Konsep keunggulan bersaing (competitive advantage), menurut Porter
dalam Yuni Istanto (2010:125), tidak dapat dipahami dengan cara memandang
sebuah perusahaan sebagai suatu keseluruhan, tetapi harus dari asal keunggulan
bersaing itu yaitu berbagai aktivitas berlainan yang dilakukan oleh perusahaan
dalam mendesain, memproduksi, memasarkan, menyerahkan dan mendukung
produknya. Analisis rantai nilai lebih tepat untuk meneliti keunggulan bersaing
daripada nilai tambah (harga jual dikurangi biaya pembelian bahan baku), karena
analisis ini dapat mengetahui nilai-nilai yang dimiliki semua aktivitas, sehingga
dapat diketahui asal atau sumber dari keunggulan bersaing itu.
Dengan menggunakan analisis rantai ini, manajemen dapat melakukan
aktivitas berikut :
- Memahani perilaku biaya
- Megidentifikasi apa yang menciptkanan nilai bagi pembeli
- Memilih strategi teknologi yang mencerminkan signifikansi teknologi
perusahaan untuk keunggulan bersaing - Integrasi hubungan strategic antar unit usaha yang ada, untuk mencapai
kinerja yang lebih baik.
Konsep keunggulan bersaing (competitive advantage) menurut Day dan
Wensley dalam Yuni Istanto (2010 : 125) diartikan sebagai kompetisi yang
berbeda dalam keunggulan keahlian dan sumber daya. Secara luas menunjukkan
apa yang diteliti di pasar yaitu keunggulan posisional berdasarkan adanya customer
value yang unggul atau pencapaian biaya relatif yang lebih rendah dan
menghasilkan pangsa pasar dan kinerja yang menguntungkan.
Cravens dalam Yuni Istanto (2010 : 125) mengemukakan bahwa
keunggulan bersaing seharusnya dipandang sebagai suatu proses dinamis bukan
sekedar dilihat sebagai hasil akhir. Keunggulan bersaing memiliki tahapan proses
yang terdiri atas sumber keunggulan, keunggulan posisi dan prestasi hasil akhir
serta investasi laba untuk mempertahankan Keunggulan dipertahankan dengan
berjuang sekuat tenaga untuk melakukan perbaikan secara terus menerus terhadap
nilai yang diberikan pada para pembeli dan atau mengurangi biaya dalam
menyediakan produk atau jasa.
Sedangkan menurut Keegan dalam Yuni Istanto (2010 : 125), keunggulan
bersaing ada kalau terdapat keserasian antara kompetensi yang membedakan dari
sebuah perusahaan dan faktor-faktor kritis untuk meraih sukses dalam industri yang
menyebabkan perusahaan tadi mempunyai prestasi yang jauh lebih baik dari pada
pesaingnya
