Dampak kebermaknaan hidup (skripsi dan tesis)

Tingginya pencarian makna hidup dan rendahnya kemunculan makna
hidup mengakibatkan depresi (Cohen & Chairns, 2012).
Ketidakbermaknaan hidup kadang-kadang muncul dengan melakukan
kompensasi-kompensasi misalnya melarikan diri kepada alkohol, obat
bius, seks, dan judi (Frankl dalam Koeswara 1987). Berdasarkan teori
kebermaknaan hidup Frankl, Schultz (1991) menyimpulkan individu yang
memiliki kebermaknaan hidup memiliki ciri-ciri seperti lebih bebas
memilih langkah dan tindakannya sendiri secara pribadi bertanggung
jawab terhadap tingkah laku hidupnya dan sikap menghadapi nasib, tidak
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya, telah menemukan arti
dalam kehidupan yang sesuai dengan dirinya, secara sadar mengontrol
hidupnya, mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai
pengalaman atau nilai-nilai sikap, telah mengatasi perhatian terhadap
dirinya, berorientasi pada masa depan, mengarahkan dirinya pada tujuantujuan dan tugas-tugas yang akan datang, memiliki alasan untuk
meneruskan kehidupan, memiliki komitmen terhadap pekerjaan, mampu
memberi dan menerima cinta. Bastaman (2007) mengungkapkan bahwa
penghayatan hidup yang tidak bermakna jika berlarut-larut tidak teratasi
akan menjelma menjadi neurosis noogenik, karakter totaliter, dan karakter
konformis.