Menurut Sulistyanto (2008:105) ada perbedaan pandangan antara
praktisi dengan akademisi terhadap manajemen laba, antara lain sebagai
berikut:
1. Manajemen laba sebagai kecurangan
2. Manajemen laba bukan kecurangan
Penjelasan dari pandangan manajemen laba diatas adalah sebagai berikut:
i. Manajemen laba sebagai kecurangan
Beberapa pihak menyatakan aktivitas rekayasa manajerial ini dianggap
kecurangan apabila perusahaan melakukan perbuatanperbuatan sebagai
berikut:
a. Mencatat penjualan sebelum dapat direalisasi
Aktivitas rekayasa ini dilakukan dengan mencatat penjualan sebelum
dapat direalisasi. Aktivitas semacam ini bertentangan dengan prinsip
konservatisme akuntansi yang menyatakan bahwa suatu transaksi atau
peristiwa dapat diakui dan dicatat sebagai pendapatan apabila
perusahaan dapat memastikan bahwa pendapatan itu kemungkinan
besar dapat terealisir dimasa depan.
b. Mencatat penjualan fiktif
Perusahaan memalsukan transaksi penjualan yang sebenarnya belum
atau tidak pernah dilakukannya. Upaya semacam ini dilakukan
perusahaan dengan mengakui dan mencatat barang konsinyasi atau
barang yang baru dikirim kepada pembeli sebagai barang yang telah
dijual. Lebih parah lagi adalah dengan mengakui dan mencatat
transaksi-transaksi yang sebenarnya tidak pernah ada atau tidak pernah
dilakukan sama sekali.
c. Mengundurkan tanggal bukti pembelian
Hal ini dilakukan untuk mengatur tingkat laba sesuai yang diinginkan
manajer perusahaan. Apabila pada suatu periode kinerja perusahaan
lebih rendah dari kinerja yang ditargetkan maka perusahaan akan
menunda pengakuan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan
pembelian itu. Hal ini dilakukan agar kinerja perusahaan terlihat bagus
dari periode ke periode meskipun sebenarnya dalam periode tertentu
perusahaan mengeluarkan biaya cukup tinggi.
d. Mencatat persediaan fiktif
Hal ini dilakukan agar nilai aktiva perusahaan menjadi lebih besar
daripada nilai sesungguhnya. Upaya ini dilakukan agar perusahaan
terlihat mempunyai aktiva lebih besar dibandingkan aktiva
sesungguhnya dimiliki sehingga akan meningkatkan kinerja
solvabilitas perusahaan bersangkutan.
ii. Manajemen laba bukan kecurangan
Sementara pihak lain mempunyai persepsi bahwa manajemen
laba bukanlah kecurangan yang dilakukan manajer perusahaan. Apalagi
jika aktivitas ini dilakukan manajer dalam kerangka prinsip akuntansi
berterima umum. Pendapat ini sesuai dengan kenyataan yang
menunjukkan bahwa manajemen laba berada didaerah abu-abu (grey
area) antara aktivitas yang diijinkan prinsip akuntansi dan kecurangan.
Apalagi pada dasarnya manajemen laba sulit diobservasi oleh pemakai
laporan keuangan. Prinsip akuntansi yang menyatakan bahwa manajer
harus mengungkapkan secara lengkap semua informasi dalam
pelaporan keuangan juga tidak mampu membuat pemakai laporan
keuangan mengetahui apakah perusahaan itu melakukan manajemen
laba atau tidak.
Seharusnya perusahaan mengungkapkan laba yang
sesungguhnya diperoleh dari aktivitas-aktivitasnya, namun akuntansi
memberi kesempatan perusahaan untuk secara akuntansi konservatisme
dan akuntansi agresivisme dalam mengakui dan mencatat suatu
transaksi atau peristiwa yang dilakukan dan dialaminya.
a. Akuntansi konservatisme adalah proses akuntansi untuk mengakui atau
mencatat suatu transaksi atau peristiwa secara berhati-hati sehingga
perusahaan tidak akan mengalami kesulitan dimasa depan.
b. Akuntansi agresif adalah proses akuntansi untuk mengakui atau
mencatat suatu transaksi atau transaksi secara eksploratif. Secara
konseptual kedua model akuntansi dapat membuat informasi laba
dalam laporan keuangan menjadi lebih kecil atau lebih besar daripada
laba sesungguhnya. Alasan inilah yang menjadi dasar dari pendapat
yang menyatakan bahwa manajemen laba bukanlah tindakan rekayasa
yang mengarah pada kecurangan (Sulistyanto, 2008:107).
