Budaya Patriarki

Patriarki berasal dari kata patriarkat, berarti struktur yang menempatkan
peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segala-galanya. Jadi, budaya
patriarki adalah budaya yang dibangun atas dasar hierarki dominasi dan
subordinasi yang mengharuskan laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu
norma. Rueda dalam (Rokhmansyah, 2016: 32) mengatakan bahwa patriarki
adalah penyebab penindasan terhadap perempuan. Masyarakat yang menganut
sistem patriarki meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan
dibandingkan perempuan.
Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di
semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang
lemah dan tidak berdaya. Sejarah masyarakat patriarki sejak awal membentuk
peradaban manusia yang menganggap bahwa laki-laki lebih kuat (superior)
dibandingkan perempuan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat,
maupun bernegara. Kultur patriarki ini secara turun-temurun membentuk
perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan di
masyarakat yang kemudian menjadi hirarki gender.
Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai awal
pembentukan budaya patriarki. Masyarakat memandang perbedaan biologis antara
keduanya merupakan status yang tidak setara. Perempuan yang tidak memiliki
otot dipercayai sebagai alasan mengapa masyarakat meletakkan perempuan pada
posisi lemah (inferior}. Millet menyatakan bahwa muscular weakness tidak dapat
digunakan sebagai alasan peletakan perempuan pada posisi inferior. Laki-laki
dianggap memiliki fisikkuat, tetapi kekuatan fisik itu bukanlah sebuah faktor
penting dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Peradaban modern
mampu menggantikan kekuatan fisik seperti, teknik persenjataan dan
pengetahuan. Perbedaan yang lebih dalam antara laki-laki dan perempuan tampak
karena masyarakat memperlakukan keduanya secara berbeda (Rokhmansyah,
2016:32-33)