Tingkatan Budaya Organisasi


Menurut Schein dalam Panbundu (2012, p.22) membagi budaya
organisasi kedalam beberapa level atau tingkatan, yaitu :

  1. Artifak (Artifact)
    Tingkat pertama budaya organisasi yang tampak (Visible) atau
    permukaan (Surface). Tingkatan atau level ini merupakan dimensi
    yang dapat dilihat, didengar, dirasakan ketika seseorang memasuki
    suatu organisasi dengan budaya yang kurang dikenal (Unfamiliar)
    seperti produk, sejarah organisasi, arsitektur, bahasa, teknologi,
    mitos, cerita, ritual, dan cara berpakaian.
  2. Nilai – Nilai (Espoused Values)
    Tingkat kedua budaya organisasi yang tidak tampak (Invisible) yaitu
    nilai – nilai yang diekspresikan oleh atasan dan rekan – rekan kerja
    seperti. Tingkat atau level budaya ini dapat terlihat setiap penentuan
    tujuan organisasi, dan cara – cara penyelesaian sehubung dengan
    permasalahan internal dan eksternal dalam perusahaan.
  3. Asumsi Dasar (Basic Underlying Assumptions)
    Tingkat yang paling mendalam yang mendasari nilai – nilai, yaitu
    keyakinan (Beliefs), yang terdiri dari berbagai asumsi dasar. Asumsi
    dasar mencakup hubungan dengan lingkungan, hakikat mengenai
    sifat manusia, hakikat mengenai aktivitas manusia dan hakikat
    mengenai hubungan manusia. Sedangkan menurut Sopiah (2008,
    p.132) asumsi dasar menunjukan apa yang diyakini oleh anggota
    sebagai suatu kenyataan dan mempengaruhi apa yang mereka alami,
    apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan.