Beragam produk yang ada di pasaran sehingga menyebabkan adanya perilaku memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan atau karena terjadi masalah dengan produk yang sudah dibeli maka konsumen kemudian beralih ke merek lain. Perpindahan merek merupakan gambaran beralihnya pengkonsumsian konsumen atas suatu merek produk ke merek produk yang lain (Junaidi dan Dharmmesta, 2002 dalam Ishadi 2012). Menurut Swastha (1999: 83) dalam Isnaeny brand switching adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan konsumen karena beberapa alasan tertentu, atau diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek lain. Menurut Swastha (1999 :85) dalam Isnaeny elemen yang menyebabkan kerentanan konsumen untuk berpindah merek pada umumnya mencakup manfaat kompetitif yang menarik seperti biaya atau tarif yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih tinggi, komitmen yang jujur pada tahap kognitif. Ketidakpuasan terhadap merek yang ada pada tahap afektif, dan terakhir adalah pembelian yang semakin jarang pada tahap tindakan, disamping itu kemungkinan adanya persuasi dan keinginan untuk mencoba produk lain. Tingkat brand switching ini juga menunjukan sejauh mana sebuah merek memiliki pelanggan yang loyal , semakin tinggi tingkat brand switching maka semakin tidak loyal pelanggan kita. Berarti semakin beresiko juga merek yang kita kelola bisa dengan mudah dan cepat kehilangan pelanggan. Perilaku perpindahan merek pada pelanggan merupakan suatu fenomena yang kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor keperilakuan, persaingan dan waktu. Menurut Van Trijp, Hoyer dan Inman (2003) dalam Ishadi 2012, perpindahan merek yang dilakukan konsumen disebabkan oleh pencarian variasi. Sedangkan menurut Assael (Shellyana dan Dharmmesta, 2002) dalam Naibaho (2009), perpindahan merek terjadi pada produk-produk dengan karakteristik keterlibatan pembelian yang rendah. Sedangkan dimensi-dimensi yang membangun variabel perpindahan berdasar pada faktor-faktor keperilakuan yang terdiri dari: keinginan berpindah ke penyedia jasa lainnya, ketidakbersediaan menggunakan ulang layanan dan keinginan untuk mempercepat penghentian hubungan. Tetapi perpindahan merek juga dapat terjadi melalui beberapa hal yang menjadi penyebab tersebut diantaranya ketidakpuasan konsumen, adanya keinginan untuk mencari variasi, harga dan iklan ( Cahyo Tri Haryono ,2011) Menurut Mowen dan Minor (2009) perpindahan merek dapat dibedakan menjadi : 1. Divided Loyalty atau kesetiaan yang terbagi dengan urutan pembelian (AAABBAABBB), seseorang mengalami perpindahan karena kesetiannya terbagi dengan yang lain. 2. Occasional Switch atau perpindahan sewaktu-waktu dengan urutan pembelian (AABAAACAADA), perpindahan merek yang dilakukan karena kejenuhan tetapi perpindahan tersebut hanya berupa selingan. 3. Unstable Loyalty atau kesetiaan beralih dengan urutan pembelian (AAABCBAACBBB), perpindahan merek yang dilakukan karena seseorang memiliki kesetiaan yang tidak stabil. 4. No Loyalty atau ketidaksetiaan dengan urutan pembelian (ABCDEFG), perpindahan yang disebabkankarena adanya sikap ketidaksetiaan pada suatu merek.
