Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return
sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasian yang diharapkan oleh investor. Dengan demikian abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasian
(Hartono, 2014). Menurut Brown dan Warner (1985) dalam Hartono (2014)
terdapat beberapa model untuk mengestimasi return ekspektasian, diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Mean-adjusted Model (model sesuaian rata-rata). Model ini menganggap
bahwa return ekspektasian bernilai konstan yang sama dengan rata-rata
return realisasian sebelumnya selama periode estimasi. Periode estimasi
umumnya merupakan periode sebelum periode peristiwa. Periode
peristiwa disebut juga dengan periode pengamatan atau jendela
peristiwa.
2. Market Model (model pasar). Model ini dihitung melalui dua tahap.
Pertama, membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data
realisasi selama periode estimasi, dan kedua, menggunakan model
ekspektasi ini untuk mengestimasi return ekspektasian di periode
jendela.
3. Market-adjusted Model (model sesuaian pasar). Model ini menganggap
bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas
adalah return indeks pasar tersebut. Dengan menggunakan model ini,
maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk
model estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama
dengan return indeks pasar.
