Strategi bisnis terkait dengan rangkaian keputusanmanajemen untuk
dapat bersaing dalam suatu industri dan memasarkan produknya (Walker
& Ruekert, 1987; Varadarajan & Clark, 1994). Bentley et al. (2013) dan
Houqe et al. (2013) mengungkapkan bahwa strategi bisnis dapat berperan
dalam menstimulasi keputusan manajer untuk malakukan manajemen laba.
Oleh karena itu, strategi bisnis yang dipilih oleh manajemen dapat
memberikan dampak terhadap besarnya laba yang dimiliki oleh
perusahaan.
Berdasarkan tipologi dari Miles & Snow (1978, 2003), penelitian ini
hanya menggunakan strategi prospector dan defender karena merupakan
tipe strategi paling dominan dan kontras (Bentley et al., 2013; Houqe et al.,
2013). Defender diduga melakukan manajemen laba lebih tinggi dari pada
prospector mengingat ketidakmampuannya dalam menghadapi risiko dan
menghadapi ketidakpastian yang terjadi dalam bisnis (Higgins et al.,
2013). Prioritas yang diutamakan adalah menjaga reputasinya sebagai
perusahaan yang stabil, terutamadihadapan pelanggan dan pemegang
sahamnya (Houqe et al., 2013; Higgins et al., 2013).
Houqe et al. (2013) menggunakan 3 teori untuk menggambarkan
hubungan strategi bisnis yang dilakukan oleh defender dengan
manajemenlaba, yaitu agency theory (Jensen &Meckling, 1976), political
cost theory (Watts & Zimmerman, 1978), dan transaction cost theory
(Coase, 1937). Dalam Houqe et al. (2013), Jensen & Meckling (1976)
mengungkapkanbahwa manajer pada dasarnya mengambil tindakan
berdasarkan 2 kondisi, yaitu jika kepentingannya sama dengan pemilik
(principal) atau tidak. Tindakan manajer jika kepentingannya selaras
dengan kepentingan pemilik, maka manajer mendahulukan kepentingan
perusahaan dengan tetap mengutamakan capaian bagi dirinya sendiri.
Sebaliknya, jika kepentingannya tidak selaras dengan kepentingan pemilik,
maka manajer akan cenderung memaksimalkan kepentingannya sendiri
(Houqe et al., 2013). Pada political cost theory dan transaction cost theory
manajer berusaha untuk menjaga laba perusahaan agar tidak menjadi
sorotan negatif masyarakat dan pemerintah dengan melakukan kebijakan
akuntansi secara konservatif, misal income-decreasing accounting policies
(Scott, 2015), dan tidak menimbulkan risiko bagi investor dengan
menstabilkan beban-beban transaksinya.
Defender memiliki motivasi untuk menjaga reputasinya sebagai
perusahaan stabil yang cenderung memenuhi ekspektasi investornya.
Sedangkan prospector cenderung untuk mengutamakan kepentingannya
dalam berinovasi dan mencari peluang pasar baru, sehingga berakibat pada
lebih rendahnya pemenuhan ekspektasi investornya (Houqe et al., 2013).
Kondisi tersebut mengakibatkan prospector tidak memiliki tekanan
untukmelakukan manajemen laba jika dibandingkan dengan defender.
Hasil penelitian Houqe et al. (2013) membuktikan bahwa terdapat
hubungan antara pemilihan strategi bisnis defender dengan lebih tingginya
tingkatmanajemen laba karena ekspektasi investor terhadap perusahaan
juga semakin tinggi.
