Untuk memenuhi kebutuhan akan modal kerja perusahaan harus
mempunyai alat pembiayaan yang berupa aktiva lancar seperti kas, surat
berharga, piutang dan persediaan yang semuanya merupakan unsur dari
modal kerja. Dalam menyediakan modal kerjanya sebaiknya mendekati
jumlah yang ideal, yang berarti jumlah modal kerja yang tersedian harus
sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan sehingga memungkinkan perusahaan
beroperasi dengan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami
kesulitan dalam menghadapi bahaya–bahaya yang mungkin timbal karena
adanya krisis atau menghadapi kekacauan keuangan. Perbedaan jumlah
modal kerja akan membawa pengaruh yang berbeda beda terhadap laba
yang diperoleh perusahaan, hal ini seperti yang di kemukakan oleh J.
Hampton dan L.Wagner (1989) “Different levels of current asset Hill have
varied effect on profits.” Hal ini dapat terjadi karena jumlah modal kerja
yang digunakan dalam perusahaan akan berkaitan dengan biaya– biaya yang
timbul, dengan adanya penggunaan modal kerja tersebut, semakin besar
pula biaya – biaya yang timbul karenanya. Demikian yang digunakan akan
semakin kecil pula biaya – biaya yang timbul karenanya. Semakin besar
jumlah modal kerja yang digunakan perusahaan yang diikuti dengan
semakin besarnya biaya–biaya yang timbul akan menekan laba yang
diperoleh perusahaan. Akan tetapi sering dengan hal ini tersebut dengan
semakin besar jumlah modal kerja yang digunakan akan meningkatkan
kesempatan perusahaan untuk mencapai jumlah penjualan yang lebih besar
dan laba yang lebih tinggi pula.
