Menurut Van de ven, et al., (1976, Campion, et al., 1993, dalam Stark, et
al., 2014) menyatakan saling ketergantungan tugas, atau sejauh mana anggota
kelompok harus bergantung pada satu sama lain untuk menyelesaikan pekerjaan
mereka, sering berpendapat memiliki efek langsung yang positif pada hasil kerja
kelompok. Perilaku saling ketergantungan sering dianggap persyaratan mendasar
untuk pemenuhan tujuan tim, hal itu seharusnya tidak biasa bahwa saling
ketergantungan tugas adalah variabel penting dalam model teoritis efektivitas tim
(Driskell & Salas, 1992, dalam Stark, et al., 2014).
Ivancevich, et al., (2007), mengemukakan ketergantungan tugas terjadi
ketika dua (atau lebih) kelompok organisasi harus saling bergantung satu sama
lain untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Berikut adalah tiga jenis
ketergantungan antarkelompok:
1) Ketergantungan Berkelompok (Pooled Interdependence)
Ketergantungan yang tidak membutuhkan adanya interaksi antar
kelompok karena setiap kelompok melakukan kinerjanya secara terpisah.
Dalam situasi ini, kinerja semua kelompok menentukan seberapa sukses
organisasi yang ada. Kelompok-kelompok yang ada saling tergantung
karena setiap kelompok harus menunjukkan kemajuan atau apapun yang
cukup agar organisasi dapat maju. Potensi konflik dalam ketergantungan
berkelompok seperti ini cukup relatif rendah, dan manajemen dapat
mengendalikan peraturan dan prosedur kerja standar yang dikembangkan
oleh kantor pusat untuk melakukan koordinasi.
2) Ketergantungan Berurutan (Sequential Interdependence)
Ketergantungan yang membutuhkan satu kelompok untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya terlebih dahulu sebelum kelompok lainnya
dapat menyelesaikan tugasnya. Tugas-tugas ini diselesaikan dalam cara
yang berurutan. Dalam situasi seperti ini, konflik antar kelompok lebih
mungkin terjadi karena hasil keluaran (output) satu kelompok menjadi
masukan (input) bagi kelompok yang lain. Upaya mengkoordinasikan
ketergantungan seperti ini melibatkan fungsi perencanaan yang efektif dari
pihak manajemen.
3) Ketergantungan Resiprokal (Reciprocal Interdependence)
Ketergantungan yang mensyaratkan hasil keluaran (output) setiap
kelompok berfungsi sebagai masukan (input) bagi kelompok lainnya
dalam organisasi. Contohnya adalah ketergantungan antara petugas
menara control di bandara, kru pesawat, petugas lapangan, dan petugas
bagian pemeliharaan. Hubungan seperti ini menciptakan ketergantungan
resiprokal (timbal balik) yang sangat tinggi dan potensi konflik sangat
tinggi dalam situasi-situasi seperti ini. Koordinasi yang efektif
membutuhkan penggunaan proses komunikasi dan pengambilan keputusan
yang terampil dan terorganisasi dari pihak manajemen.
Setiap organisasi memiliki ketergantungan berkelompok. Organisasi yang
paling rumit mengalami ketergantungan berkelompok, berurutan, dan resiprokal,
semakin besar potensi konflik yang akan dihadapi maka akan semakin sulit juga
tugas yang dihadapi manajemen (Ivancevich, et al., 2007).
Menurut Wirawan (2010), saling ketergantungan tugas merupakan salah
satu faktor penyebab konflik. Konflik terjadi karena pihak-pihak yang terlibat
konflik memiliki tugas yang tergantung satu sama lain. Jika tidak ada saling
ketergantungan tugas, maka konflik tidak akan terjadi. Jadi, konflik terjadi di
antara pihak yang saling membutuhkan saling berhubungan dan tidak bisa
meninggalkan satu sama lain tanpa konsekuensi negatif.
Ivancevich, et al., (2007) menjelaskan bahwa dampak atau konsekuensi
dari saling ketergantungan tugas adalah komunikasi yang menurun. Hal ini dapat
bersifat sangat disfungsional, terutama ketika hubungan kerja antarkelompok
adalah ketergantungan kerja berurutan (sequential interdependence) atau
ketergantungan kerja resiprokal. Proses pengambilan keputusan dapat terganggu
dan para pelanggan atau orang lain yang dilayani oleh organisasi akan terkena
dampaknya.
