Bentuk lain keberagaman yang kini ditemukan di tempat kerja
berkenaan pada tingkat pendidikan karyawan. Amerika serikat menjadi
Negara dua kutub dalam hal pendidikan, dengan jumlah orang sangat
berpendidikan yang meningkat di suatu sisi dan peningkatan yang
mengkhawatirkan dalam tingkat buta huruf di sisi lain. Ikut memperumit
situasi ini adalah bahwa lebih dari setengah pekerja akan mensyaratkan
beberapa pendidikan di luar SMU. Menambah lebih banyak kompleksifitas
adalah tren di tempat kerja untuk memberdayakan para
karyawan.Pemberdayaan dimungkinkan oleh tingginya tingkat pendidikan
yang dituntut dari angkatan kerja baru. Namun, mereka yang berpendidikan
terbatas akan terlewatkan dari upaya pemberdayaan tersebut (Mondy, 2008).
Latar belakang pendidikan berkaitan dengan kemampuan intelektual
sesorang, semakin tinggi pendidikan yang di tempuh semakin mapan pula
kemampuan intelektual orang tersebut.Kemampuan intelektual adalah
kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas mental-berpikir,
penalaran, dan memecahkan masalah.Kebanyakan masyarakat
menempatkan nilai yang tinggi pada intelektualitas, dan untuk alasan yang
baik.Orang-orang cerdas umumnya memperoleh lebih banyak uang dan
memperoleh tingkat pendidikan yang tinggi.Mereka juga semakin mungkin
untuk semakin muncul sebagai pemimpin kelompok.Meskipun demikian,
saat orang-orang tidak selalu mampu menilai kemampuan kognitifnya
secara benar, factor-faktor asli dan yang mempengaruhi, serta pengujian
kecerdasan intelektual adalah controversial (Robbins dan Judge, 2013).
Ponru (2008) dalam Supriyanto (2014) berpendapat bahwa Board of
Directors seharusnya terdiri dari orang-orang professional yang memiliki
keahlian dalam bidang hokum, perpajakam, akuntansi dan keuangan, dan
lainnya sehingga memberikan prespektif yang bermanfaat terhadap
penilaian resiko, keunggulan bersaing, dan pemahaman mengenai tantangan
yang dihadapi dalam bisnis.
Diversitas latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sesuai
dengan kebutuhan perusahaan merupakan hal penting bagi komposisi dewan
secara keseluruhan hal ini disebabkan oleh kebutuhan perusahaan akan latar
belakang pendidikan dan pengalaman tertentu yang terus berubah seiring
perubahab waktu. Board seharusnya memonitor keahlian dan pengalaman
anggota board dengan criteria keanggotaan yang telah ditetapkan untuk
menilai pada tiap tahapan daur hidup perusahaan apakah dewan telah
memiliki alat untuk melakukan fungsinya secara efektif. Namun tanpa
kualifikasi keahlian, seorang masih bisa berkontribusi kepada perusahaan,
membuat keputusanyang berbeda, memiliki pandangan yang independen,
dan bertindak tanpa rasa takut (Sudiantara 2011).
Namun, berbicara tetntang kemampuan intelektual yang melatar
belakangi pendidikan anggota dewan direksi, perlu halnya tidak hanya
memperhatikan hardskill sebagai kompetensi seorang dewan direksi, kita
juga perlu mempeerhatikan softskill yang dimiliki. Penelitian yang
dilakukan Nurudin (2004) dalam Kusmastuti (2008) mengungkapkan bahwa
di Harvard University yang terletak di Amerika Serikat bahwa kesuksesan
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan teknis
(hardskill ), tetapi oleh ketrampilan mengelola diri dan orang lain (softskill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20%
dengan hardskill dan 80% sisanya ditentukan oleh kemampuan softskill
