Dalam melaksanakan kerja, karyawan mengkonsumsi input perusahaan yang direalisasikan dalam bentuk biaya. Menurut Darsono dan Siswandoko (2011, p.49), Penilaian kinerja hakikatnya adalah untuk :
- Mengetahui kemampuan SDM mencapai sasaran kerja (efektivitas)
- Mengetahui kemampuan SDM menggunakan input untuk mencapai sasaran kerja (efisiensi)
- Untuk menentukan besarnya imbalan materiil dan non-materiil.
Dalam penilaian kinerja, penyelia atau supervisor memegang peranan yang penting dimana mereka harus obyektif dalam melakukan penilaian. Suatu penilaian akan salah dan merugikan karyawan dan perusahaan karena beberapa sebab yaitu :
- Penilai bertindak subyektif
- Standar kinerja (ukuran) yang ditetapkan terlalu tinggi atau rendah.
- Gaya manajemen : Otoriter, penilaian kinerja sangat subyektif karena ukurannya dan kemampuan pemimpin. Demokratis, penilaian kinerja obyektif karena ukurannya adalah potensi SDM.
