Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Tim Virtual


Seiring berkembangnya interaksi antara anggota tim virtual, sangat penting
bagi para pemimpin untuk melatih, membangun rasa saling percaya, mengevaluasi
kinerja, dan memberikan umpan balik pada anggota tim. Para pemimpin ditantang
untuk membangun motivasi dan memberikan dukungan yang diperlukan dalam
suatu situasi yang baru karena tim virtual terpisah-pisah secara geografis dan
menggunakan jembatan teknologi (Ivancevich, et al., 2007).
Kepercayaan, komunikasi, kepemimpinan, penetapan tujuan dan teknologi
semua muncul sebagai faktor penting untuk pembentukan tim virtual yang sukses
(Bergiel, et al., 2008). Menurut Mulyani (2016), kondisi-kondisi tertentu dan
spesifikasi penelitian sering memunculkan keberagaman pendapat mengenai
faktor-faktor yang mendukung efektifitas tim virtual. Untuk membantu anggota
tim meraih level kolaborasi virtual yang lebih baik, faktor yang penting untuk
dikembangkan adalah relationship, share understanding dan trust. Ketiga faktor
ini merupakan faktor yang diperlukan untuk menciptakan kondisi yang diperlukan
bagi berlangsungnya sebuah kerjasama tim yang efektif (Peter & Manz, 2007).
Horwitz, et al., (2006) manambahkan, faktor yang paling signifikan sebagai faktor
yang mendukung efektivitas tim virtual adalah relationship, peranan dan tujuan
yang jalas (share understanding), komunikasi lintas budaya dan leadership.
Berdasarkan Curseu, et al., (2008), memastikan bahwa kondisi komunikasi
(communication environment) memengaruhi efektifitas tim virtual, sehingga perlu
diperhatikan pemilihan perangkat teknologi komunikasi yang digunakan dan perlu
dipastikan bahwa setiap anggota tim menguasai cara menggunakan perangkat
komunikasi tersebut. Dari hasil penelitian mereka dinyatakan perlunya leadership
yang efektif yang dapat mengatasi hambatan-hambatan dalam proses komunikasi.
Lebih lanjut, Mulyani (2016) mengemukakan hasil penelitian yang
menyampaikan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas tim virtual
sebagai berikut:

  1. Trust
    Trust ini sering diartikan dari adanya informasi yang dimiliki oleh anggota
    tim bahwa anggota tim lainnya dapat/mampu menyelesaikan pekerajaan
    mereka tepat waktu. Tanpa adanya trust, tim virtual tidak dapat menjadi
    efektif, sebab anggota-anggotanya tidak akan mau untuk mengambil suatu
    resiko tertentu. Tim virtual berada dalam kondisi yang penuh kompleksitas
    dan undercertainty, keselarasan tindakan hanya dapat terjadi jika dalam tim
    virtual terdapat trust.
  2. Depth of Relationship
    Tim virtual yang sukses meluangkan lebih banyak waktu mereka untuk
    melakukan pertemuan secara virtual/komunikasi virtual. Depth of relationship
    dapat terbangun melalui dua cara yaitu pertemuan secara face to face antar
    anggota tim pada awal pembentukan tim, dan juga pengetahuan tentang
    anggota tim. Tim virtual yang sukses meluangkan waktu mereka untuk
    membangun relationship secara face to face dan diketahui tim yang tidak
    efektif (ineffective) membangun relationship mereka hanya melalui interaksi
    media elektronik seperti e-mail dan lainnya.
  3. Goal dan Share Understanding
    Organisasi menyadari adanya kebutuhan untuk berbagi pengetahuan dan
    kemampuan, dimana visi dan tujuan serta hubungan kolaborasi sangat penting
    untuk membangun efektifitas tim virtual. Share understanding lebih dari
    sekedar tujuan umum yang dikenali seluruh anggota tim, akan tetapi
    memastikan bahwa setiap anggota memiliki pemahaman yang jelas terhadap
    arah strategi tim.
  4. Komitmen
    Berdasarkan hasil penelitian Powell, et al., (2006), komitmen affectivite
    dan normative memiliki hubungan positif terhadap performansi dan kepuasan
    dalam organisasi dan tim, dan merupakan komponen komitmen yang ada
    dalam kerjasama tim, sedangkan komitmen continuance sifatnya lebih jangka
    panjang dan berkaitan dengan nilai-nilai organisasi secara luas. Komitmen ini
    sangat erat hubungannya dengan trust. Komitmen tidak akan pernah bisa
    muncul bila tidak terbangun trust di dalam tim.
  5. Leadership
    Kehadiran leader/pemimpin yang bias memfasilitasi kebutuhan tim dalam
    virtual tim menjadi poin yang penting. Dalam tim virtual sosok pemimpin
    sering memainkan peran sebagi penengah. Seorang pemimpin tim harus
    membuat aturan-aturan yang jelas terkait jadwal, deadline, dan hak-kewajiban
    anggota pada integrase informasi, serta koordinasi lintas zona waktu.
  6. Teknologi
    Penggunaan dan penguasaan terhadap perangkat teknologi yang tepat
    merupakan faktor penentu dalam keberhasilan sebuah tim. Tim virtual tidak
    akan ada seperti saat ini tanpa adanya perangkat teknologi yang ada saat ini.
    Kontinuitas melakukan eksplorasi dan melakukan update terhadap
    perkembangan-perkembangan terbaru dari perangkat teknologi, seperti
    software, hardware, dan berbagai aplikasi lainnya akan sangat menunjang
    keberhasilan dari tim virtual, dimana komunikasi dan interaksi dapat
    berlangsung semakin baik, dan pekerjaan mereka juga dapat terfasilitasi
    dengan baik melalui pengembangan website dan juga bandwidth. Perangkat
    teknologi digunakan dalam tim virtual yang dikondisikan sesuai kebutuhan,
    artinya perangkat komunikasi yang menunjang komunikasi dan kerjasama
    dalam tim virtual ini, harus mampu memfasilitasi kebutuhan kerjasama tim,
    dan mampu memfasilitasi anggota untuk menyampaikan informasi dengan
    muatan isyarat verbal dan non verbal.
  7. Pelatihan (Training)
    Pelatihan diperlukan mengingat adanya perbedaan karakteristik antara tim
    virtual dan tim face to face. Penggunaan teknologi juga menjadi salah satu hal
    yang membuat pelatihan ini perlu untuk dilakukan. Mengingat setiap
    teknologi baru, seperti software dan perangkat lunak lainnya yang selalu
    memerlukan keahlian khusus. Anggota tim dari tim virtual harus memiliki
    kemampuan, pemahaman dan peralatan yeng memadai untuk dapat aktif
    dalam tim virtual