Dalam kehidupan sebuah organisasi dapat dibedakan antara budaya
organisasi kuat (strong organization culture) dengan budaya organisasi lemah
(Weak oganization culture). Menurut Hakim (2015:196) budaya organisasi yang
kuat menunjukkan seberapa banyak para anggota organisasi mengakui dan
menjalankan tugas-tugasnya sesuai nilai-nilai yang ditetapkan organisasi tersebut.
Budaya organisasi yang kuat merupakan budaya yang menganut berdasarkan nilai
inti suatu organisasi.
Semakin banyak para anggota organisasi mengakui nilai-nilai inti, maka
makin kuat budaya organisasi tersebut. Semakin sedikit para anggota organisasi
yang menerima dan melaksanakan ketentuan dan peraturan yang ditetapkan
organisasi, maka semakin lemah budaya suatu organisasi tersebut. Budaya
organisasi lemah menunjukkan semakin rendahnya komitmen para karyawan
terhadap suatu organisasi.
Adapun menurut Darojat (2015:53) dalam organisasi, seringkali terjadi
pembandingan antara budaya kuat dan budaya lemah. Hasil spesifik dari suatu
budaya kuat adalah akan memperlihatkan kesepakatan tinggi mengenai tujuan
organisasi diantara anggota-anggotanya. Kebulatan suatu terhadap tujuan akan
membentuk keterikatan, kesetian, dan komitmen organisasi. Kondisi ini selanjutnya
akan mengurangi kecendrungan karyawan untuk keluar dan masuk dari organisasi
(turn over) atau memiliki rasa kebanggaan terhadap organisasinya.
Kotter dan Heskett (dalam Darojat 2015:54) Berpendapat Bahwa terdapat
konsep budaya kuat dalam suatu organisasi, yaitu:
- Ciri utama budaya kuat, adanya seperangkat nilai dan metode dalam
menjalankan organisasi. - Karyawan baru mengadopsi nilai-nilai dengan sangat cepat (ikut bangga)
- Koreksi dengan sendirinya akan sangat cepat jika ada yang melanggar
norma-norma organisasi. - Nilai-nilai budaya organisasi mengakar, sekalipun terjadi penggantian
manajer tidak menjadi masalah, tanpa harus bersandar pada birokrasi
formal. - Arah budaya selaras dengan motivasi anggota, karna berdampak pada
kinerja karyawan.
Sedangkan menurut Aminati (2015:1284) bahwa sangat mungkin untuk
membedakan antara budaya yang kuat dan budaya yang lemah. Jika banyak
karyawan (merespon manajemen survey) mempunyai pendapat yang sama tentang
misi dan nilai organisasi, berari budaya itu kuat. Jika pendapat bervariasi, budaya
itu lemah. Kebulatan suara seperti tujuan membangun kekompakan, loyalitas, dan
komitmen organisasi. Kualitas ini, pada gilirannya mengurangi kecenderungan
karyawan untuk meninggalkan organisasinya.
