Indikator Kinerja Karyawan


Kasmir (Kasmir, 2016, hal. 208) menyatakan ada beberapa faktor yang
dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja karyawan, diantaranya:

  1. Kuantitas Pekerjaan
    Menunjukkan jumlah pekerjaan yang dihasilkan sebagai syarat yang
    menjadi standar pekerjaan, dan dinyatakan dalam istilah: jumlah unit atau jumlah
    siklus aktivitas yang telah diselesaikan.
  2. Kualitas Pekerjaan
    Kualitas yang dimaksud ialah terpenuhinya persyaratan suatu pekerjaan atas
    kualitas yang sudah ditentukan oleh perusahaan, serta persepsi karyawan
    terhadap kualitas dan kesempurnaan tugas terhadap kemampuan karyawan.
  3. Ketepatan Waktu
    Ketepatan waktu ialah suatu pekerjaan yang diselesaikan dengan
    memaksimalkan waktu yang sudah ditetapkan diawal, dengan melihat hasil yang
    diperoleh dalam waktu yang disediakan.
  4. Penekanan Biaya
    Biaya yang dikeluarkan untuk setiap aktivitas perusahaan sudah
    dianggarkan sebelum aktivitas dijalankan. Artinya dengan biaya yang sudah
    dianggarkan tersebut merupakan acuan agar tidak melebihi dari yang sudah
    dianggarkan. Jika pengeluaran biaya melebihi anggaran yang telah ditetapkan
    maka akan terjadi pemborosan, sehingga kinerjanya dianggap kurang baik
    demikian pula jika pengeluaran biaya sesuai dengan anggaran maka tidak akan
    terjadi pemborosan, dan sehingga kinerjanya dianggap baik.
  5. Pengawasan
    Hampir seluruh jenis pekerjaan perlu melakukan pengawasan terhadap
    pekerjaan yang sedang berjalan. Pada dasarnya situasi dan kondisi selalu
    berubah dari keadaan yang baik menjadi tidak baik atau sebaliknya. Oleh karena
    itu, setiap aktivitas pekerjaan memerlukan pengawasan sehingga tidak
    melenceng dari yang telah ditetapkan. Dengan adanya pengawasan maka setiap
    pekerjaan akan menghasilkan kinerja yang baik. Dengan melakukan pengawasan
    karyawan akan lebih bertanggung jawab atas pekerjaannya dan jika terjadi
    penyimpangan akan memudahkan untuk melakukan koreksi dan melakukan
    perbaikan secepatnya. Artinya pengawasan sangat diperlukan dalam rangka
    mengendalikan aktivitas karyawan agar tidak meleset dari yang sudah
    direncanakan atau ditetapkan.
  6. Hubungan antar Karyawan
    Penilaian kinerja sering kali dikaitkan dengan kerja sama atau kerukunan
    antar karyawan dan antar pimpinan. Hubungan ini sering kali juga dikaitkan
    sebagai hubungan antar perseorangan. Dalam hubungan ini diukur apakah
    seorang karyawan mampu untuk mengembangkan perasaan saling menghargai,
    niat baik, dan kerja sama antar karyawan satu dengan karyawan yang lainnya.
    Hubungan antar perseorangan akan menciptakan suasana yang nyaman dan kerja
    sama yang memungkinkan satu sama lain saling mendukung untuk
    menghasilkan aktivitas pekerjaan yang lebih baik.