a. Perkembangan Fisik Anak Tunadaksa
Aspek fisik merupakan potensi yang berkembang dan harus
dikembangkan oleh individu. Pada anak-anak tunadaksa, potensi itu
tidak utuh karena, ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Misalnya,
bila ada kerusakan pada tangan kanan, maka tangan kiri akan lebih
berkembang sebagai kompensasi kekurangan yang dialami tangan
kanan. Secara umum perkembangan fisik anak tunadaksa dapat
dikatakan hampir sama dengan anak normal kecuali bagian-bagian
tubuh yang mengalami kerusakan atau bagian-bagian tubuh lain yang
terpengaruh oleh kerusakan tersebut (Soemantri, 2006: 126)
b. Perkembangan Kognitif Anak Tunadaksa
Keadaan tunadaksa menyebabkan gangguan dan hambatan
dalam keterampilan motorik seorang anak dan hal ini akan
berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan motorik yang lebih
kompleks pada tahap berikutnya. Menurut Piaget, anak tersebut
mampu tidak mampu memperoleh skema baru dalam beradaptasi
dengan suatu laju perkembangan yang normal. Keterlambatan ini
diawali dengan hambatan dalam fungsi motorik sederhana yang akan
berpengaruh terhadap kegiatan eksplorasi lingkungan anak secara
wajar. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif
anak tersebut. (Soemantri, 2006: 127).
c. Perkembangan Emosi Anak Tunadaksa
Anak yang tunadaksa sejak kecil mengalami perkembangan
emosi sebagai anak tunadaksa secara bertahap. Sedangkan anak yang
mangalami ketunadaksaan setelah besar mengalaminya sebagai suatu
hal yang mendadak, disamping anak yang bersangkutan pernah
menjalani kehidupan sebagai orang normal sehingga keadaan
tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk
diterima oleh anak yang bersangkutan (Soemantri, 2006: 131).
d. Perkembangan Kepribadian Anak Tunadaksa
Pada anak-anak tunadaksa nampak bahwa dalam hubungan
sosial mereka berusaha untuk meyakinkan konsep diri dalam arti
fisiknya dan juga berusaha untuk meyakinkan konsep diri yang
didasarinya. Dalam hal ini, anak tunadaksa mempunyai dua tipe
masalah yakni:
1) Masalah penyesuaian diri yang mungkin terjadi pada kemajuan
perkembangan yang normal yang dialami setiap individu yang
pada saat bersamaan juga berusaha untuk memperluas ruang
gerak dirinya serta mempertahankan konsep diri yang sudah
dimilikinya.
2) Masalah penyesuaian diri yang semata-mata merupakan gabungan
dari kenyataan bahwa keadaan tunadaksa yang bersifat fisik
merupakan hambatan yang terletak antara tujuan (goal) dan
keinginan untuk mencapai tujuan tersebut (Soemantri, 2006: 133).
