Pengertian Besaran Akrual (skripsi dan tesis)

Laba dalam laporan keuangan akuntansi sering digunakan
oleh insvestor maupun calon investor untuk pengambilan
keputusan. Dimana keputusan tersebut akan menentukan di
perusahaan mana mereka akan berinvestasi. Sehingga oleh
manajemen, ada kemungkinan untuk merekayasa laba menjadi
sedemikian rupa agar dapat menarik minat para investor dan
calon investor untuk menanamkan investasinya lebih banyak
lagi. Jika begitu maka tidaklah mustahil jika terjadi asimetri
informasi antara pihak menejemen dan pihak eksternal
perusahaan.
Akrual merupakan besar penyesuaian akuntansi yang
membuat laba bersih berbeda dari arus kas bersih. Sebagian
besar perusahaan menggunakan akuntansi dasar akrual (accrual
basis of accounting) mereka mengakui pendapatan ketika
dihasilkan dan mengakui beban pada periode terjadinya, tanpa
memperhatikan waktu penerimaan dan pembayaran kas. Dalam
akuntansi berbasis akrual, menyatakan bahwa pengakuan
pendapatan atau beban diakui pada saat terjadinya bukan pada
saat penerimaan atau pengeluaran kas (Kieso, 2007:105).
Dalam PSAK No. 1 (IAI, 2012) juga menyebutkan bahwa
untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar
akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain
diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara
kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi
serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang
bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual
memberikan informasi pada pemakai tidak hanya transaksi masa
lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, tetapi
juga kewajiban pembayaran kas dimasa depan serta sumber
daya yang mempresentasikan kas yang akan diterima di masa
yang akan datang. Elemen –elemen laporan keuangan dihitung
dan dimasukkan dalam laporan keuangan melalui penggunaan
prosedur akuntansi akrual. Akuntansi akrual mendasarkan pada
konsep akrual, tangguhan, alokasi, amortisasi, realisasi, dan
pengakuan.
Sesuai dengan PSAK No. 1 paragraf 26 (IAI, 2012),
menyebutkan bahwa ketika akuntansi berdasar akrual digunakan
entitas mengakui pos –pos sebagai asset, liabilitas, ekuitas,
pendapatan, dan beban unsur –unsur laporan keuangan, ketika
pos –pos tersebut memenuhi definisi dan Kriteria pengakuan
untuk unsur –unsur tersebut dalam kerangka dasar penyusunan
dan penyajian laporan keuangan.
Besaran akrual adalah besaran pendapatan diakui pada saat
hak kesatuan usaha timbul lantaran penyerahan barang ke pihak
luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran
penggunaan sumber ekonomik yang melekat pada barang yang
diserahkan tersebut (Dechow dan Dichev (2002) dalam Fanani,
2010).
Laba akuntansi yang persisten adalah laba akuntansi yang
memiliki sedikit atau tidak mengandung akrual dan dapat
mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya
(Chandrarin, 2003 dalam Sulastri 2014). Hayn (1995) dalam
Fanani (2010) menjelaskan bahwa gangguan dalam laba
akuntansi disebabkan oleh peristiwa transitory (transitory
events) atau penerapan konsep aktual dalam akuntansi. Semakin
besar akrual yang terkandung dalam laba akuntansi, maka
semakin rendah persistensi laba akuntansi.
Dapat disimpulkan bahwa besaran akrual merupakan
besaran pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha timbul
lantaran penyerahan barang ke pihak luar dan biaya diakui pada
saat kewajiban timbul lantaran penggunaan sumber ekonomi
yang melekat pada barang yang diserahkan tersebut.