Didalam Faktor Strategik terdiri dari komitmen manajemen puncak,
budaya organisasi, kepemimpinan, perbaikan berkelanjutan, tujuan dan
kebijakan kualitas dan benchmarking (Salaheldin, 2008). Dalam
mengimplementasikan manajemen kualitas, dibutuhkan adanya transformasi
kultural dalam organisasi. Dan transformasi kultural dalam organisasi hanya
dapat dimulai dari pimpinan puncak yang menguasai sistem dan prosesnya
(Hardjosoedarmo, 1996).
Kebanyakan kegagalan dalam implementasi manajemen kualitas
disebabkan oleh pimpinan puncak yang tidak secara aktif memimpin
gerakan manajemen kualitas atau bahkan justru menentangnya. Berikut
merupakan beberapa praktek-praktek dari manajemen puncak yang
menyebabkan kegagalan implementasi manajemen kualitas menurut
Hardjosoedarmo (1996) :
a. Ketidak-acuhan.
b. Ketidak-tahuan.
c. Kekhawatiran..
d. Jauh dari anggota organisasi.
e. Tidak mempunyai kualitas kepemimpinan.
