Thurstone (1932) mengemukakan bahwa sikap dapat dipandang sebagai
sesuatu hal yang berkaitan dengan obyek psykologis. Selanjutnya, dikemukakan
bahwa sikap menggambarkan potensi tindakan seseorang yang mengarah pada
obyek psikologis dengan hanya mengarahkan pertanyaan apakah potensi tindakan
menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap obyek tersebut. Hal ini berarti,
penekanan sikap pada bentuk atau reaksi perasaan yang diberikan individu
terhadap obyek psikologis yaitu mendukung/positif atau tidak mendukung/negatif.
Respon positif ditunjukkan seseorang, apabila ia mendapatkan respon menyukai
atau menyenangkan dari obyek psikologis dan sebaliknya. Kondisi tersebut
menyiratkan bahwa Thurstone (1932) melihat sikap hanya pada tingkatan afektif
saja, dan belum mengkaitkan sikap dengan perilaku. Obyek psikologis dapat
berupa symbol, slogan, kelembagaan, orang, ide, frase dimana melalui interaksi
dengan obyek psikologis tersebut, maka seseorang akan memberikan respon
perasaaan positif atau negatif.
Selanjutnya, Allport (1935) mengemukakan bahwa sikap merupakan
kondisi mental dan kesiapan mental yang diperoleh dari pengalaman pribadi yang
mengarahkan dan secara dinamis mempengaruhi respon-respon individu terhadap
semua obyek dan situasi yang terkait. Pendapat Allport (1935) menekankan
bahwa, sikap merupakan proses psykologis (mental) yang dialami seseorang dan
kesiapan mental untuk memberikan respon perilaku berupa tindakan terhadap
obyek. Hal lainpun, sikap merupakan disposisi untuk bertindak yang dibangun
oleh adanya integrasi berbagai tanggapan yang dimulai oleh kerja “jendela set
saraf” yang diaktifkan akibat stimulus tertentu yang hadir dalam lingkungan.
Pada kondisi ini, sikap menggambarkan pola pikir atau kecenderungan untuk
bertindak dengan cara tertentu berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Oleh
karenanya, Allport (1935) mendefinisikan sikap sebagai kesiapan untuk
memberikan respon, atau dengan kata lain sikap baru jadi persiapan dan bukan
sebagai perilaku/tindakan tetapi prasyarat perilaku/tindakan. Pernyataan ini
mengisyaratkan bahwa, sikap sebagai pola perilaku, tendensi atau kesiapan
antisipasif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial dimana
stimuli sosial yang berada di lingkungan telah terkondisikan.
Sikap akan mempengaruhi cara orang memandang dan bertindak terhadap
orang, benda ataupun peristiwa yang berada di sekitar lingkungannya. Hal ini
berarti bahwa, sikap sebagai reaksi evaluatif yang diberikan seseorang terhadap
lingkungannya. Katz (1960) mengemukakan bahwa sikap merupakan
kecenderungan dari individu untuk mengevaluasi suatu obyek. Melalui
pengamatan tentang suatu obyek, manusia memberikan penilaian dan tanggapan
dan selanjutnya berperilaku terhadap obyek pengamatan tersebut.
