Bentuk dan Jenis Persediaan (skripsi, tesis dan disertasi)

Dalam suatu sistem manufaktur, persediaan dapat ditemui sedikitnya dalam tiga bentuk sesuai dengan keberadaannya, yaitu : a.Bahan baku (raw material) Merupakan masukan awal proses transformasi produksi yang selanjutnya akan diolah menjadi produk jadi. Ketersediaan bahan baku akan sangat menentukan kelancaran proses produksi sehingga perlu dikelola secara saksama. Inventori jenis ini didatangkan dari luar sistem dan keberadaannya secara fisik biasanya disimpan di gudang penerimaan (receiving storage). b.Barang setengah jadi (work in process) Merupakan bentuk peralihan dari bahan baku menjadi produk jadi. Dalam sistem manufaktur yang bersifat pesanan (job order), adanya inventori barang setengah jadi ini biasanya tidak dapat dihindari sebab proses transformasi produksinya memerlukan waktu yang cukup lama. Sementara dalam sistem manufaktur yang bersifat produksi massa (mass production), adanya inventori barang setengah jadi dapat terjadi karena karakteristik prosesnya yang memang demikian (misal industri semen dan industri pupuk) atau terjadi karena lintasan produksinya yang tidak seimbang. c.Barang jadi (finished good). Merupakan hasil akhir proses transformasi produksi yang siap dipasarkan kepada pemakai. Sebelum diangkut kepada pemakai yang membutuhkan, barang jadi ini disimpan di gudang barang jadi. Dalam sistem manufaktur yang bersifat produksi massa (mass production), biasanya barang jadi disimpan untuk beberapa waktu sampai dengan datangnya pembeli, sedangkan dalam sistem manufaktur yang bersifat pesanan (job order), begitu barang tersebut selesai diproduksi akan segera diambil oleh pemakai yang memesannya. Dengan demikian, dalam sistem manufaktur berdasarkan pesanan sangat jarang ditemui inventori barang jadi di gudang. Menurut Buffa dan Miller (1979) dan Tersine (1988), secara umum inventori di luar sistem manufaktur dapat dibedakan atas beberapa tipe sebagai berikut. 1.Inventori operasi (operation inventory), yaitu inventori barang yang digunakan untuk menjamin kelancaran pemenuhan permintaan dari pemakai (user). Keberadaan inventori ini akan tersebar mulai dari gudang pabrik, gudang distributor (gudang regional, gudang perwakilan, dsb. Sampai dengan gudang yang melayani pengecer) dan akhirnya gudang pengecer. 2.Inventori penyangga (buffer inventory), yaotu inventori yang digunakan untuk mengantisipasi kelangkaan (shortage) pasokan barang atau untuk meredam fluktuasi permintaan yang bersifat random. 3.Inventori siklis (cycle inventory), yaitu inventori yang digunakan untuk menanggulangi lonjakan permintaan yang bersifat siklis (berulang menurut suatu selang waktu karena kejadian tertentu). 4.Inventori musiman (seasonal inventory), yaitu inventori yang digunakan untuk menanggulangi lonjakan permintaan yang bersifat musiman (berulang menurut selang waktu tertentu karena suatu musim). Selain ditemui dalam ketiga bentuk di atas, inventori dalam sistem manufaktur dijumpai juga dalam bentuk bahan penolong (supplies) dan inventori suku cadang (spare part). Bahan penolong digunakan untuk membantu kegiatan proses produksi sedangkan suku cadang diperlukan untuk menunjang dan menjamin kehandalan mesin dan peralatan yang ada pada sistem tersebut. Kebutuhan akan kedua jenis barang inventori yang terakhir disebutkan ini memang tidak terkait secara langsung dengan aktivitas dan volume produksi. Selain dalam bentuk barang, pada sistem usaha non manufaktur inventori dapat ditemui dalam bentuk uang seperti yang ada di bank, obat-obatan seperti yang ada di apotek, darah dan paramedis seperti yang ada di rumah sakit, armada pemadam kebakaran yang ada pada suatu kota, dan gas yang disediakan oleh Pertamina serta suku cadang (spare part) khususnya dalam sistem usaha
jasa. Dalam usaha jasa keberadaan suku cadang merupakan komponen yang sangat menentukan kehandalan pelayanan kepada konsumennya. Semua organisasi memiliki beberapa jenis sistem perencanaan dan sistem pengendalian persediaan. Bank memiliki metode untuk mengendalikan persediaan uang tunai. Rumah sakit memiliki metode untuk mengendalikan persediaan darah dan obat-obatan. Lembaga pemerintah, sekolah, dan tentu saja, sebenarnya setiap organisasi manufaktur dan produksi pada hakikatnya perlu memperhatikan perencanaan dan pengendalian persediaan. Dalam kasus produk fisik, satu organisasi harus menentukan apakah lebih baik memproduksi atau membelinya. Setelah keputusan ini dibuat, tahap berikutnya adalah meramalkan permintaan. Kemudian, manajer operasi menetapkan persediaan yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut.