Keterbatasan Laporan Keuangan (skripsi dan tesis)

Laporan keuangan dihasilkan oleh proses akuntansi, dengan demikian keterbatasan akuntansi keuangan juga menjadi keterbatasan laporan keuangan sebagai output dari proses akuntansi. Keterbatasan laporan keuangan menurut Harahap (2008:18) adalah sebagai berikut : “1. Laporan Keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat bukan masa kini. Karenanya laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan atau menentukan nilai (harga) perusahaan saat ini. 2. Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti pihak yang akan membeli perusahaan. 3. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan. 4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh secara material terhadap kelayakan laporan keuangan. 5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. Laba yang belum direalisir tidak dicatat namun rugi kendatipun belum direalisir tetapi sudah berlaku di pasar maka dapat dicatat, misalnya jika harga persediaan di bawah harga pokok maka perbedaan ini dapat dicatat sebagai rugi namun jika harga melebihi harga pokok tidak dicatat sebagai laba. 6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas) (Subtance Over Form). Misalnya jika perusahaan memiliki flapon kredit Rp. 1 14 Milyar artinya perusahaan memiliki dana yang dapat ditarik setiap saat sebesar jumlah itu. Namun jika itu belum ditarik maka kita tidak dibolehkan mencatatnya sebagai unsur kas di Neraca. 7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah dan pemakai laporan keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dihasilkan. 8. Adanya pelbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan. Metode penilaian persediaan boleh menggunakan metode LIFO (Last in First Out), FIFO (First in First Out), Average yang hasilnya pasti berbeda. Demikian juga metode penyusutan: Garis Lurus, Saldo menurun, Sum of years digit, dan sebagainya. 9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantitatifkan umumnya diabaikan.”
 Dari uraian di atas dapat ditarik pengertian tentang keterbatasan laporan keuangan menurut Harahap (2008:18): “1. Laporan keuangan berisi data yang telah lewat, dengan demikian apa yang terjadi saat ini tidak tersedia dalam laporan ini. 2. Laporan keuangan bersifat netral tidak untuk memenuhi kepentingan pihak tertentu. 3. Dalam penyusunannya ada berbagai taksiran atau pertimbangan. 4. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa atau transaksi daripada makna hukumnya. 5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. 6. Dalam penyusunannya lebih ditekankan kewajaran daripada kebenaran. 7. Para pembaca laporan keuangan diasumsikan mengerti terminologi akuntansi. 8. Ada berbagai metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga dapat menimbulkan variasi hasil pencatatan. 9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifsir umumnya diabaikan.” Kecuali untuk pos-pos tertentu, nilai-nilai yang tercantum adalah nilai perolehan (at-cost) bukan nilai sekarang