Menurut Denison dalam Mangkunegara (2009, p.115) elemen budaya
organisasi, antara lain: Nilai – nilai, keyakinan dan prinsip – prinsip
dasar, dan praktek – praktek manajemen serta perilaku. Serta Schein
dalam Mangkunegara (2009, p.115) yaitu : pola asumsi dasar bersama,
nilai dan cara untuk melihat, berfikir dan merasakan, dan artefak.
Terlepas dari adanya perbedaan seberapa banyak elemen budaya
organisasi dari setiap ahli, secara umum elemen budaya organisasi
terdiri dari dua elemen pokok, yaitu elemen yang bersifat idealistik dan
elemen yang bersifat perilaku :
- Elemen Idealistik
Elemen idealistik umumnya tidak tertulis, bagi organisasi yang
masih kecil melekat pada diri pemilik dalam bentuk doktrin,
falsafah hidup, atau nilai – nilai individual pendiri atau pemilik
organisasi dan menjadi pedoman untuk menentukan arah tujuan
menjalankan kehidupan sehari – hari organisasi. Elemen idealistik
ini biasanya dinyatakan secara formal dalam bentuk pernyataan visi
atau misi organisasi, tujuannya tidak lain agar ideologi organisasi
tetap lestari. Sedangkan menurut Schein dalam Mangkungara
(2009, p.115), elemen idealistik tidak hanya terdiri dari nilai – nilai
organisasi tetapi masih ada komponen yang lebih esensial yakni
asumsi dasar yang bersifat diterima apa adanya dan dilakukan diluar
kesadaran, asumsi dasar tidak pernah dipersoalkan atau
diperdebatkan keabsahanya. - Elemen Behavioural
Elemen behavioral adalah elemen yang kasat mata, muncul
kepermukaan dalam bentuk perilaku sehari – sehari para
anggotanya, logo atau jargon, cara berkomunikasi, cara berpakaian,
atau cara bertindak yang bisa dipahami oleh orang luar organisasi
dan bentuk – bentuk lain seperti desain dan arsitektur instansi. Bagi
orang luar organisasi, elemen ini sering dianggap sebagai
representasi dari budaya sebuah organisasi sebab elemen ini mudah
diamati, dipahami dan diinterpretasikan, meski interpretasinya
kadang – kadang tidak sama dengan interpretasi orang – orang yang
terlibat langsung dalam organisasi.
