Salah satu upaya strategis yang sangat menentukan untuk meningkatkan keberadaan dan kemampuan pegawai/karyawan adalah pelatihan. Pelatihan merupakan suatu keharusan dari suatu organisasi dan keharusan di segala bidang, karena semakin terdidik dan terlatihnya serta tingginya motivasi maka semakin tinggi pula produktivitas kerja. Pelatihan karyawan merupakan factor yang penting karena merupakan bentuk investasi perusahaan. Cara untuk pengembangan karyawan dengan pelatihan adalah untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu meningkatkan kinerja karyawan. Karyawan merupakan sumber daya yang penting bagi perusahaan, karena tujuan perusahaan dicapai melaui mereka dengan alat-alat lain atau fasilitas-fasilitas lain yang mereka jalankan. Tujuan tersebut akan tercapai atau produktivitas akan meningkat jika tenaga yang melaksanakannya adalah tenaga yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan untuk menjalankan serta menyelesaikan tugas-tugasnya. Oleh karena itu, masalah pelatihan tenaga kerja tidak dapat diabaikan, karena bila perusahaan tidak memperhatikan masalah pelatihan ini, maka hampir dapat dipastikan bahwa perusahaan akan tersendat-sendat dan mengalami kesulitan dalam usahanya melaksanakan tugatugas yang berkaitan langsung dengan perusahaan. 7 Selanjutnya Gomes (2003), menyatakan bahwa: Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki kinerja pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya atau suatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya. Hal tersebut memberikan arti bahwa pelatihan merupakan suatu yang penting untuk diberikan kepada sumber daya manusia yang ada dalam sebuah organisasi guna menciptakan kinerja yang baik, sehingga dapat mencapai sasaran-sasaran serta kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan sebelumnya oleh organisasi tersebut. Menurut Moekijat (1981) pelatihan didefinisikan sebagai “proses untuk membawa karyawan-karyawan untuk memperoleh kemajuan dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang, melaui pengembangan kebiasaan, pikiran, tindakan, kecakapan, pengetahuan dan sikap.” Sedangkan tujuan pelatihan menurut Moekijat (2003) antara lain: 1. Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif. 2. Untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional. 3. Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan pimpinan. Terlaksananya tujuan-tujuan tertentu dari pelatihan memerlukan dukungan sepenuhnya dari penyelenggara serta unit para peserta itu sendiri. Mereka harus mempunyai kelayakan bahwa pendidikan dan latihan itu berguna bagi mereka sehingga mereka mau memanfaatkan kesempatan tertentu dengan baik. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Sayler dan Strauss (1977) “Efisiensi suatu organisasi bergantung langsung pada sejauh mana karyawan itu dilatih”. Sedangkan Carrell dan Kuzmitz (1982) mendefinisikan pelatihan sebagai “proses sistematis dimana karyawan mempelajari pengetahuan (knowledge), 8 keterampilan (skill), kemampuan (ability) atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi”. Berdasarkan pengertian-pengertian itu maka pelatihan merupakan suatu proses dimana peserta pelatihan mengalami pengembangan melalui pengetahuan, keahlian, dan kemampuan peserta pelatihan untuk dapat memenuhi standar tertentu sesuai dengan tujuan perusahaan. Selain itu pengetahuan, keahlian, dan kemampuan dapat menyediakan informasi bagi manajer untuk menentukan tugas dan tanggung jawab yang harus ada dalam program pelatihan. Beberapa pengertian yang dapat dijabarkan mengenai pengetahuan, keahlian/ketrampilan, dan kemampuan antara lain : a) Pengetahuan (knowledge) : “merupakan struktur organisasi pengetahuan yang biasanya merupakan suatu fakta prosedur dimana jika dilakukan akan memenuhi kinerja yang mungkin” (Gordon, 1994). Pengertian lain menurut Nadler (1986) bahwa “pengetahuan merupakan proses belajar manusia mengenai kebenaran atau jalan yang benar atau secara mudahnya yaitu mengetahui apa yang harus diketahui adalah untuk dilakukan”. Sedangkan menurut Glynn (1995) menjelaskan pengetahuan yaitu “pengertian yang jelas mengenai spesifikasi detil tertentu mengenai permintaan dalam pekerjaan, pangsa pasar, pesaing dan perbedaan para pelanggan.” b) Keterampilan (skill) : “kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan dengan mudah dan efektif/cermat. Pengertian ini biasanya cenderung pada aktivitas psikomotor” (Gordon, 1994). Selain itu pengertian menurut Nadler (1986) yaitu : “ketrampilan merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktivitas”. c) Kemampuan (ability) : “merupakan kemampuan kognitif yang penting untuk melakukan fungsi- fungsi pekerjaan” (Gordon 1994). Sedangkan bagi Ivancevich, kemampuan adalah “sesuatu yang membuat seseorang mampu atau dapat melakukan pekerjaan secara mental maupun fisik”.
