Definisi Six Sigma


Six sigma adalah metode yang digunakan untuk mencapai 3,4 cacat per
juta aktivitas atau peluang. Secara umum, enam sigma memiliki dua arti, six
sigma mewakili filosofi, dan six sigma digunakan sebagai alat. Menurut Hendy
Tannady (2015), Six Sigma sebagai filosofi adalah perbaikan terus-menerus
melalui pengurangan produk cacat secara terus menerus, sedangkan Six Sigma
sebagai alat adalah teknologi yang mengukur jumlah cacat pada setiap 1 juta
produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Gasperz dalam Safrizal (2016) mengemukakan bahwa konsep six sigma
melibatkan lima aspek utama, antara lain:

  1. Identifikasi pelanggan
  2. Identifikasi produk, identifikasi kebutuhan customer untuk menghasilkan
    produk
  3. Definisi proses
  4. Hindari kesalahan dalam proses dan hilangkan semua pemborosan yang ada
  5. Terus tingkatkan proses pencapaian tujuan six sigma
    Six sigma merupakan pemahaman yang terkontrol dalam memenuhi
    kebutuhan konsumen, sehingga saat ini sigma dapat digunakan sebagai tolak
    ukur kemampuan menghasilkan produk dengan benar atau produk bebas cacat
    dalam proses produksi. Indikator pengukuran yang umum digunakan adalah
    “defects per unit” dan sigma, yang artinya frekuensi terjadinya defect. Semakin
    tinggi nilai sigma maka semakin kecil jumlah produk cacat yang dapat
    menghemat waktu dan biaya serta kepuasan pelanggan akan terus meningkat.