Pengertian Employee Engagement (skripsi dan tesis)

Terdapat suatu definisi yang sering digunakan oleh salah satu lembaga
konsultan yang bergerak dalam bidang sumber daya manusia yaitu Gallup
Organization. Gallup Organization (2013) menyatakan bahwa karyawan yang
mempunyai nilai engagement merupakan pekerja yang memiliki keterlibatan secara
penuh serta antusias terhadap pekerjaan mereka.
Engagement didefinisikan sebagai sikap yang positif, penuh makna, dan
motivasi, yang dikarakteristikkan dengan vigor, dedication, dan absorption. Vigor
dikarakteristikkan dengan tingkat energi yang tinggi, resiliensi, keinginan untuk
berusaha, dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan. Dedication ditandai
dengan merasa bernilai, antusias, inspirasi, berharga dan menantang. Absorption
ditandai dengan konsentrasi penuh terhadap suatu tugas. (Schaufeli & Bakker,
2003).
Employee engagement merupakan rasa keterikatan secara emosional
dengan pekerjaan dan organisasi, termotivasi dan mampu memberikan kemampuan
terbaik mereka untuk membantu sukses dari serangkaian manfaat nyata bagi
organisasi dan individu (McLeod, 2008). Organisasi yang engaged memiliki
kekuatan dan nilai otentik, dengan bukti yang jelas dari kepercayaan dan keadilan
yang didasarkan pada saling menghormati, di mana keduanya memiliki janji dan
komitmen antara employer dan employee yang dipahami dan terpenuhi, (McLeod,
2008). Kontribusi karyawan menjadi isu bisnis yang penting untuk menghasilkan
lebih banyak output, kontribusi ini tidak hanya menyangkut keterlibatan secara
fisik, namun termasuk juga pikiran dan jiwa dari setiap karyawan (Ulrich dalam
Scaufeli, 2013: 3). Menurut Schaufeli dan Bakker (2003: 4) keterlibatan kerja
merupakan kebalikan dari burnout, keterlibatan kerja dapat menimbulkan rasa
semangat dalam melakukan aktivitas kerja serta memampukan mereka untuk
menangani tuntutan pekerjaan dengan baik.
Terdapat dua istilah yang sering disebut dalam engagement, yaitu employee
engagement dan work engagement. Bakker dan Leiter (2010: 2) mendefinisikan
work engagement sebagai konsep motivasi. Sedangkan Schaufeli dan Bakker
(2003: 4) menyebutkan bahwa employee engagement merupakan kebalikan dari
burnout, employee engagement menimbulkan rasa semangat dalam melakukan aktivitas
kerja serta memampukan karyawan untuk menangani tuntutan pekerjaan dengan baik.
Federman (dalam Akbar, 2013: 11) memandang employee engagement sebagai
suatu tingkat dimana seseorang memiliki komitmen terhadap sebuah organisasi
sehingga dapat menentukan bagaimana seseorang berperilaku dan seberapa lama
dia akan bertahan dengan posisinya tersebut. Scaufeli (2013: 1) menegaskan bahwa
work engagement mengacu pada hubungan karyawan dengan pekerjaannya,
sedangkan employee engagement dapat mencakup hubungan dengan organisasi.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa employee engagement rasa keterikatan karyawan
terhadap perusahaan dan menimbulkan kontribusi lebih dalam melakukan
pekerjaannya untuk perusahaan. Engagement yang rendah akan menurunkan
kinerja, produktivitas dan keterlibatan. Oleh karena itu engagement penting untuk
selalu dipelihara demi keberlangsungan hidup organisasi dan harus dimiliki
karyawan dengan penuh makna, energi motivasi yang tinggi, dan keinginan untuk
berusaha, serta tidak menyerah dalam menghadapi tantangan dengan konsentrasi
penuh.