Sistem Komunikasi Organisasi


Sistem komunikasi adalah sekelompok orang, pedoman dan media yang
melakukan kegiatan mengolah, meyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol,
lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai suatu
kesepakatan dan saling pengertiansatu sama lain dengan mengolah pesan itu
menjadi sumber informasi (Nurdin, 2008)
Sistem komunikasi organisasi adalah interaksi antara faktor-faktor yang
ada dalam organisasi, yaitu antara lain: iklim, kepuasan organisasi, kepuasan
organisasi, budaya organisasi, teknologi informasi dalam organisasi, gaya
kepemimpinan dan konflik dalam organisasi.
Pentingnya komunikasi dalam mempengaruhi sistem organisasi
dinyatakan Likert menempatkanya sebagai variabel menajerial penting sebagai
dasar penyusunan teori empat sistem yang dikembangkan. Likert dalam
bukunya (Morisson, 2009) menyatakan adanya empat sistem manajemen yang
utama, yaitu :

  1. Eksploitatif-otoritatif
  • Pada sistem ini , manajemen menggunakan rasa takut dan ancaman
    kepada bawahanya.
  • Pimpinan memutuskan segala persoalan tanpa meminta umpan
    balik dari bawahan.
  • Motivasi terbentuk karena adanya ancaman.
  • Komunikasi berlangsung dari atas ke bawah, dengan sebagian
    besar keputusan diambil oleh pimpinan.
  1. Benevolen-Otoritatif
  • Motivasi kerja terbentuk jika ada penghargaan dan hadiah
  • Informasi dapat mengalir dari bawah ke atas namun terbatas pada
    hal-hal yang ingin di dengar oleh atasan.
  • Pimpinan mengabil keputusan yang terkait dengan kebijakan
    tertentu, namun mendelegasikana atau memberikan kewenangan
    kepada bawahan untuk mengambil keputusan tertentu.
  • Rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan yang diinginkan
    hanya ada pada pimpinan dan manajer tingkat menengah sedangkan
    bawahan sama sekali tidak memilliki.
  • Rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan yang diinginkan
    hanya ada pada pimpinan sedangkan bawahan sama sekali tidak
    memiliki.
  1. Konsultatif
  • Atasan dan bawahan sedikit sekali melakukan komunikasi.
  • Pada sistem ini pimpinan berkonsultasi dengan karyawan atau
    bawahan, namun pimpinan tetap memegang kontrol perusahaan.
  • Komunikasi mengalir, baik secara vertikal maupun horizontal.
    Terdapat semangat kerja kelompok yang cukup memadai, walaupun
    motivasi yang muncul masih berdasarkan penghargaan atau hadiah
    yang dijanjikan.
  • Rasa tanggung jawab untuk mencapai tujuan yang diinginkan
    sudah menjangkau manajer tingkat rendah.
  1. Kelompok Partisipatif
  • Pimpinan memberikan peluang sepenuhnya kepada karyawan
    dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian terdapat
    kepercayaan besar terhadap bawahan.
  • Motivasi terbentuk karena adanya penghargaan ekonomi
    berdasarkan tujuan yang ditentukan bersama.
  • Seluruh individu pada setiap tingkatan memiliki rasa tanggung
    jawab yang riil untuk mencapai tujuan organisasi.
  • Komunikasi berlangsung secara intensif dalam segala arah secara
    terbuka dan terus terang serta hubungan atasan bawahan yang dekat.
  • Pengambilan keputusan melalui proses dalam kelompok, dan
    masing-masing kelompok terhubung satu sama lain melalui individu
    yang menjadi anggota dari beberapa kelompok.