Kepercayaan adalah suatu harapan positif bahwa orang lain tidak akan
bertindak secara oportunistik. Istilah oportunistik merujuk pada resiko di dalam
hubungan berbasis kepercayaan. Menurut Cumming dan Bromiley, yang dikutip
oleh Altuntas dan Baykal (2010) konsep kepercayaan telah didefinisikan sebagai:
rasa percaya diri dan komitmen tanpa persepsi ketakutan, dan keraguan, seseorang
percaya bahwa ia akan menerima dukungan dan kolaborasi dalam memecahkan
masalah pada saat dibutuhkan, tanpa adanya motif tersembunyi yang mendasari
dan/atau pikiran negatif pada bagian dari orang lain. Kepercayaan Organisasi yang
merupakan dasar dari hubungan intern organisasi, memiliki beberapa definisi
dalam literatur.
Menurut Ba dan Pavlou (2002) mendefinisikan kepercayaan sebagai
penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi
tertentu sesuai dengan harapan dalam sebuah lingkungan yang penuh ketidakpastian. Kepercayaan terjadi ketika seseorang yakin dengan reliabilitas dan
integritas dari orang yang dipercaya. Walgito (2010) menyatakan bahwa
kepercayaan diri (Self-Confidence) merupakan dasar bagi berkembangnya sifatsifat mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab, sebagai ciri manusia yang
berkualitas yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi lantangan masa depan.
Dipandang sebagai orang yang dapat dipercaya, seseorang harus dilihat
sebagai seseorang yang jujur, kompeten, dan memiliki ketulusan pada orang lain.
Kepercayaan (trust) tidak dapat diminta atau dipaksakan tetapi harus dihasilkan.
Kepercayaan timbul dari suatu proses yang lama sampai kedua belah pihak saling
mempercayai. Apabila kepercayan sudah terjalin antara organisasi dan karyawannya, maka usaha untuk membinanya lebih mudah.
