelas.
c) Keahlian petugas dalam menggunakan alat bantu dalam
proses pelayanan. - Indikator pelayanan untuk dimensi responsiveness, terdiri dari:
a) Merespon dengan baik pelanggan yang ingin mendapatkan
pelayanan.
b) Perusahaan melakukan pelayanan dengan cepat, tepat, dan
cermat.
c) Perusahaan melayani dalam waktu yang tepat.
d) Semua keluhan pelanggan direspon oleh perusahaan. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi assurance,
diantaranya:
a) Petugas memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan.
b) Perusahaan memberikan jaminan biaya yang sesuai dengan
pelayanan.
c) Perusahaan memberikan jaminan legalitas. - Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi empathy,
diantaranya:
a) Mendahulukan kepentingan pelanggan.
b) Petugas melayani dengan sikap ramah.
c) Sopan satun petugas dalam melayani.
d) Melayani dengan tidak diskriminatif membeda-bedakan.
e) Menghargai setiap pelanggan
Dimensi Kualitas Pelayanan
Parasuraman mengemukakan, terdapat lima dimensi kualitas
pelayanan yang memberikan pengaruh terhadap kepuasan pelanggan, yaitu
(Lupiyoadi, 2018):
- Tangibles (bukti fisik), artinya kemampuan perusahaan dalam
menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan
kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat
diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti
nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini
meliputi fasilitas fisik (contoh: gedung, gudang, dan lain-lain),
perlengkapan dan perlatan yang digunakan (teknologi), serta
penampilan pegawainya. - Reliability (keandalan) adalah kemampuan perusahaan dalam
memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara
akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan
pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan harus sama
untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap simpatik, dan
dengan akurasi yang tinggi. - Responsiveness (daya tanggap), yaitu suatu kebijakan untuk
membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif)
dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi
yang jelas. Membiarkan pelanggan menunggu menciptakan
presepsi negatif dalam kualitas pelayanan. - Assurance (kepastian), yaitu pengetahuan, kesopansantunan,
dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan
rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi
komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas
(credibility), keamanan (security), kompetensi (competence),
dan sopan santun (courtesy). - Empathy (empati), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan
bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para
pelanggan dengan berupaya memahami keinginan mereka. Hal
ini mengharapkan bahwa suatu perusahaan memiliki pengertian
dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan
pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian
yang nyaman bagi pelanggan.
Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono, kualitas pelayanan adalah suatu tingkat layanan
yang berhubungan dengan terpenuhinya harapan dan kebutuhan pelanggan
atau penggunanya. Artinya, pelayanan dikatakan berkualitas apabila
perusahaan atau lembaga tertentu mampu menyediakan produk dan jasa
(pelayanan) sesuai keinginan, kebutuhan, maupun harapan pelanggan atau
penggunanya. Kata “kualitas” mengandung banyak definisi dan makna
karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti
kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian,
perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan
kebutuhan pelanggan, serta melakukan segala yang membahagiakan
(Armaniah, et al., 2019).
Kualitas pelayanan kesehatan yang baik dapat dilihat melalui kinerja
sumber daya manusia, kemudahan dalam mengakses, serta kelengkapan
fasilitas (Ananda, et al., 2023). Kualitas pelayanan harus diperhatikan oleh
setiap perusahaan dalam rangka menjaga kepuasan konsumen.
Anomali Musiman (Seasonal Anomaly)
1 January Effect
January Effect merupakan sebuah fenomena anomali
pasar yang terjadi ketika return pada bulan Januari lebih
tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. January Effect
pertama kali diamati oleh Sidney B. Wachtel (1942) setelah
ia mencatat sejak tahun 1925, harga saham pada bulan
Januari meningkat. Teori ini menjelaskan dimana investor
cenderung menjual sahamnya pada akhir tahun untuk
mengamankan dana atau merealisasikan capital gain dan
juga mengurangi beban pajak (Tax Loss Selling), kemudian
di awal tahun (Januari), investor membeli kembali
sahamnya dan hal ini mengakibatkan harga saham tersebut
naik.
Menurut As’adah (2009:3) dikatakan bahwa January
Effect adalah sebuah fenomena yang terjadi terkait dengan
pergantian tahun, yaitu pada saat bulan Desember yang
menjadi tahun dimana pajak harus dibayarkan dan Januari
sebagai awal tahun pajak. Ada beberapa faktor yang
diasumsikan dapat mempengaruhi terjadinya fenomena
January Effet ini karena, yaitu adanya window dressing
dimana manajer keuangan menjual sahamnya yang
memiliki kinerja buruk dan membeli saham yang
kinerjanya baik, sehingga tercipta sentimen positif dan
calon investor menjadi tertarik, kemudian adanya tax loss
selling yaitu, ketika investor menjual sahamnya pada akhir
tahun (Desember) untuk mengurangi biaya beban pajak,
selanjutnya membeli kembali ketika awal tahun (Januari),
dan juga adanya small stock beta yaitu ketika return
perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar cenderung
rendah.
Menurut Sharpe (1995) dalam Deannes dan
Isynuwardhana (2015), menyebutkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi fenomena January Effect adalah
adanya hipotesis terkait dengan Tax Loss Selling, Window
Dressing, dan Small Stock’s Beta. Faktor-faktor tersebut
akan dijelaskan sebagai berikut:
- Tax Loss Selling
Banyak pendapat dan beragam penjelasan yang
mengatakan bahwa fenomena January Effect sangat
berkaitan dengan hipotesis ini, hal ini dikarenakan
investor ingin menjual sahamnya untuk mengurangi
beban pajak. Menurut Chotigeat dan Pandey (2005) Tax
Loss Selling adalah tindakan investor ketika melakukan
penjualan saham yang dianggap nilainya akan turun,
dimaksudkan untuk menghasilkan tax loss sebelum
akhir tahun atau mengurangi jumlah pajak yang akan
ditanggung. - Window Dressing
Menurut Sharpe dalam Subhan dkk. (2016)
window dressing merupakan suatu tindakan yang
dilakukan dengan menjual saham-saham yang dinilai
memiliki kinerja kurang baik atau buruk pada akhir tahun.
Tindakan ini hampir mirip dengan tax loss selling.
Namun perbedaanya ialah, hal ini dilakukan oleh
manajer keuangan atau manajer investasi untuk tujuan
memperbagu atau mempercantik laporan kinerja
portofolio yang akan dilaporkan, sehingga seolah-olah
portofolio dari manajer keuangan tersebut terlihat baikbaik saja dan bagus.
Menurut Choi dan Chhabria (2013) window
dressing adalah suatu Praktik manajemen yang
dilakukan oleh manajer investasi dengan menjual saham
yang memiliki kinerja buruk untuk memperbaiki
portofolio saham sebelum pelaporan dan membeli
kembali saham yang dimiliki. - Small Stock’s Beta
Menurut Rogalski dan Tinic dalam Subhan dkk.
(2016) saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil akan
memiliki resiko yang lebih besar pada bulan Januari
daripada pada bulan-bulan lainnya selain Januari. Bila
hal tersebut benar maka saham kapitalisasi kecil tersebut
akan memiliki rata-rata return yang relatif lebih tinggi
pada bulan Januari dibandingkan dengan bulan-bulan
lainnya. Satu studi yang dilakukan Rogalski dan Tinic
(1986) menemukan bahwa beta saham perusahaan kecil
cenderung naik di awal tahun. Ritter dan Cophra (1989)
juga menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
positif antara saham perusahaan kecil dan beta saham
tersebut terhadap abnormal return.
.2 The Day of the Week Effect
The Day of the Week Effect atau efek hari
perdagangan merupakan sebuah fenomena anomali pasar
musiman yang terjadi ketika hari-hari perdagangan
memberikan return yang berbeda, hari Senin memberikan
return yang negatif sedangkan hari Jumat memberikan
return positif Cross (1973). Menurut Damodaran dalam
Iramani dan Mahdi (2006) fenomena ini merupakan
fenomena dengan perbedaan return yang signifikan pada
hari Senin dengan hari-hari lainnya selain hari Senin dalam
seminggu pada hari perdagangan, dimana return yang
signifikan negatif terjadi pada hari Senin, sedangkan return
positif terjadi pada hari-hari selain hari Senin. French
(1980) menemukan adanya rata-rata return pada hari Senin
signifikan negatif selama 5 sub-periode 5 tahun di Standard
and Poor Composite.
Beberapa pendapat bermunculan terkait dengan
fenomena The Day of the Week Effect, namun hal tersebut
masih belum bisa dipastikan secara empiris. Seperti
contohnya Lakonishok dan Levi (1982) menyatakan bahwa
faktor yang menyebabkan fenomena The Day of the Week
Effect disebabkan oleh penundaan prosedur dan cek kliring.
Pendapat tersebut diteliti oleh Dyl et.al (1985) menyatakan
bahwa prosedur dan cek kliring bukanlah sebagai faktor
penentu utama dalam pola mingguan return saham.
Akhirnya informasi dan psikologi yang dianggap sebagai
faktor terjadinya fenomena The Day of the Week Effect
yang mungkin bisa menjelaskan penyebabnya.
3 Rogalski Effect
Rogalski Effect adalah fenomena anomali pasar
musiman dimana kejadiannya terjadi ketika return hari
Senin yang biasanya negatif, hilang pada bulan-bulan
tertentu. Rogalski (1984) menemukan adanya hubungan
antara January Effect dan The Day of the Week Effect
bahwa return hari Senin yang biasanya negatif, pada bulan
Januari ini menghilang. Hal ini diakibatkan rata-rata return
pada bulan Januari cenderung tinggi. Pengujian tersebut
dilakukan oleh Rogalski dengan menggunakan data indeks
rata-rata Dow Jones.
Beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia
terkait Rogalski Effect ditemukan bahwa bulan Januari
bukanlah bulan dimana return pada hari Senin menjadi
positif melainkan bulan April, menurut Cahyaningdyah
(2005) dalam Satoto (2011) dalam penelitiannya
menemukan adanya return yang lebih tinggi pada bulan
Aparil dibanding bulan lainnya. Hal ini disebabkan emiten
diharuskan untuk melaporkan Laporan Keuangan Tahunan
paling lambat pada akhir bulan ketiga (Maret) setelah
tanggal laporan keuangan tahunan dalam keputusan Ketua
Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: KEP-36/PM/2003,
penyampaian laporan ini memberikan informasi terhadap
kondisi perusahaan dan cenderung memberi sentimen
positif terhadap pasar, sehingga return pada bulan April
cenderung lebih tinggi. Rata-rata banyak perusahaan di
Indonesia menerapkan manajemen laba. Manajemen laba
dilakukan dengan memanfaatkan asimetri informasi antara
perusahaan dengan pihak luar yang berkepentingan
terhadap perusahaan. Tujuan dari manajemen laba ini
adalah pada kondisi tertentu likuiditas perusahaan menurun
ataupun ketika kondisi keuangan yang lemah dan menurun,
para manajer berusaha untuk menutupi kondisi yang
sebenarnya terjadi di perusahaan, baik untuk kepentingan
perusahaan ataupun kepentingan manajer. Adanya praktik
manajemen laba ini menimbulkan sentimen positif pada
pasar, karena pasar cenderung optimis terhadap
perusahaan-perusahaan yang melaporkan kinerja keuangan
yang baik. Dengan situasi seperti itu, maka pada bulan
April, menjadi bulan dimana return sahamnya menjadi
paling tinggi, dengan tingginya return saham maka, return
negatif hari Senin pada bulan April menghilang.
Anomali Akuntansi (Accounting Anomaly)
1 P/E Ratio Effect
Sebuah anomali pasar saham dengan p/e ratio rendah
memiliki return yang lebih tinggi dibanding saham dengan
p/e ratio tinggi
.2 Earning Surprise
Saham dengan capaian earnings lebih tinggi dari
yang diperkirakan cenderung mengalami peningkatan
harga.
3 Price/Sales
Saham dengan rasio price/sales yang rendah
cenderung berkinerja lebih baik dibanding dengan saham
yang memiliki rasio price/sales yang tinggi.
2.5.3.4 Price/Book
Saham dengan rasio price/book yang rendah
cenderung berkinerja lebih baik dibanding dengan saham
yang memiliki rasio price/book yang tinggi.
24
5 Dividend Yield
Saham dengan yield-nya tinggi cenderung berkinerja
lebih baik dibanding dengan saham yang yield-nya rendah.
6 Earnings Momentum
Saham perusahaan yang tingkat pertumbuhan
earnings-nya meningkat cenderung berkinerja lebih baik
dibanding dengan saham perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan earnings-nya tidak meningkat.
Anomali Peristiwa (Event Anomaly)
1 Analysis Recommendation
Semakin banyak analis merekomendasikan untuk
membeli suatu saham semakin tinggi pula peluang harga
akan turun.
2 Insider Trading
Semakin banyak saham yang dibeli oleh insiders,
semakin tinggi kemungkinan harga akan naik.
3 Listing
Anomali ini terjadi ketika perusahaan telah
mengumumkan akan melakukan pencatatan saham di bursa
atau listing, harga sekuritas cenderung akan naik.
4 Value Line Rating Changes
Anomali ini terjadi ketukan value line menempatkan
rating perusahaan pada urutan tinggi, menyebabkan harga
sekuritas akan naik
Anomali Perusahaan (Firm Anomaly)
1 Size Effect
Size Effect adalah ketika Excess return atau
kelebihan return sesungguhnya terhadap return normal dari
perusahaan kecil cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi
dibanding perusahaan yang lebih besar
.2 Closed-end Mutual Funds Effect
Anomali ini adalah ketika Return pada close-end
funds yang dijual dengan potongan, memiliki nilai return
yang cenderung lebih tinggi.
3 Neglect Effect
Neglect Effect adalah ketika sebuah perusahaan yang
tidak diikuti oleh banyak analis, memiliki kecenderungan
return lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang
terdapat banyak analisis.
4 Institutional Holdings
Institutional Holdings adalah sebuah perusahaan
yang dimiliki oleh sedikit institusi memiliki kecenderungan
return yang lebih tinggi.
Anomali Pasar
Anomali pasar merupakan sebuah keganjilan di dalam pasar yang
terjadi dan tidak dapat dijelaskan latar belakang, proses, maupun arahnya
secara rasional. Jones (1981) menemukan adanya anomali pasar ketika meneliti
tentang konsep hipotesis pasar efisien. Jones (1981) mendefinisikan anomali
sebagai teknik-teknik atau strategi-strategi yang berlawanan dengan konsep
pasar modal yang efisien. Menurut Gumanti (2012) anomali pasar ini sebagai
peristiwa (event) yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh abnormal return.
Hasil yang ditimbulkan dari anomali pasar ini berlawanan dari konsep teori
pasar efisien yang telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini menjadi banyak
pertanyaan bagi para peneliti dan ahli di bidang keuangan. Anomali yang telah
ditemukan terdapat hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya terjadi jika teori
pasar efisien ini benar-benar ada. Dengan kata lain, akibat dari adanya anomali
pasar ini dapat digunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan
melalui abnormal return.
Levi (1996) dalam Alteza (2007) menggolongkan anomali pasar
menjadi empat jenis kelompok yang berdasarkan karakteristik kejadian atau
peristiwanya yaitu: anomali musiman (seasonal anomaly), anomali peristiwa
(event anomaly), dan anomali akuntansi (accounting anomaly)
Efisiensi Pasar
Dari berbagaimacam literatur keuangan, hipotesis pasar efisien
(Efficiency Market Hipothesis) sudah dikonfirmasi oleh sejumlah peneliti.
Awal mula dari hipotesis pasar efisien ini bermula ketika Fama
memperkenalkannya pada tahun 1970 dalam jurnalnya yang berjudul Efficient
Capital Market: A Review of Theory and Empirical Work. Fama (1970)
mengatakan pasar dikatakan efisien ketika harga yang dicerminkan
sepenuhnya sesuai dengan informasi yang tersedia dan sebagai implikasinya
harga akan bereaksi seketika tanpa adanya bias terhadap informasi baru. Fama
juga menklasifikasikan hipotesis pasar efisien menjadi tiga bentuk berdasarkan
informasi yang ada. Tiga bentuk tersebut adalah:
1 Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)
Pasar efisien dalam bentuk yang lemah, yaitu apabila hargaharga dari saham atau sekuritas mencerminkan secara penuh (fully
reflect) informasi masa lalu. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini
sangat berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory)
yang menyatakan bahwa data masa lalu tidak dapat dihubungkan
dengan nilai yang sekarang. Dengan begini nilai-nilai di masa lalu
tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang.
implikasinya bagi investor adalah mereka tidak bisa menggunakan
informasi masa lalu untuk memperoleh abnormal return dan analisis
teknikal tidak ada gunanya
2 Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
Pasar efisien berbentuk setengah kuat yaitu, harga yang
tercerminkan sepenuhnya merupakan harga dari semua informasi
yang dipublikasikan (all publicy available information),
implikasinya bagi investor tidak dapat menggunakan informasi yang
dipublikasikan untuk memperoleh abnormal return dan analisis
fundamental tidak ada gunanya.
3 Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
Pasar efisien berbentuk sempurna yaitu, harga yang
tercerminkan sepenuhnyna merupakan semua informasi baik yang
dipublikasikan maupun informasi privat perusahaan, implikasinya
bagi investor tidak dapat menggunakan informasi publik maupun
privat dalam memperoleh abnormal return dan insider information
tidak ada manfaatnya
Ketiga bentuk efisien ini berupa tingkat kumulatif yang artinya bersifat
menambah. Hubungan dari ketiga bentuk pasar efisien ini ialah, pasar dengan
bentuk kuat memuat seluruh informasi dari pasar berbentuk setengah kuat dan
bentuk lemah. Dan berlaku sebaliknya, pasar dengan bentuk lemah tidak
mencakup pasar setengah kuat maupun pasar dengan bentuk kuat.
Return Saham
Return saham merupakan tingkat pengembalian saham yang diperoleh
dari perbandingan atau selisih dari harga beli dengan harga jual dari
kepemilikan suatu saham. Menurut Mahmud M. Hanafi dan Abdul Halim,
return saham disebut juga sebagai pendapatan saham yang diperoleh dari
perubahan nilai harga saham pada periode t dengan t-1. Dengan demikian
semakin tinggi perubahan harga saham, semakin tinggi return saham yang
dihasilkan.
Sedangkan menurut Tandellin, return saham merupakan salah satu
faktor kenapa investor ingin melakukan investasi dan sebagai dari imbalan atas
resiko yang didapat dari investor atas investasi yang dilakukannya. Return
investasi memiliki 2 dua komponen utama, yaitu :
16
- Yield, atau sering disebut Dividen merupakan tingkat keuntungan
yang diberikan oleh perusahaan kepada investor. Komponen ini
mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara
periodic dari suatu investasi. Yield hanya berupa angka nol (0) dan
positif (+). - Capital gain (loss), merupakan komponen return yang mencerminkan
kenaikan (penurunan) harga suatu keuntungan (kerugian) bagi
investor. Capital gain bisa berupa angka minus (-), nol (0) dan positif
(+).
Menurut Jogiyanto (2003) return saham dibagi menjadi dua,
yaitu :
a. Actual return, merupakan return yang telah terjadi atau sudah
diterima oleh investor.
b. Expected return, merupakan return yang diharapkan oleh
investor dan belum terjadi.
Indeks LQ-45
Indeks LQ-45 secara sederhana dapat diartikan sebagai 45 indeks
saham yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, diambil dari namanya LQ
(liquid) dan 45 sebagai jumlah sahamnya, yang berada di BEI (Bursa Efek
Indonesia). Indeks LQ-45 pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Februari
1997 dengan ukuran utamanya likuiditas transaksi adalah nilai transaksi di
pasar reguler. Dengan perkembangan pasar dan untuk mempertajam kriteria
likuiditas, pada review Januari 2005, jumlah hari perdagangan dan frekuensi
transaksi dimasukan sebagai ukuran likuiditas. Sehingga untuk masuk kedalam
Indeks LQ-45 ini perlu dilakukan seleksi melalui beberapa kriteria pemilihan
sebagai berikut:
- Bursa Efek memilih 60 saham biasa dengan nilai rata-rata transaksi
tertinggi di pasar reguler dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. - Dari 60 saham tadi, dipilih 45 saham terbaik dengan
mempertimbangkan nilai transaksi, kapitalisasi pasar, jumlah hari
diperdagangkan dan frekuensi transaski di pasar reguler dalam kurun
waktu 12 bulan terakhir. - Saham yang masuk perhitungan indeks LQ45 harus masuk juga dalam
perhitungan IHSG. - Saham sudah tercatat setidaknya 3 bulan di BEI.
- Saham harus memiliki kondisi keuangan yang sehat, prospek
pertumbuhan, dan memiliki frekuensi perdagangan dan transaksi yang
tinggi di pasar reguler.
Setiap 6 bulan Indeks LQ-45 akan di review atau ditinjau oleh BEI
(Bursa Efek Indonesia) terhadap pergerakan saham yang ada di dalam daftar.
Apabila terdapat saham yang tidak memenuhi kriteria yang sudah disebutkan
diatas, maka saham tersebut akan diganti dengan saham yang lebih relevan
pada periode pemilihan saham berikutnya. Daftar ini akan diganti setiap 6
bulan sekali pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.
Untuk menjamin keadilan dalam pemilihannya, BEI (Bursa Efek
Indonesia) meminta pertimbangan dari pihak lain seperti OJK (Otoritas Jasa
Keuangan), institusi pendidikan, dan konsultan saham independen yang
profesional.
Investasi dan Pasar Modal
Pasar modal adalah sebuah pasar dari berbagai macam instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang,
ekuitas (saham), instrumen derivatif, maupun instrumen lainnya. Pasar modal
merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan ataupun institusi untuk
memperoleh dana dari investor hal ini dipaparkan oleh Darmadji dan
Fakhrudin (2006). Menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995
pasar modal diartikan sebagai sebuah kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan efek. Sedangkan menurut Martalena dan Malinda (2011:2) pasar modal
terdiri dari kata pasar dan modal, jadi pasar modal dapat didefinisikan sebagai
tempat bertemunya permintaan dan penawaran terhadap modal; baik bentuk
ekuitas maupun jangka panjang. Dari definisi-definisi yang telah dipaparkan
diatas maka dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah sebuah pasar dengan
berbagai macam instrumen yang diperjualbelikan seperti saham, obligasi,
instrumen derivatif, dan semacamnya serta pasar modal sebagai fasilitator
untuk mempertemuka pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dengan
pihak yang membutuhkan dana (emiten).
Menurut Hadi (2013:14) manfaat dari pasar modal sendiri ialah sebagai
wadah yang terorganisir berdasarkan Undang-undang untuk mempertemukan
antara investor sebagai pihak yang surplus dana untuk berinvestasi dalam
instrumen keuangan jangka panjang, pasar modal memiliki manfaat antara lain:
- Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal. - Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan
resiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan
diversifikasi investasi. - Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan
mempunyai prospek, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan
iklim berusaha yang sehat. - Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.
- Memberikan akses control social.
- Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.
Investasi Menurut Horne (1981) investasi merupakan kegiatan yang
dilangsungkan ialah dengan memanfaatkan kas pada masa sekarang ini, dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil barang di masa yang akan datang. Dari
definisi-definisi yang sudah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
investasi merupakan sebuah pengorbanan pada masa sekarang demi mendapat
keuntungan di masa yang akan datang. Kaitan investasi dengan pasar modal
adalah sebagai fasilitas atau wadah dimana para investor yang ingin
menanamkan modal dengan cara membeli instrumen dalam pasar modal
dengan harapan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.
Pasar modal dapat menjadi pilihan alternatif bagi investor yang ingin
melakukan investasi. Di dalam pasar modal terdapat banyak perusahaan
dengan kondisi keuangan dan kinerja yang berbeda-beda yang dapat dipilih
oleh investor. Perusahaan-perusahaan yang ada di pasar modal dan menjual
instrumen-instrumennya di pasar modal harus sudah memenuhi syarat yang
ditentukan oleh Badan Pengawas Modal atau Bapepam sehingga dapat menjual
instrumennya kedalam pasar modal dan menjadi perusahaan go public.
Investor masuk ke dalam pasar modal dengan tujuan utama
memperoleh keuntungan (return). Untuk memperoleh return yang maksimal,
investor perlu memperhatikan teknik mereka dalam menganalisis saham,
analisis saham dilakukan dengan analisis fundamental dan analisis teknikal.
Tanndelilin (2010:392), “Analisis Teknikal adalah teknik untuk memprediksi
arah pergerakan harga saham dan indikator pasar saham lainnya berdasarkan
pada data pasar historis seperti informasi harga saham dan volume.” Sedangkan
menurut Tanndelilin (2010:338) Analisis Fundamental melakukan analisis
terhadap faktor-faktor makro ekonomi yang mempengaruhi kinerja seluruh
perusahaan-perusahan, kemudian dilanjutkan dengan analisis industri, dan
pada akhirnya dilakukan analisis terhadap perusahaan yang mengeluarkan
sekuritas bersangkutan untuk menilai apakah sekuritas yang dikeluarkannya
menguntungkan atau merugikan bagi investor
Matplotib
Matplotlib merupakan librari yang digunakan sebagai luaran berupa
visualisasi data. Visualisasi tersebut tersaji dalam grafik yang dapat
mempermudah dalam membaca data secara jangka panjang. Sesuai dengan
Namanya yaitu plot, maka grafik yang dihasilkan didasarkan pada plot yang
diinginkan. Plot tersebut dituliskan pada suatu tabel yang berisikan banyak
data. Grafik yang dihasilkan dapat disatukan bersama dengan data lain
sehingga akan terlihat perbedaan nilai pada setiap kolom yang di ini
sialisasikan untuk dituangkan ke dalam suatu grafik
Python
Python merupakan bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Guido
van Rossum pada 1990 di Scitchting Mathematisch Centrum, Amsterdam,
Belanda. Python termasuk bahasa pemrograman yang berorientasi objek dan
dikategorikan sebagai bahasa pemrograman tingkat tinggi. Python juga
memiliki library yang siap digunakan untuk pengolahan data seperti NumPy,
Pandas (Python, 2021). Python adalah bahasa pemrograman interpretatif
yang serbaguna. Dibandingkan dengan bahasa pemrograman lain yang
cenderung sulit dibaca dan dipahami, Python menekankan pada keterbacaan
kode sehingga lebih mudah dipahami dari segi sintaks. Ini membuat Python
sangat cocok untuk pemula maupun bagi mereka yang sudah menguasai
bahasa pemrograman lain. Python pertama kali muncul pada tahun 1991 dan
dirancang oleh Guido van Rossum. Saat ini, pengembangan Python dilakukan
oleh Python Software Foundation. Python dapat digunakan di hampir semua
sistem operasi, termasuk berbagai distribusi Linux yang umumnya telah
menyertakan Python di dalamny
Word Cloud
Word cloud adalah sebuah visualisasi yang menampilkan kata-kata dari teks
yang diberikan. Kata-kata yang muncul lebih sering dalam teks tersebut akan
ditampilkan dengan ukuran font yang lebih besar. Tujuan dari word cloud
adalah untuk menyoroti kata-kata yang penting atau sering muncul dalam teks
yang dianalisis. Word cloud dapat digunakan untuk mengevaluasi isi teks,
mengidentifikasi topik utama, atau menemukan ide-ide baru. Fitur word
cloud tersedia di berbagai perangkat lunak analisis data seperti R Studio.
Dengan menggunakan word cloud, frekuensi kata-kata dapat disajikan secara
visual dengan gambaran yang menarik dan informatif. Ukuran kata-kata
dalam word cloud akan disesuaikan dengan frekuensi penggunaannya,
sehingga kata-kata yang lebih sering muncul akan ditampilkan dengan ukuran
yang lebih besar dalam visualisasi word cloud
Labeling Data
Pemberian label adalah proses mengelompokkan data ke dalam beberapa
kelas yang akan digunakan oleh penulis. Dalam konteks analisis sentimen,
kelas yang digunakan adalah positif, netral, dan negatif. Pada tahap ini, data
akan diberikan label berdasarkan evaluasi penulis terhadap sentimen yang
terkandung dalam data tersebut, apakah bersifat positif, netral, atau negatif
Analisis Sentimen
Analisis sentimen merupakan metode otomatis untuk mengolah data teks
dengan tujuan memperoleh pemahaman yang akurat. Tujuan dari analisis
sentimen adalah untuk mengidentifikasi pendapat dan opini masyarakat
terhadap topik atau isu tertentu yang terdapat dalam data teks yang tidak
terstruktur. Saat ini, analisis sentimen banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari karena pentingnya diskusi dalam pengambilan keputusan terkait
produk [6]. Analisis sentimen merupakan suatu metode klasifikasi teks yang
difokuskan pada ulasan dan membedakan apakah ulasan tersebut bersifat
negatif, positif, atau netral. Analisis sentimen memiliki peran yang sangat
krusial dalam memahami preferensi pengguna guna pengambilan keputusan
yang cepat. [7].
Sentiment analysis terdiri dari 3 sub proses yaitu: [8]
a. Klasifikasi Subjektivitas: mengidentifikasi kalimat yang mengandung opini
atau pendapat subjektif.
b. Deteksi Orientasi: Mengklasifikasikan opini ke dalam kategori positif,
negatif, atau netral.
c. Deteksi Pengguna Opini dan Target: Mengidentifikasi entitas atau bagian
teks yang merupakan pemberi opini (opinion holder) dan entitas atau bagian
yang menjadi target opini.
Kelemahan dari sentimen analisis adalah dimana setiap orang memiliki
perbedaan dalam mengemukakan pendapatnya, ada yang sarkasme dan ada
juga yang menggunakan kata negasi. Hal tersebut membuat suatu sistem
terkadang salah dalam mengklasifikasikan suatu kelas dari sebuah sentimen.
Sentimen analisis banyak dilakukan pada beberapa bidang seperti memonitor
opini publik terhadap suatu produk di sosial media mengenai monitoring
awarness dari sebuah brand dan menganalisis testimoni dari pelanggan. Hasil
dari analisis sentimen dapat memberikan gambaran dari pelanggan sehingga
suatu perusahaan dapat menentukan langkah selanjutnya dalam
mengembangkan brand dan produk. Selain itu, dalam konteks kebijakan
pemerintah, hasil dari analisis sentimen dapat digunakan untuk menyusun
strategi agar kebijakan-kebijakan bisa diterima dan atau diperbaiki untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat [9].
Analisis sentimen termasuk dalam bidang ilmu natural language processing
yang dipelajari secara luas dalam text mining. Analisis sentimen adalah proses
untuk menganalisis suatu opini atau pendapat, mengekstrak dan
mengklasifikasikannya sesuai dengan sikap emosionalnya. Data opini bisa
didapatkan dari berbagai digital platform, misalnya berupa ulasan pada media
sosial Twitter, Instagram, Youtube, situs web berita, serta market store seperti
Google Play Store dan App Store
Support Vector Machine
Metode Support Vector Machine digunakan untuk melakukan
prediksi atau klasifikasi terhadap suatu kelas berdasarkan pola yang ada.
Support Vector Machine bekerja dengan prinsip mencari garis pembatas
(hyperplane) yang optimal untuk memaksimalkan pemisahan antara kelas
positif dan negatif (Fitriyah, dkk., 2020).
Keunggulan Support Vector Machine mencakup kemampuannya
dalam bekerja dengan baik pada berbagai jenis data, mendapatkan solusi
optimal, memiliki rasio konvergensi yang rendah, serta mampu mengatasi
kesulitan dalam masalah. Namun, Support Vector Machine juga memiliki
kelemahan terkait pemilihan parameter yang tepat yang dapat memengaruhi
akurasi hasil algoritmanya. Secara umum, Support Vector Machine
memiliki tingkat akurasi yang lebih baik daripada metode Naïve Bayes
(Kristiyanti, dkk., 2020).
Dalam algoritma Support Vector Machine, objek data yang berada
paling dekat dengan hyperplane disebut sebagai vektor pendukung (support
vector). Vektor pendukung ini menjadi fokus utama dalam penentuan
hyperplane optimal, sedangkan objek data lainnya tidak begitu
diperhatikan.
Support Vector Machine adalah salah satu dari kelas supervised
learning. Metode ini mampu melakukan prediksi baik dalam klasifikasi
maupun regresi. SVM bertujuan untuk menemukan fungsi pemisah optimal
yang dapat memisahkan dua kelas yang berbeda. SVM dapat diterapkan
pada berbagai jenis dataset, baik yang dapat dipisahkan secara linier
maupun non-linier. SVM linier digunakan ketika data dapat dipisahkan
secara linier, sedangkan untuk data yang tidak dapat dipisahkan secara
linier, diperlukan pendekatan non-linier
Machine Learning
Machine learning merupakan teknik yang memungkinkan mesin
untuk mengakuisisi pengetahuan dengan memecahkan masalah berdasarkan
pola yang terdapat pada data yang telah diberikan sebelumnya. Meskipun
machine learning sering dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI), beberapa
teknik ini tidak secara langsung menunjukkan kecerdasan, tetapi sangat
bermanfaat dalam pengembangan Sistem Dukungan Keputusan yang cerdas
(Kristina, dkk., 2020).
Teknologi machine learning adalah pengembangan mesin yang
mampu belajar secara otomatis tanpa perlu arahan langsung dari pengguna.
Dibangun berdasarkan konsep-konsep dari disiplin ilmu seperti statistika,
matematika, dan data mining, pembelajaran mesin memungkinkan mesin
untuk memahami dan menganalisis data tanpa memerlukan reprogram
ulang atau instruksi langsung.
Dalam konteks ini, machine learning memiliki kapabilitas untuk
mengumpulkan dan memanfaatkan data secara mandiri. machine learning
juga dapat mengambil pelajaran dari data yang telah ada serta yang baru
diperolehnya, memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai tugas
yang beragam, tergantung pada apa yang telah dipelajarinya. Istilah
machine learning pertama kali diperkenalkan oleh beberapa ilmuwan
matematika seperti Adrien Marie Legendre, Thomas Bayes, dan Andrey
Markov pada tahun 1920-an, yang mengemukakan dasar-dasar konsep dan
prinsip machine learning. Sejak saat itu, pengembangan dalam bidang
machine learning telah berkembang pesat. Salah satu contoh implementasi
yang terkenal adalah Deep Blue, yang dikembangkan oleh IBM pada tahun
1996
Pre-processing
Pre-processing merupakan tahap pertama melakukan text mining
berupa mengubah data. Tahap ini melakukan tahap penggalian, pengolahan
dan pengaturan informasi untuk menganalisis hubungan tekstual. Preprocessing merupakan langkah pertama dalam pengolahan data yang
bertujuan untuk membersihkan, memformat, dan menyiapkan data mentah
sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. Proses pre-processing berguna
untuk mengubah informasi dari ulasan atau teks yang tidak terstruktur
menjadi bentuk standar yang lebih mudah untuk dianalisis (Faadilah, 2020).
a. Case Folding
Case folding adalah langkah untuk mengubah huruf kapital menjadi
huruf kecil dalam teks. Dalam konteks analisis sentimen, proses ini
bermanfaat untuk mengurangi variasi kata yang pada dasarnya memiliki
makna yang sama, namun ditulis dengan huruf kapital atau kecil yang
berbeda. Sebagai contoh, kata “SeLAmat”, “selamat” dan “SELAMAT”
memiliki arti yang identik, namun tanpa case folding, keduanya akan
dianggap sebagai kata yang berbeda dan dianalisis secara terpisah dalam
proses analisis sentimen.
Case folding bertujuan untuk merubah semua huruf dalam teks
menjadi huruf kecil atau huruf besar (Faadilah, 2020). Langkah ini
dilakukan untuk mencegah adanya perbedaan dalam kata yang sama
karena penggunaan huruf kapital atau huruf kecil yang berbeda.
b. Tokenizing
Tokenizing adalah langkah membagi teks menjadi unit-unit yang
lebih kecil yang dikenal sebagai “token”. Token tersebut bisa berupa
kata, frasa, atau tanda baca. Proses ini bertujuan untuk memecah kalimat
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sebelum dilakukan analisis lebih
lanjut (Amaliah, dkk., 2022). Dalam analisis sentimen, tokenizing
penting untuk menyiapkan data teks agar dapat diproses lebih lanjut.
Tanpa proses tokenizing, data teks tidak dapat diolah dalam analisis
15
sentimen karena perlu dipisahkan menjadi token-token terlebih dahulu
untuk memungkinkan analisis kata dan frasa yang ada dalam teks.
Bisa disimpulan tokenizing merupakan langkah dalam preprocessing teks yang bertujuan untuk membagi teks menjadi unit-unit
kecil yang disebut token untuk analisis selanjutnya. Token bisa berupa
kata, frasa, atau karakter khusus, dan setiap token melambangkan satu
unit makna dalam teks.
c. Stopword Removal (Filtering)
Stopword Removal merupakan proses mengeliminasi kata-kata yang
biasa dan sering muncul dalam teks, seperti kata depan, kata imbuhan,
kata ganti, kata penghubung, dan kata-kata lainnya yang tidak
memberikan kontribusi signifikan dalam memahami makna teks.
Biasanya, ini melibatkan kata-kata penghubung seperti “yang”, “dan”,
“di”, “dari”, serta kata-kata lain yang tidak terlalu relevan dalam analisis
teks. Tindakan ini mencakup penghapusan kata-kata yang kurang
memiliki makna penting, seperti “dan”, “saya”, atau kata-kata sejenis
(Rahma, dkk., 2021).
d. Stemming
Stemming adalah langkah dalam pre-processing teks yang bertujuan
untuk mengonversi kata-kata ke dalam bentuk dasar atau kata dasar
dengan cara memotong akhiran kata. Proses stemming ini merubah katakata yang memiliki imbuhan menjadi bentuk dasar aslinya (Rahma,
16
dkk., 2021). Tujuan utama dari stemming adalah untuk mengurangi
variasi kata yang muncul dalam teks serta menjaga konsistensi makna
kata meskipun berbeda dalam bentuk.
e. Pembobotan TF-IDF
Pembobotan adalah teknik yang digunakan untuk mengubah data
input menjadi suatu fitur vector. Tiap dokumen mencakup variasi kata
yang berbeda-beda. Dalam pencarian informasi dari dokumen
heterogen, pentingnya pemahaman terhadap pembobotan kata
terungkap, sebab setiap kata memiliki tingkat signifikansi yang berbeda
di dalam dokumen. Inilah sebabnya mengapa bobot term menjadi
relevan (Hasna, 2021).
Pembobotan TF-IDF (Term Frequency-Inverse Document
Frequency) adalah teknik yang digunakan untuk memberikan nilai
bobot kepada setiap kata dalam sebuah dokumen berdasarkan seberapa
sering kata tersebut muncul dan seberapa uniknya dalam seluruh
dokumen. Term frequency (TF) mencerminkan frekuensi kemunculan
kata dalam dokumen tersebut. Sering kali, kata-kata yang sering muncul
dapat mengganggu proses identifikasi kata-kata yang lebih unik. Inverse
Document Frequency (IDF) berfungsi untuk menyeimbangkan bobot
kata-kata yang sering muncul dengan mengurangi nilai bobotnya, serta
mengukur pentingnya makna suatu kata dalam sebuah dokumen.
17
f. Confusion Matrix
Tabel Confusion Matrix digunakan untuk mengevaluasi kinerja
model klasifikasi yang melibatkan analisis sentimen. Di mana metode
digunakan untuk menghitung akurasi dengan membandingkan hasil
klasifikasi yang dilakukan secara aktual dengan hasil klasifikasi metode
(Amaliah, dkk., 2022). Dengan membandingkan hasil prediksi model
dengan label kelas yang sebenarnya, Confusion Matrix menunjukkan
seberapa baik model melakukan klasifikasi. Informasi dalam matriks
confusion diperlukan untuk menentukan kinerja model klasifikasi,
menurut Ilmawan dan Mude dalam Maulana (Maulana, 2023)
Google Collaboratory
Colaboratory, yang sering disebut sebagai “Colab,” adalah sebuah
produk dari Google Research. Colab memungkinkan pengguna untuk
menulis dan mengeksekusi kode Python secara bebas melalui peramban
web, dan sangat cocok digunakan untuk keperluan machine learning,
analisis data, dan pembelajaran. Secara teknis, Colab merupakan layanan
notebook Jupyter yang di-hosting dan dapat digunakan tanpa perlu
melakukan penyiapan, serta memberikan akses gratis ke sumber daya
komputasi termasuk GPU. Sumber daya yang tersedia di Colab tidak
dijamin dan memiliki keterbatasan, dengan batasan penggunaan yang
kadang berfluktuasi. Langkah ini diperlukan agar Colab dapat menyediakan
sumber daya secara gratis kepada penggunanya (Soen dkk., 2022)
Web Scraping
Web scraping adalah metode otomatisasi yang memanfaatkan kode
program untuk menjelajahi halaman web, menemukan pola data yang
ditargetkan, dan mengekstrak data sesuai kebutuhan pengguna. Scraping
web dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pengumpulan data
untuk analisis bisnis dan penelitian akademis.
Menurut Santoso (2019), web scraping telah menjadi alat penting
dalam penelitian ilmiah di Indonesia. Mereka mencatat bahwa scraping web
memungkinkan peneliti mengumpulkan data dengan cepat dan efektif dari
berbagai sumber internet. Data ini dapat digunakan untuk analisis statistik,
penelitian pasar, dan pemodelan prediktif. Studi ini juga menekankan betapa
pentingnya mempertimbangkan etika saat menggunakan scraping web
untuk menghindari pelanggaran hak cipta dan privasi.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2020) melihat
aplikasi scraping web untuk analisis media sosial di Indonesia. Mereka
menemukan bahwa web scraping dapat digunakan untuk mengumpulkan
data dari situs media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram untuk
memahami tren dan pola perilaku pengguna
Google Play Store
Google Play Store menjadi tempat untuk mengunduh berbagai
aplikasi Android dengan jumlah mencapai ratusan ribu. Google Play Store
merupakan salah satu pasar platform Android yang memiliki peran krusial
dalam mendistribusikan aplikasi seluler. Menurut situs resmi Google Play
Store, tahun lalu terjadi lebih dari 140 Miliar proses download konten yang
ada, lebih dari 2,5 Miliar pengguna aktif setiap bulan, dan Google Play Store
tersedia di 190 negara di seluruh dunia.
Fitur review aplikasi disediakan untuk memungkinkan pengguna
memberikan komentar terhadap aplikasi yang telah mereka gunakan, dan
tujuannya adalah untuk memberikan mekanisme umpan balik dari pengguna
kepada pengembang aplikasi
Binance
Binance adalah sebuah platform pertukaran cryptocurrency yang
didirikan pada tahun 2017 di Hong Kong. Dikenal dengan fokusnya yang
kuat pada perdagangan altcoin. Binance merupakan sebuah ekosistem
blockchain yang menawarkan berbagai produk, termasuk pertukaran aset
digital terbesar. Menurut Binance.com, platform ini menyediakan
perdagangan crypto-to-crypto untuk lebih dari 600 cryptocurrency dan
token virtual, seperti Bitcoin (BTC), Etherium (ETH), Litecoin (LTC),
Dogecoin (DOGE), serta token Binance Coin (BNB) yang merupakan
produk mereka sendiri (Pramesti, 2022)
Cryptocurrency
Cryptocurrency merupakan bentuk uang digital yang menggunakan
teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi, mengatur penciptaan
unit tambahan, dan memverifikasi transfer aset. Keberadaan cryptocurrency
memungkinkan perubahan yang signifikan dalam sistem keuangan
tradisional yang dikelola oleh lembaga keuangan seperti bank dan
pemerintah. Dengan adanya cryptocurrency, transaksi dapat dilakukan
secara langsung antara dua pihak tanpa perlu melalui perantara dan
mengurangi biaya transaksi yang tinggi (Priambodo, 2022).
Pada tahun 2008, dimulailah era cryptocurrency ketika seseorang
yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto merilis sebuah
makalah. Cryptocurrency pertama yang dikenalkan adalah Bitcoin, yang
mulai beroperasi pada tahun 2009. Popularitas Bitcoin memicu minat yang
besar dari investor dan konsumen ritel terhadap cryptocurrency lainnya.
Harga Bitcoin melonjak tinggi sebagai akibat dari minat publik yang tinggi.
Seperti halnya cryptocurrency lainnya, Bitcoin juga memiliki dampak
negatif di berbagai sektor. Bank Sentral dan otoritas moneter memberikan
peringatan mengenai risiko yang terkait dengan penggunaan
cryptocurrency. Harga Bitcoin pada Juli 2010 tercatat sebesar USD 0,04951
dan mencapai puncaknya pada 17 April 2021, mencapai USD 63.223,88
11
atau meningkat sebanyak 127.699.212,28 persen dari harga awalnya
(Afrizal & Marliyah, 2021)
Analisis Sentimen
Analisis Sentimen merupakan salah satu metode untuk
mengeksplorasi pendapat atau pandangan individu terhadap suatu topik atau
peristiwa. Ini dapat diterapkan untuk mengungkapkan sikap masyarakat
terhadap berbagai masalah, kualitas layanan, kebijakan, cyber bullying,
evaluasi harga saham, dan evaluasi pesaing berdasarkan teks. Namun,
dengan pertumbuhan data yang cepat, tantangan baru muncul dalam proses
analisis sentimen. Metode konvensional tidak lagi cukup untuk
mengidentifikasi dan memahami berbagai jenis sentimen dalam teks secara
efektif. Menggunakan tenaga manusia untuk mengklasifikasikan sentimen
dalam volume teks yang besar dan beragam memerlukan investasi waktu
dan biaya yang signifikan.
Analisis sentimen, juga dikenal sebagai opinion mining, adalah
cabang ilmu yang mempelajari pendapat, evaluasi, penilaian, sikap, dan
emosi yang terkait dengan suatu entitas, seperti produk, layanan, organisasi,
individu, isu-isu, peristiwa, dan topik tertentu. Tujuan utama dari analisis
sentimen adalah untuk mengidentifikasi apakah suatu opini bersifat positif
atau negatif. Contoh penerapan analisis sentimen dalam kehidupan nyata
adalah untuk mengidentifikasi tren pasar dan opini pasar terhadap suatu
produk (Nurzahputra & Muslim, 2022)
Hubungan Sentimen Investor dengan Return saham
(Wijaya, 2020) mengatakan bahwa sentimen investor memiliki pengaruh
yang signifikan positif pada return saham. Sedangkan (Hu et al., 2013)
mengungkapkan bahwa dalam pembentukan return saham cross-section, sentimen
individual investor berperan penting didalamnya, (Dragoș Ștefan, OPREA & Laura,
2014) mengatakan bahwa pengukuran sentimen investor menggunakan
keyakinanan konsumen menghasilkan pengaruh positif pada return saham.
Menurut (Wendy Ary, 2019) menyatakan sentimen investor mempengaruhi
return saham pada sektor industri, property, real estate & kontruksi, serta sektor
keuangan secara signifikan dan negatif Hal ini menujukan adanya fenomena
misspricing sedang terjadi di bursa efek Indonesia, dari penelitian penelitian dapat
disimpulkan bahwa senttimen investor mempunyai pengaruh penting dan tetap pada
suatu perusahaan dan pasar saham secara menyeluruh
Perusahaan Property & Real Estate
Perusahaan Prorperty & Real Estate adalah perusahaan industri yang
terlibat dalam pembangunan, pengembangan, pengelolaan, dan perdagangan real
estat atau real estat. Mereka fokus pada kegiatan seperti membeli, menjual,
mengembangkan dan mengelola real estat atau tanah untuk tujuan komersial,
perumahan, industri atau investasi. Perusahaan Prorperty & Real Estate dapat
terlibat dalam berbagai macam properti, termasuk:
- Properti Komersial: Ini termasuk properti seperti kantor, pusat perbelanjaan, toko
ritel, bangunan industri, hotel, restoran, dan ruang komersial lainnya. Fokus
perusahaan real estat komersial adalah pada pengembangan, penjualan, dan
penyewaan real estat untuk tujuan komersial. - Properti perumahan: Ini termasuk rumah, apartemen, rumah, townhouse dan
properti perumahan lainnya. Sebuah perusahaan real estate yang
mengembangkan, menjual dan menyewakan apartemen. - Kawasan industri: Ini termasuk pabrik, gudang, kompleks industri dan properti
lain yang digunakan untuk kegiatan manufaktur atau industri. Real estat industri
berfokus pada pengembangan, penjualan, dan penyewaan real estat industri - Investasi properti: Properti investasi adalah properti yang dimiliki bisnis untuk
menghasilkan sewa atau untuk meningkatkan nilainya. Fokus perusahaan real
estat yang dimiliki sebagai investasi keuangan adalah pada akuisisi,
pemeliharaan, dan penjualan real estat untuk investasi modal jangka panjang.
Perusahaan real estat dan real estat dapat terlibat dalam berbagai aktivitas,
termasuk pengembangan proyek, manajemen properti, pemasaran dan
penjualan, penilaian properti, manajemen sewa, dan manajemen properti. Anda
juga dapat terlibat dalam proses perizinan, pembiayaan proyek, dan negosiasi
kontrak dengan pihak terkait.Tujuan real estat dan real estat biasanya untuk
menghasilkan pendapatan dari pengoperasian properti dan untuk meningkatkan
nilai properti dari waktu ke waktu. Anda beroperasi di lingkungan yang
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, perubahan pasar real estat, kebijakan regulasi,
dan permintaan
Variabel Moderasi
Variabel moderasi merupakan variabel yang mempengaruhi antara variabel
dependen dan independen yang dapat memperkuat ataupun memperlemah
hubungan antara variabel independen dengan dependen (Sugiyono, 2018). Menurut
(Solimun, 2011) variabel moderasi dapat dikategorikan menjadi empat jenis yaitu,
Variabel Moderasi Murni (Pure Moderarator) merupakan variabel moderasi yang
diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1
dinyatakan tidak signifikan akan tetapi koefisien 2 signifikan secara statistika.
Moderasi murni merupakan variabel yang memoderasi hubungan antara variabel
dependen dan variabel independen di mana variabel moderasi murni berinteraksi
dengan variabel independen tanpa menjadi variabel independen. Variabel Moderasi
Semu (Quasi Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan
signifikan serta koefisien 2 signifikan secara statistika. Moderasi semu merupakan
variabel yang memoderasi hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen yang mana variabel moderasi semu berinteraksi dengan variabel
independen sekaligus menjadi variabel independen. Variabel Moderasi Potensial
(Homologiser Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan tidak
signifikan serta koefisien 2 tidak signifikan secara statistika. Moderasi potensial
adalah variabel yang potensial menjadi sebuah variabel moderasi yang
25
mempengaruhi kekuatan hubungan antara variabel independen serta variabel
dependen. Variabel ini tidak berhubungan dengan variabel independen dan tidak
mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel dependen. Variabel
Prediktor Moderasi (PredictorModerasi Variabel). Merupakan jenis variabel
moderasi yang diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika
koefisien 1 dinyatakan signifikan sedangkan koefisien 2 tidak signifikan secara
statistika. Berarti variabel moderasi ini hanya dapat berperan sebagai variabel
Independen dalam penelitian yang dilakukan
Sales Growth
Pertumbuhan pendapatan atau Sales Growth adalah persentase peningkatan
pendapatan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Ini adalah indikator
kinerja utama yang mengukur seberapa baik perusahaan mampu meningkatkan
penjualan produk atau layanannya dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penjualan
yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan penjualan dan
dapat mencapai pertumbuhan yang sehat. Namun, perlu diingat bahwa
pertumbuhan pendapatan harus dianalisis dalam konteks yang lebih luas, termasuk
faktor-faktor seperti margin laba, biaya operasional, dan strategi pemasaran
perusahaan.
Ketika kondisi Sales Growth suatu perusahaan mengalami pertumbuhan,
perusahaan akan terlihat menarik pertumbuhan ini juga akan menentukan berapa
lama perusahaan akan tetap berdiri dan berkembang (Toto, 2019). Menurut
(Kasmir, 2018) pertumbuhan penjualan adalah bagaimana perusahaan
meningkatkan penjualannya yang kemudian dibandingkan dengan total penjualan
secara keutuhan. Manfaat dari pertumbuhan penjualan ini selain untuk memperoleh
laba dari hasil penjualan yang telah dilakukan juga dapat mempercantik laporan
keuangan sehingga dapat memikat para investor untuk melakukan investasi di
perusahaan tersebut
Total Asset Turn Over
Total Asset Turn Over merupakan salah satu jenis rasio dalam rasio
aktivitas, rasio ini mengukur tingkat keaktifan dari investasi disuatu perusahaan
yang dihitung dan dilakukan pada saat menyusun laporan keuangan sehingga dapat
mengetahui apakah pihak manajemen perusahaan dapat memanfaatkan modal yang
tersedia dengan efektif yang kemudian akan dibandingkan dengan banyaknya
penjualan yang terjadi di setiap aset dimiliki dengan menggunakan rasio ini.
Total Asset Turn Over merupakan rasio perputaran dari total aktiva yang
menunjukan bahwa perputaran dari modal aktiva dapat diukur dan dihitung dari
volume penjualan (Harahap, 2015), sedangkan menurut (Brigham, Eugene &
Houston, 2018) TATO adalah sebuah rasio yang digunkan untuk menghitung dan
mengukur perputaran dari seluruh aset perusahaan dan didapatkan dari menbagi
total penjualan dengan total aset perusahaan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Total Asset Turn Over
adalah rasio yang dipakai untuk mengetahui perputaran dari semua aktiva yang
dipunyai oleh perusahaan dan berapa total penjualan yang didapat dari setiap
rupiah
Sentimen Investor
Sentimen investor adalah bagian dari realisasi behavioral finance(Agustya,
2018), behavioral finance adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami
bagaimana fenomena berkaitan dengan psikologis seseorang akan mempengaruhi
kondisi keuangannya, penelitian ini menjelaskan secara logis mengenai hubungan
keuangan dan investasi dari sudut pandang manusia secara psikologis, kata Sherfin
dalam (Agustya, 2018).
Shiller dalam (Ryu et al., 2019) mengatakan bahwa sentimen investor
adalah faktor utama yang mempengaruhi dan menjelaskan pergerakan dari harga
aset serta irrational exuberance dalam pasar uang. Kondisi sentimen investor
dipengaruhi oleh perilaku perdagangan noise trader dan irrational investor kata
Banerjee dalam (Ryu et al., 2019). Setimen investor adalah kebiasaan investor
dalam berspekulasi selain itu sentimen investor juga merupakan hasil dari
psikologis investor yaitu keyakinan pada suatu situasi tertentu.
Menurut (Kencana, 2019) menyatakan bahwa keputusan investasi seorang
investor dalam suatu investasi dapat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian baik
itu nasional maupun internasional. Investor berreaksi atas suatu kondisi pasar
tertentu dan respon tersebut mempengaruhi harga serta return saham, respon ini
dapat dibedakan menjadi respon positif dan respon negatif tergantung dari analisa
rasional dan irrasional dari seorang investor, respon inilah yang kemudian disebut
dengan sentimen investor.
Return saham
Tujuan utama dari suatu investasi umumnya adalah untuk mendapat return
atau keuntungan dari investasi tersebut, jika tidak adanya return atau keuntungan
investor tentu tidak mau melakukan investasi. Menurut jogiyanto dalam (Wijaya,
2020) return saham dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni:
- Return Realisasian, merupakan pengembalian dana yang sudah terjadi
berdasarkan penghitungan data historis, biasanya return ini dipakai sebagai
data analisis investasi serta analisis portofolio - Return Ekspetasian, merupakan pengembalian dana yang diharapkan oleh para
investor di masa yang akan datang sehingga hal itu belum dapat dipastikan
mengenai hasilnya, biasanya return ini dipakai sebagai data masukan untuk
analisis portofolio.
Umumnya terdapat 2 keuntungan dalam investasi yang dilakukan di Bursa
Efek Indonesia yaitu: - Dividen
Merupakan pembagian keuntungan yang diberikan oleh perusahaan kepada
pemegang saham yang berasal dari profit usaha perusahaan tersebut. Dividen
biasa diberikan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS,
jika ingin mendapat dividen investor harus berinvestasi dengan jangka waktu
tertentu hingga kepemilikan saham diakui sebagai pemegang saham yang berhak
mendapat pembagian dividen.
Dividen yang diberikan perusahaan dapat dibedakan menjadi dividen tunai dan
dividen saham. Dividen tunai adalah pemegang saham akan diberikan uang tunai
dalam jumlah tertentu oleh perusahaan sesuai dengan jumlah setiap saham yang
dimiliki investor, sedangkan dividen saham adalah pemegang saham akan
diberikan saham dari perusahaan dalam jumlah tertentu sehingga jumlah saham
yang dimiliki investor akan meningkat.
Saham
Saham merupakan surat yang berharga dan digunakan untuk membuktikan
adanya kepemilikan atas perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, saham
dibedakan menjadi 2 jenis yakni:
- Saham biasa(Common Stock)
Saham yang memiliki sifat pemberian dividenya tidak tentu berdasarkan
keuntungan yang diperoleh perusahaan penerbit saham tersebut. - Saham Preferen(Prefferes Stock)
Saham yang memiliki sifat pemberian dividenya berdasarkan kesepakatan
antara perusahaan penrbit saham dan investor.
jogiyanto dalam (Wijaya, 2020) menyatakan ada beberapa perbedaan hak
dari investor saham biasa dengan hak investor saham preferen yaitu pada
investor saham biasa investor memiliki hak mengeluarkan pendapat,
mendapatkan dividen sesuai keputusan rapat umum pemegang saham, dan hak
memilih kepengurusan perusahaan. Sedangkan investor saham preferen
memiliki hak prioritas dalam mendapatkan dividen, diprioritaskan dalam
pembagian aset perusahaan jika perusahaan dinyatakan bangkrut, dan tidak
memiliki hak berpendapat diperusahaan penerbit saham.
Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) dikenal juga dengan nama Indonesian Stock
Exchange (IDX) adalah bursa yang dihasilkan dari penggabungan Bursa Efek
Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) ditanggal 1 desember 2007. Bursa
ini dibentuk untuk meningkatkan efektivitas operasional serta transaksinya.
Sebelumnya Bursa Efek Indonesia menggunakan sistem perdagangan yang
bernama Jakarta Automated Trading System (JATS) yang kemudian diganti
menjadi system baru Bernama JATS-NextG pada tanggal 2 maret 2009. BEI
terletak di Jln, Jendral Sudirman no 52-53,Senayan,Jakarta Selatan di Gedung
Bursa Efek Indonesia dekat Kawasan Niaga Sudirman.
Bursa Efek Indonesia membagikan data pergrakan harga saham
menggunakan media cetak serta elektronik guna meberikan informasi yang lengkap
mengenai perkembangan bursa kepada publik. Indeks harga saham gabungan
( IHSG) merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan harga saham.
Saat ini Bursa Efek Indonesia merupakan satu-satunya pasar modal di Indonesia
menurut (Wardiyah, 2017) pasar modal adalah institusi yang menjalankan kegiatan
perdagangan atas penawaran efek, serta menjadi tempat bagi perusahaan maupun
individu dalam menjual dan membeli efek yang mereka miliki. (Sudirman, 2015)
mengatatakan pasar modal merupakan tempat pertemuan antara penjual serta
pembeli yang diperjual belikan adalah modal dalam bentuk saham dan obligasi.
Pasar modal juga merupakan tempat pertemuan antar pihak yang mempunyai dana
bertemu pihak yang sedang kekurangan dana.
Salah satu faktor penting dalam membangun perekonomian nasional adalah
pasar modal,pasar ini juga merupakan tempat perusahaan meningkatkan nilai
keuangannya (Muklis, 2016). (Wardiyah, 2017) mengatakan pasar modal memiliki
2 fungsi utama yaitu:
- Fungsi Ekonomi, merupakan tempat bertemunya antara investor dan pihak yang
sedang mengalami kekurangan dana seperti perusahaan, yang mana pihak
kekurangan dana bisa mendapatkan dana atau modal dari investor yang
berinvestasi. Dana tersebut bisa digunakan untuk mengembankan usaha
perusahaan. - Fungsi Keuangan, merupakan tempat dimana masyrakat melakukan investasi
keuangan pada suatu perusahaan yang kemungkinan mendapatkan keuntungan
dari hasil dari investasi tersebut.
Pasar modal juga dapat dibagi menjadi beberapa jenis pasar modal yakni: - Pasar Perdana, merupakan pasar dimana perusahaan secara perdana akan
menawarkan efek atau sahamnya pertama kali kepada masyarakat. Penawaran
perdana ini dinamakan Initial Public Offering (IPO), dipasar ini kegiatan jual
beli antara perusahaan dan investor perlu menggunakan perantara serta dipasar
ini perusahaan akan mendapat modal atau dana untuk mengembangkan
usahanya(Wardiyah, 2017). - Pasar Sekunder, ketika proses penawaran efek atau saham di pasar perdana
selesai, selanjutnya saham atau efek akan diperjual belikan dipasar sekunder
dan kurs dari saham akan menentukan naik turunya harga saham. Kurs saham
dipengaruhi oleh besarnya tingkat permintaan serta penawaran dari saham, dan
16
kegiatan jual beli saham atau efek dilakukan antara investor dengan investor
lainnya(Sudirman, 2015) - Pasar Pararel, merupakan pasar tempat perusahaan mengeluarkan efk atau
saham yang tidak mencapai syarat listing di Bursa Efek, pasar ini dijalankan
oleh PPUE atau Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (Sudirman, 2015)
Perusahaan- perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia akan
dikategorikan dan diklasifikasikan menjadi 12 sektor yaitu(IDX, 2021): - Sektor Energi
Sektor ini terdiri dari perusahan yang menjual produk dan jasa untuk ektrasi
energi yang tidak dapat diperbaruhi dan energi alternatif, serta perusahan jasa
yang membant industri ini. - Sektor Barang Baku
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menjual produk serta jasa dalam bentuk
bahan baku yang akan digunakan perusahaan industri lain untuk membuat
barang jadi. - Sektor Perindustrian
Sektor terdiri dari perusahaan yang menjual produk dan jasa yang secara umum
untuk konsumsi industri, barang yang dijual adalah barang jadi bukan bahan
baku. - Sektor Barang Konsumen Primer
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi serta mendistribusikan
produk dan jasa yang umum untuk konsumen dalam bentuk barang primer.
17 - Sektor Barang Konsumen Non- Primer
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi serta mendistribusikan
produk dan jasa yang umum untuk konsumen dalam bentuk barang sekunder. - Sektor Kesehatan
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi dan memberikan pelayanan
di bidang kesehatan. - Sektor Keuangan
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menyediakan pelayanan jasa keuangan. - Sektor Properti & Real Estate
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang mengembangkan properti & real estate
serta perusahaan memberikan jasa pendukung di sektor ini. - Sektor Teknologi
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menjual produk dan jasa yang berkaitan
dengan teknologi. - Sektor Infrastuktur
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang menyediakan dan berkaitan dengan
pembangunan serta pengadaan infrastuktur. - Sektor Transportasi & Logistik
Sektor ini terdiri dari perusahaan yang berfokus pada jasa pengantaran dan
pengangkutan. - Sektor Produk Investasi Tercatat
Sektor ini terdiri dari produk – produk investasi yang terdaftar dalam Bursa
Efek Indonesia
Teori Signaling
Teori sinyal / signaling adalah teori untuk mempelajari Tindakan dari
manajemen perusahaan dalam memberikan informasi kepada para investor yang
kemudian akan mempengaruhi keputusan dan pandangan investor terhadap kondisi
perusahaan (Suganda, 2018). Informasi yang didapatkan oleh investor dapat dibagi
menjadi 2 macam yaitu sinyal baik dan sinyal buruk, sinyal yang baik dapat
dicontohkan seperti jika laba perusahan mengalami kenaikan ini merupakan sinyal
baik bagi para investor sedangkan jika laba di laporkan menurun hal ini merupakan
sinyal buruk bagi investor. Sinyal ini merupakan informasi yang sangat penting
karena memberikan gambaran dan keterangan dari perusahaan baik masa kini, masa
lalu maupun masa yang akan datang untuk kelangsungan perusahaan. Informasi
relevan, lengkap, akurat, serta tepat waktu diperlukan oleh investor untuk
menganalisis dan mengambil keputusan investasi.
Menurut (Yanti & Abundanti, 2019) teori signaling mengasumsikan bahwa
informasi yang didapatkan dari masing-masing pihak itu berbeda. Teori ini
menunjukan bahwa terdapat asimetri informasi antara pihak manajemen
perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Pihak
yang berkepentingan bisa mendapat kan informasi melalui laporan keuangan yang
diterbitkan. Teori ini secara terperinci menjelaskan bahwa bahwa pihak yang berada
didalam lingkungan perusahaan seperti manajer dan direktur biasanya memiliki
informasi yang lebih bagus dan tepat tentang keadaan perusahaan dibandingakan
dengan pihak diluar lingkungan perusahaan seperti investor, kreditur dan
pemerintah(Ghozali, 2020)
Teori Stakeholder
Menurut (Freeman, 1984) Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan harus
bertanggung jawab kepada para stakeholder selain hanya beroperasi untuk
kepentingan pribadi. Stakeholder merupakan individu atau sekelompok masyarakat
yang secara parsial maupun keseluruhan yang memliki kepentingan disuatu
perusahaan. Menurut Ghozali & Chariri dalam(Fardelia Safira & Tituk Diah
Widajantie, 2021) Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukan hanya
suatu badan usaha yang berjalan untuk kepentingan pribadi tetapi juga harus
memberikan manfaat kepada para stakeholder seperti pemegang saham, konsumen,
kreditur, supplier, pemerintah dan semua orang yang berkepentingan diperusahaan
tersebut. Menurut Budimanta dalam(Cahyono, Dwi & Qomariah, 2017). Maka
keberadaan dari suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan dari
stakeholder untuk perusahaan tersebut.
Secara umum stakeholder dibagi menjadi dua pendekatan yakni:
- Old-corporate Relation, merupakan pendekatan yang berfokus pada pelaksanaan
aktivitas perusahaan dimana fungsi perusahaan dalam pekerjaan dilakukan
secara terpisah tanpa adanya kesatuan, di pendekataan ini hubungan pemimpin
dan karyawan serta pemasok berjalan dalam satu arah,kaku dan umumnya
berorientasi jangka pendek. Pendekatan ini biasanya menghasilkan banyak
konflik dikarenakan perusahaan terpisah dengan stakeholder-nya, baik itu
stakeholder dari dalam maupun luar perusahaan.
12 - New-corporate Relation, merupakan pendekatan yang berfokus pada kolaborasi
antara seluruh stakeholder dan perusahaan sehingga perusahaan bukan lagi
bagian bekerja sendiri namun bekerja dalam social masyarakat sehingga
profesionalitas merupakah hal utama dari hubungan pendekatan ini. Pendekatan
ini menghilangakan kesenjangan status dari stakeholder perusahaan yang
menerapkan pendekatan Old-corporate Relation.
Gray,Kouhy dan Adams dalam (Ghozali, 2020) menyatakan bahwa
kelangsungan hidup dari suatu perusahaan sangan tergantung oleh dukungan
stakeholder, semakin kuat stakeholder semakin besar perusahaan dapat beradaptasi.
Menurut Deegan dalam (Ghozali, 2020) kekuatan dari stakeholder diukur dari besar
kecilnya kuasa mereka terhadap suatu sumber daya, seperti kemampuan utuk
membatasi sumber ekonomi yang terbatas, kemampuan dalam mengatur
perusahaan, kemampuan dalam mengakses media berpengaruh dan kemampuan
dalam mempengaruhi konsumsi terhadap barang dan jasa yang diproduksi
perusahaan. Menurut Ullman dalam (Ghozali, 2020) perusahaan cenderung akan
memilih stakeholder yang dianggap penting dan berkuasa yang kemudian
perusahaan akan berusaha mengambil tindakan yang bisa membuat hubungan
interaksi antara perusahaan dan stakeholder tersebut terjaga dan harmonis. Teori ini
membantu untuk mempertimbangkan bagaimana perusahaan berinteraksi dengan
masyarakat dan komunitasnya, dan bagaimana persepsi publik terhadap perusahaan
dapat mempengaruhi sentimen investor dan Return saham.
COVID-19
Coronavirus disease 2019 merupakan penyakit menyebar yang
disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang merupakan bagian keluarga besar
coronavirus. Penyakit ini menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan yang
secara genetik jenis virus ini sangat berbeda dengan virus SARS-CoV dan
MERS-CoV. Penyakit ini memiliki kesamaan dengan keduanya, menular dan
menyebar melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin. Kontak langsung
dan penularan aerosol menjadi rute utama dalam penyebaran penyakit ini.
Penelitian Doremalen et al. (2020) menemukan bahwa virus SARS CoV-2
mampu bertahan hingga tiga hari di plastik dan stainless steel dan bertahan
selama 3-4 jam dalam aerosol. Tetesan aerosol oleh penderita di ruangan
tertutup lebih memudahkan penularan karena konsentrasi aerosol di ruang
relatif tertutup.
Penyebaran Covid-19 menyebabkan seluruh negara harus menerima
segala tantangan, hambatan, dan ketidakpastian serta perlambatan ekonomi
global. Pandemi memberikan dampak pada segala aspek baik mikro maupun
makro. Pembatasan kegiatan menyebabkan menurunnya permintaan tenaga
kerja, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor mengambil tindakan PHK,
menurunnya pendapatan masyarakat berdampak pada penurunan konsumsi.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan perekonomian Indonesia 2020
12
mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2.07% (BPS, 2020). Sektor
pertanian tumbuh 2.6% (YoY) didorong oleh sub sektor perikanan, pertanian,
perburuan serta peternakan, tanaman pangan tumbuh hingga 10.5%, tanaman
hortikultura tumbuh sebesar 7.8%. Meningkatnya produksi dan permintaan
padi, jagung, ubi kayu, sayuran dan buah-buah selama pandemi.
Sektor informasi dan komunikasi meningkat sebesar 10.9%
disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat akan sarana
dan prasarana informasi dan komunikasi. Subsektor kimia, farmasi dan obat
tradisional tumbuh sebesar 8.4%, disebabkan meningkatnya permintaan
domestik dan alat-alat kesehatan. Industri makanan dan minuman tumbuh
sebesar 1.7%. Industri pengolahan turun sebesar 19% (YoY) kontraksi yang
cukup dalam disebabkan turunnya permintaan pasar pada mobil dan motor.
Sektor konstruksi turun sebesar 5.7% disebabkan turunnya kebutuhan
konstruksi. Sektor transportasi dan akomodasi turun sebesar 13.4% hal ini
disebabkan turunnya permintaan transportasi dan pemberlakuan restriksi
perjalanan di berbagai negara. Sektor informasi dan komunikasi meningkat
sebesar 10.9% disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat
akan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi. Sektor industri
pengolahan mengalami kontraksi sebesar 3.1% (YoY) disebabkan penurunan
daya beli masyarakat, turunnya utilitas produksi, dan lesunya aktivitas
perdagangan global (BPS,2020)
Abnormal Return
Return normal merupakan return yang seharusnya diperoleh jika
tidak terjadi suatu peristiwa. Untuk menghitung return normal terdapat
beberapa model yang dapat digunakan yaitu: 1) Model tanpa sesuaian resiko
meliputi mean adjusted model, market adjusted model, dan /random-walk
model, 2) Model sesuaian risiko meliputi market model, CAPM model, zero
beta market, model varian/variance model, model indeks jamak/multi index
model, 3) Model control portofolio model . Penelitian ini menggunakan model
CAPM/CAPM model dengan pertimbangan model ini mengestimasi
menggunakan risiko pasar untuk mempertimbangkan return yang
ekspektasinya.
Abnormal return merupakan selisih dari return yang sesungguhnya
terjadi terhadap return normal. Beberapa cara menghitung abnormal return,
yaitu: 1) Return abnormal selisih antara return sesungguhnya dengan return
ekspektasian, 2) Average abnormal return/ rerata return tak normal dilakukan
secara keseluruhan sekuritas secara cross-sectional, 3) Cumulative abnormal
return yakni penjumlahan return tak normal hari sebelumnya di dalam periode
pengamatan untuk masing-masing saham.
Studi Peristiwa
Studi peristiwa merupakan suatu studi perisiwa sebagai studi yang
melibatkan perilaku harga sekuritas sekitar waktu suatu kejadian atau
pengumuman informasi (Bowman, 1983). Studi peristiwa banyak diteliti karena
mengukur langsung pengaruh peristiwa terhadap harga saham perusahaan saat
terjadinya peristiwa. Suatu peristiwa mengandung informasi, ditunjukkan
dengan oleh adanya abnormal return. Semakin besar kejutan yang diberikan,
semakin besar pula reaksi pasar. Apabila pasar bereaksi terhadap peristiwa
return tak normal akan diperoleh signifikan berbeda dengan nol (Hartono,
2018). Suatu informasi dianggap sebagai kabar baik atau kabar buruk, jika
informasi tersebut mengandung nilai ekonomis meningkatkan (menurunkan)
nilai perusahaan, maka akan dikategorikan sebagai kabar baik atau buruk.
Studi peristiwa terdiri dari periode jendela (window period) yakni
periode terjadinya peristiwa dan pengaruhnya, dan pengaruh estimasi
(estimation period) untuk mengestimasi return ekspektasian. Peristiwa yang
terjadi dan efek dari suatu peristiwa dapat diamati lewat jendela yang ada.
Periode jendela harus diperhatikan, sebab periode yang terlalu pendek
kemungkinan tidak akan dapat menangkap peristiwanya secara utuh. Tetapi
periode jendela yang terlalu panjang juga tidak baik, dikarenakan peristiwa
lainnya akan mengganggu karena tertangkap di jendela. Peristiwa yang
mengganggu disebut dengan confounding events atau peristiwa-peristiwa
penggangu.
Metode studi peristiwa atau event study method telah banyak
digunakan untuk memperkirakan dampak reaksi dari peristiwa tertentu. Peneliti
Adnan & Hossain (2016) meneliti reaksi harga saham akibat pengumuman
merger, Gumanti et al. (2018) meneliti reaksi pasar saham Malaysia peristiwa
kecelakaan pesawat AirAsia, Lam et al. (2019) meneliti peristiwa pengumuman
10
implementasi 3D printing pada perusahaan manufaktur, Ismail et al. (2019)
meneliti peristiwa pengumuman perevisian klasifikasi sektor bisnis dan indeks
sektoral di Bursa Malaysia, Rundengan et al. (2017) meneliti peristiwa politik
pelantikan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan. Metode studi peristiwa
mengidentifikasi pergerakan suatu harga saham, menangkap reaksi pasar yang
tercermin dalam pengembalian saham harian.
Pada tahun 2003 juga pernah terjadi peristiwa epidemi Severe acute
respiratory syndrome (SARS) penyakit pernapasan dengan mirip gejala
pneumonia mendapat perhatian dunia pada tahun 2003. SARS berasal dari
provinsi Guangdong Cina selatan pada pertengahan November. Peneliti Chen et
al. (2007) meneliti dampak wabah SARS (penyakit saluran pernapasan masih
kelompok virus yang sama yakni coronavirus) pada kinerja stok hotel di
Taiwan, menemukan abnormal return yang negatif. Kepanikan global tentang
SARS dan liputan media yang intensif mengakibatkan respon pasar yang tidak
rasional, kepanikan dan aksi jual serta transfer saham ke saham yang lain pun
terjadi.
Pasar Efisien
Pasar efisien merupakan pasar dimana harga sekuritas dan nilai
investasi sepanjang waktu sama yang artinya setiap sekuritas menjual pada
harga yang wajar setiap waktu (Suganda, 2018). Fama (1970) membagi pasar
efisien menjadi 3 bagian yakni pasar efisien bentuk kuat (strong form). pasar
efisien setengah kuat (semi strong form) dan pasar efisien lemah (weak form).
a. Pasar efisien bentuk kuat (strong form) artinya harga saham secara
penuh mencerminkan semua informasi yang bersifat privat atau
informasi yang tersedia hanya untuk orang dalam karena alasan strategi.
Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui pengujian terhadap informasi
privat dengan menggunakan proksi yakni return yang diperoleh oleh
corporate insider dan return yang diperoleh dari portofolio reksa dana
(Eliyawati et al., 2014)
b. Pasar efisien setengah kuat (semi strong form) artinya harga saham
secara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan
seperti aksi korporasi, informasi tersebut yang akan mempengaruhi
harga saham. Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui studi peristiwa (event
studies) (Eliyawati et al., 2014).
c. Pasar efisien lemah (weak form) artinya harga saham secara penuh dari
informasi di masa lalu. Pasar efisiensi ini dapat diuji melalui pengujian
pendugaan return dengan secara statistik dan aturan perdagangan teknis
(Eliyawati et al., 2014)
Sentimen Investor
Pergerakan saham yang dramatis telah menjadi topik yang
diperdebatkan bagi para praktisi dan sarjana (Baker & Wurgler, 2004). Pada
tahun 1980-an studi mengenai perilaku keuangan mulai mendapatkan perhatian
yang dimana ketika teori klasik hipotesis pasar efisien (efficient market
hypothesis/EMH) gagal menjelaskan volatilitas berlebih di pasar (Shiller, 1984).
Tahun 1990-an para peneliti menganalisis peran sentimen investor terhadap
pergerakan pasar saham. Terdapat dua asumsi kesalahan pasar, pertama investor
memiliki sentimen dan bertindak berdasarkan kebisingan dalam berbagai
bentuk ketidakpastian Shleifer & Summers (1990) dan kedua batasan arbitrase
oleh pedagang rasional tidak dapat memperbaiki kesalahan harga yang berlaku
karena berbagai biaya (Sheilfer & Vishny, 1997).
Sejauh ini terdapat dua jenis pengukuran sentimen, pertama
pengukuran langsung dalam bentuk kuesioner sikap dan kedua pengukuran dari
indeks yang bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif (Mehrani et al., 2016).
Baker & Wurgler (2004) meneliti efek sentimen investor pada data crosssectional return saham. Ketika sentimen tampak tinggi, saham yang cenderung
relatif menarik bagi optimis dan spekulan dan pada saat yang sama calon yang
tidak menarik untuk arbitrase – saham muda, saham kecil, saham tidak
menguntungkan, saham yang tidak membayar dividen, stok volatilitas tinggi ,
saham dengan pertumbuhan ekstrem, dan saham tertekan – mengalami
pengembalian yang rendah di masa depan dibandingkan dengan saham lainnya.
Sementara Long et al. (1990) menyatakan bahwa terdapat dua tipe investor,
investor yang rasional dan investor tidak rasional. Investor yang rasional
memiliki makna bebas sentimen sedangkan investor yang tidak rasional
cenderung mengalami sentimen, keduanya bersaing di pasar dan menentukan
8
harga serta return. Apabila salah satunya memiliki dominasi maka akan
mengarah pada terbentuknya pasar yang tidak efisien.
Indikator Harga
Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan manfaat produk
- Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga
Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:
- Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
memengaruhi tingkat harga yang berlaku. - Price elasticity
Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
harga, volume penjualan akan meningkat. - Non price factor
Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
produk demi harga yang lebih rendah. - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan. - Faktor legal dan etis
Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
monopoli atau oligopoli. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya. - Ukuran bisnis
Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing. - Persaingan
Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. - Sifat pasar
Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
monopolistik, oligopoli, atau monopoli
Pengertian Harga
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2016: 218) menyatakan bahwa
penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Disamping itu, harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksible,
artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk
atau komitmen terhadap saluran distribusi. Kedua hal tersebut tidak dapat diubah
dengan mudah dan cepat, karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Hasan dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4) menyatakan
bahwa harga adalah segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh
konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanan dari suatu produk
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:
- Keseluruhan Produk,
- Keandalan,
- Ketepatan,
- Kemudahan Pengoperasian,
- Atribut Bernilai Lainnya
Pengertian Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 189) menyatakan bahwa meskipun
kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri
pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan, pertama produk harus
mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya yang
mana tidak perlu melebihi. Sedangkan menurut Nelly Nailatie Ma’arif (2008:
114) menyatakan bahwa “a product quality is a good that satisies the needs of the
consumer and is serving the objective of the existence of an organization. For a
business corporation, a product has to have value to be financially proftable. A
product is tangible in the nature”. Yang artinya suatu kualitas produk merupakan
barang yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan dari
perusahaan. Untuk suatu bisnis, produk harus memiliki nilai yang menguntungkan
secara finansial dan berwujud.
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:
- Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
diandalkan dan akurat. - Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat. - Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin. - Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
- Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Model Kualitas Jasa
Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:
- Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
manajemen mengenai harapan pengguna jasa. - Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
adanya penyusunan tujuan. - Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
pelanggan
b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
mereka tidak memuaskan semua pihak.
c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
penilaian dan sistem imbalan.
f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
menentukan cara pelayanan.
g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
secara bersama-sama dan terpadu. - Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran. - Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
dan dampak positif
Lima Perspektif Kualitas Pelayanan
Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.
- Transcendental Approach
Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa. - Product based approach
Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
dan berat yang berbeda-beda. - User based approach
Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
masing-masing. - Manufacturing based approach
Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktikpraktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
23
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirement). - Value based approach
Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
(price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
berkualitas
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya.
Hubungan Harga Dengan Loyalitas Pelanggan
Harga merupakan variabel yang mempunyai hubungan dengan loyalitas
pelanggan. Harga juga akan dapat mempengaruhi pelanggan dalam melakukan
tindakan memutuskan membeli atau tidak terhadap sebuah produk. Jika harga
produk sesuai dengan kualitas yang diberikan maka loyalitas pelanggan akan
semakin tinggi. Harga juga merupakan faktor penting yang mempengruhi
loyalitas pelanggan sebagaimana di sampaikan oleh Swasta dan Irawan (2002)
loyalitas pelanggan sering menjadi latar belakang pembelian konsumen. Ada 6
faktor yang menentukan adanya motif berlangganan, yaitu: lokasi penjualan
yang strategis, pelayanan yang baik, tempat persediaan yang mudah tercapai,
dan tidak ramai, harga, penggolongan barang, servis yang ditawarkan, dan toko
yang menarik
Hubungan Kualitas Pelayanan Dengan Harga
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen. Semakin
baik kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen. Tak jarang konsumen dapat menerima harga yang
diberikan dikarenakan kualitas pelayanan yang diberikan sangat baik dan
memuaskan.
Harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya (Swasta dan Irawan, 2002).
Harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan, yaitu
peranan alokasi dan peranan informasi. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi
harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh
manfaat atau utilities tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya.
Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen
mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas
Indikator Loyalitas
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan indikator loyalitas menurut
(Tjiptono, 2014) yang menjelaskan bahwa Indikator loyalitas konsumen sebagai
berikut:
a. Melakukan pembelian ulang adalah niat beli yang dilakukan konsumen
lebih dari satu kali pembelian
b. Merekomendasikan kepada pihak lain adalah menyarankan atau
merekomendasikan kepada orang lain mengenai produk yang ia beli
c. Tidak berniat untuk pindah adalah konsumen setia terhadap produk atau
merek yang disukai nya dan enggan berpindah merek
d. Membicarakan hal-hal positif adalah berbicara hal-hal positif produk yang
dibeli.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas
Menurut Hasan (2014) faktor utama yang mempengaruhi loyalitas
pelanggan adalah :
a. Kepuasan Pelanggan (Customer satisfaction)
Kepuasan pelanggan dipertimbangkan sebagai prediktor kuat
terhadap kesetian pelanggan termasuk rekomendasi positif, niat membeli
ulang dan lain-lain.
b. Kualitas Produk atau layanan (Service quality)
Kualitas produk atau layanan berhubungan kuat dengan kesetiaan
pelanggan. Kualitas meningkatkan penjualan dan meningkatkan penguasaan
pasar, dan mengarahkan/ memimpin konsumen ke arah kesetiaan.
c. Citra Merek (Brand Image)
Citra merek muncul menjadi faktor penentu kesetiaan pelanggan
yang ikut serta membesarkan/membangun citra perusahaan lebih positif.
d. Nilai yang dirasakan (Perceived value)
Nilai yang dirasakan merupakan perbandingan manfaat yang
dirasakan dan biaya-biaya yang dikeluarkan pelanggan diperlakukan
sebagai faktor penentu kesetiaan pelanggan.
e. Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan didefenisikan sebagai persepsi kepercayaan terhadap
keandalan perusahaan yang ditentukan oleh konfirmasi sistematis tentang
harapan terhadap tawaran perusahaan.
f. Relasional pelanggan (customer relationship)
Relasional pelanggan didefenisikan sebagai persepsi pelanggan
terhadap proporsionalitas rasio biaya dan manfaat, rasio biaya dan
keuntungan dalam hubungan yang terus menerus dan timbal balik.
g. Biaya Peralihan (Switching cost)
Dalam kaitannya dengan pelanggan, switching cost ini menjadi
faktor penahan atau pengendali diri dari perpindahan pemasok/penyalur
produk dan mungkin karenanya pelanggan menjadi setia.
h. Dependabilitas (Reliability)
Tidak hanya sebatas kemampuannya menciptakan superior nilai bagi
pelanggan, tetapi juga mencakup semua aspek capaian organisasi yang
berkaitan dengan apresiasi publik terhadap perusahaan secara langsung
berdampak pada kesetiaan pelanggan
Pengertian Loyalitas Pelanggan
Loyalitas adalah suatu kondisi psikologis yang berkaitan dengan sikap
terhadap suatu produk, konsumen akan membentuk keyakinan, suka atau tidak
suka, dan memutuskan apakah mereka ingin membeli produk atau tidak (Ajzen,
1988 dalam (Fernandes, 2018)). Dalam bisnis, loyalitas pelanggan memegang
peranan penting dalam sebuah perusahaan karena mempertahankan pelanggan
berarti meningkatkan kinerja keuangan dan mempertahankan kelangsungan
hidup perusahaan. Ini adalah alasan utama bagi perusahaan untuk
mempertahankan pelanggannya. Upaya untuk mendapatkan tarif setia tidak bisa
dilakukan sekaligus, tapi melalui beberapa tahapan mulai dari mendapatkan
calon pelanggan hingga mendapatkan mitra.
Loyalitas pelanggan dijelaskan sebagai kombinasi dari sikap yang
disukai klien dan perilaku pembelian kembali (Kim, et al., 2004). Loyalitas
pelanggan telah di identifikasi sebagai faktor utama dalam keberhasilan
perusahaan. Pentingnya loyalitas pelanggan terkait erat dengan kelangsungan
bisnis yang berkelanjutan dan pengaruh pertumbuhan di masa depan (Kim, et al.,
2004).
Kemudian menurut (Griffin, 2005) loyalitas pelanggan adalah seorang
konsumen dikatakan setia atau loyal apabila konsumen menunjukkan perilaku
pembelian secara teratur atau terdapat suatu kondisi dimana mewajibkan
konsumen membeli paling sedikit dua kali dalam selang waktu tertentu. Hal
tersebut sesuai dengan yang disampaikan (Oliver, 1997) loyalitas konsumen
adalah komitmen yang dipegang teguh untuk membeli kembali atau
merepatronisasi yang disukai layanan produk secara konsisten di masa depan,
terlepas dari pengaruh situasional dan pemasaran upaya membuat potensi untuk
menyebabkan perilaku switching
Indikator Harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2016: 78), terdapat empat indikator yang
mencirikan harga yaitu:
a. Keterjangkauan harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya
juga berbeda dari yang termurah sampai termahal.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen,
orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang
cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari
uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk
tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan
pembelian ulang.
d. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan
Tujuan Penetapan Harga
Menurut Tjiptono dan Diana (2016: 220), Pada dasarnya terdapat
banyak tujuan penetapan harga. Berikut ini adalah beberapa di antaranya,
sebagai berikut:
a. Survival
Salah satu tujuan pokok penetapan harga yaitu demi survival
(kelangsungan hidup) perusahaan. Survival adalah usaha untuk tidak
melakukan tindakan-tindakan yang meningkatkan laba saat perusahaan
sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini
dilakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.
b. Memaksimalkan Laba
Penentuan harga bertujuan untuk memaksimalkan laba dalam
periode tertentu.
c. Return On Investment (ROI)
Tujuan penentuan harga didasarkan atas pencapaian
pengembalian atas investasi (return on investment) yang diinginkan.
Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang ditanam
perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat akan mempercepat
tercapainya modal kembali/ROI.
d. Pangsa Pasar
Perusahaan menetapkan tingkat harga agar dapat
mempertahankan atau meningkatkan penjualan secara relatif
dibandingkan penjualan para pesaing. Dengan menetapkan harga
rendah dibandingkan produk pesaing, dapat mengalihkan perhatian
konsumen dari produk para pesaing dan dapat menggapai pangsa pasar.
e. Aliran Kas
Sebagian perusahaan menetapkan harga agar dapat menghasilkan
kas secepat mungkin. Tujuan ini biasanya dipilih saat perusahaan ingin
menutup biaya pengembangan produk secepatnya. Selain itu, jika siklus
hidup produk diperkirakan berlangsung singkat, maka tujuan ini dapat
menjadi pilihan strategik.
f. Mempertahankan Status Quo
Dalam kasus-kasus tertentu, perusahaan berada dalam posisi
kompetitif yang mapan dan berharap dapat mempertahankan status quo.
Tujuan status quo bisa berfokus pada sejumlah dimensi, seperti
mempertahankan pangsa pasar tertentu, menyamai (namun tidak
mengalahkan) harga pesaing, mewujudkan stabilitas harga, dan
mempertahankan citra publik yang positif. Tujuan semacam ini
membantu perusahaan menekan risiko dengan jalan menstabilkan
permintaan produk.
g. Kualitas Produk
Citra kualitas produk dapat dibentuk melalui strategi penetapan
harga. Contohnya, harga mahal sering kali dijadikan indikator kualitas
tinggi oleh para konsumen. Upaya menghasilkan produk berkualitas
tinggi biasanya membutuhkan biaya besar, diantaranya biaya riset dan
pengembangan, serta bahan baku yang digunakan. Namun demikian,
konsumen mempersepsikan produk dan merek spesifik berkualitas
tinggi, maka produk dan merek bersangkutan berpeluang survive lebih
besar dalam pasar yang sangat kompetitif. Konsumen mempercayai
merek dan produk tersebut sekalipun harganya lebih mahal.
Faktor – Faktor Harga
Ada beberapa faktor penentu yang perlu dipertimbangkan perusahaan
dalam menetapkan harga menurut Kotler dan Keller (2016: 491-492), yaitu:
a. Mengenal permintaan produk dan pesaingan
Besarnya permintaan produk dan banyaknya pesaing juga
mempengaruhi harga jual, jadi jangan hanya menentukan harga sematamata didasarkan pada biaya produksi, distribusi dan promosi saja.
b. Target pasar yang hendak dilayani atau diraih
Semakin menetapkan target yang tinggi maka penetapan harga
harus lebih teliti.
c. Marketing mix sebagai strategi
d. Produk baru
Jika itu produk baru maka bisa ditetapkan harga yang tinggi ataupun
rendah, tetapi kedua strategi ini mempunyai kelebihan dan kelemahan
masingmasing. Penetapan harga yang tinggi dapat menutup biaya riset,
tetapi juga dapat menyebabkan produk tidak mampu bersaing di pasar.
Sedangkan dengan harga yang rendah jika terjadi kesalahan peramalan
pasar, pasar akan terlalu rendah dari yang diharapkan. Maka biaya-biaya
tidak dapat tertutup sehingga perusahaan mungkin menderita kerugian.
e. Reaksi pesaing
Dalam pasar yang semakin kompetitif maka reaksi pesaing ini harus
selalu dipantau oleh perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan
harga yang dapat diterima pasar dengan mendatangkan keuntungan.
f. Biaya produk dan perilaku biaya
g. Kebijakan
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman et al. (1988) mengungkapkan ada 22 faktor
penentu service quality yang dirangkum ke dalam lima faktor dominan atau
lebih dikenal dengan istilah SERVQUAL, yaitu reliability, responsiveness,
assurance, empathy, dan tangible (Steven Darwin,et, al,. 2014). Dengan
penjelasan sebagi berikut :
a. Reliability
Kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan handal
dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti bahwa perusahaan
memberikan janji-janjinya tentang penyediaan, penyelesaian masalah, dan
harga..
b. Responsiveness
Kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat. Dimensi ini menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika
berurusan dengan permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan.
c. Assurance.
Pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan karyawan untuk
menimbulkan keyakinan dan kepercayaan. Dimensi ini mungkin akan
sangat penting pada jasa layanan yang memerlukan tingkat kepercayaan
cukup tinggi. Contohnya seperti di bank, asuransi, dan dokter.
d. Emphaty
Kepedulian dan perhatian secara pribadi yang diberikan kepada
pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah menunjukkan kepada pelanggan
melalui layanan yang diberikan bahwa pelanggan itu spesial, dan kebutuhan
mereka dapat dimengerti dan dipenuhi.
e. Tangible
Berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, staff dan bangunannya.
Dimensi ini menggambarkan wujud secara fisik dan layanan yang akan
diterima oleh konsumen. Contohnya seperti fasilitas toko, kebersihan dan
kenyamanan ruang yang digunakan untuk transaksi serta kerapian
penampilan pegawai.
Manfaat Kualitas Pelayanan
Menurut Kotler dan Keller (2016 :158) terdapat lima manfaat kualitas
layanan,yaitu :
a. Mengidentifikasi dengan benar kebutuhan dan persyaratan pelanggan.
b. Menyampaikan harapan pelanggan kepada perancang produk.
c. Memastikan pesanan pelanggan dipenuhi dengan benar dan tepat waktu.
d. Tetap berhubungan dengan pelanggan setelah penjualan untuk memastikan
bahwa mereka puas.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa
kualitas layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan
adanya tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan,
yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality) : kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality) : didefinisikan sebagai evaluasi yang
dilakukan konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang
diterimanya, termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.
Menurut Davis dan Heineke (2003: 295) kualitas layanan itu sendiri
adalah suatu konsep yang sangat luas yang mencakup banyak dimensi
diantaranya adalah:
a. Keramahan karyawan pada saat melayani pelanggan,
b. Kemudahan akses untuk mendapatkan layanan,
c. Pengetahuan karyawan,
d. Kecepatan pelayanan kepada pelanggan,
e. Kenyamanan saat menunggu pelayanan.
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Menurut (Tjiptono, 2014), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan:
a. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan
berkualitas terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi
penilaian konsumen seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan
kartu kredit atau debit), keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini
dilakukan untuk membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan
yang telah diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor
tersebut, perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian
yang lebih baik di mata pelanggan.
b. Mengelola ekspektasi pelanggan
Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan
dengan berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji
sehingga itu menjadi bumerang untuk perusahaan apabila tidak dapat
memenuhi apa yang telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang
diberikan, semakin besar pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih
bijak dalam memberikan janji kepada pelanggan.
c. Mengelola bukti kualitas layanan
Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan
selama dan sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang
bersifat tangible, sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan
cendrung memperhatikan seperti apa layanan yang akan diberikan dan seperti
apa layanan yang telah diterima. Sehingga dapat menciptakan persepsi
tertentu terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
d. Mendidik konsumen tentang layanan
Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk
mewujudkan proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif
dan efisien. Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara
lebih baik dan memahami perannya dalam proses penyampaian layanan.
Sebagai contoh :
1) Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
melakukan sendiri layanan tertentu.
2) Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
3) Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
4) Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
e. Menumbuhkan budaya kualitas
Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan
dengan diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi
dari yang teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan
dalam peningkatan kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun
dapat pula memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu:
1) Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
2) Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
struktur pelaporan.
3) Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan
keluhan serta kepuasan konsumen.
4) Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
database, dan teknis.
5) Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
alat-alat promosi/ penjualan.
6) Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam
operasional.
7) Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan. f. Menciptakan automating quality
Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya
sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan
perhatian dalam aspek-aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemenelemen yang memerlukan otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara
kedua hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan
penyampaian layanan secara efektif dan efisien. Contoh, internet banking,
phone banking, dan sejenisnya.
g. Menindaklanjuti layanan
Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspekaspek layanan yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah
baik. Dalam rangka ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap
sebagian atau seluruh konsumen mengenai layanan yang telah diterima.
Sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan
di mata konsumen.
h. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
Service quality information system adalah sistem yang digunakan
oleh perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil
dari masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta
informasi mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk
memahami suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan
persepsi konsumen terhadap layanan yang diberikan perusahaan.
Sehinggaperusahaan dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan
berdasarkan sudut pandang konsumen
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan
pelanggan (Tjiptono,2011:59). Lewis dan Booms dalam (Wijaya, 2011)
menjelaskan kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat
layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kualitas
pelayanan merupakan komponen penting dalam persepsi konsumen, juga sangat
penting dalam pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. Semakin baik
kualitas maka jasa yang diberikan maka akan semakin baik pula citra jasa
tersebut dimata konsumen.
Pendapat lain dikemukan oleh Sunyoto (2012:236) bahwa kualitas
pelayanan merupakan suatu ukuran untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa
telah mempunyai nilai guna seperti yang dikendaki atau dengan kata lain suatu
barang atau jasa dianggap telah memiliki mutu apabila berfungsi atau
mempunyai nilai guna seperti yang diinginkan.
Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang
diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas layanan
dipersepsikan ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari
pada yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan buruk. Dengan
demikian baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan
penyedia layanan dalam memenuhi harapan pelanggan secara konsisten.
Pengertian Administrasi Kependudukan
Berdasarkan Undang – Undang Nomor 24 tahun 2013 Tentang Perubahan
Atas Undang – Undang No. 23 tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
yang dimaksud dengan Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan
penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan
melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi
Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik
dan pembangunan sektor lain.
Secara umum administrasi kependudukan memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu:
1) Fungsi hukum, yaitu memberikan kepastian hukum, menjamin keadilan
dan memberikan kesejahteraan kepada penduduk sesuai dengan
martabat kemanusiaan.
2) Fungsi registrasi, memberikan pengakuan dan pengesahan status
perdata seseorang dan membentuk data mikro bagi proses
pembangunan, guna perumusan kebijakan – kebijakan yang
berwawasan kependudukan (people centred development).
