Menurut Doddy dkk ( 2014) , Wujud kearifan lokal ada dua macam,yaitu:
1. Tangible ( berwujud Fisik), seperti kearifan lokalyang tertuang ke dalam
bentuk tulisan yang dapat ditemukan seperti primbon dan Praksi.
Sebagai contoh dari primbon adalah naskah serat chentini , naskah
karangan pujangga sinuwun PB V(1820-1823) yang hidup dizaman
Surakarta awal abad ke -18 merupakan akumulasi catatan kearifan lokal
yang ada di dalam masyarakat Jawa pada masa itu dan sebelumnya.
Didalam naskah tersebut memuat beraneka ragam masalah atau persoalan
seperti sejarah, pendidikan,letak goegrafi, arsitektur, pengetahuan alam,
agama, falsafah, tasawuf, mistik, ramalan, sulapan, ilmu kekebalan
tubuh, perlambang, adat istiadat, tata cara dalam budaya Jawa (
perkawinan, pindah rumah, meruwat dan lain lain), etika, ilmu
pengetahuan (sifat manusia, dunia flora dan fauna, obat-obatan
tradisional, makanan tradisional, seni ( seni tari,musik/suara, wayang,
pedalangan, karawitan, dan lain-lain. Selain itu kearifan lokal berwujus
fisik ini dapat berupa benda cagar budaya dan karya seni kerajinan
tangan tradisional.
2. Intangible ( tidak berwujud) ,kearifan lokal yang tidak berwujud ini
dapat ditemui dalam petuah petuah yang disampaikan secara verbal dan
turun temurun dapat berupa nyanyian, kidung yang mengandung ajaran
ajran tradisional
