Menurut Kahn (1990:2) keterikatan kerja dalam pekerjaan
dikonsepsikan sebagai anggota organisasi yang melaksanakan peran
kerjanya, bekerja dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif dan
emosional selama bekerja. Perrin (2003:5) memberikan pengertian
mengenai work engagement sebagai pusat kerja afektif diri yang
merefleksikan kepuasan pribadi karyawan dan afirmasi yang mereka
dapat dari bekerja dan menjadi bagian dari suatu organisasi. Schmidt
(2004:4) mengartikan work engagement sebagai gabungan antara
kepuasan dan komitmen, kepuasan tersebut mengacu lebih kepada
elemen emosional atau sikap, sedangkan komitmen lebih melibatkan
pada elemen motivasi dan fisik.
Menurut Wellins dan Concelman (2004:2) work engagement adalah
kekuatan ilusif yang memotivasi karyawan meningkatkan kinerja pada
level yang lebih tinggi, energi ini berupa komitmen terhadap organisasi,
rasa memiliki pekerjaan dan kebanggaan, usaha yang lebih (waktu dan
energi), semangat dan ketertarikan, komitmen dalam melaksanakan
pekerjaan. Keterikatan kerja adalah sebuah kondisi dimana seseorang
memiliki pikiran yang positif sehingga mampu mengekspresikan dirinya
baik secara fisik, kognitif dan afektif dalam melakukan pekerjaannya
(Schaufeli dan Bakker, 2004). Lockwood (2007:12) memberi pengertian
mengenai work engagement sebagai keadaan dimana seseorang mampu
berkomitmen dengan organisasi baik secara emosional maupun secara
intelektual. Saks (2006:26) menjelaskan bahwa keterikatan sebagai
konstruk yang menggunakan komponen kognitif, emosi dan perilaku
yang diasosiasikan dengan tanggung jawab pekerjaannya. Sedangkan
Benthal (dalam Mujiasih 2006) berpendapat bahwa work engagement
adalah suatu keadaan ketika manusia merasa dirinya menemukan arti diri
secara utuh, memiliki motivasi dalam bekerja, maupun menerima
dukungan orang lain secara positif dan mampu bekerja secara efektif dan
efisien di lingkungan kerjanya. Hewitt (2008:22) mendefinisikan work
engagement sebagai sikap positif pegawai dan perusahaan (komitmen,
keterlibatan dan keterikatan) terhadap nilai-nilai budaya dan pencapaian
keberhasilan perusahaan. Work engagement bergerak melampaui
kepuasan yang menggabungkan berbagai persepsi karyawan yang secara
kolektif menunjukkan kinerja yang tinggi, komitmen, serta loyalitas
(Kingsley dan Associates, 2008).
Menurut Federman (2009:33), work engagement karyawan adalah
derajat dimana seorangkaryawan mampu berkomitmen pada suatu
organisasi dan hasil dari komitmen tersebut ditentukan pada bagaimana
mereka bekerja dan lama masa bekerja. Taylor (2004:23) menyatakan
bahwa keterikatan kerja adalah perasaan keikutsertaan aspek kognitif,
emosional, dan fisik karyawan dalam aktivitas pekerjaan, kinerja dan
output organisasional. Sementara itu, Bakker dan Xanthopoulou
(2013:12) menyatakan bahwa keterikatan kerja merupakan suatu hal yang
positif, terpenuhi, pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan
meliputi tiga dimensi yang saling melengkapi yaitu vigor, dedication dan
absorption.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, peneliti menarik kesimpulan
work engagement adalah sikap dan perilaku individu dalam menjalankan
peran kerjanya dengan mengekspresikan dirinya secara total baik secara
fisik, kognitif, afektif dan emosional. Indivdu menemukan arti dalam
bekerja, kebanggaan telah menjadi bagian dari organisasi tempat individu
tersebut bekerja, bekerja untuk mencapai visi dan misi keseluruhan
sebuah organisasi. Karyawan akan bekerja ekstra dan mengupayakan
sesuatu untuk pekerjaan di atas apa yang diharapkan baik dalam waktu
dan energi, yang dikarakteristikan melalui vigor, dedication dan
absorption.
