Iklim Komunikasi


Iklim komunikasi didefinisikan oleh Poole dan McPhee (Little John, 2002)
sebagai suatu sikap kolektif yang secara terus menerus di produksi oleh
interaksi anggota-anggota organisasi. Dengan kata lain, suatu iklim bukanlah
sebuah variabel objektif dan buka pula suatu persepsi individu tentang
organisasi, tetapi iklim muncul dan interaksi diantara mereka yang berfiliasi
dengan organisasi. Iklim adalah sebuah produk strukturasi, iklim adalah sebuah
media dan sekaligus juga sebagai sebuah hasil interaksi.
Pace dan Faules menegaskan bahwa iklim komunikasi berbeda dengan
iklim organisasi dalam artiiklim komunikasi meliputi persepsi-persepsi
mengenai pesan dan peristiwa yang berhubungan dengan pesan yang terjadi
dalam organisasi. Banyak ahli mengatakan bahwa iklim komunikasi
merupakan hal penting dalam organisasi (Redding, Poole dalam Pace Faules,
2000). Dengan mengetahui sesuatu tentang iklim organisasi kita dapat
memahami lebih baik apa yag mendorong anggota organisasi untuk bersikap
dengancara-cara tertentu. Iklim komunikasi penting karena mengaitkan konteks
organisasi dengan konsep-konsep, perasaan-perasaan dan harapan-harapan
anggota organisasi dan membantuk menjelaskan perilaku anggota organisasi.
Iklim komunikasi merupakan bagian dari iklim yang mencerminkan gambaran
dari para karyaawan mengenai keadaan komunikasi dalam organisasinya.
Jelasnya, iklim komunikasi dalam organisasi merupakan kumpulan persepsi
para karyawan tentang situasi komunikasi dalam lingkungan organisasi. Iklim
komunikasi merupakan salah satu hal pendorong motivasi seseorang dalam
suatu organisasi di samping pemenuhan kebutuhan lainnya. Adapun 5 unsur
sebagaimana yang dikemukakan dalam model Redding dalam Goldhaber
(1990) yaitu :

  1. Dukungan, yaitu bawahan memandang hubungan komunikasi dan
    interaksi dengan atasanya mencerminkan saling mendukung
    sehingga kesadaran mereka tentang makna dan kepentingan
    perannya makin besar.
  2. Kepercayaan, keyakinan dan kredibilitas yaitu dapat diperccaya dan
    dapat menyimpan rahasia.
  3. Partisipasi dalam mengambil keputusan, yang pada dasarnya
    menunjukan komunikasi dengan atasan mempunyai manfaat dan
    pengaruh. Atasan cukup terpelajar untuk mendengar dan mau
    mendengarkan bawahanya. Ada kebebasan komunikasi kepada
    atasanya.
  4. Keterbukaan dan keterusterangan, baik dalam komunikasi formal
    maupun informal terdapat keterbukaan dan ketulusan dalam berkata
    maupun mendengarkan.
  5. Tujuan kinerja yang tinggi, pada tingkat mana tujuan kinerja
    dikomunikasikan dengan jelas kepada anggota organisasi
    sebagaimana dirasakan dan dialami segenap anggota.