Meskipun banyak keuntungan menggunakan tim virtual, dapat hadir
beberapa kelemahan, seperti tantangan dalam komunikasi, koordinasi,
mempertahankan kepemimpinan, mengelola perbedaan budaya dan
mengembangkan hubungan kepercayaan antara tim-tim. Kendala tersebut dapat
menyebabkan keterlambatan waktu dalam menyelesaikan tugas yang akan
mengancam kinerja tim virtual (Brahm dan Kunze 2012; Saafein dan Shaykhian
2014; dalam Watanuki & Moreas, 2016). Robins & Judge (2013) menjelaskan tim
virtual sering kali mengalami hubungan sosial yang kurang baik dalam
berinteraksi langsung antar anggota. Tidak mengejutkan, para anggota tim virtual
melaporkan kepuasan yang lebih sedikit dengan proses interaksi kelompok
daripada bila dibandingkan dengan anggota tim yang bertemu secara berhadap-
hadapan.
Menurut Horwitz, et al (2006; dalam Mulyani, 2016) menganggap hal
yang kritis dalam kerjasama tim virtual adalah resiko yang berkaitan dengan
pembentukan tim seperti kepercayaan (trust), perbedaan budaya, konflik anggota,
dan pengambilan keputusan yang kompleks. Terdapat beberapa tantangan dalam
penelitian ini:
1) Memutuskan teknologi terbaik yang digunakan untuk berkoumikasi;
2) Menyeleksi anggota tim (khususnya untuk tim virtual yang anggotanya berasal
dari negara yang berbeda, lintas budaya, dan perbedaan wilayah waktu);
3) Kemampuan untuk membangun trust dan produktivitas diantara anggota tim;
4) Kapasitas untuk menyelesaikan konflik di dalam tim dan antara tim dengan
menejemennya.
Menurut Daft & Lengel (1984; dalam Martins, et al., 2004), jenis
teknologi yang digunakan oleh tim virtual adalah input penting sebagai kekayaan
media yang telah ditemukan berdampak positif terhadap efektivitas tim, efisiensi
jumlah, komunikasi, hubungan antar anggota tim, dan komitmen tim. Sebaliknya
teknologi memang memiliki sisi gelapnya sebagai kebaruan teknologi yang
digunakan telah ditemukan berdampak negatif terhadap kinerja tim. Isyarat non-
verbal dan visual yang berkurang terkait dengan peningkatan penggunaan
teknologi telah dikutip sebagai alasan mengapa tim virtual membutuhkan waktu
lebih lama untuk membuat keputusan adalah kurang mampu membuat kesimpulan
tentang pengetahuan anggota, dan kurang mampu mengantisipasi tanggapan
anggota lain (Hollingshead, McGrath & O’Connor, 1993; Cramton, 2002;
Hollingshead, 1998; Sproull & Kiesler, 1986; dalam Martins, et al., 2004).
Perbedaan budaya juga telah ditemukan berdampak negatif terhadap koordinasi
tim virtual dan komunikasi (Maznevski & Chudoba, 2000; Kayworth & Leidner,
2000; dalam Martins, et al., 2004)
