General Theory of Crime (skripsi dan tesis)

Gottfredson dan Hirschi (1990) mengembangkan General Theory of Crime yang menyatakan tingkat self control memengaruhi kecenderungan seseorang melakukan kejahatan. Kejahatan hanya didasarkan pada satu jenis control, yaitu self control atau pengendalian diri. Kejahatan adalah produk dari orang-orang yang memiliki tingkat self control yang rendah, memiliki kecenderungan criminogenic tinggi dan berada pada kondisi peluang ilegal yang tinggi. Artinya, self control dan kesempatan akan menjadi penentu utama dari keterlibatan seseorang dalam kejahatan (Cullen dan Agnew, 1999). Individu dengan tingkat self control tinggi secara efektif mengurangi kemungkinan terjadinya kejahatan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat self control seseorang, semakin tinggi kemungkinannya berbuat kejahatan (Gottfredson dan Hirschi, 1990). Individu dengan pengendalian diri yang rendah juga cenderung malas dan putus asa dalam bertindak. Namun bagi mereka tindak pidana sebagai petualangan yang menarik, berisiko dan menantang. Berdasarkan General Theory of Crime, Grasmick et al. (1993) mengembangkan Low Self-Control Scale untuk mengukur tingkat self control seseorang dengan 6 (enam) dimensi sebagai berikut: 1) Impulsiveness, terkait dengan kepribadian seseorang yang berubah-ubah, di luar rencana dan cenderung bertindak irrasional. Pribadi dengan karakter ini cenderung bersikap dan bertindak tanpa disertai dengan alasan yang kuat. 2) Simpel tasks, terkait dengan ketertarikan seseorang pada hal-hal yang mudah, sehingga akan berusaha menghindari tugas-tugas yang sulit, menguras tenaga dan pikiran. Pribadi dengan karakter ini mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan dan tidak ingin mengeluarkan kemampuan terbaiknya. 3) Risk seeking, terkait dengan ketertarikan seseorang dengan hal-hal yang beresiko dan dapat mendatangkan masalah. Pribadi ini lebih bersemangat melakukan kegiatan yang menantang dibanding kegiatan yang menawarkan keamanan. 4) Phsycal activity, terkait dengan kepribadian seseorang yang aktif dan lebih menyukai aktivitas fisik dibanding aktivitas mental dan pikiran. 5) Self centeredness, terkait dengan individu yang mementingkan diri sendiri, suka menjadi pusat perhatian, dan memiliki simpati yang rendah terhadap orang lain. 6) Temper, terkait dengan individu yang mudah marah dan lebih senang marah dibanding berdiskusi apabila ada perbedaan pendapat.