Asimetri Informasi


Dasar dari teori asimetri informasi berasal dari pengusaha dalam pasar
tenaga kerja yang sering mempunyai informasi lebih banyak tentang status
sekarang dan di masa mendatang perusahaannya, dan dapat menggunakan
SPREAD = (aski,t – bidi,t) / {(aski,t + bidi,t) /2} x 100
kelebihan ini sebagai basis negosiasi. Hal ini dapat dilihat sebagai suatu
ketidaksempurnaan dalam bekerjanya mekanisme pasar dan dapat
menyebabkan efesiensi ekonomik. Kondisi inilah yang membuat manajemen
memanfaatkan ketidakselarasan informasi untuk mencari keuntungan pihak
manajemen sendiri serta sekaligus dapat menimbulkan kerugian pihak luar
perusahaan seperti membiaskan informasi yang terkait dengan investor.
(Febrianto, 2015)
Menurut Mustikawati (2015) Asimetri informasi merupakan suatu kondisi
dimana terjadi ketidakseimbangan antara jumlah informasi yang dimiliki
manajemen perusahaan dengan jumlah informasi yang dimiliki oleh pihak
diluar perusahaan.
Menurut Scott (2009) dalam Wicaksono (2015), terdapat 2 macam asimetri
informasi. Pertama, adverse selection, bahwa para manajer dan orang-orang
dalam lainnya lebih banyak mengetahui tentang keadaan dan prospek
perusahaan dibanding pihak luar. Terdapat fakta-fakta yang tak disampaikan
kepada principal. Kedua, moral hazard, adalah kegiatan yang dilakukan oleh
manajer tidak semuanya diketahui oleh investor (pemegang saham dan
kreditor) sehingga manajer bisa melakukan tindakan yang melanggar kontrak
tanpa sepengetahuan pemegang saham. Secara etika, hal itu tidak layak untuk
dilakukan.
Penelitian ini menghitung besarnya relative bid-ask spread untuk
mengukur asimetri informasi menggunakan model yang digunakan Febrianto
(2015) yaitu:
Keterangan:
Aski,t : harga ask tertinggi saham perusahaan i yang terjadi pada periode t
Bidi,t : harga bid terendah saham perusahaan i yang terjadi pada periode t