Pengukuran Kelelahan (skripsi dan tesis)

Menurut setyawati (2010) ada beberapa pengukuran
kelelahan kerja antara lain:
1) Reaction Timer L77 Lakassidaya
Uji waktu reaksi ternyata stimuli terhadap cahaya lebih
signifikan daripada stimuli suara. Hal tersebut disebabkan karena
stimuli suara lebih cepat diterima oleh reseptor daripada stimuli
cahaya.
Hasil penelitian yang dilakukan Setyawati (2010) tingkat
kelelahan diklasifikasikan berdasarkan waktu reaksi yang diukur
dengan reaction timeryaitu:
(a) Normal dengan waktu reaksi 150,0 – 240,0 milidetik.
(b) Kelelahan kerja ringan dengan waktu reaksi 240,0< x < 410,0
milidetik.
(c) Kelelahan kerja sedang dengan waktu reaksi 410,0< x < 580,0
milidetik.
(d) Kelelahan kerja berat dengan waktu reaksi > 580,0 milidetik.
2) Uji Finger-tanpping (uji ketuk jari)
Mengukur kecepatan maksimal mengetukkan jari tangan
dalam suatu periode waktu tertentu.
3) Uji Flicker-fusion
Pengukuran terhadap kecepatan berkelipnya cahaya
(lampu) yang secara bertahap ditingkatkan sampai kecepatan
tertentu sehingga cahaya tampak berbaur sebagai cahaya yang
kontinyu.
4) Skala Kelelahan Industrial Fatigue Research Committee (IFRC)
Skala IFRC yang didesain untuk pekerja dengan budaya
Jepang ini merupakan ngket yang mengandung tiga puluh macam
perasaan kelelahan.