Indikator Komitmen Organisasi


Kurrata et al., n.d. (2023) menyatakan bahwa indikator yang dapat
mengukur komitmen organisasi adalah sebagai berikut :

  1. Komitmen Afektif (Affective Commitment)
    Komitmen afektif mengacu pada keterikatan emosional,
    identifikasi serta keterlibatan seorang karyawan pada suatu
    organisasi. Pada indikator ini karyawan mengidentifikasi dirinya
    dengan organisasi dan loyal terhadaporganisasi. Komitmen
    afektif seseorang akan menjadi lebih kuat apabila
    pengalamannya dalam suatu organisasi konsisten dengan
    harapan-harapan dan memuakan kebutuhan dasarnya dan
    sebaliknya. Komitmen afektif menunjukkan kuatnya keinginan
    seseorang untuk terus bekerja bagi suatu organisasi karena ia
    memang setuju dengan organisasi itu dan memang berkeinginan
    melakukannya.
    Komitmen afektif menjelaskan seberapa jauh seorang karyawan
    secara emosi terikat, mengenal dan terlibat dalam organisasi.
    Adanya suatu keyakinan bahwa karyawan mengembangkan
    komitmen afektif apabila mereka melihat organisasi sebagai
    tempat dimana mereka merasa paling penting dan kompeten
    untuk tetap berada di organisasi. Dengan demikian, karyawan
    yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja
    dalam organisasi karena mereka memang ingin melakukan hal
    tersebut.
  2. Komitmen Normative (Normative Commitment)
    Komitmen normative menunjukkan kepada tingkat seberapa
    jauh seseorang secara psikologis terikat untuk menjadi
    karyawan dari sebuah organisasi yang didasarkan kepada
    perasaan seperti kesetiaan, affeksi, kehangatan, kepemilikan,
    kebanggan dan kebahagiaan. Komitmen normative adalah
    dedikasi karyawan terhadap organisasinya sebagai akibat dari
    tanggung jawab moral atau etisnya untuk tetap bersama
    perusahaan. Dengan kata lain, keyakinan karyawan pada
    kewajiban mereka terhadap perusahaan.
    Komitmen normative bias dipengaruhi beberapa aspek diawal
    antara lain sosialisasi awal dan bentuk peran seseorang dari
    pengalaman organisasinya. Keterikatan yang kuat antara
    komitmen dan pemberdayaan disebabkan karena adanya
    keinginan dan kesiapan karyawan dalam organisasi untuk
    diberdayakan dengan menerima berbagai tantangan dan
    tanggung jawab. Pemberdayaan dalam halinimerupakan
    serangkaian proses yang dilakukan secara bertahap dalam
    organisasi agar dapat dicapai secara optimal dan membangun
    kesadaran dari karyawan akan pentingnya proses pemberdayaan
    sehingga perlu adanya komitmen dari anggota terhadap
    organisasi, dengan pemberian wewenang dan tanggung jawab
    akan menimbulkan motivasi dan komitmen terhadap organisasi.
  3. Komitmen berkelanjutan (Continuance Commitment)
    Komitmen berkelanjutan ialah komitmen pegawai berdasarkan
    apa yang seharusnya ia korbankan ketika meninggalkan bisnis
    ataupun kerugian apa yang bisa dialami pekerja apabila tidak
    melanjutkan pekerjaan. Tindakan meninggalkan organisasi
    menjadi sesuatu yang beresiko tinggi karena orang merasa takut
    akan kehilangan sumbangan yang mereka tanamkan pada
    organisasi itu dan menyadari bahwa mereka tak mungkin cari
    gantinya.
    Komitmen ini lebih menjelaskan persepsi karyawan tentang
    kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan
    organisasi. Komitmen ini didasarkan kepada kebutuhan rasional.
    Dengan kata lain komitmen ini berbentuk atas dasar untung rugi,
    dipertimbangkan atas apa yang harus dikorbankan bila menetap
    pada organisasi. Kunci dari komitmen ini adalah kebutuhan
    untuk bertahan.