Pengukuran Kualitas Laba (skripsi dan tesis)

Schipper dan Vincent (dalam Andriani, 2011) mengelompokkan konstruk
kualitas laba dan pengukurannya berdasarkan cara menentukan kualitas laba, yaitu
berdasarkan: sifat runtun-waktu dari laba, karakteristik kualitatif dalam kerangka
konseptual, hubungan laba-kas-akrual, dan keputusan implementasi. Empat
kelompok penentuan kualitas laba ini dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
1. Pertama, berdasarkan sifat runtun-waktu laba, kualitas laba meliputi:
persistensi, prediktabilitas (kemampuan prediksi), dan variabilitas. Atas
dasar persistensi, laba yang berkualitas adalah laba yang persistensi yaitu
laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan tidak bersifat
transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan
prespektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan khususnya
dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas
laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa
datang. Dalam hal ini, laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang
mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa datang.
Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang
mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba smooth.
2. Kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur
dengan berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba, perubahan
akrual total, estimasi abnormal/discretionary accruals (akrual
abnormal/kebijakan), dan estimasi hubungan akrual-kas. Dengan
menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba
ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang
semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindikasi laba yang semakin
berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual total, laba
berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual total kecil.
Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total akrual disebabkan
oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi discretionary accruals
dapat diukur secara langsung untuk memnentukan kualitas laba. Semakin
kecil discretionary accruals semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya.
Selanjutnya, keeratan hubungan antara akrual dan aliran kas juga dapat
digunakan untuk mengukur kualitas laba. Semakin erat hubungan antara
akrual dan aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.
3. Kualitas laba dapat didasarkan pada Konsep Kualitatif Kerangka
Konseptual. Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam
pengambilan keputusan yaitu yang memliki karakteristik relevansi,
reliabilitas, dan komparabilitas/konsistensi. Pengukuran masing-masing
kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan.
Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi harga dan return
saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain misalnya aliran kas)
diinterprestasi sebagai ukuran kualitas laba berdasarkan karakteristik
relevansi dan reliabilitas.
4. Kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua
pendekatan. Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan
negative dengan banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang
diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi
yang diperlukan oleh penyusunan laporan keuangan dalam
mengimplementasi standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan
sebaliknya. Dalam pendekatan kedua, kualitas laba berhubungan negatif
dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam
menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar
(manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi
kualitas laba yang semakin rendah dan sebaliknya.