Kegembiraan dan kesenangan pada berbelanja seringkali disebut dengan
perilaku hedonisme, hal tersebut yang mencerminkan aspek reaksi dari berbelanja.
Secara spesifik, menurut Hashmi et al., (2020) bahwasannya pelanggan yang
memiliki sifat hedonisme yang tinggi cenderung terlibat secara aktif berbelanja di
dalam toko.
Motivasi hedonis mengacu pada faktor hiburan yang berkaitan dengan
aktivitas tertentu, yang mana aktivitas tersebut adalah hasil dari keseruan dari
permainan yang muncul dari penggunaan media sosial Agichtein et al., (2008). Dari
sudut pandang hedonis tersebut, pengguna dianggap sebagai pencari kesenangan
yang menghibur sehingga menumbuhkan kenikmatan.
Menurut Muntinga et al., (2011) motif hedonisme sendiri diidentifikasi
dengan kesenangan, relaksasi, dan hiburan sebagai faktor utama yang
meningkatkan konsumsi konten terkait merek oleh pengguna media sosial.
Berdasarkan penjelasan mengenai landasan teori terhadap motif hedonisme,
maka terdapat indikator yang dapat diukur menurut Sharifi Fard et al., (2019) yaitu:
a. Menyenangkan
Ketika pelanggan merasa informasi pada platform tersebut menyenangkan,
maka mereka akan cenderung mengarah pada keputusan pembelian.
b. Merasa lebih baik
Pelanggan merasa lebih baik ketika menerima informasi yang mendukung
pada keputusan pembelian melalui platform tersebut.
c. Merasa nyaman
Pada saat pelanggan menerima informasi yang akurat dan merasa nyaman,
maka berdampak kepada mereka untuk melakukan pembelian di platform.
d. Menghibur
Informasi yang menghibur dan membawa kesenangan pada diri pelanggan
mempengaruhi mereka untuk tertarik melakukan pembelian
