Theory of Reasoned Action, (TRA) pertama kali
diperkenalkan oleh Ajzen pada tahun 1975. Asumsi dasar
yang disusun pada teori ini adalah bahwa manusia
berperilaku dengan cara yang sadar dan
mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. Sikap
merupakan jumlah dari perasaan yang dirasakan
seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek atau
perilaku dan diukur dengan suatu prosedur yang
menempatkan individual pada skala evaluative dua kutub,
misalnya baik atau jelek, setuju atau menolak dan
sebagainya. Selanjutnya norma-norma subyektif
didefinisikan sebagai persepsi atau pandangan seseorang
terhadap kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan
mempengaruhi niat untuk melakukan atau tidak
melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkanĀ Menurut Hartono dalam Kayati menjelaskan
bahwa Theory of Reasoned Action adalah gabungan dari
keyakinan, kehendak, keinginan dan perilaku. Kehendak
merupakan prediktor terbaik perilaku, artinya jika ingin
mengetahui apa yang akan dilakukan seseorang, cara
terbaik adalah mengetahui kehendak orang tersebut.
Namun, seseorang dapat membuat pertimbangan
berdasarkan alasan-alasan yang sama sekali berbeda,
dengan kata lain tidak selalu berdasarkan kehendak.
Konsep penting dalam teori ini adalah fokus perhatian,
yaitu mempertimbangkan sesuatu yang dianggap penting.
Kehendak ditentukan oleh sikap dan norma subyektif.
Theory of Reasoned Action (TRA) atau Teori
Tindakan Beralasan mengatakan bahwa sikap
mempengaruhi perilaku melalui suatu proses pengambilan
keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya
terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak
banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap
yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku tidak
hanya dipengaruhi oleh sikap tetapi juga oleh norma
subyektif (subjective norms) yaitu keyakinan kita
mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita lakukan.
Ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama-sama
norma subyektif membentuk suatu intensi atau niat untuk
berperilaku tertentu.2
Teori tindakan beralasan mengemukakan bahwa
sebab terdekat timbulnya perilaku bukan sikap, melainkan
niat (intention) untuk melaksanakan perilaku itu. Niat
merupakan pengambilan keputusan seseorang untuk
melaksanakan suatu perilaku. Pengambilan keputusan
oleh seseorang untuk melaksanakan suatu perilaku
merupakan suatu hasil dari proses berpikir yang bersifat
rasional. Proses berpikir yang bersifat rasional berarti
bahwa dalam setiap perilaku yang bersifat sukarela maka
akan terjadi proses perencanaan pengambilan keputusan
yang secara kongkret diwujudkan dalam niat untuk
melaksanakan suatu perilaku. Dalam kerangka teori
tindakan beralasan, sikap ditransformasikan secara tidak
langsung dalam wujud perilaku terbuka melalui
perantaraan proses psikologis yang disebut niat. Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa niat merupakan suatuĀ proses psikologis yang keberadaannya terletak di antara
sikap dan perilaku.3
