Keberhasilan suatu organisasi baik besar maupun kecil bukan
semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam yang tersedia, akan tetapi
banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berperan
merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan organisasi (Manullang,
2005). Manajemen sumber daya manusia yang dilaksanakan dengan baik
akan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam usaha mencapai
sasaran organisasi atau perusahaan (Triton, 2005).
Setiap organisasi yag selalu ingin maju, akan melibatkan anggota
untuk meningkatkan mutu kinerjanya, diantaranya setiap organisasi harus
memiliki etos kerja. Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat
penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu.
Etos kerja berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti
sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini
tidak hanya dimiliki individu tetapi juga dimiliki oleh masyarakat.
Menurut Tasmara (1995), etos kerja adalah totalitas kepribadian
dirinya serta cara memandang, mengekspresikan, meyakini dan
memberikan makna pada suatu yang mendorong dirinya untuk bertindak
dan meraih amal yang optimal. Sedangkan menurut Anoraga dan Suryanti
(2001) etos kerja diartikan sebagai pandangan dan sikap suatu bangsa atau
