Kepemimpinan dalam bahasa Inggris disebut leadership. Secara
morfologi, leadership berasal dari kata kerja (verb) to lead yang artinya:
memimpin, menggiring, atau mengarahkan. Menurut Suyuti (2001) dalam
Nasution et al., (2016) kepemimpinan adalah proses mengarahkan,
membimbing dan mempengaruhi pikiran, perasaan, tindakan, dan perilaku
orang lain untuk digerakkan ke arah tujuan tertentu. Kepemimpinan dapat
didefinisikan sebagai proses di mana, dalam kontak, manusia
mempengaruhi perilaku satu sama lain. Menurut Nwankwere et al., (2011)
dalam Bakara & Sukiswo (2015), “leadership has been identified as an
important subject in the field of organizational behavior. Leadership is one
with the most dynamic effects during individual and organizational
interaction. In other words, ability of management to execute
“collaborated” effort” depends on leadership capability”. Kepemimpinan
telah diidentifikasi sebagai subjek penting dalam bidang perilaku organisasi.
Kepemimpinan adalah salah satu efek paling dinamis selama individu dan
organisasi berinteraksi. Dengan kata lain, kemampuan manajemen untuk
menjalankan “usaha kolaborasi” tergantung pada kemampuan
kepemimpinan.
Pada sebuah organisasi sifat dan sikap seorang pemimpin untuk
mempengaruhi orang lain sangat penting dalam mencapai tujuan organisasi.
Pemimpin harus mampu menjalankan organisasi perusahaan dengan baik,
karena hakikat seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh hasil yang
dicapai secara pribadi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam
menjalankan fungsi manajemen agar mendapatkan hasil yang diinginkan
perusahaan. Menurut Kartono (2001) dalam Hariyanto et al., (2013)
pemimpin yang baik memiliki sifat-sifat yaitu:
a. Mempunyai kemampuan melebihi orang lain: seorang pemimpin
tidak menjadi orang nomor dua, juga mempunyai keinginan
mengatasi dan mempengaruhi orang lain serta seorang pemimpin
harus penuh inisiatif dan sanggup bekerja keras serta ulet untuk
dapat mencapai tujuan.
b. Mempunyai rasa tanggung jawab yang besar: seorang pemimpin
tidak akan pernah merasa takut untuk memilih atau memikul
tanggung jawab terhadap orang lain, atau pekerjaan yang sukar
sekali.
c. Sanggup bekerja keras: seorang pemimpin akan selalu sanggup
bekerja keras dan tidak kenal lelah, pemimpin mempunyai daya
tahan yang kuat untuk bekerja keras dalam jangka waktu lama. Hal
ini untuk dapat memberi contoh atau motivasi pada bawahan.
d. Pandai bergaul: seorang pemimpin yang baik, selalu pandai bergaul
dengan teman sejawat dan berusaha mengenal baik temannya serta
memahami segala persoalannya.
e. Memberi contoh bekerja dengan semangat pada bawahan: seorang
pemimpin selalu menjadi pelopor dan selalu memberi contoh
bagaimana cara bekerja keras dan bersemangat sehingga bawahan
dengan sendirinya terhimbau untuk ikut bekerja dengan semangat.
f. Memiliki rasa integritas: pemimpin harus mempunyai rasa bersatu
padu dengan kelompok yang ada dalam organisasi.
Dalam kepemimpinan seharusnya seorang pemimpin juga
mengetahui tentang fungsi kepemimpinan yang dapat membantu pemimpin
dalam berinteraksi dengan bawahan atau anggota dan orang-orang yang
akan menjalin kerja sama dengannya. Menurut Rivai (2012) dalam Puspa
(2019) terdapat lima fungsi pokok kepemimpinan, sebagai berikut:
a. Fungsi Instruksi
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin
sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa,
bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar
keputusan dilaksanakan secara efektif. Fungsi instruksi adalah
kemampuan pimpinan menggerakkan orang lain agar melaksanakan
perintah yang bersumber dari keputusan yang ditetapkan.
b. Fungsi Konsultasi
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
pelaksananya sangat bergantung pada pihak pemimpin, dengan
menjalankan fungsi konsultasi dapat diharapkan keputusan dari
pemimpin akan mendapat dukungan dan akan lebih mudah
menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berjalan efektif.
c. Fungsi Partisipasi
Fungsi ini berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif
antara pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin berusaha
mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam
keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam pelaksanaannya.
d. Fungsi Delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang
membuat atau menetapkan keputusan baik melalui persetujuan
maupun tanpa persetujuan dari pemimpin. Fungsi delegasi pada
dasarnya berarti kepercayaan. Pemimpin harus bersedia dan dapat
mempercayai orang lain sesuai dengan posisi atau jabatannya
apabila diberi pelimpahan wewenang. Kepercayaan tersebut harus
dilaksanakan secara bertanggung jawab.
e. Fungsi Pengendalian
Fungsi ini cenderung bersifat komunikasi satu arah. Pengendalian
yang dimaksud adalah kepemimpinan yang efektif mampu mengatur
aktivitas anggota bawahannya secara terarah dan dalam koordinasi
yang efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama
secara maksimal.
