Citra Perusahaan

Terdapat beberapa perbedaan definisi ataupun pandangan mengenai citra
perusahaan, dimana perbedaan pandangan ini bergantung pada luas citra
dibangun di benak konsumen. Citra atau image berkaitan dengan reputasi
sebuah merek atau perusahaan. Citra adalah persepsi konsumen tentang
kualitas yang berkaitan dengan merek atau perusahaan. Citra perusahaan
didefinisikan sebagai persepsi tentang sebuah organisasi yang ada dalam
ingatan pelanggan.
Citra adalah konsep yang mudah dimengerti, tetapi sulit dijelaskan secara
sistematis karena sifatnya abstrak. Citra sebagai jumlah dari gambaarangambaran, kesan-kesan, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki seseorang
terhadap suatu objek (Sangadji dan Sopiah, 2013:327). Menurut Sutojo
(2011:63) citra perusahaan dianggap sebagai persepsi masyarakat terhadap jati
diri perusahaan atau organisasi.
Citra adalah perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan,
organisasi, atau lembaga; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu
objek, orang atau organisasi (Ardianto, 2011:62). Dapat disimpulkan citra
adalah gambaran diri baik personal, organisasi maupun perusahaan yang
sengaja dibentuk untuk menunjukan kepribadian atau ciri khas.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa citra
merek merupakan asosiasi-asosiasi yang muncul dan terbentuk didalam benak
konsumen, dapat berupa positif dan negatif tergantung dari pemikiran setiap
orang yang diciptakan atau dipelihara oleh pemasar.
Citra perusahaan berhubungan dengan fisik dan atribut yang
berhubungan dengan perusahaan seperti nama, bangunan, produk atau jasa,
untuk mempengaruhi kualitas yang dikomunikasikan oleh setiap orang supaya
tertarik dengan perusahaan. Citra atau image menggambarkan keseluruhan
kesan yang dibuat publik tentang perusahaan dan produknya. Jadi citra (image)
dipengaruhi oleh banyak faktor diluar kontrol perusahaan.
Menurut Kotler dan Keller (2012:274) informasi yang lengkap mengenai
citra perusahaan meliputi 4 elemen sebagai berikut:
1. Kepribadian
Keseluruhan karakteristik yang dipahami publik sasaran seperti perusahaan
yang dapat dipercaya. Perusahaan yang mempunyai tanggung jawab.
2. Reputasi
Hak yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini publik sasaran
berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain seperti kinerja
keamanan transaksi sebuah bank.
3. Nilai
Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain budaya
perusahaan seperti sikap manajemen yang peduli terhadap pelanggan,
karyawan yang cepat tanggap terhadap permintaan maupun keluhan
pelanggan.
4. Identitas
Komponen-komponen perusahaan yang mempermudah pengenalan publik
sasaran terhadap perusahaan seperti logo, warna dan slogan.
Frank Jefkins menyebutkan beberapa jenis citra (image). Berikut adalah
lima jenis citra yang dikemukakan, yakni :
1. Citra Bayangan (Mirror Image)
Citra jenis ini adalah citra yang diyakini oleh perusahaan bersangkutan
terutama pihak manajemen yang tidak percaya “apa dan bagaimana” kesan
pihak luar terhadap institusi yang dipimpinnya, tidak selamanya dalam
posisi yang baik.
2. Citra Kini (Current Image)
Citra yang sekarang dimiliki oleh pihak luar dalam memandangi institusi
tersebut. Ada kemungkinan “citra kini” yang dimiliki oleh sebuah institusi
adalah citra yang buruk atau negatif.
3. Citra Harapan (Wish Image)
Citra yang menjadi harapan dan cita-cita dari suatu institusi yang hendak
ditampilkan kepada publiknya. Idealnya citra sebuah institusi adalah
positif.
4. Citra Perusahaan (Corporate Image)
Citra adalah citra yang berkaitan dengan sosok institusi sebagai tujuan
utamanya, bagaimana citra institusi yang positif lebih dikenal serta
diterima oleh publiknya.
5. Citra Serbaneka (Multiple Image)
Citra ini adalah komplimen (pelengkap) dari corporate imagesebagai
contoh pihak PR dapat menampilkan citra dari atribut logo, nama produk,
tampilan gedung dan lain sebagainya.
6. Citra Penampilan (Performance Image)
Citra ini lebih ditunjukan kepada subyek yang ada pada institusi,
bagaimana kinerja atau penapilan diri dari para profesional pada institusi
yang bersangkutan sebagai contoh citra yang ditampilkan krayawan dalam
menangani keluhan para pelanggan.
Mengembangkan citra yang kuat membutuhkan kreatifitas dan kerja
keras. Citra tidak dapat ditanamkan dalam pikiran manusia dalam semalam
atau disebarkan melalui media masa. Sebaliknya, citra harus disampaikan
melalui tiap sarana komunikasi yang tersedia dan disebarkan secara terus
menerus. Untuk berhasil memperoleh dan mempertahankan konsumennya
maka perusahaan harus berusaha semaksimal mungkin untuk menapilkan
produk dengan memiliki citra merek yang positif dimata konsumen.
Menurut Ardianto (2011:72) ada tiga jenis citra yang dapat ditonjolkan
perusahaan yaitu:
1. Citra eksklusif, yaitu citra yang dapat ditonjolkan pada perusahaanperusahaan besar. Yang dimaksud eksklusif adalah kemampuan
menyajikan berbagai macam manfaat terbaik kepada konsumen dan
masyarakat.
2. Citra inovatif, yaitu citra yang menonjol karena perusahaan tersebut
pandai menyajikan produk baru yang model dan desainnya tidak sama
dengan produk sejenis yang beredar di pasaran.
3. Citra murah meriah, yaitu citra yang ditonjolkan oleh perusahaan yang
mampu menyajikan produk dengan mutu yang baik, tapi harganya murah.
Citra perusahaan (corporate image) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi
yang muncul dibenak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau
citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek, sama halnya ketika kita
berpikir mengenai orang lain (Sangadji dan Sopiah, 2013:327).
Menurut Sutojo (2011:63) manfaat citra perusahaan yang baik dan kuat
yakni :
1. Daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap: Perusahaan
berusaha memenangkan persaingan pasar dengan menyusun stategi
pemasaran taktis.
2. Menjadi perisai selama krisis: Sebagian besar masyarakat dapat
memahami atau memaafkan kesalahan yang dibuat perusahaan dengan
citra baik, yang menyebabkan mereka mengalami krisis.
3. Menjadi daya tarik eksekutif handal, yang mana eksekutif handal adalah
aset perusahaan.
4. Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran
5. Menghemat biaya operasional karena citranya yang baik.
Indikator citra perusahaan adalah sebagai berikut: (Kotler dan Keller,
2012:121).
a. Strengthness (Kekuatan), yang mengarah pada keunggulan-keunggulan
yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan yang bersifat fisik dan tidak
ditemukan pada perusahaan lainnya. Keunggulan perusahaan ini mengacu
pada atribut-atribut fisik atau perusahaan yang bersangkutan.
b. Uniqueness (Keunikan), kemampuan untuk membedakan sebuah
perusahaan dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Kesan unik ini muncul
dari atribut produk, kesan unik berarti terdapat diferensiasi antara produk
satu dengan produk lainnya. Termasuk dalam kelompok unik ini antara
lain: variasi layanan dan harga serta diferensiasi.
c. Favourable (Kemampuan mengingat), mengarah pada kemampuan
perusahaan tersebut diingat konsumen. Termasuk kelompok favourable
ini: kemudahan perusahaan untuk diucapkan, kemampuan perusahaan
untuk tetap diingat, maupun kesesuaian antara kesan dan merek dibenak
konsumen dan pelanggan dengan citra yang diinginkan perusahaan
tersebut.